Nhay Subang Larang dalam Carita Purwaka Caruban Nagari
Published :

N
ama Nhay Subang Larang tertulis dalam Carita Purwaka Caruban Nagari. Carita Purwaka Caruban Nagari (disingkat CPCN) merupakan karya Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720 (150 tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat), dengan menggunakan bahasa Jawa-Cirebon. Pangeran Arya Cerbon menggunakan naskah Nagarakretabumi, salah satu judul dari enam Naskah Wangsakerta, sebagai rujukan dalam menulis CPCN. Naskah ini kemudian diterjemahkan oleh Pangeran Sulendraningrat (1972) dan Atja (1986).

Sementara Carita Parahyangan malah tak menyebutkan sama sekali nama Subang Larang atau nama yang bisa dikaitkan dengan keberadaan Subang Larang. Dalam Carita Ratu Pakuan atau Kropak 410 (diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18), nama Subang Larang pun tak ada; yang tertera hanya nama Ngabetkasih, istri lain Prabu Siliwangi, madu sekaligus sepupu Subang Larang.

Nagari-nagari yang Berada dalam Wilayah Galuh pada Abad ke-15

Sebelum membahas perihal Subang Larang, ada baiknya kita tinjau keberadaan nagari-nagari di sekitar Cirebon-Majalengka pada abad ke-15, masa di mana Subang Larang hidup. Nagari-nagari ini awalnya merupakan pecahan Wanagiri Besar atau Indraprahasta, termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh. Jumlahnya ada enam, yakni:

1. Wanagiri

Nagari ini terletak 17 km sebelah barat Amparan Jati (kini di Desa Kalangenan, Kecamatan Paliaman, Cirebon), di timur berbatasan dengan Japura, Singapura, dan Surantaka; di selatan dengan Rajagaluh; di barat dengan Sumedang Larang. Diperkirakan, Wanagiri ini merupakan pusat/ibukota Nagari Wanagiri Besar atau Indraprahasta. Wanagiri dipimpin oleh Ki Gedeng Kasmaya, kakak Ki Gedeng Surawijaya dan saudara Prabu Anggalarang, dan juga mertua Ki Gedeng Tapa.

2. Surantaka

Nagari ini terletak 4 km di utara Giri Amparan Jati (makam Sunan Gunung Jati) dan Muara Jati. Nagari ini dikuasai oleh syahbandar bernama Ki Gedeng Sedhang (Sindang) Kasih yang juga bertanggung jawab atas pelabuhan Muara Jati. Ki Gedeng Sedhang Kasih merupakan saudara Prabu Anggalarang Raja Galuh (nama ini dapat disamakan dengan Rahiyang Dewa Niskala yang tertera pada Prasasti Batu Tulis di Bogor).

3. Singapura

Nagari ini terletak 4 km di utara Giri Amparan Jati, berbatasan dengan Surantaka; di barat dengan Wanagiri; di selatan-timur dengan Japura, di timur dengan Laut Jawa. Nagari ini dikuasai oleh Ki Gedeng Surawijaya Sakti, saudara Ki Gedeng Sedhang Kasih. Yang mangkubuminya adalah Ki Gedeng Tapa. Sepeninggal Ki Gedeng Sedhang Kasih, kekuasaan pelabuhan Muara Jati masuk ke dalam wilayah Singapura. Pada waktu inilah, Ki Gedeng Surawijaya mengangkat Ki Gedeng Tapa menjadi Syahbandar Pelabuhan Muara Jati.

4. Japura

Nagari ini terletak 17 km sebelah tenggara Giri Amparan (hingga kini ada desa dan kecamatan bernama Astana Japura di Cirebon), penguasanya bernama Amuk Murugul. Pada tahun 1422 terjadi peperangan antara Japura melawan Singapura pimpinan Raden Pamanah Rasa. Serangan ini mungin dilancarkan pihak Singapura karena melihat Nagari Japura yang merupakan negeri pesisir yang ramai dikunjungi perahu-perahu asing, yang jelas dapat membahayakan perekonomian Galuh. Japura oun kalah, kemudian nagari ini bergabung dengan Singapura. Tak jelas siapa orang yang ditugasi menjadi penguasa Japura setelah kalah oleh Singapura, apakah Pamanah Rasa atau orang lain yang ditunjuk oleh Prabu Anggalarang, penguasa Galuh sekaligus ayah Pamanah Rasa.

