Kontak dan Perubahan Bahasa di Melanesia
Published :
Oleh:Tom Dutton

M
akalah ini meninjau jenis-jenis perubahan bahasa (contact-induced) yang sejauh ini telah diteliti dalam bahasa Melanesia, yang secara linguistik merupakan salah satu dari sekian wilayah yang paling bervariasi, kalau tidak disebut sebagai yang paling bervariasi.

Kemudian ini menarik survey ini untuk memberikan perhatian pada masalah klasifikasi dan rekonstruksi sejarah bahasa Melanesia. Dalam beberapa hal, bahasa Melanesia memiliki ciri khas dunia Austronesia namun tidak dalam beberapa hal.

Topik kontak bahasa dan perubahan dalam bahasa Melanesia adalah yang paling luas, dan tidak mungkin saya bicarakan secara rinci dalam ruang yang tersedia di sini.

Tujuan saya adalah untuk memberikan gambaran tentang tipe perubahan contact-induced yang selama ini diteliti dalam bagian Pasifik itu yang terkenal dengan dengan Melanesia, dengan sebuah pandangan untuk menarik perhatian pada masalah tertentu yang menitikberatkan pada klasifikasi dan rekonstruksi sejarah bahasa Melanesia. Dalam beberapa hal, bahasa Melanesia memiliki ciri khas dunia Austronesia namun tidak dalam beberapa hal.

Austronesia: istilah yang diberikan ahli linguistik, untuk menyebut suatu rumpun bahasa yang hampir dituturkan semua orang di kepulauan Indo-Malaysia dan Oceania.

Melanesia: adalah istilah linguistik untuk merujuk pada bahasa petutur di wilayah yang memanjang dari Pasifik barat sampai ke Laut Arafura, utara dan timur laut Australia.

Mari kita mulai dengan, yang sekarang sedikit dipergunakan dengan baik, observasi bahwa Melanesia adalah bagian linguistik yang paling bervariasi, jika bukan yang paling bervariasi. Di sini, tersebar melintasi New Guinea, Kepulauan Solomon, Vanuatu, New Caledonia, Kepulauan Loyalty, dan Fiji ditemukan lebih dari seratus bahasa, atau kira-kira seperempat dari yang dipakai diseluruh dunia saat ini.

Bahasa dalam area ini biasanya diklasifikasikan dengan dua tipe besar; Austronesia (An) dan Non Austronesia (NAn), yang belakangan menjadi istilah umum untuk semua bahasa yang tidak berasal dari Austronesia tanpa perlu menyatakan hubungan genetik. Untuk kebanyakan penutur bahasa-bahasa Austronesia yang mendiami pulau-pulau yang lebih kecil dan daerah pantai pulau-pulau besar.

Bahasa-bahasa ini secara genetik berhubungan erat dengan bahasa-bahasa Polynesia, Micronesia, dan Oceanic, yang merupakan cabang dari bahasa Austronesia (lihat: Pawley dan Ross, volume ini). Kira-kira 400 bahasa Oceanic dituturkan di Melanesia.

Mereka termasuk dalam cabang pertama bahasa Oceanic yang berbeda-beda walau tidak semua orang setuju pada cabang-cabang ini. Tiga belas di antaranya berasala dari Polynesia, dan dikenal sebagai Polenesia Outliers..

Di sisi lain Bahasa NAn tidak terhubung secara genetik dengan bahasa An. Bahasa-bahasa ini sangat bervariasi dan tidak termasuk ke dalam satu rumpun besar seperti bahasa-bahasa An, walaupun kurang lebih 75 % di antaranya diperkirakan terhubung satu sama lain dan membentuk sebuah rumpun yang sangat besar dinamakan filum Trans New Guinea.

Walaupun demikian, tidak ada satu hubungan pun yang diperlihatkan secara tegas dan baik sehingga ahli liguistik dipersiapkan untuk menerima bahwa ada begitu banyak rumpun (kira-kira 60) yang terlihat seakan-akan mereka dapat dikelompokan dalam filum yang banyak.

Filum: (Ling); kelompok bahasa berkerabat yang anggotanya telah berpisah antara 50—100 abad yg lampau.

Penutur bahasa ini tidak mendiami daerah yang didiami oleh penutur bahasa An, yang kebanyakan merupakan bagian pedalaman pulau-pulau besar di Melanesia. Mereka terpusat khususnya di daratan New Guinea.

Karena distribusi dan hubungan internal antara bahasa-bahasa An dan NAn. Diperkirakan bahwa Bahasa-bahasa NAn lebih tua dan bahasa-bahasa An adalah “pengacau”. Dan lebih jauh dipercaya (berdasarkan bukti linguistik dan arkeologi) bahwa perkampungan Austronesia di Melanesia adalah keturunan dari satu bahasa nenek moyang, Proto Oceanic, yang tiba di wilayah itu tiga sampai empat millennium yang lalu.

Dihadapkan pada sebuah situasi ketika begitu banyak bahasa terpusat di sebuah daerah yang kecil, tidak mengherankan bila menemukan penutur bahasa ini seringkali berhubungan dengan yang lain.

Dan sebagai hasilnya, bahasa-bahasa itu mengalami dan telah mengalami, apa yang disebut para ahli linguistik dengan “pengaruh” dari luar. Jelas, walaupun, bahasa-bahasa tidak mempengaruhi satu sama lain. Mereka tidak bisa, karena bahasa hanya akan ada ketika mereka dituturkan atau dituliskan.

