Suku Osing, Banyuwangi – Jawa Timur
Published :

S
uku Osing atau disebut juga sebagai “wong Blambangan” ini berawal sejak berakhirnya masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M.

Konon Jatuhnya kekuasaan Majapahit ini membuat beberapa warganya menyebar ke beberapa tempat, diantaranya menuju Gunung Bromo, Bali, dan Blambangan (tempat suku Osing) salah satunya. Hingga lahirlah komunitas dan bahkan kerajaan di sana.

Dilihat dari letak Demografi, suku Osing ini berdekatan dengan Jawa, Madura, dan Bali. Kedekatan letak demografi ini memengaruhi beberapa sistem organisasi, kebudayaan, juga kesenian di sana.

Pola kekeluargaan dan kemasyarakatan suku Osing sama dengan suku-suku di Jawa yang lain, mulai dari perumahan, makanan, dan kesehatan yang sangat bersifat kejawaan. Suku Osing sering dibandingkan dengan kebudayaan Bali, seperti baju adat, gaun pengantin, dan lainnya.

Namun pada hal ini stratifikasi sosial, sistem kasta yang lekat dengan kebudayaan Bali tidak berlaku di suku Osing. Ini terjadi karena pengaruh Islam sangat kuat di sana.

Pola kekerabatan yang terbentuk di suku Osing adalah bilateral yang lebih mengarah pada pola patrilineal, sesuai dengan pola pada umumnya masyarakat yang menganut agama Islam. Di suku Osing kini, lembaga masyarakat yang terbentuknya mulai dari kepala desa, sekretaris desa, LMD, kaur pemerintahan, kaur kesra, kaur pembangunan, dan kaur keuangan

Apabila diperhatikan dari letak topografi, secara umum suku Osing yang berada di lereng gunung berapi memiliki mata pencaharian sebagai petani dan pekebun. Macam-macam jenis hasil pertanian yang terdiri dari atas padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kentang, tomat, bawang, kacang panjang, terong, timun, dan lain-lain.

Selain itu juga terdapat hasil perkebunan yang terdiri atas kelapa, kopi, cengkih, randu, mangga, durian, pisang, rambutan, pepaya, alpukat, jeruk, dan belimbing. Ada pula masyarakat yang berternak juga berdagang, sehingga mata pencaharian di suku Osing ini beragam. Bahkan dari hasil industri saja, terdapat banyak hasil tenun, plismet, ukiran, dan kerajinan barang lainnya.

Jika kita tarik ke daerah Kemiren maka mata pencaharian masyarakatnya banyak yang menuju pada pemerintahan, seperti ABRI, guru, pekerja swasta, buruh tani, buruh biasa, dan buruh jasa.

Pada dasarnya sebagai petani dan peternak, orang-orang Osing memiliki kemampuan yang tiak terlalu mahir bahkan masih sangat tradisional. Oleh karena itu, mereka membutuhkan pelatihan dan pengenalan teknologi berskala kecil yang tepat untuk meningkatkan produktivitas mereka. Adapun beberapa perlengkapan yang kini telah digunakan adalah sebagai berikut:

1. Perlengkapan alat mata pencaharian: teter, singkal, patuk sangkan, boding, parang, kilung.
2. Perlengkapan berlindung: jenis rumah tikel balung, baresan, serocokan dengan dilengkapi amperan, bale, dan pawon.
3. Senjata: pedang, keris, cundik, tolop, tolop sekop.

Suku Osing adalah suku yang memiliki campuran kebudayaan, kesenian yang beragam, ditambah dengan kultur masyarakat di sana yang begitu ramah, gotong royong yang masih terjaga,kerja bakti, silaturahmi, bahkan saling berkunjung dan sumbang menyumbang masih dilakukan.

Keragaman ini membuat daerah Banyuwangi terutama desa Kemiren dijadikan sebagai tujuan wisata yang masih menjaga nilai-nilai budaya suku Osing oleh pemerintah setempat. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa Kemiren.

Pandangan Hidup Suku Osing

Jika diperhatikan dari sejarahnya, suku Osing awalnya memeluk ajaran Hindu-Budha yang diyakini sebagai agama mereka seperti halnya kerajaan Majapahit. Sampai pada berkembangnya agama Islam di sekitaran Pantura, suku Osing perlahan jadi memeluk Islam. Bahkan Kyiai memiliki otritas utama dalam hal iman.