5. Talaga

Nagari ini terletak sekitar 70 km sebelah barat Amparan Jati, di lereng barat Gunung Cireme (sekarang termasuk Kecamatan Talaga, Majalengka); jadi lumayan jauh dari pelabuhan Muara Jati. Di sebelah utara, Talaga berbatasan dengan Rajagaluh, dibaratdaya dengan Sumedang Larang, di selatan dengan Kawali, ibukota Kerajaan Galuh. Menurut cerita rakyat, para penguasa Talaga masih merupakan kerabat raja-raja Galuh. Pada masa Sunan Gunung Jati, penguasa Talaga adalah Prabu Pucukumum yang kemudian menjadi resi dan menyerahkan Talaga kepada Susuhunan tersebut.

6. Rajagaluh

Nagari ini terletak sekiatr 30 km di barat Amparan Jati, di lereng utara Gunung Cireme, jejaknya dapat dilihat pada sebuah desa dan kecamatan bernama Rajagaluh di Kab. Majalengka. Di selatan, Rajagaluh berbatasan dengan Talaga, di barat dengan Sumedang Larang, di timur Caruban Girang, di utara dengan Wanagiri; jadi letaknya cukup jauh dari Laut Jawa.

Murid Syekh Hasanudin di Pesantren Quro, Karawang

Ayah Subang Larang adalah Ki Gedeng Tapa, mangkubumi di Singapura. Nagari Singapura merupakan pecahan Nagari Wanagiri Besar yang dirajai Prabu Indraprahasta, termasuk kekuasaan Galuh. Ibunya bernama Nhay Ratu Karanjang, putri Ki Gedeng Kasmaya penguasa Wanagiri, yang masih saudara dari Prabu Anggalarang. Oleh penguasa Surantaka Ki Gedeng Surawijaya Sakti, Ki Gedeng Tapa alias Ki Gedeng Juman Janti diangkat menjadi syahbandar pelabuhan Muara Jati.

Syahdan, pada 1415 M, datanglah rombongan armada Cina yang dipimpin Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dan Kun Wei Ping tiba di Muara Jati dalam jumlah prajurit 27 ribu dengan kapal-kapal yang sangat besar sebanyak 63. Mereka singgah di Muara Jati karena hendak membeli perbelakan untuk melanjutkan perjalanan “muhibah”-nya ke Majapahit. Di sinilah, Ma Huan, sekretaris Zheng He, menikah dengan Nhay Rara Ruda, saudara Ki Gedeng Tapa. Singapura ketika itu dipimpin oleh Ki Gedeng Surawijaya Sakti, saudara Ki Gedeng Sindang Kasih. Ada pun kakak Ki Gedeng Surawijaya, yakni Ki Gedeng Kasmaya adalah penguasa Nagari Wanagiri yang mertua Ki Gedeng Tapa dan kakek Subang Larang. Di Muara Jati ini, Ma Huan memunyai nama batu, Ki Dampu Awang.

Pada 1416, Nhay Subang Larang yang berusia 12 tahun, bersama Ki Dampu Awang, Nhay Rara Ruda (istri Dampu Awang, saudara Ki Gedeng Tapa), dan Nhay Aci Putih (putri Dampu Awang-Rara Ruda) pergi berlayar ke Malaka. Mereka berada di Malaka selama 2 tahun, lalu kembali ke Muara Jati tahun 1418.

Bertepatan dengan kedatangan Subang Larang, pada 1418, tiba pula seorang ulama Islam bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik yang menumpang perahu dagang dari Campa (kini termasuk wilayah Vietnam dan sebagian Kamboja). Syekh Hasanuddin pun kemudian akrab dengan Ki Gedeng Tapa, syahbandar Muara Jati. Mungkin, saat inilah Ki Gedeng Tapa memutuskan untuk memeluk Islam.

Kegiatan penyebaran Islam oleh Syekh Hasanuddin sangat mencemaskan penguasa Galuh (di Kawali, Ciamis) yakni Prabu Angga Larang alias Prabu Dewata Niskala, putra Niskala Wastukancana, cucu Prabu Linggabhuwana yang gugur di Bubat. Sang Prabu diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan. Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meski dakwah itu dilarang, namun kelak keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang waliyullah. Kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa untuk pergi ke Karawang. Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa cukup prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin hendak ke Karawang, putrinya Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Islam di Malaka.

