Periodisasi Sastra Bali
Published :
Oleh: G.E. Marrison

S
ejak kemerdekaan, bahasa dan sastra Indonesia memiliki peran yang dominan, akan tetapi bahasa-bahasa daerah pun telah mempertegas keberadaannya dengan kesadaran dan dorongan masyarakat lokal di Bali; beberapa karya sastra tersebut ditelurkan di sekolah-sekolah dan universitas. Sastra Bali telah bertahan sejak zaman Jawa Kuno dan sejak tradisi menulis Jawa-Bali yang dipengaruhi oleh nuansa Hindu juga oleh seni lukis, musik, tari, dan drama; selain itu, bahasa Bali pun digunakan untuk menginterpretasikan situasi daerahnya dengan lebih populer.

Awal mula sastra Bali modern

Penyebutan “sastra Bali modern” untuk pertama kali sebagai pembeda dari sastra Jawa telah muncul sejak abad ke 18 M. Pigeaud (II 1968: 5) menyebutkan:

Di Bali, orang-orang Jawa yang tengah mencari tempat perlindungan setelah adanya Islamisasi di Jawa kemudian mengumpulkan manuskrip sama halnya ketika mereka berada di Jawa. Sastra Jawa-Bali kemudian berkembang, dan berbarengan dengan kebangkitan kembali aksara Bali setelah untuk beberapa abad dikuasai oleh aksara Jawa.
Kerajaan Gelgel dianggap sebagai pengganti Kerajaan Majapahit yang menjaga gaya bahasa, sastra dan seni yang bernuansa Hindu-Jawa. Walau demikian, posisi tersebut kemudian dihancurkan oleh penyerangan pasukan Karang-Asem pada 1686. Penerus Kerajaan Gelgel, Klungkung, tidak mampu mencengkramkan kekuasaanya secara efektif di pulau tersebut: istana-istana kecil telah dibangun dengan menjaga gaya kuno tapi sekarang lebih terbuka terhadap pengaruh luar. Karang Asem mulai melakukan ekspedisi dan penaklukkan dan mencapai puncaknya saat penaklukkan Lombok pada 1740, di mana sebuah kerajaan Bali pun melakukan hal sama sampai dengan dijatuhkan oleh Belanda pada 1894.

Pusat pengembangan modern lainnya adalah Kerajaan Buleleng yang melakukan kegiatan perniagaan dengan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai oleh orang-orang Islam di Pantai Utara Jawa. Terlebih, pada 1697, Buleleng memiliki pengaruh di Blambangan, sebuah wilayah paling timur pulai Jawa, dan pengaruh Bali terus berlanjut hingga kedatangan Belanda pada 1772. Buleleng menjadi ibu kota ketika perdagangan dan kekuasaan politik Eropa pertama kali dibangun di Bali. Selama pendudukan Inggris di Jawa; 1811-1815, Raffles berhubungan dengan Raja Buleleng. Pada 1855, dua orang Belanda yaitu Rutger van Eck (1842-1901) dan H.N. van der Tuuk (1824-1894) mempelajari bahasa dan sastra Bali. Pada 1928 di Singaraja, Kirtya Liefrinck-Van der Tuuk dibangun dengan tujuan mengumpulkan dan menjaga manuskrip dan cerita rakyat Bali

Bahasa dan sastra Bali muncul dan digunakan untuk penulisan imaginatif pada masa Kerajaan Karang Asem dan Kerajaan Buleleng. Meski demikian, tradisi kuno tetap dijaga. Ada juga kemunculan perasaan lokalitas dan kadang sekuler yang tidak semuanya dibangun di atas konvensi Hindu-Jawa tapi kadang juga dipengaruhi oleh hubungan dengan dunia luar. Perkembangan tersebut dicontohkan di dalam karya sastra seperti pupuh, cerita rakyat, bahkan sekarang sudah dalam bentuk gaya Barat. Sejak 1930-an, banyak penulis Bali telah menulis dalam bahasa Indonesia modern (banyak dari karya mereka yang mengekspresikan etos dan prinsip orang-orang Bali).

Periode modern bahasa dan sastra Bali dapat dibagi ke dalam empat periode yaitu:

(1) periode runtuhnya Kerajaan Gelgel, 1686, hingga ekspedisi Belanda ke Buleleng, 1849, selama periode ini bahasa Bali untuk pertama kalinya digunakan pada karya sastra lokal baru;
(2) periode 1849 sampai dengan 1908: untuk periode ini, koleksi-koleksi dan publikasi oleh Van Eck dan Van der Tuuk menunjukkan bukti yang subtantif untuk perkembangan aksara Bali sampai dengan akhir abad ke-19 M;
(3) periode 1908 sampai dengan Indonesia merdeka pada 1945, ketika ibukota di Singaraja, di mana pendidikan berkembang dan terakhir Gedong Kirtya yang memengaruhi kesusasteraan Bali: selama periode ini penulis-penulis asal Bali awal menggunakan bahasa Indonesia sudah mulai aktif sejak 1930-an;
(4) periode 1945 dan seterusnya, ketika ibukota dipindahkan ke Den Pasar, Universitas Udayana dibangun, jurnalisme dan penyiaran menyediakan media saluran baru bagi para penulis, dan penggunaan bahasa Indonesia menjadi resmi dan menyebar ke seantero Bali.

2. Pupuh Bali dalam Metrum Tradisional

Karya-karya yang dicantumkan di dalam bagian ini merupakan karya-karya yang diidentifikasi menggunakan bahasa Bali oleh Brandes (1901-1926) dan Juynboll (1912) di dalam katalog mereka yang berhubungan dengan manuskrip dari koleksi Van der Tuuk (sekarang berada di Perpustakaan Universitas Leiden), atau yang tersedia dalam edisi yang terpublikasi (dicantumkan di dalam Bibliografi), atau dalam bentuk mimeographed (mesin stensil) yang tersedia di toko buku di Bali.

