Kerajaan Pagatan
Published :

K
erajaan Pagatan dirintis oleh para ‘imigran Bugis’ dari Sulawesi atas seizin Kesultanan Banjar. Pada awalnya, kerajaan ini menginduk pada Kerajaan Banjar, sebelum akhirnya diserahkan kepada Pemerintahan Kolinial Hindia Belanda melalui Perjanjian Karang Intan pada 1908.

Kerajaan Pagatan diprakarsai oleh Puanna Dekke, seorang saudagar Bugis asal Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Bersama rombongan, dia berlayar meninggalkan tempat kelahirannya, setelah kerajaan mereka kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Bone, di bawah pimpinan Arung Palaka. Selain ke Pagatan, orang-orang Bugis Wajo, yang kala itu terkenal sebagai para pelaut ulung, juga berlabuh di daerah-daerah lainnya, seperti Sumbawa, Bima, Pasir, Banjarmasin, Kutai, dan Donggala. Di tempat-tempat tersebut, mereka membangun kembali komunitas-komunitas mereka, dan mengangkat seorang pemimpin yang disebut “Macoa” atau “Matoa”.

Setelah beberapa waktu berlayar dan belum juga menemukan daerah yang dianggap tepat untuk membuka permukiman, mereka menyusuri Sungai Kukusan; membelah hutan, lantas sampailah pada suatu daerah di mana sekelompok orang tengah mengumpulkan rotan. Lokasi itu mereka akui sebagai tempat di mana mereka melakukan “pemagatan” atau mencari dan mengumpulkan rotan. Dari sanalah istilah “Pemagatan” dipercaya berasal, yang merupakan cikal-bakal dari Kerajaan Pagatan.

Segera setelah diketahui bahwa kawasan itu berada di dalam kawasan Kesultanan Banjar, Puanna Dekke dan rombongan bertolak ke Banjarmasin (1734) untuk mengutarakan maksud mereka membuka perkampungan pada raja yang berkuasa kala itu, yaitu Sunan Nata Alam atau Panembahan Batu. Dengan sejumlah syarat, termasuk di antaranya bahwa perkampungan yang akan dibangun tunduk kepada Kerajaan Banjar dan keharusan menjaga keamanan di sekitar Muara Kukusan—yang sering diganggu oleh para perompak—, Sultan Banjar memberikan restu pada mereka.

Sejarah Kerajaan Pagatan, secara sederhana bisa dibagi ke dalam empat periode, yakni priode pra-kerajaan, periode proklamasi kerajaan, periode integrasi Kerajaan Kusan, dan periode pemerintahan di bawah Hindia Belanda.

Pada priode pertama, Puanna Dekke sebagai pendiri Kerajaan Pagatan, bersama para pengikutnya mengerahkan seluruh daya upaya untuk membabat hutan belantara dan membangun pemukiman baru yang kemudian diberi nama “Kampoeng Pegatang”. Selanjutnya, Puanna Dekke mempersiapkan cucunya, La Panggewa, untuk kelak Pemimpin kerajaan Pagatan.

Pada periode kedua, Puanna Dekke memproklamasikan kerajaan Pagatan sebagai kerajaan di bawah naungan Kesultanan Banjar, dengan menobatkan cucunya, La Panggewa, sebagai raja pertama. Oleh Sultan Banjar, atas jasanya menggempur pasukan Pangeran Amir bin Sultan Kuning, yang menjadi rival dari Sultan Banjar (Tahmidullah II) dalam perebutan mahkota kesultanan Banjar, dia anugerahi gelar “Kapitan Laut Pulo”.

Pada priode ketiga, Kerajaan Pagatan mengalami perluasan wilayah kekuasaan dengan bergabungnya kerajaan Kusan, kerajaan tetangga mereka, sehingga nama kerajaan tersebut berubah menjadi menjadi Kerajaan Pagatan-Kusan. Sementara pada priode keempat, melalui Perjanjian Karang Intan antara Kerajaan Banajar dan Pemerintah Kolinial Hindia Belanda (1908), Kerajaan Pagatan-Kusan berada langsung di bawah Pemerintah Kolinial Hindia Belanda. Dan pada 1 Juli 1912, pihak Belanda, melalui Staatblads No. 312.01, menghapuskan Kerajaan Pagatan-Kusan, yang menjadi akhir dari sejarah kerajaan tersebut.

Raja-Raja Pagatan (-Kusan)

    La Pangewa, La Palebi, La Paliweng, Arung Abdul Rahma, La Matunra, Arung Abdul Karim, La Makkarau, >Abdul Jabbar, Daeng Mangkau, Arung Abdurahman(1883-1893)

Bukti Peninggalan Sejarah Kerajaan di Pagatan

  • • Makam para raja-raja di Desa Pasar Lama Kelurahan, Kota Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu.
  • • Sisa Bangunan Istana Raja (Soraja) di Kota Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu.
  • • Beberapa buah stempel Kerajaan Pagatan (tersimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru).
  • • Catatan sejarah berdirinya Kerajaan Pagatan (Lontara) oleh Kapiten La Mattone (Menteri Kerajaan Pagatan dan Kusan).