Perjalanan pun dimulai. Setelah memasuki Laut Jawa, kemudian rombongan memasuki muara Sungai Citarum yang ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Sungai Citarum akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalem di Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musola untuk belajar mengaji dan tempat tinggal. Syekh Hasanudin yang menganut Mazhab Hanafi, menamai pesantren yang terletak di Pura, Desa Talagasari, Karawang, tersebut sebagai Pesantren Quro—maka itu ia lebih dikenal dengan nama Syekh Quro. Subang Larang belajar di situ selama dua tahun. Tahun 1420 ia kembali ke kampung halamannya di Singapura.

Pada tahun 1420 ini pun, datang seorang ulama dari Baghdad bernama Syekh Datik Kahfi alias Syekh Idofi bersama pengiringnya yang berjumlah 12 orang, yang terdiri atas 10 pria, 2 wanita. Syekh ini pun lalu berteman baik dengan Ki Gedeng Tapa. Permintaan Syekh Datuk Kahfi untuk menetap di Pasambangan yang terletak dekat Muara Jati, direstui oleh Ki Gedeng Tapa. Di tahun selanjutnya, Syekh Datuk Kahfi memiliki nama lain, yaitu Syekh Nurul Jati. Ia menetap di sini hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di Giri Amparan Jati atau Gunung Jati.

Menikah dengan Raden Pamanah Rasa

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin di pelabuhan Karawang rupanya terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama di pelabuhan Muara Jati, Cirebon. Sang Prabu segera mengirimkan utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro. Tatkala Pamanah Rasa tiba di tempat tujuan, ia disuruh oleh Syekh Quro untuk pergi ke Singapura menemui Ki Gedeng Tapa.

Tiba di Singapura pada 1422, Pamanah Rasa mendengar ada sayembara yang diselenggarakan di Nagari Surantaka. Hadiahnya: seorang gadis bernama Subang Larang yang konon cantik. Singkat cerita, sayembara dimenangkan Pamanah Rasa. Maka terjadilan pernikahan berbeda agama ini. Konon, pernikahannya dilaksanakan di Pesantren Quro (kini Mesjid Agung) di mana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulu. Pada tahun yang sama, Pamanah Rasa pun berhasil mengalahkan Raja Amuk Murugul dari Japura. Namun tak diketahui, peristiwa mana dulu yang terjadi, apakah sayembara Subang Larang atau perang melawan Amuk Murugul.

Besar kemungkinan, setelah menikah, Subang Larang diboyong ke istana Galuh oleh Pamanah rasa. Baru, setelah Pamanah Rasa dilantik menjadi Raja Pajajaran di Pakuan bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Ratu Dewata (tertulis pada Prasasti Batu Tulis), menggantikan uwaknya sekaligus mertuanya, Susuk Tunggal, pada 1447 M, maka Subang Larang pun menetap di Pakuan, bersama istri-istri Sang Prabu yang lain.

Selain beristri Subang Larang, Raden Pamanah Rasa menikahi pula Nhay Ambet Kasih (Ngabetkasih), putri Ki Gedeng Sedhang Kasih. Jadi, Ambet Kasih merupakan sepupu Subang Larang sendiri. Pernikahan ini membuat Ki Gedeng Sedhang Kasih—yang juga paman Pamanah Rasa—memberikan daerah Sindang Kasih (sekarang termasuk Kecamatan Beber, Cirebon) kepada Raden Pamanah Rasa. Sindang Kasih ini terletak 15 km arah selatan dari Surantaka. Kemungkinan besar, Nagari Surantaka disatukan ke dalam wilayah Singapura oleh Pamanah Rasa.

Menurut CPCN, Prabu Siliwangi memiliki istri lain bernama Nyai Aciputih, putri Ki Dampu Awang. Yang menjadi permaisuri Sri Baduga adalah Kentring Manik Mayangsunda, keponakannya sendiri, putri Susuktunggal. Pernikahannya dengan Kentring Manik membuahkan putra bernama Surawisesa.

Leluhur Raja-raja Cirebon dan Banten

Pasangan Sri Baduga – Subang Larang memiliki tiga orang anak, yakni Walangsungsang, Lara Santang, dan Raden Sengara. Diperkirakan, ketika putra-putri telah berusia di atas 17 tahun, Subang Larang meninggal dunia. Tak jelas kapan tahun wafatnya dan di mana ia dikuburkan. Sementara itu, sang suami yakni Prabu Siliwangi masih hidup.

