Suku Sangihe dan Talaud, Sulawesi Utara
Published :

S
uku Sangihe dan Suku Talaud  adalah komunitas masyarakat yang mendiami pulau-pulau kecil antara Sulawesi dan wilayah Filipina di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara.

Orang Sangihe dan Talaud sendiri, diperkirakan berasal dari beberapa kelompok pendatang yang kemudian berbaur.

Dari beberapa kajian antropologi orang Sangihe Talaud dipercaya merupakan cabang rumpun bangsa yang berbahasa Melanesia yang berasal dari percabangan migrasi yang datang pada 40.000 tahun Sebelum Masehi. Kemudian cabang lainnya yang merupakan rumpun bahasa Austronesia datang pada periode yang lebih baru yaitu sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi dari wilayah Formosa.

Beberapa pihak menyebut bahwa kepulauan Sahinge dan Talaud baru dihuni abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.

Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.

Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya

I. Alam Kepercayaan dan Pandangan Hidup

Dalam budaya tutur masyarakat Sangihe Talaud, terdapat cerita bahwa wilayah mereka selain telah didatangi dan dihuni oleh Ampuang (Manusia Biasa) juga ditempati oleh Ansuang (para raksasa) dan Apapuhang (manusia berukuran kecil atau kerdil).

Kepercayaan adanya para raksasa ini sering dihubungkan dengan temuan artefak bekas kaki yang memiliki ukuran cukup besar yang terpahat pada bebatuan.

Dari kepercayaan mereka secara turun-temurun, konon pulau-pulau di Sangihe Talaud itu tercipta dari air mata bidadari. Dengan kata lain dari seorang bidadari lah orang Sangihe dilahirkan.

Hal ini juga dapat dihubungkan dengan etimologi Sangihe yang berasal dari kata Sangi yang kurang lebih artinya adalah tagisan. Selain itu juga terdapat kepercayaan bahwa suku Sangihe Talaud ini adalah keturunan Wando Ruata yang berasal dari Surga; dikenal juga istilah Porodisa untuk kawasan tersebut, dari bahasa Spanyol-Paradiso (surga).

Kepercayaan terhadap dewa dewi dan sistem nilai budaya orang Sangihe Talaud di masa lalu, percaya dan mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan).

Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.

Suku Sangihe Talaud masa lalu juga percaya dengan arwah roh halus (Kabanasa) yang bisa menjadi sahabat, bahkan pelindung.

Sesajen yang berupa makanan, benda berharga, hewan dan manusia, secara rutin dalam setiap pergantian tahun pada tengah malam wajib diberikan untuk menjaga dampak akan terjadinya bencana alam dan wabah penyakit melalui upacara Tulude, dengan membacakan mantra “Bawera” .

A. Ghenggonalangi dalam Alam Kepercayaan Sangihe Talaud

Ghenggonalangi adalah dewa tertinggi yang dipercaya masyarakat suku Sangihe Talaud di masa lalu. Ia mahakuasa, maha pencipta, dan berkuasa atas semua dewa yang ada. Ghenggonalangi adalah duatangsaluluang (dewa alam semesta).

Selain Ghenggonalangi sebagai mahadewa, terdapat pula dewa-dewa yang melingkupi kekuasannya masing-masing.

Dewa-dewa tersebut menguasai lapangan-lapangan hidup, duatan langitta adalah dewa yang menguasai dan mengurusi segala hal yang ada di langit, duata mbinangunanna adalah dewa alam barzach dimana ia yang mengatur kehidupan setelah meninggal dunia, mawendo adalah dewa laut yang menjaga keseimbangan alam, aditinggi gunung api Siau yang juga menjaga keseimbangan alam di suku Talaud, ngakasuang adalah raja orang mati, dan dewa lainnya.

Jika para nelayan akan berlayar atau menangkap ikan di laut maka dewa Mawendo akan mereka puja sebelum keberangkatannya, atau bahakan jauh sebelum dilakukan keberangkatan mereka akan meminta petunjuk di hari apa mereka dapat berlayar dalam keadaan hewan tangkapan berjumlah besar.

