Lingkungan Alam Prasejarah Periode Holosen
Published :

K
ata Holosen secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, “holos” yang berarti menyeluruh dan “ceno” yang artinya baru. Penyebutan periode Holosen mengindikasikan bahwa periode tersebut memiliki sesuatu yang benar-benar baru.

Periode Holosen, zaman Holosen dimulai kira-kira 12.000 Sebelum Masehi dan berlanjut sampai hari ini. Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud “baru yaitu merujuk kepada kondisi dan perubahan alam yang berbeda dari sebelumnya, lebih hangat dan layak huni.

Ada juga yang berpendapat Holosen, lebih merujuk kepada bentuk fosil dan kehidupan manusia yang secara menyeluruh telah terjadi pembaharuan secara besar-besaran.

Periode Holosen juga sering dikaitkan dengan periode terakhir dari zaman es yang dimulai dari akhir Pleistosen yaitu 11.500 tahun yang lalu saat sebagian bumi mendapat pasokan kehangatan yang cukup, saat gletser-glester itu mencair, lalu tundra memberi jalan bagi terciptanya hutan.

Penelitian tehadap inti es menunjukkan bahwa selama periode Holosen suhu yang relatif lebih hangat. Perubahan yang besar ini berdampak kepada kehidupan di muka bumi.

Mamalia yang sangat besar yang telah lama beradaptasi dengan dingin yang ekstirm, seperti halnya Mammoth dan badak berbulu perlahan namun pasti mulai menghilang, punah.

Manusia yang memerlukan makanan dan tergantung kepada hewan-hewan besar pada periode sebelumnya yang telah punah, mencoba beralih ke hal yang kecil, bahkan sangat kecil, karena kita beralih untuk tergantung kepada biji-bijian dari rumput.

Manusia tidak lagi menjadi pemburu dan pengumpul, tapi mereka diam dalam kelompok-kelompok kecil untuk bercocok tanam. Populasi manusia mulai meningkat dan perlahan namun pasti manusia pada masa itu mulai menciptakan perubahan-perubahan yang mengubah planet ini selamanya.

ZAMAN BANGSA MANUSIA

Zaman atau Periode Holosen ini kadang disebut juga sebagai “zaman bangsa manusia”. Jika dimaknai bahwa pada masa ini manusia baru muncul, tentu ini adalah penyataan yang keliru karena manusia modern telah terlebih dahulu hadir dan telah menyebar ke seluruh planet bumi ini, justru terjadi sebelum periode Holosen dimulai.

Akan tetapi, jika diterjemahkan dengan kemunculan “peradaban pertama manusia” yaitu dimana manusia telah berhasil mempengaruhi lingkungan alam secara global yang berbeda dengan aktivitas yang dilakukan oleh organisme lainnya, maka sebutan zaman bangsa manusia itu bisa dikatakan tepat.

Pertanian merupakan hal yang utama yang dilakukan oleh manusia yang telah berdampak kepada bumi dan keadaan manusia selanjutnya.

8.000 Sebelum Masehi, budidaya gandum, Padi, jagung, kacang-kacangan dan tanaman lainnya telah menjadi dasar dari peradaban umat manusia. Domestikasi, sapi, Kambing, domba mungkin telah dimulai pada periode yang sama.

Sumber makanan yang dihasilkan oleh pertanian mungkin telah menciptakan perdagangan tradisional (barter), populasi manusia semakin besar.

Di mulai sekitar abad pertama Masehi, pertanian telah benar-benar meningkatkan jumlah orang bahkan melampaui jumlah yang dapat didukung oleh planet ini.

Ada sekitar 170 juta orang di Bumi pada akhir abad pertama, pada abad ke-17 jumlah manusia mencapai lebih dari 1 miliar. Memasuki revolusi Industri, pada abad ke-19 populasi manusia semakin tumbuh secara eksponensial.

Jumlah makanan, kesehatan dan hidup semakin baik, sementara kelahiran terus meningkat di sebagian besar belahan dunia.

