Nggalo; Saat Orang Bima Berburu di Hutan
Published :

K
egiatan berburu merupakan salah satu mata pencaharian suku Bima yang sudah dilakukan secara turun temurun. Istilah di Bima, berburu disebut dengan nggalo dengan menggunakan anjing sebagai alat berburu mereka.

Bima memiliki areal hutan yang cukup luas. Berburu bagi orang Bima tak hanya dijadikan sebagai mata pencahariannya, tapi juga sebagai aktivitas kegemaran yang mereka miliki, terutama anak remaja.

Pada golongan anak muda di Bima, berburu merupakan suatu aktivitas kegemaran. Beda lagi dengan golongan orang tua, berburu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Hasil buruan mereka jadikan sebagai lauk-pauk atau dijual sebagai penghasilan tambahan. Biasanya mereka tidak mengorganisir pemburuan dengan rapi, tidak ada pemimpin dan anak buah dalam aktivitas berburu.

Karena tidak ada pemimpin dan anak buah, orang Bima termasuk beberapa suku yang ada di Nusa Tenggara Barat menggunakan sistem pembagian tugas dalam membawa peralatan berburu.

Misalnya siapa yang membawa cila, siapa yang membawa anjing buruan, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan. Jumlah anggota dalam kelompok berburu yang biasa dibentuk oleh orang Bima umumnya terdiri dari tiga sampai empat orang saja.

Karena orang Bima mayoritas agamanya adalah Islam, maka binatang buruanya hanya jenis tertentu yang menurut agama mereka halal untuk dimakan. Babi adalah salah satu binatang yang tidak masuk dalam buruan mereka.

Kalau pun ada, hanya sebagian kecil saja orang Bima yang menjadikan babi sebagai binatang buruan. Itupun tidak mereka makan, tapi dijual kepada orang lain hanya untuk mengganti keperluan dalam melengkapi peralatan berburu. Adapun binatang yang diburu biasanya adalah kijang, rusa, menjangan, sapi liar, dan kambing liar.

Karena kurangnya peminat daging babi di Bima, maka jumlah binatang tersebut berkembang cukup pesat. Sementara kijang dan menjangan jumlahnya semakin menyusut

Bagi orang Bima, berburu bukanlah aktivitas utama mereka. Berburu dilakukan pada waktu senggang saja saat pekerjaan di sawah dan ladang telah selesai, sembari menunggu masa penen selanjutnya tiba

Alat berburu yang digunakan orang Bima, khususnya pada wilayah Monta—salah satu wilayah yang ada di Bima—adalah anjing buruan, dan sejenis golok yang disebut dengan cila—seperti yang sudah disebutkan sebelumnya

Alat sejenis golok ini bertangkai pendek, di ujungnya lebih tebal, sangat tepat dijadikan sebagai alat berburu. Anjing digunakan untuk menakut-nakuti dan mengejar binatang buruan. Saat binatang buruan tersebut kelelahan karena dikejar anjing, mereka menebaskan cila ke arah sasaran binatang buruan.

Kadang mereka membuat perangkap untuk menjebak binatang buruan yang dikejar anjing. Saat binatang buruan masuk tempat perangkap yang mereka buat, orang yang menemukan binatang tersebut langsung menebas dengan cila atau memukulnya.

Hal tersebut bisa dilakukan oleh siapa saja yang menemukan binatang masuk perangkap tersebut, tidak mesti anggota dalam kelompok tersebut. Sehingga, bagi orang yang tak terlibat dalam anggota kelompok berburu tersebut mendapatkan pembagian yang sama dari hasil binatang buruan tersebut.

Hasil binatang buruan yang telah mereka dapatkan dibagi rata antara sesama anggota dalam kelompok berburu. Karena jumlah hasil buruan yang mereka dapatkan seringkali mendapatkan banyak, maka masing-masing anggota kelompok mendapatkan satu ekor binatang buruan.

Orang Bima biasanya menjadikan hasil buruan dalam bentuk dendeng yang dipotong besar-besar. Dendeng rusa dan sapi liar sangat banyak diperdagangkan di pasar Bima.

Selain dagingnya, orang Bima mengambil tanduk rusa buruannya untuk dijual sebagai mainan. Kadang mereka menjualnya kepada orang Tionghoa untuk dijadikan ramuan obat-obatan.