Sedangkan petani akan melakukan upacara pemujaan pada dewa aditinggi untuk segala doa dan peruntungan dalam hal cocok tanam.

Maka dewa Ghenggonalangi sebagai pemujaan paling megah yang dilakukan masyarakat Talaud dengan megucapkan mantera-mantera dan atau syair-syair suci dengan iring-iringan sesajian yang dipimpin oleh tetua adat setempat.

Dewa-dewa tersebut pada zaman dahulu dipuja pada saat upacara-upacara tertentu. Namun, kini upacara pemujaan itu tidak dilakukan lagi seiring masuknya agama Islam dan Kristen, dan hanya dikenal sebagai tradisi juga budaya asli dari sistem kepercayaan suku Talaud.

Selain dewa-dewa tersebut, orang-orang di suku Talaud juga mempercayai makhluk-makhluk halus yang berdiam dimana-mana. Keberadaan makhluk halus yang dipercaya berdiam di gunung, di sungai, di batu-batu besar, di tanjung, di pohon, di gua-gua, di teluk, dan di tempat lainnya

Bahkan tidak hanya itu, kepercayaan pada mahkluk halus pun terus berlanjut hingga masyarakat suku Talaud meyakini bahwa segala benda itu ada yang mengisinya. Termasuk benda hasil buatan manusia dan benda benda alam seperti pohon enau, batu, akar-akar, dan masih banyak lagi.

Makhluk halus ini dipercaya ada yang memilki sifat jahat dan baik, salah satunya adalah makhluk halus jelmaan nenek moyang mereka yang sering sekali diminta pertolongannya.

Makhluk halus yang merupakan nenek moyang ini biasanya dipercaya ada pada benda yang dimiliki nenek moyang tersebut, misalnya berada pada keris, pedang, gelang, baju.

Sehingga tidak jarang dari masyarakat ini yang masih menyimpan barang-barang tersebut dan dengan ritualnya sendiri memuja benda-benda itu untuk dimintai pertolongan.

B. Upacara dan Doa di Masa Lalu

Sebelum pertengahan abad ke-16 dimana pengaruh Islam dan Kristen masuk ke suku Sangihe Talaud terdapat upacara-upacara yang berasal dari kepercayaan Asli mereka, diantaranya upacara manodong paraleong, salimbangngu wanua (sekarang telah berubah menjadi pesta adat), dan upacara metipu.

Manodong Paraleong dilakukan untuk menolak malapetaka. Inti kegiatan upacara adat ini adalah melayarkan sebuah perahu kecil yang berisi sesajian berupa bahan makanan (makanan yang telah dimasak, sirih pinang, tembakau, serta ramuan obat-obatan menangkal yang terdiri dari daun-daunan, akar-akaran, dan buah-buahan).

Salimbangu Wanua adalah upacara yang dilakukan untuk menolak bala kelaparan, bencana alam, penyakit, yang lama kelamaan upacara ini berubah menjadi pesta adat atau pesta keagamaan.

Metipu, merupakan upacara yang cukup penting dan sakral. Upacara ini bisa berlangsung tujuh hingga sembilan hari berturut-turut, dan diselenggarakan di rumah panggung yang berada di atas gunung atau tanjung.

Tujuh hingga sembilan hari adalah lama berlangsungnya upacara, sedang persiapan yang dilakukan sudah berhari-hari jauh sebelum upacara dilangsungkan.

Upacara Metipuadalah upacara yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menganut satu kepercayaan terhadap roh-roh tertentu. Roh-roh tersebutlah yang selalu dimintai pertolongan jika bencana menimpa mereka.

Mereka menyimpan dongeng suci tentang roh-roh yang mereka percayai. Maka pada upacara inilah dilakuakan penghormatan dan pemujaan terhadap roh yang mereka percayai.

Pada upacara ini dilakukan persembahan berupa babi hutan. Konon di awal upacara ini dilakukan, persembahan yang mereka berikan bukanlah menggunakan babi hutan, melainkan manusia.