Penuturlah yang mentransfer aspek dari bahasa lain saat mereka membuat pilihan tentang bagaimana mengatakan atau menuliskan sesuatu dalam keadaan tertentu. Tapi agar ini terjadi, penutur harus tahu beberapa atau semua hal tentang bahasa yang lain.

Multilingualisme: gejala pada seseorang atau suatu masyarakat yang ditandai oleh kemampuan dan kebiasaan memakai lebih dari satu bahasa. Bilinguan: penguasaan dua bahasa.

Dalam istilah linguistik harus ada level bi- atau multilingualisme dalam komunitas –komunitas yang berhubungan itu sebelum bahasa-bahasa yang dipergunakan menjadi saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain.

Efek dari kontak bahasa sangat banyak dan bervariasi dan bisa menjadi cukup dramatis. Kemungkinan besar itu termasuk:.

1). Sebuah kelompok menyerahkan bahasanya pada kelompok lain. Dalam lingkaran linguistik, disebut dengan pergeseran bahasa. Pergeseran bahasa peka terhadap kondisi sosial, sekalipun ini menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Tekanan kebudayaan adalah satu bentuk yang umumnya dipandang sebagai faktor penting dalam pergeseran bahasa. Beberapa faktor yang paling umum dalam konteks ini termasuk martabat, superioritas kebudayaan, dominasi militer, dan superioritas demografi.

Apabila kelompok yang dominan lebih besar, kemungkinan besar kelompok yang mengalami pergeseran pada akhirnya akan belajar bahasa target.

Walaupun, apabila hubungan ini berubah (sebagai contohnya, jika kelompok dominan mengalami penurunan atau kehilangan kekuasaan) atau jika kelompok yang bergeser dapat bertahan sebagai bagian yang homogen dan saling membantu dalam komunitas bahasa target (seperti yang terjadi pada beberapa etnis minoritas di Australia) bentuk bahasa yang dimiliki grup yang bergeser dapat membentuk suatu norma.

Dalam hal ini norma dapat memperlihatkan efek peminjaman, seringkali disebut gangguan pergeseran atau pengaruh lapisan bawah- penutur lapisan bawah mempengaruhi bahasa yang mengarah pada bahasa aslinya.

2). Dua atau lebih bahasa yang hidup berdampingan tanpa adanya interferensi. Ini hanya dapat terjadi pada keadaan yang sangat khusus, ketika, contohnya, tidak satu kelompok pun menuturkan sebuah kata dalam bahasa lain walaupun kedua kelompok tersebut ada dalam satu tujuan khusus (seperti perdangan), atau ketika penutur satu bahasa belajar memahami bahasa lain namun tidak pernah dipergunakan.

Penutur dalam situasi terakhir itu disebut sebagai bilingual pasif (yakni mengerti satu bahasa namun tidak menggunakannya) atau sebagai penutur bahasa ganda (sebagai contohnya, ketika dua orang berbicara dalam dua bahasa yang berbeda dan melakukan hal yang sama dengan membalikkan bahasanya, masing-masingnya disebut bilingual dalam kedua bahasa tersebut).

3). Peminjaman elemen suatu bahasa ke dalam bahasa lain. Ini adalah jenis pengaruh yang paling umum dalam suatu bahasa dan dapat mencakup semua aspek bahasa dari mulai bunyi sampai tata bahasa dan kosa kata.

Secara teoritis beberapa fitur bahasa dapat dipinjam, walaupun, hal ini baru diakui. Contohnya, bahwa elemen tata bahasa hanya dapat dipinjamkan antar dialek (atau variasi suatu bahasa) atau bahasa-bahasa yang hampir sama strukturnya.

Namun, dalam prakteknya kita menemukan bahwa dalam kondisi sosial yang tepat aspek bahasa apapun dapat dipinjamkan. Agar ini terjadi, bagaimanapun, keadaan sosial tertentu harus berlangsung.

Secara umum, faktor sosial menjadi faktor penentu yang paling penting dalam peminjaman, meskipun faktor linguistik seperti kesamaan struktur dari kedua bahasa (atau yang dalam istilah linguistik disebut dengan typological distance antara keduanya) juga penting.

Sekalipun ada istilah-istilah dalam linguistik untuk membicarakan peminjaman ada tiga istilah yang paling dikenal dalam istilah yang agak kuno yang mencakup semua kasus.

Adalah Bloomfield (1933:444-495), yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Amerika, menyebutnya “peminjaman dialek”, “peminjaman kebudayaan” dan “peminjaman intimate”, walaupun di Melanesia, seringkali sulit untuk membedakan antara pergeseran bahasa sebagian, peminjaman kebudayaan secara besar-besaran, dan peminjaman intimate.

i. Peminjaman Dialek

Seperti namanya ini adalah jenis peminjaman yang terdapat antar dialek atau variasi bahasa. Juga dipakai antara dua bahasa yang sama secara tipologis. Dalam peminjaman jenis ini perubahan dimasukan dengan cepat dan akibatnya kelompok penutur lebih menyukai cara tertentu dalam bertutur, dari pada mengadopsi bentuk kosakata baru dan tata bahasa baru secara keseluruhan.

Tipologi: ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongan-golongan menurut corak watak masing-masing. Tipologis: Ilmu tentang watak.

Peminjaman dialek mungkin adalah masalah yang paling sulit sehingga para Linguis harus mencoba mengklasifikasikan bahasa-bahasa, dan merekonstruksi sejarahnya, karena seringkali tidak terdeteksi.

ii. Peminjaman Kebudayaan

Ini adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan jenis peminjaman yang terjadi ketika dua kelompok atau lebih berhubungan dan mempelajari kata-kata yang tidak ada dalam bahasanya dan tertarik untuk memperolehnya dari bahasa lain.

