Sistem Kekerabatan Suku Betawi
Published :

B
etawi adalah suku yang multi-kultural. Banyak budaya berbeda yang berakulturasi amat kental saling mempengaruhi namun menjadi khas dan asli. Suku Betawi disatu sisi tampak dinamis dan mudah beradaptasi di sisi lain seperti sulit untuk kembali berakulturasi.

Sistem kekerabatan di kalangan orang Betawi pada umumnya bersifat bilateral atau bilineal. Suatu sistem kekerabatan yang dalam pergaulan antar anggota kerabat tidak dibatasi pada kerabat ayah atau kerabat ibu saja. Melainkan meliputi kedua-duanya.

Jadi, dalam sistem kekerabatan ini hubungan anak terhadap sanak keluarga pihak ayah adalah sama dengan hubungan keluarga di pihak ibu.

Hubungan saudara para orang Betawi selain karena faktor hubungan darah, juga dilatarbelakangi faktor perkawinan. Orang Betawi biasanya menikah dengan orang Betawi juga. Meski mereka tidak dilarang menikah dengan orang di luar suku Betawi.

Salah satu penyebabnya adalah karena lingkungan tempat tinggal mereka yang sebagian besar adalah sesama orang Betawi. Walaupun sekarang orang betawi juga hidup berdampingan dengan suku lainnya.

Setelah melangsungkan adat pernikahan sekalipun tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak; akan menetap secara patriarki atau matriarki. Dalam praktiknya ada sebaian masyarakat Betawi cenderung menyepakati sistem yang lebih patriarki.

Sistem kekerabatan patriarki yaitu menghitung hubungan kekerabatan melalui garis keturunan laki-laki saja. Karena itu mengakibatkan tiap-tiap individu dalam masyarakat memasukan semua kaum kerabat ayah dalam hubungan kekerabatannya, sedangkan semua kaum kerabat ibu sedikit samar diluar garis hubungan kekerabatannya.

Tujuh Turunan; Kekerabatan Ala Suku Betawi

Umumnya Orang Betawi merasa bahwa seseorang dengan genealogi (garis keturunan) yang sama adalah saudara. Yakni jika seseorang tersebut memiliki runutan silsilah keturunan atau masih ada hubungan darah satu dengan yang lainnya.

Dalam budaya Betawi mereka menganal istilah Tujuh Turunan, silsilah keluarga hingga garis ketujuh. Maka tidak heran di antara orang Betawi satu sama lain masih saling mengenal meski garis genealogi itu telah sangat jauh.

Mereka juga mengenal istilah menyambut kerabat sampai tingkat tujuh keturunan. Hal tersebut dipandang cukup penting untuk mengetaui kerabat terutama ketika dihadapkan pada bagaimana harus bersikap dan memperlakukan orang lain

Apabila seseorang ingin melakukan pesta (hajatan), maka dalam salah satu doa yang diucapkan terkadang dikirimkan juga doa-doa untuk para kerabat yang telah meninggal, maupun yang masih hidup sampai tujuh keturunan.

Menyapa dan Menyebut Kerabat di Betawi

Dalam hubungan kekerabatan suku Betawi juga berlaku istilah menyapa dan menyebut sesuai dengan sistem kekerabatan dalam bahasa Betawi.

Istilah menyapa dipakai ego untuk memanggil seorang kerabat apabila ia berkomunikasi langsung dengan kerabatnya. Sebaliknya, istilah menyebut dipakai oleh ego apabila ia berhadapan dengan orang lain, bebicara tentang seorang kerabat sebagai orang ketiga.

Demikian di dalam istilah Bahasa Indonesia istilah menyapa bagi ayah adalah Bapak atau Pak, sedangkan istilah menyebut ayah adalah orang tua.
Di bawah ini adalah beberapa kata sapaan dalam kekerabatan Betawi:

Orang Betawi menyebut kepada laki-laki maupun perempuan paling tua dengan istilah uyut. Untuk menyapa, mendapat tambahan kata sesuai dengan jenis kelami; yakni uyut laki-laki dan uyut perempuan.

Begitu pula untuk menyapa atau menyebut kumpi untuk menyebut orang tua laki-laki dari orang tua ego; yakni kumpi laki-laki. Sedangkan untuk orang tua perempuan, orang tua dari orang tua ego, yakni kumpi perempuan.

Kemudian istilah menyapa atau menyebut orang tua dari orang tua ego berdasarkan prinsip jenis kelamin. Orang tua laki-laki dari orang tua ego disapa dan disebut engkong.

Sedangkan untuk orang tua perempuan, dari orang tua ego, disapa dan disebut nenek. Sapaan dan sebuatn untuk orang tua laki-laki ego adalah babe, sedangkan untuk orang tua perempuan adalah enyak atau nyak.

Kakak laki-laki atau suami dari kaka perempuan orang tua ego disebut uwak laki-laki. Sementara kakak perempuan atau istri dari kakak laki-laki orang tua ego disebut uwak bini.

Sebutan Adik laki-laki dari orang tua ego adalah mamang, sedangkan adik perempuan dari orang tua ego disapa dan disebut encing. Kemudian Istri ego (bila ego adalah laki-laki) disebut bini. Sedangkan suami ego (bila ego adalah perempuan) disebut laki.

Istri dari anak laki-laki ego atau suami dari anak perempuan ego disebut anak mantu. Sedangkan anak laki-laki dan anak perempuan dari anak-anak ego disebut cucu. Adapun ego dalam bahasa Indonesia adalah saya atau aku, dalam bahasa betawi banyak dipengaruhi oleh bahasa Cina dan Arab, yaitu gue/gua atau ane.

Jika dilihat sistem istilah kekerabatan orang Betawi seperti di atas, maka akan didapati adanya pengaruh beberapa bahasa dalam bahasa Betawi. Antara lain bahasa Cina untuk engkong dan encing, bahasa Jawa untuk uwak dan uyut, dan bahasa Sunda untuk mamang.

Dengan membedakan sebutan ini seorang Betawi akan mudah menggambarkan pohon genealogi kekerabatnya hingga tujuh turunan.