Manusia yang dinilai telah melakukan suatu kesalahan besar, dan dari kesalahan itulah ia bisa memberikan bencana bagi masyarakat. Persembhaan ini termasuk penolakan terhadap bencana dan malapetaka yang akan datang pada suku Taulud.

Upacara Metipu ini dipimpin oleh pemimpin upacara yang disebut Ampuang dan Bawinginan (calon Ampuang).  Mereka pulalah yang memimpin tari-arian dan syair (kakumbaede, kakalanto), juga beberapa mantera suci yang diucapkan sebagai bentuk pemujaan.

Dalam upacara Metipu juga dibutuhkan sesajian berupa buah-buahan tertentu, akar-akaran, terlebih benda peninggalan nenek moyang/leluhur yang dikeramatkan. Makan bersama merupakan kebahagiaan pula dari upacara ini.

C. Tiga Belas Bulan Dalam Setahun

Sistem pengetahuan di suku Sangihe dan Suku Talaud berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Perkembangan pengetahuan mengenai alam, flora, maupun fauna berguna dalam membantu mereka dalam mata pencaharian dan perjagaan diri agar terhindar dari hal yang negatif.

Selain pengetahuan tersebut, juga diperhitungkan peredaran waktu yang mereka lewati. Peredaran waktu ini menggunakan perhitungan berdasarkan bulan di langit.

Peredaran waktu yang terjadi dihitung berdasarkan hitungan bulan purnama. Berdasarkan pada perhitungan tersebut, maka dalam satu tahun di suku Talaud dijumpai 13 bulan (tiga belas) masa, yang hitungan satu bulannya berlangsung selama 28 (dua puluh delapan) hari.

Perhitungan ini dimulai di hari pertama saat bulan baru, pertengahan bulannya dihitung saat bulan purnama tengah bersinar bulan di atas langit, dan hari terakhir dihitung saat bulan purnama terlihat gelap

Adapun nama bulan yang diyakini menunjukkan identitas musim yang dilewatinya.

  1. Bulang u Hiabe, ditandai dengan munculnya bintang Hiabe atau kita sebut dengan bintang Orion sebagai pedoman. Masa ini berada pada bulan Januari.
  2. Bulang u Kateluang, masa ini berada di anatara bulan Januari-Februari. Perubahannya ditandai dengan munculnya tiga bintang yang terbit di sebelah Timur.
  3. Bulang u Pahulu, berada di antara bulan Fembuari dan Maret.
  4. Bulang u Hente, berada di antara bulan Maret- April.
  5. Bulang u Kaimba, masa ini adalah masa yang baik dan sering digunakan petani untuk menanam padi. Masa ini berada anta bulan April dan bulan Mei.
  6. Bulang u Hampuge, masa ini berada di antara bulan Mei-Juni. Pada masa ini semua bintang yang dijadikan patokan perhitungan bilangan, bila pada saat matahari terbenam atau sekitar pukul 18.00, semua berada pada garis horizon yang sebagian besar berada di ufuk barat.
  7. Bulang u Tumapu, antara bulan Juni-Juli.
  8. Bulang u Wola Kadio, antara Juli-Agustus.
  9. Bulang u Wola Genghuwa, berada di antara bulan Agustus-September. Di masa ini juga sering digunakan masyarakat untuk awal menanam padi pada lahan pertanian mereka.
  10. Bulang u Liwuge, antara bulan September-Oktober. Banyak yang perlu berhati-hati dengan datangnya masa ini karena masa Bulang u Liwuge adalah masa pancaroba.
  11. Bulang u Bewenge, antara bulan Oktober-November.
  12. Bulang u Lurange, berada di antara November-Desember.
  13. Bulang u Tuang, berada di antara bulan Desember dan bulan Januari. Masa ini adalah masa terakhir dan kemudian akam kembali mengulang pada masa Bulang u Hiabe.

Perhitungan menggunakan bintang merupakan perhitungan yang secara umum dilakukan oleh nelayan, namun bagi petani pun perhitungan ini digunakan untuk masa bercocok tanam mereka.