Setahun setelah ibunya wafat, Walangsungsang pergi meninggalkan keraton Pakuan, disusul adiknya, Lara Santang. Dalam perjalanan, Walangsungsang singgah di rumah Ki Gedeng Danuwarsih, seorang pendeta Buddha. Di sini ia menikah dengan putri Danuwarsih bernama Nhay Endang Geulis. Lara Santang pun tiba di rumah pendeta ini. Setelah itu, Walangsungsang, istrinya, dan Lara Santang pergi menuju Singapura dan berguru kepada Syekh Datuk Kahfi di Pesantren Pasambangan selama 3 tahun. Oleh Syekh ini, Walangsungsang diberi nama baru: Ki Samadullah. Oleh gurunya tersebut, Walangsungsang disuruh membuka lahan baru di Kebon Pesisir. Setelah itu, daerah tersebut bernama Tegal Alang-alang, 6 km timur Pasambangan. Di Tegal Alang-alang ini telah ada pula penguasanya bernama Ki Danusela alias Ki Gedeng Alang-alang, adik Ki Gedeng Danuwarsih. Di tempat ini Walangsungsang diangkat sebagai Pangraksabumi oleh Ki Danusela dan bergelar Ki Cakrabumi. Tak lama kemudian, ia dan adiknya, Lara Santang disuruh pergi ke Mekah, sementara istrinya tak ikut karena hamil.

Di Tanah Arab, Lara Santang kemudian menikah dengan Maulana Sultan Muhammad (Syarif Abdullah), seorang bangsawan Arab yang berada di wilayah kekuasaan Sultan Mesir. Pernikahan ini melahirkan dua anak lelaki bernama Syarif Hidayat (Hidayatullah) dan Syarif Nurullah. Lara Santang pun memiliki nama baru, yaitu Syarifah Mudain. Di sini Walangsungsang punya nama muslim, Haji Abdullah Iman. Tiba bulan menunaikan haji, Walangsungsang sendiri pulang ke Jawa. Sementara Lara Santang diam di Arab.

Tiba di Jawa—setelah sebelumnya menetap di Campa—Walangsungsang membangun masjid kecil tahun 1456. Ia lalu diangkat menjadi Kuwu Caruban II, menggantikan Ki Danusela Kuwu Caruban I. Putri Ki Danusela bernama Nhay Rena Riris pun dinikahinya. Di sini Raden Walangsungsang memiliki gelar baru: Pangeran Cakrabuana.

Mendengar anaknya telah kembali dan memiliki kekuasaan di Caruban yang berhasil menggantikan posisi Singapura, Prabu Siliwangi mengirim utusan yakni Tumenggung Jagabaya serta Raden Sengara, adik Walangsungsang. Oleh Sang Prabu, Walangsungsang diberi gelar Pangeran Sri Mangana sekitar tahun 1460. Jelas, sang ayah tak keberatan dengan adanya nagari baru bernama Caruban Larang. Asal saja, Cakrabuana tetap harus mengirimkan upeti ke Pajajaran, dan tetap merupakan bawahan Galuh. Raden Sengara sendiri akhirnya tak kembali ke istana, sebaliknya ikut menetap di Caruban, dan menikah dengah Nhay Halimah asal Campa dan ikut masuk Islam.

Syahdan, putra sulung Lara Santang, yakni Syarif Hidayatullah, meninggalkan Timur Tengah untuk pulang ke Jawa. Ia menolak untuk menggantikan ayanya sebagai sultan, karena ini menjadi mubalig di Jawa, kampung halaman ibunya. Sebelum tiba di Cirebon, ia singgah dulu di Gujarat (India), Samudra Pasai di Sumatra, Banten, dan Ampel Gading di Jawa bagian timur. Atas hasil sidang para Wali Sanga, maka diputuskan agar menetap di Cirebon guna islamisasi.

Tibalah Hidayatullah di Muara Jati/Pasambangan pada tahun 1475. Di sini ia, yang usianya sekitar 27 tahun, mengunjungi Pangeran Cakrabuana, uwaknya. menggantikan Cakrabuana dan marak menjadi penguasa Cirebon Girang. Di sini ia mendirikan pesantren di Dukuh Sembung dan Kampung Babadan. Di Babadan ia menikah dengan Nhay Babadan, putri Ki Gedeng Babadan. Raden Sengara pun dikenal sebagai Kian Santang. Lalu Syarif Hidayat diutus untuk pergi ke Banten kembali. Penguasa Banten, Bupati Kawunganten tertarik akan dakwah Islam Syarif Hidayat, lalu memeluk Islam. Adiknya, Nhay Kawunganten pun dinikahkan dengan Syarif Hidayat. Pernikahan ini membuahkan dua orang anak: Ratu Winaon dan Pangeran Sabakingkin.

