Patanjala, Tokoh Legenda atau Sejarah?
Published :

S
emua orang tahu legenda Sangkuriang. Semua orang tahu nama Siliwangi. Tapi rupanya nama Patanjala sangat asing di telinga kita. Padahal nama Patanjala tertulis dalam sejumlah naskah kuno berbahasa dan beraksara Sunda yang diperkiraakan dicatat pada abad ke-16 M—sama halnya dengan nama Siliwangi.

Bahkan, dibanding nama Sangkuriang, nama Patanjala lebih sering muncul dalam catatan-catatan kuno tersebut. Sekadar informasi, bahwa nama Sangkuriang—sepengahuan kami—tercatat dalam naskah Bujangga Manik dalam aksara Sunda Kuno; selebihnya tidak ada naskah kuno Sunda yang mencatat namanya.

Berikut kutipan Bujangga Manik (tokoh pertapa yang berkeliling Jawa-Bali guna aktivitas ziarahnya dalam naskah tersebut) ketika tiba di salah satu tempat suci (kabuyutan) di “Bukit Pategeng”:

“meu(n)tas di Cisaunggalah / leu(m)pang aing ka baratkeun / datang ka bukit Pategeng / sakakala Sang Kuriang / masa dek nyitu Citarum / burung te(m)bey kasiangan” (menyeberangi Sungai Cisaunggalah / aku berjalan ke barat / tiba di Gunung Pategeng / peninggalan Sang Kuriang / ketika akan membendung Citarum / tetapi gagal karena matahari keburu terbit.)

Dari kutipan di atas jelas bahwa nama Sangkuriang telah menjadi cerita. Sekilas akan terdapat kesan bahwa tokoh Bujangga Manik sepenuhnya memercayai Sangkuriang sebagai tokoh yang benar-benar pernah ada.

Seperti ketika Bujangga Manik, di lempir lain, menceritakan tentang sasakala Nusia Larang di Gunung Wanakusumah (mungkin Gunung Papandayan sekarang), yang oleh para sejarawan diidentifikasikan sebagai tokoh sejarah bernama Niskala Wastukancana, seorang raja Sunda yang memerintah di Galuh pada abad ke-14.

Tak hanya Nusia Larang, Bujangga Manik pun bercerita dirinya tiba di Jalatunda, sebuah sasakala Silihwangi:

“Sadatang ka tungtung Su(n)da / nepi ka Arega Jati / sacu(n)duk ka Jalatunda / sakakala Silih Wangi” (Setelah tiba di ujung Sunda / sampailah di Arga Jati / dan tiba di Jalatunta / kenang-kenangan Silih Wangi).

Kembali pada Patanjala. Dalam naskah Bujangga Manik si tokoh tiba di Bukit Bulitsir di mana terdapat sasakala Patanjala. Di sana si tokoh tinggal selama setahun lebih. Berikut kutipannya:

“Awaki(ng) ka Hujung Kulan / ja rea hadanganana / Leu(m)pang aing nyangkidulkeun / ngahusir Bukit Bulistir / Eta hulu Cimari(n)jung / sakakala Patanjala / ma(n)ten burung ngadeg ratu.”

(Aku pergi ke Hujung Kulan / karena di sana banyak hal yang menunggu / Aku berjalan menyelatan / melanjutkan perjalananku ke Gunung Bulistir / Itu hulu Sungai Cimarinjung, peninggalan Patanjala, ketika ia gagal menjadi raja).

Kesan yang sama akan dirasa oleh pembaca bahwa tokoh Patanjala adalah tokoh yang benar-benar pernah hidup jauh pada masa hidup Bujangga Manik.

Dapat ditafsirkan sementara bahwa Patanjala adalah seorang bangwasan yang gagal menjadi raja—entah karena alasan apa dan di kerajaan mana. Bila diterjemahkan secara harfiah, frasa “gunung bulitsir” berarti gunung yang tidak memiliki lagi pohon-pohon yang besar” atau “gunung yang semitandus”.

Ada naskah kuno lain yang menyebutkan nama Patanjala, yaitu Carita Parahyangan atau Kropak 406. Dalam naskah ini tercatat bahwa Patanjala adalah sosok dewa yang menitis pada diri Wretikandayun, raja pertama Galuh.

Berikut kutipannya:

Basa angkat sabumi jadi sakurungan (maksudnya Sang Kandiawan atau Rahiyangta Dewaradja, ed)., nu miseuweukeun pancaputra, apatiyan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Patanjala, inya: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba, Sang Wretikandayun.