2.1. Pupuh Tengahan

Pupuh tengahan menggunakan pola metrikal yang sangat khusus. Biasanya pupuh dibuka dengan beberapa sajak umum (wiwitan atau sawit), diikuti oleh kalimat selang-seling yang panjang (dawa) dan pendek (bawak). Meter tengahan digunakan pada karya-karya masa Jawa Pertengahan atau Jawa-Bali yang dibahas oleh Robson (1971: 20-3). Bila memerhatikan pupuh tengahan pada masa Bali modern, terdapat sejumlah kecil popularitas, mungkin kembali ke masa abad ke-18 M. Ada juga beberapa pupuh yang memiliki cantos (puisi epik yang panjang) baik itu tengahan maupun macapat, mungkin menunjukkan ekperimen yang tidak berkelanjutan. Di antara pupuh romantis, Jayapurana menceritakan Pasekrama yang memeroleh sebuah arca suci, di mana tempat tinggalnya, Purbakara menjadi makmur. Ketika prayangan diserang, cucunya yang bernama Jayapurana berusaha untuk melindunginya, tapi sia-sia belaka: para Dewa mengambil arca tersebut sedangkan yang menyerang dilumpuhkan oleh kilat yang memancar. Jayapurana bersama dua saudara laki-lakinya melakukan pengembaraan dan sampai pada pertapaan di mana mereka menerima berkah. Pupuh tersebut terbagi ke dalam tiga cantos (bagian panjang) dengan meter kadiri, dibuat pada 1670 Saka atau 1748 Masehi, yang kedua pada 1671 Saka atau 1749 Masehi, yang terakhir di Bakung, Buleleng

A. Nyalig, ‘seorang suci yang tampan’, merupakan seorang pahlawan dalam cerita petualangan yang erotis. Van der Tuuk mencatat (Brandes II, 1903: 202) bahwa selain di Karang asem, pupuh ini tidak terlalu dimengerti; pupuh ini memuat sedikit kata-kata Sasak. Setidaknya sebuah manuskrip berasal dari Buleleng. Pupuh tersebut ditulis dalam metrum demung

B. Tunjung Biru merupakan ceritatentang dadari atau bidadari kayangan, Tunjung Biru, Suprabha dan Lottama. Pupuh terdiri dari serangkaian petualangan percintaan, dan deskripsi keanggunan alami; disebutkan dibuat oleh Asmara dan Ratih, Dewa Kasih Sayang. Van Eck (1875: iv) menyebutkan bahwa Tunjung Biru sebagai salah satu pupuh yang paling terkenal.

C. Tuung Kuning, ‘Timun Kuning’, merupakan sebuah cerita rakyat dalam baris demung. Karya sastra ini pun dikenal dalam bentuk sebuah dongeng prosa yang menceritakan tentang seorang lelaki, Pudak, yang terobsesi oleh adu ayam. Pudak ingin melenyapkan adik perempuannya yang masih kecil tapi adik perempuannya itu diselamatkan oleh seorang bidadari. Dadang Dudang juga masih dalam bentuk demung, menceritakan tentang pengembaraan Ki Dadang Dudang dan istrinya yaitu Ni Randi Randu. Dari seorang pandita dia belajar brata atau cara ritual yang mengakibatkan kesakitan dan membawanya ke neraka; tapi di akhir cerita pasangan tersebut diterima oleh Waicorana di surga, akhir cerita ini menunjukkan gaya pengarangan Budhisme.

D. Rara Wangi, ‘Gadis Mewangi’, diketahui dari sebuah manuskrip yang tersimpan di koleksi Van der Tuuk. Rara Wangi jatuh cinta pada Ranapati, tapi penguasa Badung menginginkan dia untuk dijadikan pasangannya, sehingga memaksa mereka berdua (Rara Wangi dan Ranapati) terbang ke Banjar. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, tapi penguasa daerah tersebut pun sama halnya dengan penguasa di daerah sebelumnya yang mencintati Rara Wangi, dan sang penguasa pun membuang Ranapati ke Blambangan untuk kemudian dibunuh. Raja Banjar memanggil Rara Wangi, tapi kemudian Rara Wangi menikam dirinya sendiri sesaat setelah sang raja mendekatinya. Marah atas duka cita yang menyelimuti, sang raja membunuh istrinya kemudian mengembara ke hutan dan wafat. Ranapati dipersatukan kembali dengan Rara Wangi di surga, lain halnya dengan Raja Banjar yang dikirim ke neraka oleh anjing asu gaplong, babi si damalung, dan raja burung paksiraja. Cerita ini disalin dari sebuah manuskrip berbahan daun palem dengan 72 folio dari Bugbug di Karang Asem. Pupuh ini menarik secara strukturnya karena terdiri dari sembilan cantos, beberapa di antaranya merupakan jenis tengahan dan lainnya lebih kuno yaitu macapat yang sudah usang. Brandes III (1915: 42-44) memberikan kutipan tambahan. Di antaranya yang dapat diidentifikasi, yang pertama adalah di dalam tikus kapanting, macapat, yang kelima di dalam pinambi yang merupakan tengahan, yang ke delapan balabak, dan terakhir di dalam panglipur, keduanya macapat meter tua

Ada beberapa pupuh Bali yang bersifat didaktis di dalam meter tengahan: Cowak, dalam demung, nasehat seorang tua renta, pengaruh Muslim; Dharma Sembada, ‘kewajiban bersama’, De Gunati, dalam pesakitan, hukuman dan imbalan serta tugas para raja, dalam panjimarga, dan Kidung anacaraka, sebuah puisi akrostik alfabetis dengan konten moral, dalam kadiri.