Namun tidak hanya itu, pada suku Osing sebagian maysarakatnya juga masih memegang kepercayaan lain seperti Saptadharma, yaitu kepercayaan yang kiblat sembahyangnya berada di Timur seperti orang Cina dan Pamu. Sistem kepercayaan di suku Osing pun masih mengandung unsur Animisme, Dinamisme, dan Monotheisme.
Bahasa
Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa suku Osing adalah penduduk asli Jawa Timur akibat dari berakhirnya kerajaan Majapahit, tentu bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa kuno.

Meski begitu, mereka menggunakan dialek yang berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya. Ada penekanan khusus pada kata-kata yang didahului konsonan (B, D, G) dan diberi sisipan (Y). Contohnya jika ingin menyebutkan kata “Abang” maka berubah menjadi “Abyang”.

A. Gotong Royong dalam Pandangan Hidup Suku Osing

Suku Osing merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki hubungan yang sangat karib antar masyarakatnya. Keakraban yang terjalin di Suku Osing ini telah terjalin sejak bertahun-tahun, bahkan sejak Suku Osing ini sendiri terbentuk.

Solidaritas yang kuat juga tentu dijaga sangat baik oleh individu maupun oleh adat, budaya, atau bahkan aturan dari sistem pemerintahan yang berlaku.

Siapa yang tidak ingin tinggal di sebuah daerah yang memiliki kedamaian dan rukun bertetangga? Hal ini pada akhirnya memengaruhi sistem hubungan sosial yang terjalin di suku tersebut. Termasuk lestarinya budaya yang digadang menjadi salah satu karakter bangsa Indonesia, yaitu gotong royong

Banyak hal yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat Suku Osing secara bersama-sama, seperti gotong royong dalam upacara perkawinan, gotong royong “arisan”, gotong royong dlam peristiwa kedukaan, gotong royong kerja bakti, maupun gotong royong dalam membangun rumah.

Jika kita perhatikan dalam gotong royong membangun rumah, banyak hal yang dilakukan secara bersama-sama, misalnya saja mereka secara bersama-sama menanamkan batu untuk menjadikannya sebagai “obak” atau penyangga utama.

Lalu mereka juga akan saling membantu membuatkan kerangka rumah mereka dan memasang “ander” dan “lambing pikul” sebelum akhirnya mereka membuat rangka atap atau disebut juga “wuwungan” secara bersama-sama.

Kemudian menaikkan nerangka tersebut hingga terpasang kuat, dan langkah terakhirnya adalah memasang dinding rumah secara bersamaan.

Pembangunan rumah tidak hanya selesai sampai rumah kembali berdiri kokoh dengan atap, alas, dan dinding yang baik. Namun, setelah rumah ini selesai dikerjakan biasanya sikap bergotong royong ini berimbas juga pada acara pengadaan bahan bangunan.

Seseorang yang membangun rumah akan dibantu oleh kerabat maupun tetangga dalam pengadaan bahan bangunannya. Ada yang memberikan bahan bangunannya, alat rumah tangga, ataupun memberikan uang sebagai bentuk perhatian mereka.

Hal ini dilakukan oleh warga sekitar guna menjaga tali silaturrahmi dengan warga di sekitarnya, juga sebagai bentuk “investasi” masa depan untuk keselamat keluarga di kemudian hari.

Salah satu alasan bahwa gotong royong dapat dijadikan sebagai “investasi” karena siapapun yang pada akhirnya kita bantu, di lain waktu maka merekalah yang akan membantu kita baik saat kita akan membangun/memperbaiki rumah, atau malah disaat kita sedang mengalami bencana atau kesusahan apapun.

Jika dianalisis secara teoritis mengenai gotong royong, akan kita dapati tiga bentuk pembangun yang saling berkaitan:

1) gotong royong sebagai sistem ide atau gagasan.

2) gotong royong sebagai perilaku sosial.

3) gotong royong sebagai wujud “benda” seperti lembaga-lembaga gotong royong (paguyuban, kelompok-kelompok kerukunan, dan perkumpulan-perkumpulan sosial).