(Setelah menikah, lahirlah lima orang putra yang merupakan titisan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Patanjala, yaitu: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba, Sang Wretikandayun).

Bila melihat teks Carita Parahyangan, maka diperoleh data bahwa sosok Patanjala merupakan sosok dewata, bukan tokoh sejarah. Hal serupa terdapat dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesyan yang menyebutkan nama Sang Wretikandayun sejajar dengan nama Patanjala.

Wretikandayun disebut sebagai salah satu panca putra (lima orang putra Sang Kandiawan yang dianggap penjelmaan panca kusika). Sementara Sang Patanjala di Panjulan merupakan salah satu dari panca kusika (lima orang resi murid Siwa dalam ajaran Hindu).

Berikut kutipan Sanghyang Siksakanda ng Karesyan:

Ini panca putra: pretiwi Sang Mangukuhan, apah Sang Katung-maralah, teja Sang Karungkalah, bayu Sang Sandanggreba, akasa Sang Wretikandayun. Ini panca kusika: Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rumbut, Sang Me

sti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri, Sang Patanjala di Panjulan.

Ini panca putra: pretiwi adalah Sang Mangukuhan, air adalah Sang Katungmaralah, cahaya adalah Sang Karungkalah, angin adalah Sang Sandanggreba, angkasa adalah Sang Wretikandayun.

Ini panca kusika: Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rumbut, Sang Mesti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri, Sang Patanjala di Panjulan.

Tak berbeda dengan Carita Parahyangan, teks Sanghyang Siksakanda ng Karesyan menulis bahwa Patanjala merupakan sosok dewa yang menitis pada Wretikandayun. Namun di naskah tersebut ada tambahan informasi bahwa Patanjala berkediaman di Panjulan.

Satu lagi tulisan yang menyebut nama Patanjala adalah buku Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat. Mantan Bupati Serang dan Pandeglang itu pernah mendengar riwayat asal usul orang Banten dari pamannya bahwa:

“Batara Tunggal berputra lima orang. Yang sulung, Batara Cikal, wafat tak berputra. Sekarang ia memerintah dunia bersama-sama ayahnya. Putra yang kedua, Batara Patanjala, semata-mata memerintah bangsa Kanekes (Baduy), dan ketiga putranya yang lain berkuasa di Salawe Nagara (25 Negeri).

Batara Patanjala berputra beberapa laki-laki, yang termuda bernama Batara Bungsu. Dari Batara Bungsu inilah asalnya Puun-puun Cibeo” (Djajadiningrat, P.A.A., hlm. 4).

Dari tulisan Achmad tersebut terang bahwa Patanjala merupakan sosok dewata. Ada kesamaan antara berita Achmad Djajadiningrat dengan Bujangga Manik mengenai sosok Patanjala bahwa dewa/batara itu berada di wilayah Kanekes Banten, lebih tepatnya di Gunung Bulitsir hulu Sungai Cimarinjung menurut Bujangga Manik.

Keterangan bahwa Patanjala merupakan salah seorang anak dari lima bersaudara berkesesuaian dengan teks Carita Parahyangan dan Sanghyang Siksakanda ng Karesyan, meski nama-nama saudara Patanjala yang empat berbeda dengan cerita paman Achmad (yang tiga lagi bahkan tak disebutkan).

Menurut paman Achmad, Batara Patanjala merupakan putra Batara Tunggal, sedangkan menurut Carita Parahyangan dan Sanghyang Siksakanda ng Karesyan merupakan murid Siwa.

Dari semua data di atas dapat diambil simpulan bahwa tokoh Patanjala adalah tokoh yang namanya cukup melegenda dan diagungkan pada masa silam di kawasan Priangan dan Banten.

Kita makfum bahwa masyarakat zaman dulu menganggap bahwa tokoh-tokoh yang termaktub dalam naskah atau tampil dalam cerita/dongeng memang pernah ada dan berpengaruh dalam peradaban masyarakat.

Sayang kita tak bisa melacak pasti di mana letak Gunung Bulitsir yang diberitakan di wilayah Kanekes (termasuk Kabupaten Lebak sekarang) atau di mana letak pasti Panjulan (atau mungkin telah berganti nama?).

Tak pasti pula mengapa Patanjala gagal marak menjadi raja seperti yang diperikan Bujangga Manik. Boleh jadi bahwa Patanjala sebetulnya tokoh historis yang dilegendakan sebagaimana Siliwangi.