Kuda Lumping; Tarian Prajurit Berkuda dari Jawa
Published :

S
alah satu tarian tradisional dari Jawa yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah kuda lumping. Tarian ini menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda-kudaan yang terbuat dari bambu yang dianyam dan dipotong hingga menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna.

Tarian kuda lumping pada dasarnya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda. Tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut

Bukan hanya saat pertunjukan saja, sebelum pertunjukan dimulai biasanya didatangkan seorang pawang hujan untuk melakukan ritual. Tujuannya untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah dan tidak hujan karena pertunjukan ini mesti digelar di lapangan terbuka. Dengan demikian fungsi kuda lumping bisa sebagai bentuk rekreasi, juga sebagai unjuk kebolehan kekuatan magis.

Pementasan kuda lumping dilaksanakan pada hari-hari besar atau hari ulang tahun lembaga tertentu. Tetapi, saat ini kuda lumping bisa dipentaskan kapan saja, salah satunya untuk acara hajatan.

Hingga saat ini, kuda lumping selalu menyuguhkan aksi kesurupan. Pertunjukan ini menghadirkan 4 babak tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada saat melakukan tarian, mereka berjingkrak-jingkrak sambil menunggang kuda tiruan. Di kakinya dipasangkan kerincing, sehingga ketika melakukan tarian akan terdengan bunyi kerincing tersebut.

Para pemain juga berguling-guling di tanah. Saat inilah para pemain mulai kerasukan roh. Mereka menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mereka pun menerima energi dan melakukan aksi di luar kemampuan manusia, sehingga dapat melakukan aksi yang cukup menyeramkan. Mereka bisa memakan beling dan lampu dengan lahapnya serta bisa mengupas sabut dengan giginya. Selain itu mereka tak merasakan apa-apa bila dicambuk saat pertunjukan. Mereka terus melakukan tarian dengan sangat enerjik dan kompak sembari menunggak kuda tiruannya. Untuk memulihkan kesadaran pemain dari kerasukan roh, dibutuhkan seorang Datuk. Makanya setiap pertunjukannya pasti telah dihadirkan seorang Datuk.

Pada babak selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe. Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.

Catatan Perkembangan Kuda Lumping

Belum ada satupun catatan sejarah yang mampu menjelaskan asal mula tarian ini. Sejarah kuda lumping disampaikan hanya dengan lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makanya terdapat berbagai versi yang berbeda-beda mengenai asal mula kuda lumping. Meski begitu, kuda lumping tetap sebagai bentuk kesenian dari Jawa untuk merefleksikan sikap heroisme dan semangat kemiliteran melawan penjajahan asing.

Tengok saja aksi kekebalan yang dipertontonkan para pemain. Mereka ingin menunjukan, bahwa mereka bisa berperang dengan penjajah tanpa ada rasa sakit meskipun dicambuk dan dipukul. Energi yang diterima karena kerasukan roh juga sebagai bentuk semangat dan perlawanan yang energik terhadap musuh saat di medang perang

Ada versi yang menyebutkan, bahwa kuda lumping sebagai bentuk apresiasi terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Menurut buku yang dikeluarkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung tahun 2005 berjudul Kesenian Tradisional Provinsi Banten, kuda lumping berasal dari daerah Ponorogo Jawa Timur. Dalam sebuah legenda, Raja Ponorogo selalu kalah dalam peperangan. Sang raja masygul dan gundah. Iapun meninggalkan kerajaan sementara waktu untuk bertapa. Saat melakukan pertapaan, dia dikejutkan oleh suara Sang Jawata. Suara itu mengatakan, apabila raja ingin menang perang, harus menyiapkan pasukan berkuda. Ketika pergi ke medan perang, para prajurit penunggang kuda itu diiringi dengan “bande” dan rawe-rawe.

Konon, bande dan rawe-rawe itu menggugah semangat menyala membabi buta di kalangan para prajurit penunggang kuda. Ketika bertempur mereka mabuk tidak sadarkan diri tapi dengan semangat keberanian yang luar biasa menyerang musuh-musuhnya. Demikianlah dalam setiap peperangan para prajurit bergerak dalam keadaan kalap dan memenggal kepala musuh-musuhnya dengan kekuatan yang tangguh. Sejak saat itu, raja pun selalu memperoleh kemenangan dalam setiap medan peperangan.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa sang pemberi wangsit, setiap tahun diadakan upacara kebaktian dengan suguhan acara berupa tarian menunggang kuda-kudaan yang menggambarkan kepahlawanan. Selanjutnya tarian menunggang kuda-kudaan itu berubah menjadi sebuah kesenian yang digemari masyarakat. Hingga saat ini tarian tersebut dikenal dengan kuda lumping.

Kesenian kuda lumping tersebar di daerah-daerah yang masyarakatnya dipandang masih berpegang pada tradisi kejawen. Daerah di sini bukan dalam artian geografis, melainkan lebih sebagai orang perorangan maupun komunitas yang tersebar dan menyatu dengan komunitas lainnya. Kesenian kuda lumping tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Di Banten, kuda lumping mengalami perkembangan. Apalagi didukung dengan tradisi magis yang sudah tumbuh. Seni debus sebagai kesenian Banten jelas sekali mempertunjukan kebolehan pemain dalam menggunakan kekuatan magis. Selain di Banten, di Jawa Barat juga cukup berkembang dan dikenal.