Selain itu bagi para petani, selain perhitungan bintang ada juga perhtungan berdasarkan pasang-surut air laut dan pasang-naik air laut.

II. Bahasa Suku Sangihe dan Talaud

Bahasa yang digunakan oleh Suku Sangihe Talaud, suku yang tersebar di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara, adalah Bahasa Sangir atau biasa juga disebut bahasa Sangihé, Sangi, Sangih.

Penelitian mengenai bahasa yang digunakan oleh suku Talaud, salah satunya adalah S.J. Esser. Dari beberapa penelitian ditemukan beberapa hasil yang cukup menarik dari bahasa yang digunakan oleh kaum suku Talaud.

Bahasa yang digunakan pun tentu saja dipengaruhi oleh letak geografis, masuknya orang asing ke tanah Talaud, perdagangan, maupun cara yang lainnya.

Selain bahasa yang terbentuk dari banyak pengaruh, di Taulud juga menggunakan dialek yang berbeda-bedah, bahkan dialek ini yang pada akhirnya akan menjadi identitas si penutur

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Talaud adalah bahasa yang ada pada rumpun bahasa Austronesia atau Melayu Polynesia, dan tergolong dalam kelompok/bahasa-bahasa di Philipina

Sebagian besar penutur bahasa Sangir (Bahasa Suku Sangihe) memang bermukin di kedua kepulauan . Selain masyarakat suku Sangihe Talaud, di beberapa daerah di Sulawesi Utara juga terdapat penutur bahasa Sangir seperti di Manado, Bitung, dan Kabupaten Minahasa terutama daerah pesisir pantai utara.

Jika memperhatikan tata bahasa suku Bantik, suku asli di Manado. Maka, akan dengan mudah dapat dikenali persamaannya sehingga ada kemungkinan bahasa Bantik berakar berakar dari Bahasa Sangir.

Penutur bahasa Sangir yang marantau ke daerah lain tetap memelihara bahasa ini, menggunakannya di antara komunitas mereka. Tetapi mereka umumnya tidak mengajarkannya kepada keturunan mereka sehingga keturunan suku Sangihe di perantauan tidak lagi menggunakan bahasa ini.

Terdapat tiga aksen/dialek bahasa Sangir yaitu dialek Sangir Besar yang digunakan penduduk di gugusan kepulauan Sangihe Besar. Dialek Siau digunakan penduduk di kepulauan Siau. Dialek Tagulandang digunakan penduduk di kepulauan Tagulandang dan Biaro

Bahasa Sangihe sebenarnya bukan merupakan bahasa tulisan melainkan bahasa lisan, karena dilestarikan di dalam bahasa tutur masyarakatnya saja. Sejak zaman kolonial Belanda hal-hal yang berubungan dengan administrasi, surat menyurat, dan dalam hal perniagaan menggunakan tulisan bahasa Melayu/Indonesia

Bahasa Sangihe tertulis direkam dengan baik sebenarnya di dalam Kitab Suci Alkitab dalam ketiga dialek. Literatur tersebut diterjemahkan dari Alkitab bahasa Indonesia oleh penerjemah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Sementara itu, terdapat semacam puisi yang terdiri dari kurang lebih 20 macam bentuk, seperti kimba, tavaa, gane, paseva (kata-kata hikmah), dan dadendante (syair berantai).

A. Sasahara, Bahasa Kiasan Sangihe dan Talaud

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, di suku Talaud terdapat beberapa dialek yang berbeda-beda. Terdapat enam dialek lokal di suku Talaud, yaitu dialek Salibabu, dialek Kabaruan, dialek Karakelang, dialek Esang, dialek Nanusa, dan dialek Miangas.