Berdasarkan teori tersebut Suku Osing mengusung nilai-nilai yang melatarbelakangi gotong royong mereka, diantaranya mengacu pada kerangka analisis nilai sosial, nilai religius, dan nilai ekonomis.

Pertama, jika kita perhatikan bahwa hakekatnya manusia itu adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu ketergantungan terhadap orang lain.

Oleh sebab itu, pola hubungan masyarakat Osing berorientasi pada hubungan horizontal dan bersifat individualistis. Pola hubungan tersebut yang pada akhirnya membuat masyarakat Osing menjunjung tinggi nilai-nilai konformitas (kesesuaian), kerukunan, keguyuban, dan kebersamaan.

Sehingga aktivitas yang melanggar nilai-nilai itu dipandang tercela. Pola ini membuat masyarakat cenderung memiliki dorongan untuk mengikuti aktivitas kegotong-royongan.

Kedua, kegotong-royongan yang timbul di masyarakat Osing juga pada dasarnya dipengaruhi oleh agama sebagian besar penduduknya, yaitu Islam.

Islam memiliki berbagai ibadah yang tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Hal ini yang mendorong masyarakatnya untuk mengorganisir lingkungannya dalam melaksanakan perintah tuhan mereka.

Sebagai contoh diadakannya “jamaah tahlil”, sebagai ibadah dan telah menjadi tradisi bagi masyarakat Osing melakukan acara tahlil saat ada yang meninggal dunia. Nilai religius inilah yang turut membangun kegotong-royongan di suku mereka.

Ketiga, kedua nilai sebelumnya menyisakan beberapa hal yang menimbulkan nilai ketiga ini, yaitu nilai ekonomis

Bagaimana tidak, dalam sebuah hubungan sosial (contohnya upacara perkawinan) maupun religi (upacara kedukaan) membutuhkan “hajat” yang jika dihitung akan menimbulkan nominal yang besar.

Di saat seperti inilah nilai ekonomis dibutuhkan dalam gotong royong. Maka tak jarang warga memberikan bantuan baik berupa uang ataupun benda terhadap mereka yang sedang mengadakan acara tersebut, agar kelak mereka pula yang akan membantu kita dengan cara yang hampir sama.

Dengan demikian hubungan, sosial dalam bermasyarakat dan sifat/sikap gotong royong di Suku Osing akan tetap terjaga dengan baik.

B. Sapthadarma hingga Pamu; Pandangan Hidup Orang Osing

Jawa Timur khususnya Banyuwangi, mempunyai catatan sejarahnya yang panjang. Berdasarkan itu pula, di masyarakat Osing yang mendiami wilayah Banyuwangi terdapat stem kepercayaan lama.

Seiring dengan berkembangnya waktu dan perubahan sistem, juga banyaknya pengaruh yang masuk, kepercayaan yang dianut Suku Osing mengalami perubahan.

Kerajaan Islam yang berdiri di Pantura memberikan pengaruh terhadap kepercayaan yang telah lama dianut Suku Osing. Lambat laun secara perlahan, masyarakat Suku Osing pada akhirnya memeluk agama Islam

Bahkan tidak hanya itu, pengaruh agama Islam di wilayah Banyuwangi ini mampu mengubah kepercayaan sebagian besar penduduknya untk memeluk Islam. Hingga kini masyarakat Suku Osing mayoritas beragama Islam

Agama Islam pada akhirnya memengaruhi segala sistem yang mengatur kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Meskipun begitu, seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi kejawen yang lekat di masyarakat.

Hal ini membuat beberapa upacara, dan segala hal yang berkaitan dengan adat sulit untuk dihilangkan, maka tradisi tersebut mengalami akulturasi-kan dengan aturan-aturan dalam Islam.

Tidak hanya tradisi Jawa, Banyuwangi juga dikenal dengan pengaruh Bali yang kuat. Tentu saja pengaruh-pengaruh yang masuk ke Banyuwangi tidak lepas dari letak geografis-nya, termasuk pengaruh dari budaya Madura.

Pada akhirnya dengan segala pengaruh yang dialami Suku Osing, kepercayaan mereka mengalami perpecahan. Tidak sedikit dari mereka yang memegang keyakinan Sapthadarma.

