Marapu: Ajaran dan Kepercayaan Leluhur Sumba
Published :

S
umba ternyata bukan sekadar pulau dengan hamparan bukit-bukit dan padang sabana yang terlihat hijau, subur selama musim hujan dan akrab dengan ringkikan kuda sandel.

Juga, bukan sekadar tempat yang menawan mata ketika kaum pria mempertontonkan kemahiran berkuda, dengan tubuh duduk tegap di punggung kuda menggiring ternak gembalaannya. Sumba, dalam pandangan hidup adalah Marapau.

Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu, berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Oleh karena itu, marapu menjadi sebutan dari kepercayaan tersebut.

Agama asli orang Sumba ialah Marapu. Hingga hari ini agama tersebut masih hidup dan dianut oleh orang Sumba di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemujaan arwah-arwah leluhur (ancestor worship) merupakan inti dari marapu.

Kata Marapu mempunyai banyak pengertian, di antaranya:

A. Para penghuni langit yang hidup abadi. Mahluk-mahluk mulia iu merupaka mahluk-mahluk yang wujud dan memiliki kepribadian seperti manusia. Serta terdiri dari jenis pria dan jenis wanita.

Mereka juga berpasangan sebagai suami-istri. Di antara keturunannya ada yang menghuni bumi dan menjadi cikal bakal nenek moyang segenap suku-suku yang hidup di Sumba.

B. Marapu juga bisa dimaknai sebagai arwah nenek moyang di Negeri Marapu (parai Marapu) dan atau Arwah sanak keluarga.

C. Mahluk-mahluk halus yang menghuni di seluruh penjuru dan ruang alam. Mereka mempunyai kekuatan gaib, magis yang memengaruhi kehidupan manusia di alam ramai.

Bertolak dari makna marapu yang mempunyai banyak pengertian, kepercayaan marapu dapat dikatakan merupakan perpaduan unsur-unsur animisme, spiritisme, dan dinamisme.

Hal itu tampak jelas dalam praktik berbagai upacara yang dilakukan pada peristiwa-persitiwa yang berkenaan dengan adat bercocok tanam, kelahiran, perkawinan, kematian, dan lain-lain.

Faktor magis juga sangat kuat pengaruhnya dalam kepercayaan marapu. Dalam konteks itulah sebagian upacara-upacara yang dilakukan bersifat magis religios.

Marapu secara hirarki dibedakan menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu. Ialah arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan) merupakan makna dari marapu.

Sedangkan Marapu Ratu ialah marapu yang dianggap turun dari langit dan merupakan leluhur dari para marapu lainnya. Marapu ratu merupakan marapu yang mempunyai kedudukan yang tertinggi.

Perhiasan emas atau perak atau yang disebut Tanggu Marapu merupakan wakil kehadiran para marapu di dunia nyata. Di Pangiangu Marapu tepatnya di bagian atas menara uma bokulu lambang-lambang itu disimpan.

Kepada Mawulu Tau-Majii upacara pemujaan semata-mata disembahkan, bukan pemujaan kepada arwah leluhur. Pengakuan adanya Yang Maha Pencipta biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan, itu pun hanya dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja.

Dalam keyakinan Marapu, Yang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk menyebut nama-Nya pun dipantangkan. Sedangkan para Marapu itu sendiri dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan Penciptanya.

Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu–ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya.

Marapu ini percaya juga akan bermacam roh yang ada di alam sekitar tempat tinggal manusia sehingga perlu pula dipuja, percaya bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya berjiwa dan berperasaan seperti manusia, dan percaya tentang adanya kekuatan gaib pada segala hal atau benda yang luar biasa.

Upacara orang Sumba dipimpin oleh seorang pendeta. Pendeta atau ratu dapat mengadakan hubungan dengan para arwah leluhur. Upacara tersebut didasarkan pada suatu kalender adat yang disebut Tanda Wulangu. Kalender adat itu tidak boleh diubah atau ditiadakan karena telah ditetapkan berdasarkan nuku-hara (hukum dan tata cara) dari para leluhur.

Roh ditempatkan sebagai komponen yang paling utama dalam ajaran Marapu, karena roh inilah yang harus kembali kepada Mawulu Tau-Majii Tau. Roh dari orang yang sudah mati akan menjadi penghuni Parai Marapu (negeri arwah, surga) dan dimuliakan sebagai Marapu bila semasa hidupnya di dunia memenuhi segala nuku-hara yang telah ditetapkan oleh para leluhur.