Sama seperti bahasa yang digunakan di tempat lain, bahasa yang berkembang di suku Talaud juga memiliki tingkatan penggunaan. Dalam pemakaiannya sebagai alat komunikasi, bahasa tersebut digolongkan atas bahasa umum dan bahasa halus

Bahasa umum adalah bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari dan digunakan untuk sesama. Tentu saja bahasa umum ini lebih banyak digunakan dan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari suku Talaud

Bahasa halus (bahasa sastra) adalah bahasa yang digunakan dalam upacara-upacara tertentu atau juga digunakan untuk orang yang lebih tua dan mereka yang pantas dihormati

Bahasa halus juga diiringi dialek dan intonasi yang lembut juga sehingga akan terdengar indah saat diucapkan. Penggunaan bahasa ini juga akan berpengaruh pada golongan apa kita berbicara

Bahasa Sasahara (bahasa kiasan) juga sering ditemukan dalam upacara dan percakapan dengan tetua atau yang dihormati. Namun bahasa ini juga sering digunakan oleh pelaut dan tidak jarang juga dalam kehidupan sehari-hari

Bahasa sasahara atau juga dikenal dengan bahasa patang ini menyebutkan sesuatu benda atau apa saja disebutkan tidak sesuai dengan nama atau istilah aslinya, tetapi semuanya dikiaskan dalam bentuk lain.

III. Kehidupan Sosial Ekonomi Orang Sangihe – Talaud

Dalam kehidupan sehari-hari, walaupun penegasan terhadap golongan sistem stratifikasi tidak lagi setegas dulu, masyarakat suku Talaud masih menggunakannya dalam adat perkawinan.

Jika seseorang ingin menikah, penilaian terhadap keturunan itu menjadi salah satu poin besar yang perlu dipertimbangkan. Penilaian seperti ini disebut juga dengan Modalahoko.

Modalahoko ini tetap dilakukan dengan mempertimbangkan dua golongan yang masih tersisa dalam sistem stratifikasi sosial suku Talaud.
Golongan pertama bukan lagi diduduki kaum bangsawan, melainkan digantikan oleh kaum terpelajar yang ada dan bekerja di desa tersebut, seperti guru, pemimpin keagamaan dan pemerintahan dalam desa. Golongan ini menjadi golongan teratas dalam masyarakat Talaud kini.

Lapisan Alangnga yang dahulu menjadi lapisan terbawah dan dihuni kaum budak, sekarang ini dihapuskan. Golongan kedua yang masih dipercaya oleh masyarakat suku Talaud kini diisi oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Petani atau nelayan adalah salah satu profesi yang banyak dipilih oleh masyarakat suku Talaud. Namun, saking banyaknya yang berprofesi sebagai nelayan dan terutama petani, timbullah perbedaan antara petani yang menjadi buruh dan petani yang memiliki tanah dan perkebunan sendiri.

Petani yang memilki tanah dan perkebunan sendiri pada akhirnya berada di antara golongan lapisan pertama (kaum terpelajar dan pemerintahan) dan golongan lapisan kedua (petani/nelayan).

Mempertimbangkan hal tersebut, orang Sangihe dan Talaud sangat memperhatikan betul keturunan yang seperti apa akan mereka nikahi.

Hal ini membuat suku Talaud berbondong-bondong dengan penuh kerja keras mengubah nasib mereka agar tak sama dengan golongan leluhurnya. Barangkali berkat sistem Modalahoko pula masyarakat suku Talaud menjadi masyarakat yang pekerja keras.

A. Opo Lao “Bupati” Suku Sangihe dan Talaud

Di kepulauan Sangihe dan Talaud terbagi ke dalam beberapa desa/kampung. Wanua atau kampung (desa) merupakan kesatuan hidup terkecil yang ada di sana. Di setiap Wanua atau kampung (desa) yang ada dipimpin oleh satu kepala desa atau yang disebut sebagai Kepala kampung. Karena suku Talaud ini dikenal juga sebagai masyarakat yang jago berlaut, kepala kampung yang terpilih juga disebut sebagai Opo Lao atau dinamakan Kapiten Laut.