Jenis peminjaman ini menunjukan hubungan sebab akibat dan kemungkinan besar terjadi ketika ada perbedaan kebudayaan. Hal ini biasanya saling menguntungkan (sebagai definisi sederhana atas memberi kesan), tapi tidak selalu. Hanya menguntungkan sebelah pihak apabila salah satu kelompok memberi lebih dari pada kelompok yang lain.

Karena dikaitkan dengan hubungan sebab akibat peminjaman ini biasanya hanya melibatkan kosakata. Peminjaman jenis ini juga biasanya lebih mudah dikenali karena hanya terbatas pada item-item tertentu dan biasanya dalam beberapa hal tidak beraturan secara fonologi.

Fonologi: Ilmu linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.

Akhirnya proses peminjaman tidak mempengaruhi sistem bunyi bahasa pinjaman. Mempertimbangkan, contohnya, betapa sedikitnya pelafalan warga Inggris yang tinggal di India yang dibuat-buat oleh adopsi banyak kata dalam bahasa asli india.

iii. Peminjaman Intimate

Peminjaman jenis ini terjadi ketika sebuah kelompok berusaha untuk mempelajari bahasa yang berhubungan dengannya. Alhasil hal ini secara tidak langsung menyatakan beberapa tingkatan dari pembelajaran bahasa kedua, semacam bilingualism, (atau multilingualisme) walaupun ini tidak harus mengimplikasikan pergeseran bahasa.

Walaupun, mungkin sebagai hasil yang tidak disengaja. Demikian, seperti yang akan kami tunujukan nanti, ketika perbedaan bahasa menyajikan fungsi identitas (atau perlambangan) kelompok, seperti di Melanesia, satu kelompok penutur memandang bahasa lain sebagai bagian dari sumber linguistik-nya untuk berbagai macam tujuan sosial (Grace 1981: 264).

Penutur memakai bahasa ibu-nya sebagai identitas namun mejadi sangat familiar dengan bahasa kedua yang fitur-fitur bahasanya mereka transfer kedalam bahasa ibu-nya.

Hasilnya struktur dan kosa kata bahasa ibu-nya terpengaruh oleh bahasa kedua. Pembelajaran bahasa kedua (ketiga, atau keberapapun) secara normal berkedudukan sebagai hasil dari “felt need” atau merasakan keuntungan sosial bagi para pembelajarnya.

Peminjaman atau pengaruh linguistik ini mengimplikasikan adanya kontak yang dekat atau intens. Seringkali indikasi pertama bahwa ketika peminjaman intimate berlangsung terjadi kesulitan untuk pengklasifikasian bahasa atau status asli dari sebuah bahasa sebagai rumpun An atau NAn.

Di Melanesia sejumlah bahasa yang sulit diklasifikasikan itu disebut sebagai “bahasa campuran” (Capell1976), Walaupun istilah itu kontroversial dan tidak diterima.

4). Perkembangan bahasa ketiga yang tidak sama dengan salah satu dari dua bahasa sebelumnya. Lagi lagi ini sebuah kasus ketika kondisi sosial tertentu berlaku, seperti, contohnya, ketika komunitas-komunitas pedagang atau ketika satu kelompok dipenjarakan atau dipaksa bekerja untuk kelompok lain (seperti yang terjadi di Pasifik seabad yang lalu).

Dalam situasi seperti itu ada kebutuhan untuk berkomunikasi sebelum ada waktu untuk belajar satu bahasa atau yang lain yang dituturkan oleh group berbersangkutan.

Atau ketika ada rintangan lain untuk melakukan hal tersebut. Bahasa-bahasa itu biasanya terbatas dalam kosakata dan disederhanakan strukturnya. Jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang berhubungan. Bahasa-bahasa itu adalah bahasa yang memiliki tujuan khusus dan tidak dituturkan secara asli. Bahasa-bahasa itu disebut bahasa pidgins.

Pidgin: adalah bahasa marginal yang muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan komunikasi tertentu di antara orang-orang yang berbeda bahasa.

Kontak dan perubahan bahasa di Melanesia

I. Pergeseran dan Kekunoan Bahasa

Walaupun kita tidak memiliki catatan untuk menunjukan seberapa sering hal ini terjadi di masa lampau -masyarakat Melanesia tidak memiliki catatan tertulis dan tidak cukup memperhatikan tentang kematian bahasanya karena tetap memegang tradisi oral selama kurun waktu yang cukup lama.

Ada sejumlah kasus bahasa dalam tingkatan terakhir mengenai kekunoan pada saat adanya kontak dengan orang-orang Eropa, agar dapat memperkirakan bahwa beralasan bila hal ini terjadi pada masa prasejarah. Terlihat bahwa kondisi yang mengkehendaki adanya pergeseran budaya di Melanesia serupa dengan yang terjadi dimanapun.

Penyerapan sisa-sisa dari kelomok yang lebih besar yang mencari perlindungan dari peperangan antar suku dan bencana alam (seperti kekeringan, banjir, dan wabah) atau sejumlah kecil orang-orang yang mengejar keuntungan cultural dan ekonomi. Dalam beberapa kasus baik An maupun NAn terlibat.

II. Ketiadaan Pengaruh

Sulit untuk menemukan kasus untuk kategori ini karena berpotensi diperintahkan untuk tidak menjelaskan secara keseluruhan atau untuk tidak mengharapkan penelitian lebih lanjut.