Hamangu dan ndiawa atau ndewa adalah dua macam roh menurut kepercayaan marapu. Hamangu ialah roh manusia selama hidupnya yang menjadi inti dan sumber kekuatan dirinya.

Berkat hamangu itulah manusia dapat berpikir, berperasaan dan bertindak. Hamangu akan bertambah kuat dalam pertumbuhan hidup, dan menjadi lemah ketika manusia sakit dan tua.

Hamangu yang telah meninggalkan tubuh manusia akan menjadi makhluk halus dengan kepribadian tersendiri dan disebut ndiawa. Ndiawa ini ada dalam semua makhluk hidup, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang kelak menjadi penghuni parai marapu pula.

Marapu merupakan inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

Karena itu tidak terlalu mudah mereka melepaskan keagamaannya untuk menjadi penganut agama lain. Sebab marapu telah meresap ke dalam hidup dan kehidupan mereka.

Marapu; Leluhur dan Penjaga

Kepercayaan Marapu (atau Merapu) adalah “keyakinan hidup” yang masih dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu atau “ajaran para leluhur” senantiasa melakukan upacara dan perayaan ritual untuk mengiringi berbagai sendi kehidupan mereka.

Kepercayaan ini dilambangkan dengan ritual, perayaan upacara, dan pengorbanan untuk penghormatan kepada sang pencipta juga arwah para leluhur mereka.

Marapu dalam bahasa Sumba berarti “Yang dipertuan atau dimuliakan” terutama untuk menyebut arwah-arwah para leluhur mereka.

Soeriadiredja seorang ‘ethnographer’ yang memiliki perhatian pada budaya Sumba menjelaskan bahwa secara Hirarki, Marapu terbagi menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu.

Marapu yang pertama merupakan arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan). Sedangkan marapu Ratu ialah merapu yang dianggap turun dari langit dan merupkan leluhur dari para Marapu lainnya.

Kehadiran para marapu bagi masyarakat sumba di dunia nyata diwakili dan dilambangkan dengan lambang-lambang suci yang berupa perhiasan mas atau perak (ada pula berupa patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu.

Lambang-lambang suci itu disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu.

Walaupun mempunyai banyak Marapu yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Sang Maha Pencipta.

Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur saja, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa.

Pengakuan adanya Sang Maha Pencipta biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan. Itu pun hanya dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja.

Dalam keyakinan Marapu, Sang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk menyebut nama-Nya pun dipantangkan.

Sedangkan para Marapu itu sendiri dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya.

Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi oleh rasa keagamaan. Bisa dikatakan agama Merapu sebagai inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup, serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Orang Sumba juga percaya bahwa manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan.

Bagi masyarakat Sumba, hidup manusia harus selalu disesuaikan dengan irama gerak alam semesta dan selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara manusia dengan alam tidak berubah.

Selain itu manusia harus pula mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di setiap bagian alam semesta ini. Bila selalu memelihara hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat dipertahankan.

Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dengan arwah-arwah dari manusia yang sudah mati.

Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku-hara sehingga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu.

Untuk memulihkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya, maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara.

Marapu, Media Doa dan Upacara Suku Sumba

Marapu telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan suku asal Nusa Tenggara Timur ini. Segala sesuatu yang mereka lakukan tak lain merupakan cerminan dari ajaran marapu. Marapu mendapat posisi yang istimewa dalam kehidupan orang Sumba.

Suku Sumba berada di Pulau Sumba yang menduduki wilayah Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur. Sebagai suku yang religius, suku Sumba senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip hidup mereka yang berlandaskan ajaran agama.

Mereka melakukan upacara-upacara keagamaan, lingkaran hidup, dan kematian diselenggarakan secara relatif mewah sehingga memberi kesan pemborosan. Namun bagi orang Sumba, hal tersebut mereka lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Yang Maha Esa, tanda hormat dan bakti pada para leluhur. Pada setiap upacara keagamaan berbagai bentuk kesenian biasanya ditampilkan pula.

Kesenian menjadi bagian dari hal-hal yang bersifat spiritual. Upacara-upacara keagamaan di Sumba selalu dianggap keramat, karena itu tempat-tempat upacara, saat-saat upacara, benda-benda yang merupakan alat-alat dalam upacara serta orang-orang yang menjalankan upacara dianggap keramat pula.

Para marapu menjadi perantara mereka dalam menyembah Mawulu Tau—Majii Tau. Mereka juga menjadi media untuk menghubungkan dengan Yang Maha Pencipta. Segala doa disampaikan pada marapu agar doa tersebut sampai pada yang Maha Pencipta.