2.2. Pupuh Macapat

Pupuh Bali berikutnya disebut gaguritan dengan metrum macapat modern yang bentuknya mirip gaya Jawa. Masing-masing stanza ditentukan jumlah barisnya, jumlah suku kata, dan huruf vokal pada akhir suku kata di setiap barisnya. Aturan tersebut tidak selalu diterapkan dengan sempurna: kadang huruf vokal pepet dilafalkan, kadang dihilangkan tergantung kebutuhan metrum; dan beberapa sajak yang tidak sempurna masih diperbolehkan, di mana o boleh bergantian dengan a atau e; sebuah suku kata ya kadang boleh dirubah menjadi ia, dan wa menjadi ua untuk mengakomodasi metrum

Ada beberapa perbedaan antara penggunaan gaya Bali dan Jawa. Beberapa metrum macapat Bali tidak dikenal atau tidak digunakan di Jawa Tengah, karena asalnya dari Blambangan atau Bali sendiri. Beberapa pola metrum Jawa dimodifikasi ke dalam gaya Bali, dimana ada sebuah kecenderungan untuk pengulangan. Banyak pupuh Bali ditulis dalam satu metrum, sedangkan metrum Jawa tertentu tidak pernah diterapkan sendirian di dalam pupuh Bali, tapi hanya di dalam beberapa bagian syair saja yang berbeda metrum.

Pupuh Bali biasanya diklasifikasikan oleh bentuk metrikal: hal ini merupakan cara yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ada beberapa keterkaitan antara metrum dengan tema, baik pada karakter pupuh dalam satu metrum, dan dalam perubahan suasana dimana terdapat beberapa bagian syair yang menggunakan metrum berbeda. Hal tersebut merupakan kecenderungan dan bukan perbedaan yang mutlak sebagaimana ada beberapa contoh cerita yang sama dibawakan dalam metrum dan versi berbeda.

2.2.1. Pupuh macapat dalam metrum tunggal – (a) adri

Pupuh Jawa yang berasal dari abad ke-17 M yaitu Sri Tanjung yang berasal dari Blambangan merupakan sumber metrum gaya Bali yang populer disebut adri ‘bukit’. Di dalam Sri Tanjung, metrum utama memiliki bait dengan 71 suku kata. Di dalamnya dibagi ke dalam bagian-bagian syair dengan selingan pendek di dalam metrum lainnya yaitu panggalang. Pola yang sama dari dua metrum digunakan di dalam sebuah pupuh Bali yang berjudul Bimaswarga, cerita mengenai kunjungan Bima ke neraka untuk menyelamatkan ayahnya, sebagaimana yang dapat dilihat di dalam kutipan Brandes (I, 1901: 178-181)

Banyak pupuh yang mirip Sri Tanjung biasanya berhubungan dengan Hinduisme atau pengusiran arwah jahat. Bagus Diarsa, dengan 270 bait (J.H. Hooykaas, 1949) menceritakan tentang sebuah kunjungan Siwa (Batara Guru) ke bumi dalam wujud seorang pengemis. Batara Guru diterima dengan baik oleh Bagus Diarsa yang memperbolehkan Batara Guru untuk membawa anaknya, Wiracita, ke surga. Bagus Diarsa diperbolehkan untuk melihat penyiksaan di dalam neraka; dan Batara Guru memberinya seekor ayam jantan aduan hebat dan batu mulia, yang dengan itu memungkinkan Bagus Diarsa untuk memenangi taruhan untuk kemudian menggantikan raja yang lalim.

I Dreman, dengan 60 bait adri, merupakan cerita tentang seorang istri yang diabaikan namun memiliki cinta yang tulus (De Vroom 1875a): Jatiraga memiliki dua orang istri, yang lebih tua bernama I Tan Porat ialah seorang yang beriman tapi diabaikan; yang lebih muda bernama I Dreman memiliki sikap yang jelek, setelah meninggal kemudian dimasukkan ke neraka; begitu pun Jatiraga, akibat dari memperbolehkan istri muda untuk mengatur istri tua. I Tan Porat dimasukkan ke surga dan memohon kepada Dewa untuk mengeluarkan suaminya dari neraka, permintaannya pun kemudian dikabulkan oleh sang Dewa.

Pan Brayut (dirangkum oleh Grader, 1939) adalah cerita tentang seorang keluarga petani dengan delapan anak yang dengan kerja keras dan nasib baik memeroleh hasil panen yang berlimpah dan melalui usaha spiritual yang baik akhirnya dapat mencapai harmoni dan kebahagiaan. Pan Brayut dan istrinya berakhir dengan memilih sebuah kehidupan dengan meditasi di sebuah tempat pertapaan. Cerita ini terkenal sebagai sebuah gambaran dari kesuburan. Salinan-salinan yang terdapat pada koleksi Van der Tuuk adalah dalam bentuk adri. Grader (1939:260) menyebutkan tentang sebuah versi dalam gaya Bali yang sulit dan kasar dengan metrum macapat tua lainnya, tikus kapanting.

Pupuh lain dalam bentuk adri termasuk Curik, sebuah cerita rakyat tentang seekor beo yang membawa keberuntungan bagi sang wanita yang memilikinya, Botoh Lara; dan Limbur, tentang seorang istri yang jelek yaitu Puspa Jagat yang berusaha untuk membunuh anaknya, sang anak dimasukkan ke surga sedangkan sang istri masuk ke neraka. Limbur merupakan kumpulan sajak arja, pertunjukan khas Bali (De Zoete dan Spies 1938: 197). Cerita lain dalam bentuk adri yaitu Sundari Petah, merupakan cerita tentang suami yang bernama Sundari Petah dengan istri yang bernama Liku.

Manuskrip Bagus Diarsa yang digunakan oleh Dr. Jacoba Hooykaas (1949: 22-25) berasal dari Buleleng, Karang Asem dan Jembrana; salah satu manuskrip yang dimiliki oleh Van der Tuuk yaitu I Dreman berasal dari Kubu Tambahan (Buleleng), Limbur berasal dari Kloncing (Buleleng); Curik berasal dari Bugbug (Karang Asem). Van der Tuuk mencatat bahwa gambar tentang pasangan yang subur, Pan dan Men Brayut, dipahat pada tempat yang tinggi di Karang Asem (Brandes II 1903: 229), sedangkan salah satu manuskrip lainnya berasal dari Mengwi.