Saptadharma merupakan sebuah keyakinan yang dalam pelaksanaannya melakukan sembahyang yang menghadap timur seperti halnya orang Cina. Saptadharma ini juga masuk ke Banyuwangi berdasarkan alur perdagangan, terutama melewati lautan.

Selain kepercayaan Spatadharma sebagai wujud dari keberagaman kepercayaan di Suku Osing yang berakulturasi dengan kebudayaan lain. Terdapat bentuk akulturasi lain antara kepercayaan yang dianut Suku Osing dengan sistem adat, tradisi, dan kebudayaan setempat.

Kepercayaan ini oleh sebagian kecil masyarakat Suku Osing juga disebut sebagai PAMU (Purwo Ayu Mandi Utomo) yaitu kepercayaan yang masih bernafaskan Islam, namun masih kental dengan aturan dan adat setempat.

Sistem religi di Suku Osing dulu mengandung unsur Animisme, Dinamisme, dan Monotheisme. Masih kita jumpai beberapa dari masyarakat yang masih melakukan ritus seperti menganggap suci seekor hewan, atau memercayai ada kekuatan sakti dari sebuah benda.

Sistem Sosial dalam Kehidupan Suku Osing

Suku Osing sama halnya dengan suku-suku lain yang berada di tanah Jawa, yakni masih menggunakan sistem kekerabatan bilateral. Hal ini tentu diselaraskan dengan agama yang mereka yakini.

Bukan hanya itu memiliki sistem kekerabatan-nya yang bilateral, Suku Osing juga tidak memiliki stratifikasi sosial dalam kehidupannya sehari-hari. Sejak dulu mereka hidup secara bersama-sama dengan derajat sosial yang berbeda-beda.

Hal ini terus berlangsung hingga kini. Kejujuran dan etika yang baik adalah satu hal yang dijunjung kuat oleh Suku Osing. Hal ini pada akhirnya memengaruhi masyarakat Osing dalam memandang sistem stratifikasi sosial.

Meskipun Suku Osing tidak mengenal aturan secara tertulis mengenai sistem kasta, tetapi dalam kehidupannya pengkastaan yang terbentuk secara samar ini cukup dipengaruhi oleh sikap, sifat, dan usaha setiap individunya. Tentu saja pengkastaan ini tidak berlaku berdasar garis keturunan, tetapi kecenderungan pola hidup di satu keluarga akan berpengaruh pada hasil yang dilakukan.

Sebagai contoh, jika diadakan suatu upacara dan di dalamnya terdapat acara tausiah. Orang yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan bertausiahlah yang akan diundang secara terhormat.

Jika di sebuah upacara pernikahan dibutuhkan tetua dalam upacara yang mengetahui segala seluk beluk dan kebutuhan untuk upacara, orang tersebut akan dipanggil dan diminta pendapat juga perhitungannya.

Tentu saja lagi-lagi orang yang berpengalaman dan memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup yang dapat melakukan tugas ini. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan jauh lebih didengar dan diperhatikan segala ucapannya dengan penuh rasa hormat.

Stratifikasi sosial di Suku Osing memang tidak kentara terasa, tetapi hal ini cukup memotivasi masyarakatnya untuk terus berbuat sebaik mungkin tentang apapun yang sedang dilakukannya. Tidak jarang pola pelapisan sosial seperti ini akan menyinggung ‘senioritas’.

Orang yang telah mengalami banyak tantangan pada pekerjaan tertentu, mengalami pembelajaran, dan banyak menangkap pengetahuan adalah mereka yang sudah hidup lebih lama. Hal ini dianggap wajar dan bukan masalah bagi masyarakat Osing.

Senstifitas yang lain adalah ketika pola pelapisan ini akan menyinggung kekayaan seseorang. Disadari atau tidak, kekayaan yang didapatkan seseorang memang akan memengaruhi posisi stratifikasi di masyarakat.

Seseorang yang memiliki tanah yang sangat luas dan memiliki pekerja untuk tanahnya, tentu akan dibutuhkan oleh masyarakat untuk membantu bahkan menyelenggarakan upacara atau adat yang harus dilakukan di kampung tersebut. Sehingga mereka dapat dengan cara menyumbang atau memenuhi segala kebutuhan yang dibutuhkan untuk upacara.