Tahun 1479, ia kembali ke Caruban, dan kemudian menggantikan Pangeran Cakrabuana yang telah tua dan sakit-sakitan. Kebetulan uwaknya ini tak punya keturunan laki-laki, maka jadilah Syarif Hidayat menjadi penguasa Nagari Caruban. Ia pun bergelar Tumenggung Susuhunan Jati. Selain itu, Syarif Hidayatullah punya gelar-gelar lain: Sayid Kamil, Nuruddin Ibrahim, Syekh Maulana Jati, dan Susuhunan Jati Purba. Pustaka Nagara Kretabhumi menceritakan bahwa pada tanggal 12 bagian terang, bulan Caitra, tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya dibawa setiap tahun ke Pakuan.

Kemudian ada berita: pasukan Angkatan Laut Demak telah ditempatkan di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran. Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya lebih besar. Akhirnya Jagabaya menyerah dan masuk Islam. Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Namun, pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) Keraton, Ki Purwa Galih. Perang saudara pun akhirnya dapat dicegah.

Persekutuan Demak-Cirebon sangat mencemaskan pikiran Sri Baduga di Pakuan. Mungkin pula, kepindahan ibukota dari Kawali (Galuh) ke Pakuan atas pertimbangan bahwa Kawali yang dekat dengan Cirebon (yang telah dikuasai Demak sejak 1475) merupakan target Demak berikutnya untuk menguasai Jawa Barat. Mengingat wilayah Sunda belum tumbuh menjadi potensi politik Islam yang nyata, Sri Baduga memusatkan perhatiannya terhadap Selat Sunda sambil mendekati pihak Portugis di Malaka. Maka, pada tahun 1512 dan 1521, ia mengirimkan misi datang dan persahabatan kepada Panglima Portugis, Alfonso d’Albuquerque, di Malaka, yang ketika itu baru saja merebut Samudra Pasai. Dengan dikuasainya Selat Sunda oleh Pajajaran dan Selat Malaka oleh Portugis, bagi Demak sangat sukar untuk menguasai perairan di Nusantara. Bagi pihak Demak, jelas upaya Pajajaran ini meresahkan mereka.

Menurut Carita Parahyangan, Sri Baduga Maharaja wafat pada 1521 setelah memerintah selama 39 tahun. Ia dipusarakan di Rancamaya, maka itu disebut secara Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya. Rancamaya terletak kira-kira 7 km di sebelah tenggara Kota Bogor, di mana Sri Baduga pernah membuat hutan buatan dan telaga. Setelah itu yang menjadi raja di Pakuan adalah Surawisesa. Pada masa inilah, Pajajaran banyak kehilangan wilayah kekuasaannya. Dua pelabuhannya berturut-turut jatuh ke pihak Demak-Cirebon-Banten; tahun 1526 pelabuhan Banten, tahun 1527 Sunda Kalapa. Pada tahun berikutnya, 1528, peperangan bergeser ke arah timur, di Rajagaluh, Majalengka. Tahun 1530, terjadi peperangan di Talaga, daerah di mana salah seorang istri Surawisesa berasal. Sementara Cirebon melanjutkan serangannya dari Talaga menuju jantung ibukota Galuh dan Galunggung.

Setelah Surawisesa mangkat, berturut-turut raja di Pakuan silih berganti, dari Ratu Dewata, Ratu Saksi, hingga Prabu Nilakendra. Pada masa Nilakendra, serangan ke Pakuan pun dilancarkan oleh pihak Banten pimpinan Panembahan Hasanuddin alias Pangeran Sabakingkin yang diangkat menjadi sultan Banten tahun 1552 oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah. Pada masa selanjutnya, yang memerintah Pajajaran adalah Ratu Ragamulya alias Suryakancana, di mana ia tak lagi diam di Pakuan melainkan di tempat pelarian di Pulasari, Pandeglang. Pada era inilah di tahun 1579, Pakuan berhasil dimasuki tentara Banten pimpinan Panembahan Maulana Yusuf, meski istananya tetap tak bisa dijebol karena telah diperkuat dengan parit-parit yang cukup terjal oleh Sri Baduga dulu.