2.2.2. Metrum Macapat_(b) ginada

Metrum ginada ditemukan di Bali dan digunakan untuk pupuh asli Bali bukan untuk Jawa. Ginada merupakan tipe bawaan dari macapat, tapi memiliki ritme pengulangan pada barisnya terdiri dari 7 baris yang memuat 52 suku kata dengan pola 8a, 8i, 8o, 8u, 4i, 8a. Hal ini dibahas secara detil oleh C. Hooykaas (1958: 23-4). Ginada merupakan stanza favorit dalam pupuh Bali dan digunakan untuk bermacam tema: biasanya sekuler, kadang-kadang satir, dan kadang-kadang antikemapanan

Ada beberapa cerita Panji dalam ginada. Bagus Umbara menceritakan tentang pangeran tampan, Bagus Umbara (Panji), yang berkelana ke Jawa dan Bali bersama pelayan jeleknya, Pun Semar, untuk mencari putri yang cantik jelita. Naskah tersebut diedit oleh R. van Eck (1876) yang membagi 933 stanza ke dalam 13 episode.

Pakang Raras merupakan nama tokoh di dalam cerita panji lainnya: di bawah terpaan badai, dia sampai di sebuah taman istana di Daha kemudian merayu seorang putri yang sedang bermain gèndèr; lalu mereka dilaporkan oleh pengawal kepada raja, sang raja pun akhirnya menyuruh untuk membunuh Pakang Raras, tapi Batara Guru mengirim Narada untuk menghidupkannya kembali dengan menggunakan tirta kamandalu (air kehidupan).

Koleksi Van der Tuuk memuat dua versi ginada: A-L dan B-L. Pada tahun 1984, sekelompok tim riset yang dikepalai oleh I Gusti Ngurah Bagus memilih teks tersebut sebagai contoh yang bagus sebagai bahan pembelajaran tentang cerita Panji Bali modern, termasuk sebuah edisi yang ada di Museum Kirtya dalam bentuk sebuah lontar yang terdiri dari 67 folio dengan naskah sepanjang 623 stanza. Popularitas yang berlanjut dibuktikan oleh penggunaan di dalam kumpulan cerita arja (Dibia, 1979: 51-53), seperti halnya drama gong, di dalam pertunjukan moden dan realistis, di mana gamelan dipertahankan, dan lagu-lagu dan tarian rumit dihilangkan.

Mantri Jawa, juga cerita Panji, merupakan karya yang dikenal baik di Karang Asem (Juynboll, 1912:117). Tokoh utama berangkat dari Jawa ke Bali, di mana dia jatuh cinta terhadap seorang putri bernama Cinamburat yang menyembuhkannya ketika dia muntah darah. Ketika Mantri Jawa pergi meninggalkan istana, sang putri mengikutinya secara diam-diam, tapi ibu sang putri memintanya untuk menikah dengan Limbur yang mengguna-guna Mantri Jawa, sehingga membuat Cinamburat melupakan cinta pertamanya. Sang putri di dalam kesedihannya menusuk dirinya sendiri, tapi kemudian dihidupkan kembali; Mantri Jawa terbebas dari guna-guna, kemudian menikah dengan Cinamburat, dan Limbur dikutuk sampai mati. Cerita rakyat ini keseluruhannya bergaya Bali dengan ciri khas unsur magis dan pembebasan dari roh jahat, dan juga percintaan yang tragis yang ditebus dengan kematian.

Gusti Wayan adalah sebuah cerita tentang seorang anak muda yang dibunuh oleh seorang pangeran karena jatuh cinta terhadap istrinya. Tema ini merupakan tema yang berulang di dalam susastera Bali. Hal ini dibahas oleh C. Hooykaas di dalam edisi karyanya yang berjudul Jaya Prana (1958) yang ia sebut sebagai Bali Uria. Jaya Prana ialah seorang anak muda dari Desa Kalianget, sebelah barat Singaraja. Dia menjadi seorang pelayan di sebuah istana pangeran setempat di mana ia jatuh cinta terhadap seorang gadis cantik, Layon Sari, yang kemudian dinikahinya: tapi penguasa setempat menginginkan istrinya tersebut. Jaya Prana dihukum mati. Ketika sang istri mendengar berita tersebut, dia menolak tawaran sang pangeran malahan memilih untuk bunuh diri: kemudian sang istri dipersatukan kembali dengan Jaya Prana di surga. Cerita ini sangat penting dan bukan semata-mata hanya untuk cerita cinta yang tragis saja, tapi juga karena pada 1949 hal ini menjadi dasar pemujaan keagamaan di Desa Kalianget yang diawali oleh sebuah proses kremasi patung sang tokoh dengan tujuan penebusan atas kejahatan penguasa setempat pada beberapa abad yang lalu. Franken (1951) mencatat bagaimana balada ini menjadi terkenal di seantero Bali, dipublikasikan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan menempati kumpulan syair arja. Manuskrip lainnya tentang resensi cerita tersebut disimpan di Leiden pada 1864. Edisi populer lainnya dengan teks Bali, terjemahan dalam bahasa Indonesia beserta deskripsi dan ilustrasi dalam bentuk yang lebih modern dibuat oleh I Ketut Puthra pada 1951, dan dipublikasi ulang untuk beberapa kali.

I Lingga Peta bercerita tentang kematian yang sadis seorang anak muda tampan dan beriman, ditangkap karena melakukan pendekatan yang terlarang terhadap seorang gadis: ayah sang gadis yang pemarah tanpa investigasi terlebih dahulu lalu membunuhnya. Namun, Dewa menghidupkan kembali sang anak muda dan kemudian menjadi raja di negaranya. Di bagian kedua, Lingga Peta mengunjungi neraka, di mana dia menyelamatkan orang tuanya dari siksaan. Pupuh tersebut diedit oleh De Vroom ke dalam dua bagian.