Sedangkan jika seseorang di Suku Osing yang bekerja sebagai buruh maka yang bisa dilakukannya dalam gotong royong adalah menyumbangkan tenaga mereka untuk bekerja, membantu mengerjakan ini dan itu. Jelas akan terasa sekali perbedaan pola sikap dan daya hormat seseorang di sana.

Maka dari itu, masyarakat Suku Osing mengupayakan diri untuk terus meningkatkan kualitas dirinya. Baik dalam hal pengetahuan terhadap sesuatu, kemampuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, ataupun menambah terus pengalaman guna mengetahui seberapa jauh kemampuan diri sendiri. Dengan begitu mereka akan meningkatkan posisinya sendiri pada sistem stratifikasi yang berlaku.

A. Kejujuran Syarat Utama Bagi Pemimpin di Suku Osing

Masyarakat Suku Osing dikenal sebagai masyarakat yang rukun dan memiliki tingkat keakraban yang baik antar satu warga dengan warga lainnya. Secara tradisional, kerukunan antar warga dijaga dan atau warga lain adalah nilai-nilai budaya yang selalu dijunjung tinggi. Hal ini juga memengaruhi calon pemimpin yang akan memimpin Suku Osing.

Jika terjadi perdebatan di antara warga sekalipun, biasanya mereka akan saling bertemu dan melakukan proses pendekatan, dengan begitu masalah akan cepat selesai tanpa merusak keakraban diantara mereka.

Namun, jika mereka mendapat masalah yang amat serius dan proses pendekatan tidak cukup untuk menyelesaikan masalah, biasanya akan ditempuh proses musyawarah hingga ditemukannya kata mufakat diantara mereka. Cara ini biasa juga dilakukan ketika akan melakukan proses pemilihan pemimpin baru.

Beberapa warga menilai, untuk menjadi seorang pemimpin di Suku Osing yang dibutuhkan pertama kali adalah kejujuran. Kejujuran merupakan modal awal karena jika tidak memiliki sifat dan sikap jujur maka dipercaya hanya akan menimbulkan masalah bahkan konflik diantara masyarakat.

Selain itu juga seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik dari bidang yang akan dipimpinnya. Sehingga akan menaruh kepercayaan bagi warga dan dianggap tidak akan merugikan mereka.

Tentu saja ini akan memperlakukan faktor senioritas, meskipun faktor senioritas ini akan jadi tidak berlaku selama calon pemimpin tersebut memiliki tingkat kejujuran yang tinggi, pengetahuan yang luas dan dalam, dan hubungan yang baik dengan masyarakat. Semua itu akan terlihat dari sistem kepemimpinan-nya nanti.

Secara umum orang-orang yang terpilih tersebut akan menduduki posisi kelembagaan masyarakat yang berlaku di Suku Osing, seperti menduduki posisi sebagai kelapa desa, sekretaris desa, LMD, kaur pemerintahan, kaur kesra, kaur pembangunan, dan kaur keuangan. Posisi tersebut jika digambarkan akan terbentuk seperti berikut ini.

B. Upacara Perkawinan Suku Osing; Perang Bangkat

Perang Bangkat merupakan upacara perkawinan yang terdapat di suku Osing (Using). Upacara adat suku Using ini cukup menarik untuk diketahui. Sebab upacara ini sarat dengan nilai-nilai filosofi perkawinan, sebelum kedua mempelai resmi menjadi pasangan suami istri.

Suku Osing atau disebut juga sebagai “wong Blambangan” ini berawal sejak berakhirnya masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Jatuhnya kekuasaan Majapahit ini membuat beberapa warganya berlari ke beberapa tempat termasuk Banyuwangi.

Seperti sebuah peperangan, itulah sebabnya mengapa upacara ini dinamakan Perang Bangkat. Meskipun dinamakan Perang Bangkat, namun perang dalam upacara ini bukanlah sebuah peperangan fisik.

Perang dalam upacara ini ialah perang argumentasi yang berisi petuah-petuah. Perang dalam upacara ini dikemas seperti sebuah drama antara pihak mempelai laki-laki sebagai raja dan pihak mempelai perempuan sebagai ratu.