Kemajuan berpikir, penemuan teknologi, dan pengembangan pengetahuan telah meningkatkan manusia dalam memahami bumi, tapi sayangnya itu tidak bisa memperbesar ukuran bumi.

Tekanan dari ledakan populasi manusia ternyata memiliki efek yang serius pada keanekaragaman hayati di planet ini. Bumi kita ini setidaknya telah mengalami lima kali peristiwa kepunahan massal.

Kebanyakan dari kita mungkin hanya ingat tentang kepunahan massal pada periode Kretaceous 65 juta tahun yang lalu yaitu kepunahan para dinosaurus.

KEPUNAHAN KEENAM?

Beberapa organisme pada periode Holosen ini telah mempengaruhi lebih banyak dari periode sebelumnya, sebagian besarnya memang telah mengubah “kondisi” dunia.

Lebih jauh lagi, para ilmuwan berpendapat bahwa sebanyak 20% jumlah tanaman dan juga hewan pada periode ini kemungkinan akan punah atau hilang pada tahun 2025 Masehi dan 30% akan punah pada tahun 2100 Masehi.

Informasi ini belum final, setidaknya perlu lebih banyak lagi informasi untuk menyimpulkan apakah kepunahan yang akan terjadi nantinya atau yang sekarang sudah terjadi itu berada dalam kategori alami.

Kategori “alami” bisa dihubungkan dengan bagian dari pergantian spesies, atau proses kepunahan ini justru dipercepat karena kegiatan dari manusia, misalnya; berburu, polusi udara, kebakaran hutan, dan penebangan liar (deforestasi) karena jika hal ini benar maka apa yang disebut sebagai “kepunahan massal keenam” akan benar-benar terjadi.

Yang mencengangkan adalah hal ini seperti menjadi rahasia umum, ya kita semua tahu bahwa perusakan habitat alami yang dipercaya menjadi penyebab utama banyaknya kepunahan spesies lain itu disebabkan oleh ulah satu spesies yang bernama manusia.

Banyak ilmuwan percaya bahwa kita berada di tengah-tengah rentang waktu menuju kepunahan massal keenam yang disebabkan oleh ulah kita sendiri.

Umumnya para peneliti sepakat bahwa aktivitas yang dilakukan manusia bertanggung jawab atau mempercepat “pemanasan global.”.

Ini berarti naiknya suhu temperatur global yang seakan masih berlanjut hingga saat ini akan menimbulkan sebuah gejala dan efek yang tidak akan terduga.

Para peneliti kemudian ada yang beranggapan bahwa kondisi dari suhu bumi pada masa yang hangat ini bersifat sementara. Kita sekarang berada dalam sebuah periode interglasial zaman es.

Pada tahun 1350 Masehi atau kira-kira antara tahun 1200 sampai dengan 1700 Masehi, pernah terjadi sebuah masa bernama Little Ice yang kabarnya sangat dingin. Periode Holosen ini menjadi saksi dari perkembangan dan kemajuan pengetahuan serta teknologi umat manusia.

Teknologi-teknologi ini telah membantu dalam memahami perubahan serta gejala yang kita ketahui hingga dapat memprediksi apa akibat yang akan terjadi dan mencoba untuk menghentikan kerusakan yang semakin parah terhadap bumi dan juga hal lainnya yang berpengaruh terhadap populasi bangsa manusia.

Paleontologi dapat mengambil peran dalam upaya untuk memahami perubahan bumi. Fosil-fosil itu sesungguhnya juga menyediakan banyak data tentang bagaimana iklim dan lingkungan pada masa lalu.

Lebih jauh, palaentologi dapat berkontribusi dalam memahami bagaimana perubahan lingkungan yang terjadi di masa depan itu memengaruhi hidup bangsa manusia di bumi.

Tidak ada satu pun yang sanggup mengubah dunia secepat atau sebanyak seperti yang spesies kita lakukan. Tapi sayangnya kita sangat lambat dalam usaha perbaikan.

Mampukah manusia bertahan?