Opo Lao atau Kapiten Laut ini tentu saja bertugas untuk mengatur segala hal yang berhubungan sistem pemerintahan di suku Talaud. Tidak hanya masalah mata pencaharian yang mayoritas berkaitan langsung dengan laut, tetapi juga urusan adat istiadat lainnya. Maka dari itu, Opo Lao adalah sosok yang sangat dihormati di suku Talaud.

Menjadi Kapiten Laut bukan berarti menjalankan segalanya dengan seorang sendiri. Dalam pelaksanaannya, Kapiten Laut atau Opo Lao juga dibantu oleh staf ahli lainnya.

Terdapat Kapita (wakil kepala kampung), juru tulis, dan Meweteng. Selain itu sama seperti dalam pemerintahan lainnya, Opo Lao juga dibantu oleh beberapa ahli adat, meskipun beberapa bagian juga ditangani langsung oleh Opo Lao atau Kapiten Laut terpilih.

Terdapat satu dewan yang dikepalai oleh Ratumbanua (kepala adat), Inangngu Wanua, dan Timadu Ruanganna (kepala-kepala kelompok kekerabatan)

Berdasarkan izin dan pertimbangan Opo Lao atau Kapiten Laut, para dewan tersebutlah yang akan mengatur dan mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya upacara-upacara adat sehubungan dengan aktivitas mata pencaharian hidup, dan upacara-upacara sepanjang daur hidup setiap warga desa. Dalam hal ini, posisi Opo Lao atau Kapiten Laut tetap dinilai penting.

Sistem pemerintahan Opo Lao ini kemudian diadaptasi dalam bentuk yang lebih modern. Posisi Opo Lao hari ini sama dengan posisi Bupati karena kepulauan Talaud ini merupakan satu ‘daerah tingkat dua atau kabupaten’.

B. Manaba, Kegiatan Berburu Orang Sangihe dan Talaud

Meskipun berburu bukanlah mata pencaharian utama (pokok), berburu juga dilakukan segai hobi atau kegemaran warga Sangihe dan Talaud. Hal ini membuat berburu menjadi salah satu sistem mata pencaharian hidup yang cukup diperhitungkan selain bidang perikanan.

Adapun beberapa hewan yang menjadi mangsa buruan suku Talaud adalah: sapi hutan, babi hutan, ungags, biawak, dan buaya. Hewan-hewan ini dilakukan di hutan sekunder, dibekas-bekas ladang yang sudah ditinggalkan, di tepi sungai dan juga di hutan rimba primer.

Perburuan pun dilakuakn dengan menggunakan senjata sederhana, seperti tombak, parang, sumpit, pukat, dan alat tradisional lainnya yang berupa perangkap. Cara berburu yang paling terkenal di suku Talaud adalah Manabba.

Manabba adalah salah satu kegiatan berburu babi hutan dan sapi hutan yang dilakukan oleh kaum lelaki dewasa secara beramai-ramai di kepualauan Talaud. Perburuan dilakukan dalam waktu seharian penuh. Proses berburu pun tidak secara tiba-tiba, namun ada persiapan yang harus dilakukan sebelumnya.

Persiapan yang pertama sebelum melakukan Manabba adalah membuat panggung, maupun membuat rintangan-rintangan di sekeliling panggung. Panggung ini dibuat pada tempat-tempat tertentu.

Seperti membuat panggung di pinggir suatu tebing yang terjal, di tepi sungai, dan di tepi pantai. Rintangan yang dibuat bermaksud untuk menarik perhatian hewan buruan. Terbuat dari pohon-pohon yang ditebang dan disimpan di sekitar panggung, rintangan ini memancing hewan buruan untuk menghampirinya.

Jika hewan-hewan buruan tersebut berhasil melewati panggung, mereka akan masuk ke jurang, sungai, atau pantai sesuai dengan tempat buruan. Kemudian hewan buruan tersebut ditombak oleh para pemburu yang sudah bersiap di panggung.

Selain mempersiapkan alat yang dibutuhkan dalam berburu, sebelum melakukan perburuan juga dilakukan pembagian tugas yang dilakukan pagi hari sebelum berburu. Pertama dipilih kepala pemburuan, kepala ini dipilih biasanya berdasarkan keahlian dalam mengenal jejak binatang buruan, dan sedikitnya megetahui “dunia magic”.