Wira Tantra adalah cerita tentang kawin lari: Wira Tantra seorang dalang, dan setelah pertunjukan wayang untuk episode Ramayana, bagian pertarungan antara Kumbakarna dan Hanuman, lari dengan seorang wanita, Wira Tantri, sedangkan orang tua keduanya mengejarnya. Cerita kawin lari lainnya adalah Jambe Nagara, juga disebut Siyat Sasak. Jambe nagara, seorang anak muda Gianyar melarikan diri dengan kekasih hatinya ke Karang Asem dan kemudian ke Ampenan di Lombok, di mana karena nasib buruk Raja Bali di Mataram melihat wanita di pantai dan membuatnya tertarik. Anak muda tersebut lari ke Sumbawa, di mana dia telah menjalin pertemanan dengan sang penguasa setempat. Sang anak muda dengan bantuan penguasa Sumbawa menyerang Anpenan untuk membalas perlakuan sang Raja yang menculik kekasihnya.

Basur adalah cerita tentang seorang pemuja. Nyoman Karang memiliki dua orang anak perempuan yang cantik: yang paling tua, Sokasti, ditunangkan dengan saudara sepupunya; dan Tirta, yang belum ingin menikah karena dia ingin menjadi seorang yang sakti dan menolong sesama, tapi ayahnya melarang. Sedangkan Basur, seorang ahli sihir, mengatur hati Sokasti agar menyukai anaknya yang gila, yaitu Tigaron. Nyoman Karang merasa ketakutan dan menolak untuk memberikan Sokasti kepada Tigaron. Basur mengirim guna-guna dalam wujud seekor burung yang membawa penyakit melalui jendela kamar Sokasti, lalu Sokasti pun jatuh sakit parah. Seorang balian atau tabib dipanggil: sang tabib mengetahui penyebab penyakit Sokasti dan terlibat dalam pertarungan magis dengan Basur. Balian pertama dikalahkan oleh Basur, tapi balian kedua menang atas Basur dan berhasil mengobati Sokasti. Cerita tersebut digunakan di dalam kumpulan arja (De Zoete dan Spies, 1938: 205-210).

I Ketut Bungkling adalah sebuah pupuh yang bersifat satir, di mana tokoh utama, seorang yang picik, memperdaya penguasa Bali: pertama seorang pendeta Brahma, melalui persyaratan untuk sebuah kremasi (dan dia bertanya pada sang pendeta mengapa dia memiliki anak yang jelek); kemudian pendeta Sudra, seorang sengguhu, melalui pertanyaan di manakah Jero Gede (yaitu Dewa tertinggi) dan seberapa jauhkah Timur itu? Kemudian dia memeriksa seorang jaksa, pejabat pemerintah, berpura-pura terserang penyakit epilepsi. Dia berdiskusi tentang perkembangan padi dengan seorang pria yang sedang membangun sebuah bendungan, mengunjungi pertunjukan di pura, dan mengklaim dirinya bisa berkomunikasi dengan seseorang yang telah meninggal bahkan dengan dewa. Akhirnya dia datang ke seorang pembaca sastra dalam bahasa Jawa Kuno dan seorang penerjemah bahasa Bali yang kemudian membuatnya kehilangan kepercayaan di kemudian hari. Ginada versi ini ditujukan kepada seorang dalang, Takgksub dari Bongkasa (Mengwi). Van Eerde (1902) memberikan catatan detil tentang populeritas cerita ini di Lombok. Isi cerita dan sudut pandang ceritanya menunjukkan bahwa penulis cerita tersebut seorang Muslim.

2.2.3. Metrum Macapat – (c) sinom

Di antara macam-macam syair Jawa modern, yang paling terkenal di Bali adalah sinom. Biasanya terdapat modifikasi dari bentuk syair Jawa standar dengan menggenapkan masing-masing baris menjadi delapan suku kata, kecuali yang kedua dari belakang pada baris keempat, menghasilkan sebuah stanza yang terdiri dari 10 baris dengan 76 suku kata.

Versi sinom dalam cerita Bungkling, disebut juga Pan Bungkling, disusun oleh Ida Wayan Dingin, seorang Brahma dari Sidemen (Karang Asem) yang dihukum mati karena penghianatan pada pertengahan abad ke-19 M. Menurut Van Eerde (1902: 188), sinom lebih populer mungkin karena memuat episode tambahan yang bertema anti-Muslim. Ada beberapa salinan yang dimiliki oleh Van der Tuuk. Pembuka sinom satu sama lain relatif sama tapi diikuti oleh sebuah rangkaian tambahan yang dibuat oleh Gusti Agung, Pangeran Pamemoran, di mana tokoh Pan Bungkling melakukan perdebatan dengan seorang Muslim dari dukuh yang bernama Durahim. Pan Bungkling mengajukan pertanyaan: siapa yang lebih tinggi derajatnya, seorang Muslim atau seorang Hindu? Ketika seorang Muslim dikalahkan, sebuah perkelahian terjadi yang menyebabkan sebuah invasi oleh Raja dari Mekah: tetapi Pan Bungkling melumpuhkan pasukan gajah musuh dengan menggunakan sungga (bambu runcing); lalu kemudian Gusti Agung menyerang balik Mekah dan mengalahkan rajanya.

Sebuah kidung tentang peperangan, Uwug Banjar, dari sudut pandang pengamat yang berasal dari Bali, kidung ini menceritakan tentang masa ekspedisi Belanda ke Buleleng pada 1868, peperangan yang disebabkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Ida Made Rai yang merupakan pemimpin Banjar melawan sebuah daerah pemerintahan bawahan penjajah Belanda yang dipimpin oleh Ida Ketut Anom lalu digantikan oleh Lt. van Hasselt dari angkatan laut Belanda. Karya ini tersusun dari 102 stanza dengan menggunakan gaya metrum sinom Jawa, kecuali pada setiap akhir barisnya yang selalu menggunakan pola 4u + 8a yang menunjukkan masa transisi menuju gaya Bali (Van Eck 1874: 104-121).

