Kerajaan Janggala (Jenggala)
Published :

J
anggala merupakan satu dari dua kerajaan hasil pemekaran kerajaan Panjalu, atau dikenal juga sebagai kerajaan Kadiri, yang dipimpin oleh Airlangga dari Wangsa Isyana.

Istilah “Janggala” diduga berasal dari kata “Hujung Galuh”, atau disebut juga “Jung-ya-lu” dalam risalah sejarah bangsa China. Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas, yang diperkirakan menjadi bagian dari kota Surabaya hari ini. Kota ini merupakan pelabuhan penting pada zaman itu.

Pada akhir November 1042, demi melerai perselisihan antara kedua anaknya selaku pewaris tahta, Airlangga membagi kekuasaan untuk mereka; Sri Samarawijaya diberikan tahta di kerajaan Panjalu (Kadiri), dengan pusat pemerintahannya di Daha, sementara Mapanji Garasakan mendapat kerajaan baru, yang kemudian dinamai kerajaan Janggala, yang berpusat di Kahuripan.

Pada awal berdirinya, berdasarkan berbagai keterangan sejarah, diketahui Jangga dipimpin oleh sejumlah raja, yakni:

1). Mapanji Garasakan (berdasarkan prasasti Turun Hyang II, 1044, dan prasasti Kambang Putih, dan prasasti Malenga, 1052)

2). Alanjung Ahyes (berdasarkan prasasti Banjaran, 1052)

3). Samarotsaha (berdasarkan prasasti Sumengka, 1059)

Meskipun maksud dari pemekaran wilayah yang dilakukan Airlangga adalah demi perdamaian keturunannya, pada akhirnya peperangan antarkedua kubu tidak dapat dihindarkan.

Pada prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala, diberitakan terjadinya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.

Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu “Panjalu Jayati”, atau “Panjalu Menang”. Dengan penundukan ini, Janggala, beserta bandar-bandar pusat perniagaannya berada di bawah kekuasaan Kadiri.

Setelah Kadiri ditaklukkan Singhasari tahun 1222, dan selanjutnya oleh Majapahit tahun 1293, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai. Pada zaman Majapahit, nama Kahuripan lebih populer dari pada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih populer dari pada Kadiri.

Meskipun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawardhana raja Majapahit saat itu menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.

Dalam era Majapahit tersebut, diketahui Janggala pernah dipimpin oleh sejumlah nama, yakni:

1. Tribhuwana 1309-1328, 1350-1375 (berdasarkan naskah Pararaton dan Nagarakretagama)

2. Hayam Wuruk 1334-1350 (berdasarkan Prasasti Tribhuwana)

3. Wikramawardhana 1375-1389 (berdasarkan naskah Suma Oriental(?))

4. Surawardhani 1389-1400 (berdasarkan naskah Pararaton)

5. Ratnapangkaja 1400-1446 (berdasarkan naskah Pararaton)

6. Rajasawardhana 1447-1451 (berdasarkan naskah Pararaton dan Prasasti Waringin Pitu)

7. Samarawijaya 1451-1478 (berdasarkan naskah Pararaton)