Soto: Santapan Lezat Beragam Resep dan Istilah
Published :

S
oto atau juga Coto, Tauto, Sauto dan Sroto adalah salah satu kuliner nusantara yang memiliki ragam jenis di tiap daerah. Sebagai pembeda, penamaannya diikuti oleh nama daerah asal seperti soto Bandung, Soto Medan, Soto Solo, Soto Makasar, Soto Sukaraja. Dll. Ini adalah hal menarik, dari satu kuliner mampu menginpirasi setiap daerah untuk menciptakan sesuatu yang baru dari hal yang sama.
Jika menelusuri asal usul kuliner yang satu ini, menurut Dennys Lombard, dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, asal mula Soto bernama Caudo, makanan Cina yang pertama kali populer di wilayah Semarang. Dari nama Caudo inilah lambat laun mengalami perubahan fonetik menjadi Soto. Di Makassar orang menyebutnya Coto, di Pekalongan disebut Tauto bahkan beberapa tempat ada yang menyebutnya Sauto.

Eksistensi masakan ini sebagai kuliner di nusantara terindikasi memiliki catatan sejarah yang panjang. Diperkirakan sejalan dengan awal mula kemunculan kacang-kacangan yang dibudidayakan bangsa Cina di Nusantara. Sebuah tulisan jawa kuno, bernama Watu Kura yang berasal dari jawa timur, pada tahun 902 masehi bercerita tentang hasil olahan kacang dalam hidangan sebuah pesta.

Di Jawa, bangsa Cina bersama pribumi mengembangkan olahan kacang menjadi sejenis saus dengan nama ketjap. Salah satu bumbu wajib. Olahan kacang lainnya adalah tauge alias kecambah dari kacang hijau. Selain itu, ada dugaan kuat bahwa kelengkapan dari soto yang dibudidayakan di Jawa dikenal dengan nama yang berasal dari Cina. Di antaranya kucai dari kata Jiucai dan lobak dari kata luobo. Dari lobak inilah Soto Bandung memiliki ke khasan tersendiri.

Bahkan pada masa kolonial Belanda, kepopuleran makanan ini telah diabadikan dalam beberapa kartu pos yang dikoleksi oleh Perpustakaan Sanapustaka Kraton Surakarta dan KITLV, Leiden. Selain itu ada juga model penjual soto yang menjadi koleksi Tropen Museum Belanda. Model boneka tersebut diperkirakan dibuat tahun 1919 oleh seorang seniman Jawa Timur.
Model boneka penjual soto yang menggambarkan penjual soto dari daerah Jawa Timur hal ini dapat dilihat dari pakaian yang dikenanak. Penjual tersebut duduk di sebuah dingklik (kursi kayu) dan tengah memotong daging ayam serta lontong. Kuali besar berada di sebelah kanan tempat menaruh kuah soto dengan perapian yang menggunakan kayu bakar. Sedangkan di sebelah kirinya ditaruh mangkuk, sayuran serta botol kecap
Jika kita beranjak ke Sumatera, kebanyakan kuliner jenis ini menggunakan santan dan kaya akan rempah-rempah. Berbeda dengan yang berasal dari Jawa jelas-jelas identik dengan kebiasaan mereka yang mendapat pengaruh dari kebiasaan orang-orang Cina, terutama yang terletak di wilayah pesisir yang dapat dilihat dari penggunaan mie atau bihun, bawang putih, lobak, lumpia, dan tauco. Soto Betawi mungkin pengecualian karena menggunakan santan pada kuahnya.