Kasmaran merupakan sebuah pupuh yang bercerita tentang kerinduan dan kesetiaan seorang pria terhadap gadis pujaannya. Terdiri dari 39 stanza, sinom segawati, yang menggabungkan gaya Jawa dengan Bali dengan ciri diakhir baris menggunakan pola 4u + 8a. Museum Kirtya memiliki beberapa manuskrip lainnya dengan panjang yang berbeda-beda tentang kasmaran (cinta).

2.2.4. Pupuh dalam metrum durma dan layon

Baik metrum durma atau pun layon sari memiliki kata yang mendahului kata pengganti yang dimodifikasi ketika diubah ke dalam gaya Bali atau dinaturalisasi. Pupuh durma dibahas pada sesi berikutnya; bentuk syair di Bali yaitu 52 suku kata pada 7 baris.

Layon sari merupakan nama pupuh tentang pahlawan perempuan dengan 60 suku kata dan 7 baris, metrumnya disebut juga panglipur. Ceritanya tentang Layon Sari, seorang istri dari Singan Dalang, yang hilang di hutan dan meninggal di sana tapi kemudian dihidupkan kembali. Beberapa salinan tersimpan pada koleksi Van der Tuuk, koleksi Lombok, dan koleksi museum Kirtya.

2.2.5. Pupuh dengan metrum Bali campuran

Beberapa pupuh Bali menerapkan metrum ginada tanpa modifikasi, dan menaturalisasi metrum adri, sinom, durma, dan layon sari. Kombinasi seperti itu tidak terjadi pada pupuh Jawa atau Bali hari ini, sehingga kombinasi seperti itu diyakini berasal dari awal abad ke-18 dan 19 M. Durma (judul sebuah cerita) adalah pupuh romantis yang cukup terkenal bagi masyarakat Bali dan ditulis dalam tiga bagian syair yaitu sinom, durma, sinom. Rajapala, ketika berburu rusa di hutan, kemudian melihat peri kayangan yang bernama Selasih sedang mandi di sungai. Kemudian Rajapala mencuri pakaian Selasih dan hanya akan mengembalikan pakaiannya jika Selasih mau menikah dengannya. Singkat kata mereka berdua menikah dan memiliki anak lelaki bernama Durma. Setelah melahirkan anaknya, Ken Selasih kemudian kembali ke surga. Durma menjadi pertapa seperti ayahnya sampai pada suatu hari dia harus pergi untuk mencari dan mengalahkan raksasi di sebuah gunung. Setelah mengalahkan raksasi, Durma kemudian sampai di Kerajaan Wanokling di mana sang raja kemudian mengadopsinya menjadi anak. Cerita Durma merupakan salah satu cerita favorit untuk pertunjukan drama-tari dan lukisan di Bali.

Cupak merupakan cerita rakyat yang bersifat menyindir. Cerita ini terdapat di Lombok dan Bali dan dapat ditemui pada pertunjukan sendratari di kedua pulau itu. Ada sebuah versi Bali dalam tiga bentuk syair yaitu adri, ginada, adri. Cupak adalah cerita tentang dua saudara: Cupak seorang yang licik dan Grantang seorang bangsawan yang pintar. Grantang meminta Cupak agar pergi bersama dirinya untuk menyelamatkan putri Timur Sasih dari sebuah gua di mana dia disekap oleh raksasa. Grantang menebas sang raksasa sedangkan Cupak menipu Grantang dengan meninggalkannya di dalam gua dan membawa sang putri ke istana sebagai hadiah bagi dirinya. Ketika Grantang sampai di istana kemudian dia menantang Cupak untuk bertarung dan berhasil mengalahkannya. Selanjutnya Grantang pun mendapatkan kembali sang putri.

Purwajati merupakan pupuh yang terbagi ke dalam tiga bagian syair yaitu sinom, adri dan layonsari. Sebelum meninggal, Purwajati meninggalkan kedua orang istrinya dan pergi ke kayangan. Ketika anaknya lahir dari kedua istrinya, kedua istri dan anak-anaknya mengunjungi ayahnya. Di perjalanan, mereka dihadang oleh raksasa, harimau, singa dan gajah. Ketika mereka sampai di dunia kayangan, Adi Guru mengirimkan Wirajaya, seorang penguasa di Sindupati yang menculik kedua ibu mereka. Para ibu dikirim ke neraka karena dianggap tidak setia sedangkan anak-anaknya dipertemukan dengan para suaminya. Manuskrip ini asli berasal dari Bugbug (Karang Asem).

Buwang Sakti adalah pupuh yang terbagi ke dalam empat bagian syair yaitu ginada, adri, durma dan layon sari. Jayamitra menjadi pelayan seorang penguasa Minangkabau yang memberi nama kepadanya Buwang Sakti. Buwang Sakti pergi membunuh seekor harimau, raksasa, dan Pangeran Pancanagara yang mana mantan istrinya yaitu Dewi Sinta Rum dinikahi olehnya. Selanjutnya, Buwang Sakti ditangkap oleh pengawal istana untuk kemudian dibunuh. Van der Tuuk menyatakan (Brandes I, 1901: 293) bahwa cerita rakyat ini dibuat dengan pengaruh Sasak; manuskrip yang dimilikinya merupakan salinan dari lontar yang berasal dari Bugbug.

2.2.6. Pupuh campuran dalam metrum Jawa

Sejumlah gaguritan, umumnya yang bersyair panjang, terdiri dari beberapa bentuk syair dalam metrum Jawa. Ketika diadaptasi ke dalam gaya Bali, beberapa pupuh gaya Jawa dimodifikasi strukturnya. Biasanya dimodifikasi ke dalam baris dengan pola 4 atau 8 suku kata. Di antara pupuh gaya Jawa yang paling banyak diadopsi ke dalam gaya Bali adalah dangdang gula, ginanti, mas kumambang, magatruh, mijil, pangkur, pucung, dan semerendana.