Contohnya, walaupun kami telah melaporkan kasus penggunaan bahasa ganda yang melibatkan penutur An dan NAn, yang dijelaskan dengan baik melibatkan bahasa-bahasa An, Banoni dan Piva, memperlihatkan tingkat peminjaman cultural yang rendah dari bahasa-bahasa papua (Lincoln 1976:97-99).

III. Peminjaman-Peminjaman Dialek

Pada dasarnya peminjaman jenis ini sulit untuk dikenali. Biasanya terlihat, tetapi, dalam karya bandingan yang rinci sebagai persesuaian bunyi yang tidak tetap dan atau sebagai rangkaian dialek.

Sehingga, sebagai contoh, dalam bahasa Papuan Tip (PT) di Provinsi Teluk Milne Papua New Guinea beberapa refleks PPT “b, d dan g” muncul sebagai bunyi “voiced/bergetar” daripada sebagai bunyi “voiceless/tidak bergetar” seperti yang diharapkan (Ross 1988: 198-202). Reflex bunyi bergetar ini dengan jelas adalah hasil dari peminjaman dialek dari bahasa-bahasa tetangga.

IV. Peminjaman Kebudayaan

Ini adalah jenis peminjaman yang paling umum di Melanesia – setidaknya jenis ini yang paling mudah dikenali dan dilaporkan. Jenis ini sangat umum dalam bahasa NAn berhubungan bahasa An dan dalam bahasa An di Melanesia yang berhubungan dengan Polynesian Outliers.

Dalam kedau kasus ini, ini adalah item cultural yang dimiliki daerah pesisir atau pendatang Austronesia yang dicari oleh komunitas penduduk lain dan kerena itu kosakatanya dipinjam.

Jadi contohnya, bahasa NAn Koita di sekitar Port Moresby meminjam istilah pelayaran dan kelautan (termasuk istilah-istilah untuk kehidupan laut) dari bahasa tetangga An mereka, Motu (Dutton 1994).

Bahasa An yang dekat dengan bahasa Polinesian Outliers melakukan hal serupa, tidak hanya meminjam istilah-istilah Polynesia untuk kelautan dan pelayaran saja, tapi juga istilah-istilah yang berhubungan dengan minuman kava dan artefak-artefak yang terbuat dari daun kelapa (Clark 1994).

Gambaran ini terjadi berulang kali dalam literatur dan dalam linguistik sebagai bagian dari kearifan masyarakat Oceanic. Menurut definisi peminjaman jenis ini berlangsung secara sepihak atau tidak setara walaupun tidak terkesan secara langsung.

Tentu saja, hal ini sangat peka terhadap realita kultur sosial, dan mungkin juga terhubung dengan peminjaman intimate. Jadi, contohnya Clark (1986) menjelaskan bagaimana Bahasa Polynesia Outliers Emae dan Mele Fila di Vanuatu meminjam intimate dari bahasa An tetangganya dan sebagai balasannya memperlihatkan akibat dari peminjaman cultural.

Rupanya alasannya adalah demografi. Jumlah penduduk Polynesia lebih sedikit daripada tetangga Melanesia-nya dan dalam pencarian istri (pasangan) dan dalam perdagangan menurut Clark mereka harus:.

Acapkali berurusan dengan penutur Melanesia, sedangkan penutur Melanesia adalah minoritas dalam hubungannya dengan Polynesia. Istri-istri yang berasal dari Melanesia menikah dengan pria Polinesia, tinggal, melahirkan, membesarkan anak-anaknya dan berbicara bahasa kedua yang dipengaruhi bahasa Melanesia, dapat menghasilkan perpaduan baik secara fisik maupun linguistik (clark 1986:341).

Kasus seperti itu menunjukan bahwa, walaupun prinsip-prinsip peminjaman cultural jelas, tidak mungkin memprediksi pengaruh dalam kasus khusus tanpa mengetahui kondisi social yang terjadi. Seringkali tidak mungkin untuk membedakan antara pengaruh peminjaman cultural dan peminjaman intimate.

Telah lama diketahui bahwa secara struktur bahasa-bahasa di Papua New Guinea terbagi menjadi dua tipe. Tipe pertama dengan pola kata SOV (subject- object-verb) dan tipe kedua pada pola kata SVO (subject-verb-object).

Dalam penggunannya, bahasa-bahasa An daratan dan bahasa-bahasa di papua tenggara, serta bahasa-bahasa di kepulauan yang berkaitan dengan keduanya menggunakan pola SOV, sedangkan pola kedua ditemukan di New Britain dan New Ireland.

Pola kata SOV juga serupa dengan kebanyakan bahasa NAn. Oleh karena itu perbedaan struktur kata diantara kedua kelompok ini dikaitkan dengan adanya kontakantara Bahasa An dan NAn di masa lampau.

Walaupun tidak meungkin untuk mengenali bahasa NAn tertentu atau bahasa yang seperti itu untuk mendukung pernyataan bahwa perbedaan ini merupakan hasil dari peminjaman intimate.

Terlepas dari kasus ini dan sejumlah kasus tentang “pencampuran” bahasa dijelaskan secara singkat di bawah ini (yang berasal dari peminjaman intimate antara bahasa An dan Bahasa NAn) hingga kini relative sedikit kasus peminjaman seperti ini ditemukan dalam literatur.

Kasus seperti ini muncul dalam bahasa Labu, suatu bahasa yang dituturkan di daerah dekat Lae, Papua New Guinea. Adalah bahasa yang dituturkan oleh 1700 penutur yang dikelilingi oleh 2 kelompok penutur bahasa An lainnya, Bukawa dan Kela, untuk beberapa lama posisi genetis bahasa labu “vis-à-vis” dalam wilayah yang sama memiliki banyak arti.