Selanjutnya dipilih pembantu yang mengepalai kelompok-kelompok kecil yang telah dibagi. Kemudian dipilihlah orang-orang yang pandai menggunakan tombak. Mereka inilah yang akan menduduki pohon-pohon atau panggung-panggung kecil yang telah dipersiapkan.

Selain itu mereka juga bertugas untuk membunyikan suatu alat yang terbuat dari bambu dan diberi lubang, alat tersebut dinamakan tatingkoran, jika hewan buruan mereka telah berada di sekitar panggung.

Setelah itu, kawanan yang lainnya akan mengepung wilayah tersebut yang diperkirakan ditempati oleh binatang buruan. Setelah semua mengepung, selanjutnya mereka akan bersorak sambil menghalau hewan buruan mereka ke dalam wilayah panggung yang sudah dikelilingi rintangan.

Jika hewan buruan mereka sudah melewati rintangan itu, hewan buruan mereka tidak akan bisa lari kemana-mana. Lalu berhasillah mereka melakukan perburuan saat itu

Begitulah cara Manabba dilakukan. Perburuan tidak hanya menggunakan tenaga lelaki yang telah dewasa, mereka juga terkadang dibantu oleh anjing. Hasil buruan yang telah berhasil ditangkap, akan digabikan secara merata pada seluruh peserta perburuan ataupun warga sekitar.

C. Sangihe dan Talaud, Insinyur Perahu Hebat

Kemampuan masyarakat suku Talaud dalam merancang dan membuat perahu sudah tidak perlu diragukan lagi. Kemampuan ini sudah dimiliki sejak nenek moyang mereka, bahkan beberapa pelayaran yang dilakukan oleh pelaut Philipina sekalipun menggunakan perahu hasil rancangan dan buatan orang-orang suku Talaud.

Tidak ada suku lain di Sulawesi Utara yang memilki kemampuan seperti ini. Perahu buatan suku Talaud ini juga sudah cukup dikenal sejak masa penjajahan VOC. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas, terutama perekonomian, masyarakat Taulud yang bergantung pada laut

Berawal dari warisan nenek moyang inilah, membuat perahu di suku Taulud menjadi budaya baru. Budaya ini terus berkembang hingga muncul istilah ‘menondo sakaeng’ sebagai ritual menurunkan perahu. Menondo sakaeng dilakukan dengan doa, syair, dan mantera penghalau malapetaka.

Mengantisipasi segala kebutuhan yang dilakukan di laut, masyarakat suku Talaud menggunakan alat transportasi yang diberi nama Sakaeng (perahu sekoci), perahu ini ada yang digerakkan dengan dayung atau bahkan menggunakan layar.

Sakaeng juga digunakan untuk melakukan penangkapan ikan para nelayan. Selain Sakaeng ada juga perahu-perahu yang hampir sejenis yang diberi nama Pelang, Londe, dan Bininta (jenis-jenis perahu bercadik). Perahu-perahu tersebut digunakan untuk aktivitas sehari-hari karena jarak tempuh yang sampai ke pesisir pantai.

Bininta adalah perahu tertua yang dimiliki suku Talaud. Bahkan perahu ini sudah ada sejak Spanyol singgah di tanah mereka. Perahu ini berukuran lebih besar dari ukuran perahu lainnya dan tentu saja perahu ini pun digunakan bukan untuk aktivitas sehari-hari.

Bininta digunakan oleh nelayan saat akan melakukan pelayaran dalam jarak yang jauh dan melakukan perburuan ikan-ikan besar, salah satunya adalah perburuan ikan hiu.

Perburuan ini dinamakan Melaude, yakni perburuan ikan hiu yang menempuh jarak bermil-mil jauhnya. Perburuan Melaude yang menggunakan perahu Binnita ini biasanya juga menggunakan alat papiti, sahempang, atau tatou sebagai alat yang lebih besar dan kuat

Aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat suku Talaud tidak hanya dilakukan di laut, tetapi juga banyak masyarakat yang melakukan aktivitasnya di darat. Sama halnya jika kita perhatikan di tempat lain, alat transportasi suku Talaud di darat masih menggunakan jasa hewan terutama sapi.