Raden Saputra merupakan sebuah cerita rakyat yang terkenal bukan hanya di Bali tetapi juga di Jawa Timur, Madura, dan Lombok. Cerita ini di dalam versi Bali terdiri dari empat gaya syair yaitu pangkur, sinom, semerendana, dan durma. Tokoh utama bersama pembantunya yang bernama Saulat dan Sambada bergelut dengan beberapa harimau dan hantu di sebuah kuburan di mana ia bermimpi tentang Dewi Ratna Manik yang anggun. Ia mengagetkan Dewi Ratna ketika sedang mandi, dan singkat cerita mereka berdua menikah. Ayah putri Dewi Ratna mengejar mereka berdua namun sia-sia. Museum Kirtya memiliki sebuah salinan cerita ini.

Megantaka merupakan sebuah cerita Panji dengan 448 stanza dengan 10 gaya syair yaitu: sinom, semerendana, durma, pangkur, dangdang gula, dan berikutnya merupakan pengulangan dalam urutan yang sama. Cerita ini berkenaan dengan pengembaraan Putri Ambara Sari dan musuhnya yang bernama Ambarapati dan Megantaka, dari Melaka. Cerita ini merupakan teks Bali yang diedit secara lengkap oleh Van Eck (1875): dia berpendapat bahwa cerita ini tidak tidak merujuk pada cerita-cerita di Jawa melainkan merujuk pada cerita Muslim Melayu sebagaimana pendahuluan dari cerita ini menceritakan tentang seorang pelaut Bugis. Cerita ini dalam analisis Van der Ruuk dibuat oleh seorang Muslim di Ampenan, Lombok. Hal itu bisa dilihat dari beberapa aksara Arab yang terdapat di dalam cerita.

Japatuan merupakan nama tokoh utama di dalam cerita. Kakaknya bernama Gagak Turas; istrinya meninggal belum lama setelah mereka menikah. Melalui campur tangan Indra, dia pergi ke kayangan untuk menghidupkan kembali istrinya. Di sana ia meminum air kehidupan amrita dan kembali ke bumi sebagai seorang raja. Latar belakang kehidupan agama Hindu di dalam cerita ini dapat dilihat dari pengetahuan penulis tentang Wayupurana dan Adiparwa; pada bagian syair ke-6, Japatuan mengunjungi neraka Jogormanik, Darakala dan Mahakala, para dewa penguasa bawah bumi.

Dukuh Siladri, ‘pertapa di bukit batu’, merupakan sebuah cerita rakyat yang berhubungan dengan Bangli. Seorang pemuda desa jatuh cinta kepada adik perempuan si pertapa. Meski si perempuan yang ia cintai baru saja menikah, pemuda desa tersebut tetap mengejarnya dengan menggunakan guna-guna; tapi sang pertapa mengumpulkan hewan-hewan di hutan untuk menghalangi guna-guna tersebut. Pada kesempatan kedua, sang pertapa mengalahkan pemuda desa yang mengguna-guna adiknya.

Sampik Ingtai merupakan sebuah cerita Cina. Sebuah versi Jawa dipublikasikan di Samarang pada 1873; Manuskrip Van der Tuuk, dalam sebuah skrip berbahasa Jawa Timur-an disalin di Surabaya pada 1878 (Brandes III, 1915: 55; Juynboll, 1912: 109). Sedangkan pada versi Bali dicantumkan bahwa cerita tersebut dibuat pada 1915 di Waciu Negri (Sanur). Ingtai pergi ke sekolah dengan berpakaian laki-laki dan berteman dengan Sampik. Tidak lama setelah perteman mereka berdua, kemudian Sampik mengetahui bahwa Ingtai adalah seorang perempuan. Sampik pun kemudian jatuh cinta kepada Ingtai dan ingin menikahinya. Ingtai harus pulang ke rumah dan bilang kepada kedua orang tuanya. Namun ketika mereka berdua sampai di rumah Ingtai ternyata ia telah dijodohkan dengan orang lain. Sampik kemudian meninggal dunia; tetapi ketika Ingtai mengunjungi kuburannya, tiba-tiba kuburannya terbuka dan ia pun masuk ke dalamnya: di kayangan pasangan tersebut berdoa agar dihidupkan kembali ke dunia dengan dipersatukan. Cerita ini masuk ke dalam kumpulan arja (De Zoete dan Spies, 1938:322-333). Ada sebuah salinannya yang tersimpan di Museum Kirtya. Cerita ini terdiri dari 240 stanza dengan 12 bagian syair di antaranya dangdang gula, duh ratnayu, dangdang gula, dan pangkur.

Tamtam merupakan cerita tutur tentang I Ginal dan I Ginul dari Jawa yang mengubah bentuk mereka, mengunjungi Mesir lalu kemudian di sana bersatu dengan I Tamtam. Cerita ini terdiri dari 270 stanza dengan 9 bagian syair. Sebuah salinan yang dipublikasikan oleh Pustaka Balimas, Den Pasar, pada 1961 ditulis oleh I Ketut Sangging.

Kepustakaan

Ardhana, I Gusti Ketut, et al. (eds). 1984. Telaah Puisi Bali. Den Pasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Bagus, I Gusti Ngurah. 1968. Arti Dongeng Bali dalam Pendidikan. Singaraja: Lembaga Bahasa Nasional.
_____ . 1971. Satua-satua sane banjol ring kasusastran Bali. Singaraja: Lembaga Bahasa Nasional

Bagus, I Gusti Ngurah, et al. (eds). 1981. Cerita Panji dalam Sastra Klasik Bali. Den Pasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Bagus, I Gusti Ngurah, and I Ketut Ginarsa (eds). 1978a. Kembang Rampé Kasusastran Bali Anyar, I. Singaraja: Balai Penelitian Bahasa, II, Den Pasar: Yayasan Saba Sastra Bali.
_____ . 1978b. Kembang Rampé Kasusastran Balipurwa. Singaraja: Balai Penelitian Bahasa

Brandes, J. L. A.. 1901-1926. Beschrijving der Javaansche, Balineesche en Sasaksche handschriften aangetroffen in de nalatenschap van Dr. H. N. van der Tuuk. Batavia: Landsdrukkerij.