Holzknecht (1994) memperlihatkan, walaupun, Labu adalah anggota dari rumpun Markham yang sangat dipengaruhi oleh bahasa Bukawa dan juga mungkin bahasa Kela (keduanya berhubungan satu sama lain dan merupakan anggota dari Rantai Teluk Huon Utara) dalam fonologi, tata bahasa dan vocabulary..

Meskipun dia tidak mengatakan bahwa ini adalah kasus peminjaman intimate antar bahasa-bahasa An. Ini adalah bukti bahwa seluruh aspek bahasa telah terpengaruhi dan adanya kontak dengan Bukawa.

Dan tentu saja beberapa penutur bahasa Labu terdahulu menjalin kontak dengan komunitas penutur Bukawa dalam kontak sebagai nasabah (Labu)-penyokong (Bukawa), dan beberapa anak tumbuh menjadi penutur bilingual, Labu dan Bukawa.

Hal ini tidak dianggap sebagai peminjaman dialek, meskipun demikian, karena bahasa-bahasa itu termasuk kedalam rumpun bahasa An, mereka tidak berhubungan erat atau secara typologis tidak sesuai dengan definisi yang diberikan diatas.

Kasus yang lebih rumit dijelaskan oleh Clark (1994) tentang situasi kompleks yang terjadi di Polynesian Outliers. Dia mencatat bahwa tidak satupun bahasa Polynesia yang “murni” dalam artian tidak terpengaruh.

Tapi pengaruh itu diukur – bahasa-bahasa yang secara geografis lebih dekat dengan bahasa Non-polynesia mendapat pengaruh yang lebih besar, dan bahasa-bahasa di komunitas yang jauh dan terpencil mendapat pengaruh yang lebih kecil.

Bahasa mele-Fila dan Amae menunjukan tanda yang tidak perlu diragukan lagi tentang peminjaman intimate dari bahasa-bahasa non-polynesia yang dekat. Yang lainnya Rennelles dan Fagauvea menunjukan peminjaman kebudayaan dan intimate dalam pekerjaan bersama.

Dalam kasus lainnya tidak jelas apakah bukti-bukti yang ada merupakan indikasi dari adanya peminjaman intimate atau efek samping dari adanya peminjaman kebudayaan secara besar-besaran. Gambaran ini menjadi semakin rumit dengan adanya fakta yang menunjukan bahwa :.

(i) setidaknya dalam satu kasus, Anuta, banyak perkampungan Polynesia terdapat di satu pulau,.

(ii) dalam kasus lain ada hubungannya dengan komunitas tetangga yang Polynesia yang memiliki sejarah perkampungan yang sama.

Disisi lain tidak ada satupun bahasa-bahasa Non-Polynesia mengalami peminjaman eperti yang terlihat pada kasus-kasus bahasa Polynesia. Umumnya mereka hanya meminjam kosakata yang relevan secara kebudayaan seperti yang dijelaskan diatas. Alasan dari pola peminjaman ini adalah demografi komunitas Polynesia lebih sedikit bahkan jika dibandingkan dengan Melanesia.

V. Bahasa Campuran

Adalah kasus peminjaman intimate yang khusus dimana bahasa-bahasa telah sangat terpegaruhi oleh bahasa-bahasa yang asul-usulnya masih diperdebatkan. Yaitu bahasa Magori, Maisin, Reef- Santa Cruz, dan yang agak berbeda kategori, Lusi.

Magori adalah bahasa di pantai sebelah tenggara Papua New Guinea. Pada masa adanya kontak dengan Eropa, bahasa ini hanya dituturkan oleh penduduk di dua pedesaan kecil di lembah Sungai Bailebu, diseberang Pulau Mailu (Magi) disana terletak desa yang berbahasa NAn Mailu (Magi).

Saat pertama kali dicatat, diperkirakan bahwa Magori adalah bagian dari bahasa Mailu. Belakangan diketahui bahwa penutur Magori mengalami ketakutan dalam kontak pertamanya dengan penutur Mailu, sehingga kemudian mereka belajar bahasa Mailu.dalam prose situ mereka meminjam kembali bahasa-bahasa yang sebelumnya dipinjam oleh bahasa Mailu dalam bentuk yang berbeda dari mereka (Dutton: 1982).

Peminjaman ini menjadi semakin parah tapi sejauh ini tidak mempengaruhi tata bahasa dan fonologi. Walaupun Magori dan ketiga lainnya berhubungan erat dengan bahasa-bahasa An, Ouma, Yoba dan Bima, menjadi semakin mirip sebagai akibat dari adanya peminjaman timbal balik dan peminjaman dari bahasa-bahasa An lainnya.

Mereka muncul sebagai penghubung antara kelompok bahasa-bahasa An timur dan barat disepanjang pantai tenggara Papua (Dutton 1976, 1982).

Maisin dituturkan di dua daerah yang sama dialeknya dengan dialek yang ada di Provinsi Papua New Guinea Utara, daerah pantai Teluk Collingwood dan beberapa pedesaan di wilayah rawa antara muara sungai Musa dan sungai Bariji di Teluk Dyke Ackland (Dutton 1971).

Untuk waktu yang lama, bahasa ini merupakan sebuah teka-teki, beberapa peneliti mengklasifikasikannya kedalam rumpun bahasa An, dan yang lainnya menklasifikasikannya sebagai NAn.

Pada tahun 1977, walaupun, Lynch menunjukan walaupun dalam kosakatanya bahasa ini menunjukan adanya pencampuran sumber tapi pada dasarnya bahasa ini berasal dari bahasa di daerah pantai di ujung Papua (Ross 1988).

