Mengenal Teuku Djakfar, Raja Pertama Trumon
Published :

J
ika membicarakan Kerajaan Trumon maka yang akan menggema adalah kesuksesan mereka dalam berdagang dan kehebatan raja pertamanya, yaitu Teuku Djakfar. Banyak yang membicarakan saudagar yang satu ini, sehingga banyak juga yang mengisahkannya dalam beberapa cerita ataupun buku.

Asal usul Raja kerajaan Trumon,berasal dari Asia kecil atau dari rumpun suku-suku Bangsa Arab,menurut silsilah kami Ja Thahir berasal dari Baghdad dan hijrah ke Timur dan menetaplah di Bate Pidie (Aceh).

Berdasarkan cerita yang ada, bahwa Ja Thahir mempunyai beberapa orang anak, diantaranya bernama Ja Abdullah yang juga menetap di Batee Pidie. Ja Abdullah mempunyai anak di antara lain Ja Johan.

Ja Johan ini menetap di Tanoh Abee Seulimum,mempunyai anak di antara lain Tengku Djakfar salah seorang dari murid tengku di Anjong Pelenggahan. Setelah selesai (tamat) dari belajar agama islam, Tengku Djakfar disuruh oleh guru beliau untuk berangkat kesebelah Barat Aceh.

Setelah belajar dan memperdalam agama Islam, beliau di utus gurunya untuk berangkat ke sebelah Barat Aceh. Tengku Djakfar, memilih Ujong Serangga, Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, sebagai tempat mengembangkan ilmunya.

Di Ujong Serangga, Tengku Djakfar mengajar agama Islam, hingga pada akhirnya memperoleh gelar labai (tengku atau ulama). Beberapa tahun di Ujong Serangga, labai Djakfar, begitu dia dipanggil, melanjutkan perjalannya ke Singkil dan menetap di sana.

Kemudian Tengku Djakfar membuka perkebunan lada (merica) pada suatu dataran sebelah utara Singkil yang kemudian disebut Trumon. Nama Trumon, konon bermula sewaktu Tengku Djakfar membuka perkebunan lada di daerah sebelah utara Singkil.

Pada saat itu, beliau menemukan sebuah sumur tua dan ditepinya terdapat sebatang terung, yang dalam bahasa Aceh disebut “ Trueng Bineimon”. Sejak itulah, daratan tersebut terkenal dengan nama Trumon.

Kerajaan Trumon ini berdiri sejak tahun 1780 M saan Teuku Djakfar yang merupakann seorang saudagar menjadi raja pertama di sana. Ia mendapatkan masa keemasannya di tahun 1810 dengan segala prestasi yang diraihnya, termasuk saat ia mendapatkan cap Sikuereung (sembilan) sebagai mata uang sendiri yang dikenal di dunia.

Selain itu mereka juga memiliki armada dagang laut yang diberi nama Diana dan Le-Xemie yang membawa lada ke Penang, India dan Timur Tengah. Kemudian diberi gelar Teuku Raja Singkil hingga ia wafat di tahun 1812 M.

Pada sejarahnya, kehidupan Teuku Djakfar ini juga dikenal oleh beberapa kalangan. Haji Tengku Djakfar alias Tengku Singkil pernah kawin dengan putri Persi anak dari perempuan Persi ini diangkat menjadi Ulee Balang Paya Bombong (Singkil lama) yaitu anak nomor 11 yaitu Tengku Raja Sulaiman.

Mereka mengenal keturunan dan silsilah Teuku Djakfar sebagai keturunan dan silsilah keluarga Islam yang baik, pintar, juga pandai dalam urusan perdagangan, sebab hal itu yang ditunkan terus turun-temurun.

Hingga keberhasilan ini yang membuat Belanda begitu tertarik pada Kerajaan Trumon. Dibuatnya berbagai strategi untuk melumpuhkan kerajaan ini sampai pada akhirnya mereka takluk di bawah gempuran Belanda.