Candi Borobudur, Riwayat Penemuan Kembali dan Pemugaran
Published :

C
andi Borobudur berada pada ketinggian kira- kira 265,4 m di atas permukaan laut. Terletak di Muntilan, Kabupaten Magelang, sekitar 42 km dari kota Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia.

Sejak ditemukannya kembali, candi Borobudur telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemerintah kolonial Belanda sedikitnya telah mengeluarkan biaya 83.400,- Golden. Kemudian setelah kemerdekaan Indoneisa, antara tahun 1975-1982, pemerintah Indonesia berkerjasama dengan Unesco melakukan pemugaran ulang dan menyeluruh.

Proyek kolosal ini konon memperkerjakan 600 orang dan menghabiskan biaya 7.750 juta dolar AS. Biaya yang tak sedikit dari masyarakat Internasional sebagai penghormatan dan penghargaan bagi peninggalan budaya dan sejarah bangsa Indonesia.

Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana. Casparis memperkirakan pembangunan candi Borobudur di kerjakan pada masa Raja Mataram yang bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra sekitar tahun 824 M.

Menurut Prasasti Klurak (784 M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddha Tantra Vajrayana.

Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samaratthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Diperkirakan pula bahwa pembangunan candi Borobudur menghabiskan waktu satu setengah abad, sehingga candi tersebut benar-benar rampung pada masa Pramudawardhani. Sejak saat itu candi Borobudur menjadi pusat ziarah penganut beragama Buddha sampai sekitar tahun 930 Masehi. Namun pada abad ke-11, karena kondisi politik, candi Borobudur mulai terlupakan dan dibiarkan rusak diterpa bencana alam. Kemudian terkubur dan menjadi hutan belantara.

Riwayat Pemugaran Candi Borobudur

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann. Periode selanjutnya pemugaran dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang.

Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya menemukan bentuk Candi Borobudur.

Ada pun landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Robert von Heine Geldern (antropolog-etnolog Austria,) berdasarkan hasil penyelidikan yang ia lalukan menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolitik dan Megalitik yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalitik itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil.

Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa.

Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko, Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara mana pun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Buddhis di Indonesia.

Monograf Borobudur untuk pertama kalinya diterbitkan dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis setahun kemudian. Monograf ini memuat ratusan sketsa dan gambar candi beserta isinya, dibuat atas prakarsa pemerintah Belanda dengan melibatkan sedikitnya tiga orang ahli: Leeman, Wilsen, dan Brumund.

Sejak diterbitkan monograf ini, akses masyarakat luas (terutama Eropa) terhadap informasi Borobudur menjadi terbuka lebar. Mulai Borobudur mengambil tempat dalam “peta sejarah dunia” dan menarik perhatian para ahli untuk meneliti lebih jauh.

Restorasi pertama dilakukan dibawah pimpinan Theodore van Erp dengan dana pemerintah Belanda. Selain restorasi, dia membuat dokumentasi foto keadaan candi sebelum, selama, dan sesudah restorasi, serta melakukan pendataan dan inventaris jumlah stupa dan relief. Namun yang paling menonjol adalah keberhasilan van Erp merekonstruksi candi secara utuh hingga menjadi bentuknya yang kita lihat sekarang.

Namun, sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi misteri Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, serta teknologi yang digunakan dan lagi proses pembuatan relief yang ada pada dinding-dinding candi, semuanya masih merupakan misteri yang membuat kita takjub.