Tata caranya, yaitu kedua belah pihak dipisahkan selembar kain. Kemudian mereka mengadu pusaka mereka masing-masing. Pusaka tersebut diambil dari perbekalan sebagai syarat yang diminta pihak ratu.

Misalnya saja ayam, sendok sayur, bantal, sebutir ayam kampung, satu buah kelapa, setandan pisang, seperangkat alat menginang atau disebut juga wanco kinangan, beras kuning, dan lain-lain. Adu pusaka ini merupakan sebuah pertanda rumah tangga calon pengantin.

Upacara ini dipimpin oleh tetua adat sebagai orang yang mewakili pihak laki-laki (raja). Raja harus menunjukkan diri sebagai seorang pria yang bertanggung jawab untuk memikat hati pihak sang ratu.

Selain menunjukkan rasa tanggung jawab, raja pun harus membuktikan bahwa ia adalah seorang pria yang bijak dengan menunjukkan kemampuannya dalam menerjemahkan arti yang terkandung dalam satu persatu, dari tiap perbekalan syarat yang diminta oleh sang ratu.

Perang Bangkat hukumnya wajib dilakukan calon mempelai suku Using apabila anak sulung keluarga suku Using berjodoh dengan anak sulung, begitu pula dengan anak bungsu yang berjodoh dengan anak bungsu lagi atau anak bungsu yang berjodoh dengan anak sulu, demikian sebaliknya.

Sebenarnya, upacara perkawinan ini hanya sebatas formalitas. Namun juga bisa lebih dari itu, pengekalan nilai-nilai adat dan doa merupakan agar kelak pernikahan itu mendapat ridha dari Tuhan Y.M.E. Pernikahan sesungguhnya dipimpin oleh penghulu dari Kanto Urusan Agama (KUA).

Hal yang unik lainnya ialah saat beras kuning bercampu uang koin dilemparkan ke warga yang menghadiri upacara tersebut. Kadang kala belum beras dan koin itu dilemparkan, tanpa diperintah warga langsung memperebutkan koin tersebut. Ada kepercayaan bahwa koin-koin tersebut sebagai lantaran bertemu dengan jodoh.

Bintang dan Alam, Pedoman Bercocok Tanam Suku Osing

Suku Osing atau Suku Using merupakan “penduduk asli” wilayah Banyuwangi, oleh karenya mereka juga terkadang disebut sebagai “wong Blambangan”; Orang Blambangan, merujuk kepada kerajaan Balmbanganyang pernah berjaya di wilayah Banyuwangi. Selain itu, mayoritas Suku Osing ini memang menempati beberapa wilayah di kecamatan-kecamatan Kabupaten Banyuwangi.

Dalam beberapa kajian, Suku Osing kerapa dianggap sebagai sub suku Jawa. Dari letak geografis, Suku Osing yang berada di lereng pegunungan, membuat mata pencaharian masyarakatnya secara mayoritas menjadi petani dan pekebun. Selain padi dari hasil pertanian, komiditi perkebunan mereka yaitu bawang, jagung, kacang-kacangan, ketela, kentang, terong, timun, tomat dan lain-lain.

Menggarap tanah sawah dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masyarakat Osing telah menjadikan kegiatan bertani sebagai inti atau pusat dari segala aktivitas di kehidupannya. Wilayah desa mereka pada umumnya ditanami padi, tanaman yang memerlukan bayak air untuk pertumbuhannya serta memerlukan panas dan tanah yang cukup subur

Agar air yang berada di sawah tidak ke mana-mana mereka membuat sekat-sekat atau galengan. Selain itu pada sawah-sawahnya diberi jalan tempat keluar-masuknya air yang letaknya biasanya berdampingan dengan parit yang memiliki aliran ait. Secara umum Pada Suku Osing pengairan sawah ini dibedakan antara sawah Oncoran dan sawah tadah hujan. Sawah oncoran adalah sawah yang sistem pengairannya menggunakan sarana irigasi

Adapun beberapa keunikan yang dilakukan dalam proses menyawah masyarakat Osing yaitu berkenaan dengan bagaimana cara mereka mengelola, memelihara, dan menentukan jenis tanaman.