Di dalam rumah yang didiami warga si suatu kabihu, para marapu dipuja dan diupacarakan. Upacara tersebut dilakukan di rumah terutama rumah uma bokulu atau rumah besar atau rumah pusat atau juga biasa di uma bungguru atau rumah persekutuan.

Di rumah tersebut bisanya diadakan upacara lainnya. Misalnya upacara kelahiran, perkawinan, kematian, menanam, memungut hasil dan sebagainya.

Namun, bukan hanya dilakukan di rumah saja, mereka melakukan upacara di luar rumah pula, yaitu di katoda. Katoda merupakan tempat upacara pamujaan di luar rumah berupa tugu, semacam lingga-yoni yang dibuat dari sebatang kayu kunjuru atau kayu kanawa yang pada sisi-sisinya diletakkan batu pipih.

Bermacam-macam sesaji disimpan di atas batu pipih. Sesaji tersebut seperti pahapa (sirih pinang), kawadaku (keratan mas) dan uhu mangejingu (nasi kebuli) diletakkan untuk dipersembahkan kepada Umbu-Rambu (dewa-dewi) yang berada di tempat itu.

Terdapat pemujaan kepada marapu ratu (maha leluhur) di dalam suatu paraingu. Misalnya, maha leluhur di Umalulu ialah Umbu Endalu dan dipuja dalam suatu rumah kecil yang tidak dihuni manusia.

Rumah pemujaan tersebut bernama Uma Ndapataungu (rumah yang tak berorang) yang dalam luluku (bahasa puitis, berbait) disebut sebagai Uma Ndapataungu—Panongu Ndapakelangu (rumah yang tak berorang dan tangga yang tak berpijak).

Umbu Endalu mendiami rumah tersebut secara gaib. Secara fisik rumah itu tampak kecil saja, tetapi secara gaib rumah itu sebenarnya merupakan rumah besar. Tangga untuk naik turun ke rumah selalu disandarkan karena mereka yakin kalau Umbu Endalu senantiasa berada di dalam rumah tersebut.

Rumah permujaan Uma Ndapataungu disebut juga Uma Ruu Kalamaku (rumah daun keIapa) karena atapnya dibuat dari daun kelapa; dan Uma Lilingu (rumah pemali), karena untuk datang dan membicarakan rumah tersebut harus menurut adat atau tata cara yang telah ditetapkan oleh para leluhur pula.

Uma Ndapataungu berbentuk uma kamudungu (rumah tak bermenara) dan menghadap ke arah tundu luku (menurut aliran air sungai, hilir) serta terletak di bagian kani padua (pertengahan, pusat) dari Paraingu Umalulu.

Upacara Pamangu Kawunga yang dilaksanakan empat tahun sekali, yaitu bertepatan dangan diperbaikinya tempat pemujaan tersebut; dan upacara Wunda lii hunggu — Lii maraku, yaitu upacara persembahan yang dilaksanakan setiap delapan tahun sekali.

Manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan, menurut pandangan orang Sumba. Hidup manusia harus selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara manusia dengan alam tidak berubah.

Hidup Manusia disesuaikan dengan irama gerak alam semesta. Selain itu manusia harus pula mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di setiap bagian alam semesta ini.

Bila selalu memelihara hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat dipertahankan.

Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku-hara sehingga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu.

Untuk memulihkan ketidak-seimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya, maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara.

Saat-saat upacara dirasakan sebagai saat-saat yang dianggap suci, genting dan penuh dengan bahaya gaib. Oleh karena itu, saat-saat upacara harus diatur waktunya agar sejajar dengan irama gerak alam semesta.

Pengaturan waktu untuk melakukan berbagai upacara itu didasarkan pada kalender adat, tanda wulangu. Dalam jangka waktu kehidupan tiap individu dalam masyarakat Sumba ada saat yang dianggap genting atau krisis, yaitu saat kelahiran, menginjak dewasa, perkawinan dan kematian. Pada saat-saat seperti itulah upacara keagamaan biasanya dilaksanakan.

Tradisi leluhur yang diwariskan selama berabad-abad bersamaan dengan pandangan hidup orang Sumba, dewasa ini mulai dipengaruhi oleh kehidupan yang berasal dari luar kehidupan mereka.

Generasi muda Sumba kini telah memperoleh cara pandang yang baru dan berbeda dengan tradisi serta ajaran yang telah leluhur mereka wariskan. Kendati demikian generasi muda Sumba masih menyimpan hormat dengan menjalankan nilai-nilai kepercayaan Merapu dalam kehidupannya.