Roda (pedati) atau gerobak yang digunakan sebagai satu-satunya alat transportasi darat terutama untuk berpergian jauh atau membawa barang dalam jumlah banyak. Pedati sekalipun hanya dimilki golongan tertentu, selebihnya masyarakat hanya bisa berjalan kaki.

D. Igi, Perangkap Ikan Orang Sangihe Talaud

Mata Pencaharian sebagian besar orang Sangihe dan Talaud adalah Nelayan dan berhubungan dengan perikanan. Olehkarennya mereka ahli dalam hal menangkap ikan.

Alat yang dibuat untuk penangkapan ikan ini beragam variasinya, ada yang berupa alat menjala sehingga diberi nama landra (pukat apung), kalasey (jala yang terbuat dari bambu) pukat biasa, juga sasile untuk menangkap udang

Alat untuk mengail dan memancing, seperti tali snar (tali nylor), tali rami, pekkeng (mata kail), timbeha atau larung (timah atau besi, atau batu sebagai alat pemberat), bawuhunang (gelendongan untuk tali)

Alat untuk senjata tusuk menangkap ikan, seperti papiti (panah besi dengan tangkainya dari kayu dan alat pembusurnya dari karet, biasanya karet yang digunakan adalah ‘ban dalam mobil’), sahempang (tombak dari kulit enau dan tangkainya dari bambu, memiliki lebih dari 5 mata tombak), dan tatou (tombak dari kulit enau dan tangkainya dari bambu, namun hanya memiliki satu sampai tiga mata tombak)

Ada yang menarik dari alat produksi yang dibuat suku Talaud, yaitu alat penangkapan ikan untuk kategori perangkap berupa ‘igi’. Tumpina, ula, bebbihe, tumbeka, somba, pahato, atau apapaun nama lainnya yang semuanya itu lebih dikenal dengan nama ‘igi’. Tumpinan adalah igi dalam ukuran kecil.

Tumpina (igi kecil) ini digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil di sela batu karang. Berbentuk segi delapan, diameternya yang terkecil 25 cm yang besar 30 cm. tingginya 10 sampai 15 cm. lubang masuknya terletak di tengah bagian atas, terbuat dari bambu yang dianyam.

Ula adalah igi kecil yang digunakan untuk menangkap udang. Berbentuk bulat dengan diameter kurang lebih 20 cm, panjangnya antara 30-50 cm. Pintu masuknya besar dan berbentuk kerucut. Sedangkan ikan-ikan besar yang bergerak bebas diperangkap dengan menggunakan Bebbihe dan Tumbekka.

Caranya adalah dibenamkan dalam kedalaman 1-3 meter dengan menggunakan batu pemberat. Bentuknya agak lonjong dan persegi empat. Ukuran panjang, lebar, dan tingginya adalah berkisar antara 100 cm, 70 cm, 50 cm. Benda ini juga masih sama dengan igi yang dibut dari anyaman bambu.

Somba dan pahato sama halnya dengan Bebbihe dan Tumbeka. Hanya saja yang menjadi perbedaan adalah ukuran yang digunakan. Hal ini disesuaikan dengan ikan apa yang menjadi buruan dengan menggunakan Somba dan ikan yang menggunakan perangkap Bebbihe.

Kadang-kadang panjang Somba dan pahato sampai 3 meter, lebarnya 2 meter, dan tingginya 1 meter. Ini digunakan untuk ikan yang lebih besar dan di ke dalaman laut yang lebih dalam tentunya.

Namun mau apapun itu namanya, sejenis ‘igi’ ini dipasang di pesisir saat keadaan laut sedang surut dan menunggu pasang-naik, lalu surut kembali untuk dilihat apakah perangkapnya berhasil menangkap ikan atau tidak.