1. Pengelolaan Pertanian

Masyarakat Osing pada masa lalu menjadikan bintang atau lintang sebagai pedoman mereka dalam bercocok tanam. Akan tetapi dalam penggarapan tanah umumnya Masyarakat Osing tidak menggunakan pranata mangsa. Mereka lebih menggunakan atau mengenal jenis perhitungan yang disebut neptu.

Pola perhitungan ini hingga sekarang masih sering terlihat dipergunakan, baik itu untuk keperluan yang menyangkut bidang pertanian secara langsung maupun bidang lainnya yang tidak berhubungan dengan pertanian. Perhitungan Neptu ini dibagi ke dalam lima perhitungan, diantaranya: Candi, Kerto, Rogom Sempoyo, dan Soyo.

Sebenarnya masyarakat Suku Osing juga telah mengalami pengaruh dari teknologi modern. Penggunaan “Hand Tractor” sempat menjadi populer dan banyak digunakan oleh masyarakat. Dengan menggunakan alat ini masa panen akan lebih cepat. Hal ini yang membuat masyarakat Osing berharap bahwa dengan adanya “Hand Tractor” penghasilan mereka akan meningkat.

Sama sepeti lahan pesawahan pada umumnya, lahan sawah Masyarakat Suku Osing ini terdiri dari beberapa petak-petak sawah sebagai tempat menanam kedhokan. Antara satu petak dengan petak lainnya dibatasi dengan tanah yang cukup tinggi yang disebut galengan.

Pembatas atau galengan ini umumnya memili fungsi sebagai batas pemilikian laha, Batas lahan garapan, penahan air, erosi dan juga sebagai jalan yang dapat dilalui. Suku Osing umumnya sudah mengenal pengelolaan lahan dengan cara pemupukan agar lahan sawah mereka tetap subur.

2. Tanaman Tiap Mangsa

Untuk menentukan jenis tanaman apa yang akan ditanam, Suku Osing juga memperhatikan gejala alam yang terjadi di tiap tahunnya. Sesudah mengalami panen, baru petani memperhitungkan umur dan sifat dari jenis tanaman yang mereka tanam.

Suku Osing yang tidak mengenal adanya pranata mangsa, mereka akan membedakan musim, yaitu musim panas dan penghujan (rendeng). Oleh karena itu, Suku Osing benar-benar akan sangat memperhatikan keadaan alam yang terjadi pada mereka.

Jika dilihat dari proses pengolahan, pemeliharaan, juga penentuan masa panen, apa yang dilakukan masyarakat Osing merupakan tradisi yang hidup dalam masayarakat itu selama beberapa generasi. Budaya agraris mereka bahkan sangat kental mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Masyarakat Osing senantiasa belajar dan menentukan segala kebijakan mereka dari [perubahan] alam.

3. Paglak dan Kiling

Paglak merupakan sebuah saung yang memiliki ketinggian 2 – 6 meter, umumnya paglak dibuat dengan menggunakan bahan bambu sedangkan untuk atapnya biasanya digunakan daun kelapa.

Paglak umunya didirikan di dekat sawah yang berfungsi sebagai tempat istirahat dan juga digunakan sebagai tempat mengawasi padi dari gangguan serangan hama, terutama burung pemakan pagi.
Biasanya pemilik paglak juga menambahkan sejenis angklung agar tercipta bunyi-bunyian yang disebabkan oleh angins. Angklung yang terdapat di dalam Paglak disebut sebagai angklung paglak.

Selain Paglak petani Using juga mendirikan kiling atau kincir angin dari bambu, di pematang sawah mereka atau terkadang juga di atas pohon. Kiling atau kincir angin juga dapat menjadi ciri khas dari wilayah teritori khususnya wilayah pertanian pada masyrakat agraris Osing. Kiling ditempatkan pada ketinggian sekitar 4-10 meter di atas permukaan tana. Kiling ini dibuat dari bambu atau kayu.

Kiling dan paglak merupakan ekpresi masyarakat Osing dalam merespon lingkungan alam sekitar mereka. Dengan memanfaatkan material yang berda di lingkungan mereka sehingga alam dan lingkungan menjadi kesatuan harmoni bagi kehidupan, dalam alunan musik yang berasal dari angklung paglak dan suara putaran kiling yang tertiup angin.