Caldwell, I.. 1985. “Anak Agung Panji Tisna: Balinese Raja and Indonesian Novelist, 1908-78”, Indonesia Circle 36, pp. 55-79.

Dibia, I Wayan. 1979. Sinopsis Tari Bali. Den Pasar: Sanggar Tari Bali Waturenggong.

Eek, R. van. 1874. Beknopte handleiding bij de beoefening van de Balineesche taal. Utrecht.
_____ . 1875a. “Schets van het eiland Lombok”, TBG 22, pp. 311-63.
_____ . 1875b. “Tekst en vertaling van de Mégantaka”, VBG 38-3.
_____ . 1876. “Bagoes Hoembara, of Mantri Koripan: Balineesch gedicht”, BKI23, pp. 1-137, 177-368.

Eerde, J. C. van. 1902. “De vertelling van I Bungkelingop Lombok”, TBC 45, pp. 168-92.

Franken, H. J.. 1960. “The festival of Jayaprana at Kalianget”, dalam J. L. Swellengrebel (ed).. Bali: Studies in life, thought and ritual, The Hague: van Hoeve

Gending Bali. 1979. Gending-gending Bali. Den Pasar: Pemda Bali

Ginarsa, I Ketut. 1961. Anéka Kidung. Jakarta: Balai Pustaka.
_____ . 1980. Geguritan Kasmaran. Teks, terjemahan dan Keterangannya. Singaraja: Balai Penelitian Bahasa

Grader, C. J.. 1939. “Brajoet: De geschiedenis van een Balisch gezin”, Djawa 19, pp. 260-75.

Hinzler, H. I. R.. 1981. Bima Swarga in Balinese Wayang. The Hague: Nijhoff. [VKI 90.] Hooykaas, C.. 1948 Balische verhalen van den halve. The Hague: Van Hoeve.
_____ . 1958. The Lay of Jayaprana, the Balinese Uriah: Introduction, Text, Translation, and Notes. London: Luzac.
_____ . 1963. “Books Made in Bali”, BK1119-4, pp. 371-86.
_____ . 1968. Bagus Umbara, Prince of Koripan: The Story of A Prince of Bali and A Princess of Java, illustrated on Palm Leaves by A Balinese Artist; with Balinese Text and English Translation. London: British Museum.
_____ . 1978. The Balinese Poem Basur: An introduction to Magic. The Hague: Nijhoff. [KITLV, Bibliotheca Indonesica 17.] _____ . 1979. Introduction a la Littérature Balinaise. Paris: L’Association Archipel. [Cahier d’Archipel 8.] _____ . 1982. De kluizenaar Doekoeh Siladri: Balisch volksverhaal. Amsterdam: Meulenhof.

Hooykaas-van Leeuwen-Boomkamp, J. H.. 1949. De goddelijke gast op Bali: l Bagoes Diarsa. Balisch gedicht en volksverhaal, Bandung: Nix. [Bibliotheca Javanica 10.] _____ . 1956. Sprookjes en verhalen van Bali, met 33 illustraties van Balische kunstenaars. The Hague: Van Hoeve.

Jendra, I Wayan. 1973. Pan Balang Tamak, dan Kawan-kawannya yang Cerdik. Dèn Pasar: Mabhakti.

Juynboll, H. H.. 1908. “Bijdrage tot de kennis der Balische letterkunde”, BK1 61, pp. 411-8.
_____ . 1912. Supplement op den catalogus van de Sundaneesche handschriften, en catalogus van de Balineesche en Sasaksche handschriften der Leidsche Universiteits-Bibliotheek. Leiden: Brill.
_____ . 1916. “De letterkunde van Bali”, BKI71, pp. 556-78.

Kajeng, I Wayan Gusti. 1929. “Voorlopig overzicht der op Bali aanwezige literatuurschat”, Mededeelingen van de Kirtya Liefrinck- Van der Tuuk 1, pp. 19-40.

Lekkerkerker, C.. 1920. Bali en Lombok: Overzicht der literatuur omtrent deze eilanden tot einde 1919. Rijswijk: Bali-Instituut.

Pigeaud, Th. G. Th.. 1967-1980. Literature of Java: Catalogue raisonné of Javanese manuscripts in the library of the University of Leiden and other public collections in the Netherlands, I-IV. Leiden: University Press.

Puthra, I Ketut. 1954. Djajaprana. Den Pasar: Balimas.

Robson, S. O.. 1971. Wangbang Wideya. The Hague: Nijhoff. [KITLV, Bibliotheca Indonesica 6.] Rosidi, Ajip. 1969. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta.

Satua Bali. 1979. Satua Bali, Jilid IA – IIIB. Dèn Pasar: Dharma Bhakti.

Stuart-Fox, D. J.. 1979. Bibliography of Balinese culture and religion: Indonesian publications to the year 1978. Jakarta: KITLV and Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Teeuw, A.. 1967-1979. Modern Indonesian Literature. The Hague: Nijhoff. [KITLV Translation Series, 10, 11.] Vroom, J. de. 1875a. “Hi Dreman: Trouwe liefde beloond; Een Balineesch verhaal”, TBG 21, pp. 323-73.
_____ . 1875b. “Hi Lingga Peta: Balineesch volksgedicht”, TBG 21, pp. 403-46,534-97.

Zoete, B. de, and W. Spies. 1938. Dance and Drama in Bali. London: Faber. [Reprinted 1952, 1973, London: Oxford University Press.