Hal ini menunjukan adanya pencampuran status sebagai bukti telah adanya kontak dengan bahasa-bahasa NAn dan bahasa-bahasa (sebagian belum teridentifikasi) yang memiliki penutur bilingual, dan hasilnya hal ini sangat mempengaruhi bahasa Maisin.

Bahasa-bahasa di Reef-Santa Cruz, dituturkan di kepulauan dengan nama yang sama di sebelah timur kepulauan Solomon, serupa dengan bahasa Maisin yang asal muasalnya masih diperdebatkan.

Contohnya Wurm (1981), berpendapat bahwa bahasa-bahasa ini berasal dari rumpun bahasa NAn, dan Lincoln (1978), menyatakan bahwa bahasa-bahasa ini termasuk rumpun bahasa An. Samapi saat ini kontroversi ini masih belum diselesaikan.

Lusi adalah bahasa yang dituturkan di Provinsi New Britain Barat di Papua New Guinea. Menurut Thurston (1982) Lusi adalah bahasa creole, yaitu bahasa pidgin yang telah menjadi bahasa asli sebuah kelompok penutur. Yang telah berkembang dari bahasa An yang pidginized melalui kontak dengan bahasa NAn, Anem (Thurston 1982: 71).

Thurston memakai kata pidginized untuk menekankan bahwa perubahan yang cepat terlibat dalam transformasi ini dan telah terjadi perubahan bahasa. Ini adalah hal yang dibesar-besarkan untuk menarik perhatian pada pandangan umum bahwa bahasa berubah secara bertahap.

Kenyataannya, hal ini sama dengan bahasa-bahasa yang ada di wilayah ini. Walaupun bahasa ini mengalami perubahan yang tidak dialami oleh bahasa lain, kemungkinan besar karena kontak dengan bahasa Anem tidak terlalu berbeda untuk dimasukkan kedalam kategori khusus.

Pidgins

Sejauh ini ada tujuh bahasa yang berhubungan dengan bahasa-bahasa An di Melanesia, dan hanya lima yang telah didokumentasikan. Dua diantaranya ada kaitannya dengan perdagangan “hiri” di Papua Tengah yang melibatkan penutur An dan penutur NAn yang secara geografis berjauhan (Dutton 1985).

Dua lainnya berkembang bersama dalam perdagangan antara penutur An Mekeo dengan tetangganya penutur NAn di Papua Tengah (Jones 1985). Dalam ketegori yang berbeda namun berkaitan dimasukkan kedalam “foreigner talk” yang digunakan oleh penutur An Motu di wilayah Port Moresby untuk berkomunikasi dengan pendatang luar.

Bahasa administatif yang dikenal dengan Police Motu yang berkembang di Papua setelah adanya kontak dengan Eropa diduga berkembang menjadi variasi lain dari bahasa Motu (Dutto 1985).

Mengejutkan bahwa jumlah bahasa pidgin yang dilaporkan sangat sedikit, mengingat keanekaragaman linguistic dalam bahasa-bahasa di Melanesia dan banyaknya perdagangan yang menimbulkan kontakantara Penutur An dan NAn, seperti anatara bahasa-bahasa An dengan An termasuk bahasa-bahasa Polynesian Outliers. Kemungkinan besar alasannya adalah:.

a. Perdagangan terjadi antara dua kelompok yang bertetangga, bi atau multilingualisme menjadi masalah dalam komunikasi.

b. Sampai saat ini hahasa pidgin belum cukup diperhatikan oleh para Linguist sehingga banyak yang tidak tercatat di masa lalu.

Terutama dicatat bahwa tidak ada bahasa pidgin yang lahir dari kontakantar bahasa-bahasa An.

Implikasi untuk Klasifikasi dan Rekonstruksi Sejarah

Apabila ada satu pokok yang dapat mencakup semua survey ini adalah bahwa ada lebih banyak kontak antara bahasa-bahasa yang berbeda di Melanesia daripada yang para ahli akui di masa lalu. Karenanya kita harus bersiap-siap untuk menerima bahwa linguistic dan arkeologi prasejarah di wilayah ini jauh lebih rumit daripada yang disuga sampai saat ini.

Para peneliti yang tertarik pada klasifikasi dan asal muasal bahasa-bahasa An ini telah mengetahui dan terpana dengan keanekaragaman aspek bahasa di Melanesia. Sedangkan bahasa-bahasa itu terbagi kedalam apa yang disebut Grace sebagai “sebuah kesamaan karakteristik” (atau “kecenderungan kesamaan”) dalam beberapa hal, dan perbedaan yang luar biasa dalam hal lainnya (Grace 1968 :67). T.

etapi para peneliti tersebut seringkali memperdebatkan tujuan dari alasan ini. Karena umumnya mereka gagal untuk mengetahui bahwa perbedaan itu tidak hanya satu meaikan beberapa.

Perbedaan pertama yang diakui adalah yang merujuk pada alinea pembuka makalah ini, tercatat sejumlah kecil bahasa-bahasa terpusat di wilayah kecil. Sebenarnya bukanlah jumlah yang menjadi menarik dan penting melainkan menurut Pawley (1981)m jumlah bahasa per kelompok di satu pulau.

Jadi walaupun dibandingkan dengan Polynesia, Melanesia memiliki banyak bahasa per kelompok di setiap pulaunya, sementara di Polynesia biasanya hanya ada satu bahasa saja. mengapa demikian? Jawaban Pawley adalah keanekaragaman di Melanesia “tidak dibawa oleh mekanisme dari jenis-jenis yang berbeda yang terjadi di Polynesia” (Pawley 1981: 273).