Pihak Banten yang merasa berhak atas wilayah Pajajaran segara membawa palangka (singgasana) Sriman Sriwacana ke Surosowan, ibukota Kesultanan Banten. Sriman Sriwacana, tempat duduk untuk penobatan takhta ini, ini berukuran 200 x 160 x 20 cm; oleh orang Banten disebut Watu Gilang (batu mengkilat). Pemboyongan palangka ke Banten ini bertujuan agar di Pakuan tidak ada lagi penobatan raja baru. Dengan begitu, Maulana Yusuf berhak mengklaim sebagai penerus Pajajaran. Palangka Sriman Sriwacana ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten.

Ketika Pajajaran ini runtuh pada 1579, menurut Kitab Waruga Jagat, saat itulah wilayah Sumedang Larang pun menyatakan sebagai negara “penerus Pajajaran” dengan Prabu Geusan Ulun sebagai raja pertamanya. Besar kemungkinan, banyak penghuni Pakuan yang pindah ke Sumedang; dan sebagian lagi bermigrasi ke Banten mengikuti kepemimpinan Sultan Banten. Diperkirakan, banyak pengikut dan punggawa Pajajaran yang pergi dan menetap di daerah Lebak, yang menerapkan tata cara kehidupan tradisional yang cukup ketat, dan dikenal sebagai orang Baduy.

Keruntuhan Pajajaran ini ternyata, salah satunya, disebabkan oleh rongrongan mereka yang masih keturunan raja Pajajaran sendiri. Cirebon dan Banten, dua kerajaan baru dengan ideologi baru, yakni Islam, telah berhasil mengambil alih kekuasaan politik Sunda-Pajajaran; dan orang yang paling berperan dalam hal ini adalah Syarif Hidayatullah, cucu Prabu Siliwangi-Subang Larang, sekaligus pendiri pondasi Kesultanan Cirebon dan Banten.

Mengenai kisah Prabu Siliwangi, banyak cerita yang beredar. Menurut sebuah legenda, konon Prabu Siliwangi pergi meninggalkan keraton Pakuan lalu menuju ke Hutan Sancang di selatan Garut, setelah dikejar-kejar putranya sendiri yakni Kian Santang agar masuk Islam. Sang Prabu yang enggan masuk Islam, disertai sejumlah pengikut setianya, pantang berseteru dengan putranya sendiri dikarenakan hanya masalah keyakinan. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Prabu Siliwangi berubah wujud (ngahiyang) menjadi harimau putih, sedangkan para pengikutnya menjadi harimau loreng.

Kritik

Apa yang diberitakan CPCN tentang Nhay Subang Larang tentu tak dapat dikatakan seratus persen akurat. Alasan pertama, karena kitab tersebut ditulis hampir dua abad setelah Subang Larang tiada. Kedua, kitab-kitab yang ditulis sezaman dengan Subang Larang, misalnya Carita Parahyangan, tak menyebut-nyebut nama Subang Larang. Pun kitab-kitab sesudahnya, seperti Carita Ratu Pakuan, tak membahas keberadaan Subang Larang ini. Ketiga, ada versi-versi yang berbeda mengenai kisah perjalanan Subang Larang—meski perbedaannya tak mencolok. Ada yang mengatakan bahwa Raden Pamanah Rasa pertama melihat Subang Larang ketika putri Ki Gedeng Tapa ini tengah mengaji Al Qur’an di Pesantren Quro. Karena langsung jatuh hati, Pamanah Rasa pun meminang sang putri, dan kemudian pernikahan dilakukan di pesantren milik Syekh Hasanuddin di Karawang tersebut. Ini berbeda dengan versi CPCN yang mengisahkan bahwa Pamanah Rasa memperisitri Subang Larang setelah berhasil memenangkan sayembara di Surantaka.

Namun, sebagai sosok historis, keberadaan Nhay Subang Larang cukup penting dalam perjalanan sejarah sosial, relegi, dan politik di Tatar Sunda di kemudian hari. Kejayaan Pajajaran diganti oleh kehadiran Kesultanan Cirebon dan Banten, di mana sosok Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, cucu Subang Larang, merupakan tokoh kunci dari segala perubahan yang terjadi di Jawa bagian barat, yang dimulai pada abad ke-15, hingga kini.

Sumber Rujukan:

Atja dan Edi S. Ekadjati. 1987. Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara I.1: Suntingan Naskah dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sunardjo, Unang, R.H. 1983. Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809. Bandung: Tarsito.