Agaknya rentetan keanekaragaman di kedua wilayah itu kurang lebih sama, yang membedakan hanya “lingkaran keanekaragaman linguistic” lebih mungkin untuk diterapkan di Melanesia daripada di Polynesia (Pawley 1981: 298) ketika dia melihat bervariasinya faktor social ekonomi dan politik dalam proses speciation, Pawley tidak melihat adanya kontakdenga komunitas rumpun bahasa NAn sebagai “bahan yang harus ada dalam resep keanekaragaman linguistic di Melanesia” (Pawley 1981: 274-275).

Dia mengakui walaupun keberadaan populasi ini dapat mempercepat proses ini, seperti yang dia kemukakan dalam kesempatan lain (Pawley 1990), keanekaragaman ini tidak seperti teka-teki. Hal ini dapat diberi keterangan jelas dengan adanya mekanisme yang dipaparkan dalam makalah ini.

Adalah dua jenis keanekaragaman lain yang lebih menarik. Mereka berkaitan variasi bahasa-bahasa An di Melanesia. Jenis pertama, focus pada beberapa bahasa yang sangat berbeda satu sama lain dan merekonstruksi proto-languages dalam system bunyi dan tata bahasa mereka.

Jenis yang kedua berkaitan dengan distribusi silang bahasa-bahasa yang sama asalnya. Yang paling berlainan adalah dalam pengertian ini seringkali dirujuk sebagai “aberrant” atau yang paling bermasalah (Grace 1990) dan yang tidak terlalu berubah sebagai “conservative” atau patut dicontoh.

Antara kedua tigkat aberrant ini, bahasa-bahasa ini dapat diukur dalam skala (walaupun tidak ada seorangpun yang pernah mencobanya) dari yang paling aberrant ke yang kurang aberrant (Grace 1990).

Bahasa-bahasa Sungai Markham di Papua New Guinea, Bahasa-bahasa New Caledonia, dan bahasa-bahasa di Tanna Selatan di Vanuatu secara khusus memiliki reputasi sebagai yang paling aberrant.

Tentu saja, walaupun bahasa-bahasa An di Melanesia diklasifikasikan kedalam rumpun bahasa An, yakni sebagai keturunan dari Proto-Oceanic, mereka sangat bervariasi dalam struktur dan kosakata sehingga para Linguist masih memperdebatkan bagaimana seharusnya mengklasifikasikan mereka (lihat Pawley dan Ross, volume ini).

Para peneliti memiliki teka-teki yang panjang terhadap latar belakang dari keanekaragaman ini dan melakukan pencarian untuk menjelaskan mereka dalam cara yang berbeda.

Yang pertama melakukan ini adalah S.H Ray (1926), yang mengatakan bahwa bentuk “present” dalam bahasa-bahasa An di Melanesia dihasilkan ketika penutur pendatang An dari Indonesia menetap di Melanesia dan melakukan kontak dengan populasi penutur NAn. Kemudian Capell (yang merupakan murid Ray) mempublikasikan gagasan ini, mengembangkan apa yang disebut “pidginization hypothesis”.

Baik Ray maupun Capell menunjuk pada sejumlah kecil kosakata dalam bahasa An di Melanesia yang mungkin berkaitan dengan kosakata bahasa Indonesia. Capell (1943) lebih lanjut mengklaim bahwa sebuah penelitian mengenai kosakata ini menunjukan bahwa bahasa-bahasa di Papua Tenggara, contohnya, memperoleh fitur-fitur bahasanya dari adanya kontak dengan bahasa-bahasa NAn regional, beberapa fitur dapat direkonstruksi dari kosakata yang sama.

Untuk beberapa waktu yang lama, “pidginization hypothesis” ini ditolak oleh para Linguist berdasarkan asumsi yang keliru dan metode yang buruk. Grace (1962), dalam menyimpulkan kontroversi ini menantang mereka yang mendukung opini ini untuk menemukan bahasa Melanesia yang elemen NAn-nya dapat dikaitkan dengan bahasa NAn tertentu.

Thurston (1982) menerima tantangan ini dan menyiapkan bukti-bukti dari bahasa Lusi di New Britai Barat dan ia berkata “mampu menyelesaikan masalah Capell dan Ray” (Thuston 1982:2).

Penjelasan mengenai bukti lexical dan grammatical mengarahkan dirinya pada kesimpulan, seperti yang telah dijelaskan, bahwa Lusi adalah sebuah bahasa creole yang berkembang dari sebuah bahasa An yang pidginized melalui adanya kontak dengan bahasa NAn, Anem.

Thurston sangat yakin dengan apa yang ia temukan bahwa dalam bahasa Lusi dan bahasa-bahasa lainnya di wilayah yang sama, pidginization adalah faktor utama yang menyebabkan keanekaragaman bahasa di Melanesia (1987 – 1994).

Sementara Lynch merujuk dan berargumentasi bahwa banyaknya jumlah bahasa per kelompok yang di temukan di Melanesia bukanlah semata-mata cerminan dari perbedaan ukuran waktu dan kondisi social ekonomi dan politik tertentu.

Dia merasa bahwa kontakantara bahasa An dan NAn juga merupakan bagian yang penting. Untuk mendukung penyataanya tersebut ia menarik pada studi kasus bahasa campuran Magori, Maisin, Lusi dan Reef-Santa Cruz yang telah disebutkan diatas.

Sejak saat itu Grace, menanggapi penelitian terkini yang lebih rinci oleh sejumlah peneliti yang lebih muda termasuk yang telah disebutkan, mengakui bahwa banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh pandangan tradisional terhadap keanekaragaman bahasa dan perubahan berdasarkan model silsilah. Dia menyebutnya sebagai penetapan “sebuah bukti” (1985:3).

Masalahnya, tentu saja, peneliti telah berusaha untuk mempersiapkan sebuah penyelesaian yang dapat menyatukan untuk masalah yang disebut sebagai “Masalah Melanesia” (Grace 1968), tanpa membedakan antara perbedaan type keanekaragaman yang telah dipaparkan diatas dan hanya berusaha untuk menemukan penyelesaian yang berbeda untuk setiap masalah.

Apa yang gagal diketahui oleh para peneliti itu adalah bahwa ada banyak faktor yang terlibat dalam menghasilkan keanekaragaman bahasa yang ditemukan di Melanesia selain ukuran waktu dan kontak bahasa. Sikap terhadap bahasa dan apa yang disebut Don Laycock “conscious human monkeying with language” adalah dua faktor lainnya.

Laycock menjelaskan bagaimana dalam satu dialek Buin, sebuah bahasa NAn di Bougenville Selatan, perbedaan gender dalam tata bahasa ini terbalik di dialek lain, jantan dalam dialek ini adalah betina dalam dialek lain, sementara betina dalam dialek ini adalah jantan dalam dialek lain (1982: 35).

Sehingga, orang-orang Melanesia muncul untuk membantu mengembangkan linguistik untuk tujuan tertentu karena mereka melihat bahwa keanekaragaman linguistik adalah tanda yang penting sebagai identitas kelompok. Seperti sebuah pilihan Melanesia untuk memajukan keanekaragaman (Laycock 1982: 34).

Satu hal yang pasti bahwa, keanekaragaman harus lah bertujuan untuk beberapa hal, sebaliknya, seperti yang Grace jelaskan hal ini terlalu dikaitkan dengan biaya social yang tinggi, mengapa belajar untuk menjadi berbeda ketika menjadi sama dapat mengurangi biaya?.

Tidak juga keanekaragaman itu dijelaskan semata-mata oleh migrasi, yang juga membutuhkan penpindahan independen dalam jumlah besar (Grace 1975; Thurston 1987 :94ff). Pada saat yang sama masyarakat Melanesia menjunjung multilingulisme. Pencitraan publik akan pengetahuan mengenai bahasa lain telah sejak lama menjadi cara untuk menaikan martabat di Melanesia.(Salisbury 1962 : Sankoff 1977).

Faktor lain yang perlu diambil dari catatan yang menjelaskan keanekaragaman linguistic di Melanesia adalah bahasa tabu. Adalah aksi sosial yang melarang penggunaan suatu kata tertentu yang berkaitan dengan seseorang yang telah meninggal. Hal ini umum dalam masyarakat Melanesia dan mengarah pada penggatian kosakata yang “tidak alami” (Simon 1982; Holzknecht 1988).

Kebutuhan untuk Riset Mendatang

Meskipun perkembangan yang besar dalam pengetahuan mengenai bahasa-bahasa Melanesia tertentu dan kelompok-kelompok bahasa belakang ini. Tetap masih banyak pertanyaan yang harus dijawab, sebelum kita dapat mengatakan bahwa dasar dari kontak bahasa dan perubahan bahasa telah cukup tertutupi.

Hanya saja seberapa jauh lagi kita harus melangkah mungkin dapat di ilustrasikan dengan sedehana dengan menjelaskan hal itu, mengingat hasil dari kontak An- NAn secara jelas tergambar dalam diskusi diatas, sedangkan kontak An-An hadir dalam tingkatan yang lebih rendah. Hal ini dapat dlihat dari tabel dibawah ini yang menunjukan tipe kontak yang dijelaskan dalam studi ini. Tanda ‘#’ mengindikasikan bahwa tidak ada kasus yang dijelaskan sampai saat ini dan ‘+’ artinya satu atau ebih kasus telah dilaporkan.

Walaupun masih mentah, tabel ini mengandung pelajaran karena menunjukan dengan jelas jenis dari kasus yang dilaporkan dalam kontak An-An tidak simetris. Jadi, sementara kontak An-NAn menghasilkan berbagai kemungkinan, Kontak An-An hanya menghasilkan tipe peminjaman yang berbeda-beda. Pada apa ketidaksimetrisan ini dapat dihubungkan?.

Apakah ini semata-mata menggambarkan buruknya investigasi sosial lingusitik dan pelaporannya, atau adakah penjelasan lain? Untuk menjawab pertanyaan-pertayaan ini kita memerlukan studi yang lebih mendalam atau kasus khusus yang tidak hanya terpusat pada pertanyaan-pertanyaan mengenai paparan tradisional dan perbandingan sejarah, tapi juga pada aspek-aspek seprti yang Grace perhatikan (1975, 1985, 1990), yaitu:.

– Sikap masyarakat terhadap pembenaran bahasa dan percepatan perubahan bahasa.

– Cara bunyi atau suara berubah dan disebarkan.

– Isolasi sosial dan pengaruhnya pada tingkat perubahan.

– Perbedaan komunitas inter terhadap komunitas intra.

– Definisi dari bahasa dalam komunitas.

Dengan kata lain kita membutuhkan lebih banyak informasi yang rinci dari pada yang kita miliki saat ini. Dengan banyaknya peneliti yang memasuki bidang ini, lebih terlatih dari pada peneliti di masa lalu ada kemungkinan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.