Suku Minangkabau, Sumatera Barat
Published :

S
umatera Barat merupakan salah satu provinsi yang ditinggali oleh masyarakat etnis tradisional yang berasal dari Suku Minangkabau atau Minang. Masyarakat Minang tersebar di wilayah Sumatera Barat, daerah-daerah di daratan Riau, di bagian utara Bengkulu, di bagian barat Jambi, wilayah pantai barat Sumatera Utara, di wilayah-wilayah sekitar barat daya Aceh, dan juga di beberapa wilayah Malaysia.

Walaupun persebarannya meliputi ke wilayah-wilayah pulau sumatera lainnya tapi masyarakat minang sering didentik dengan orang padang atau biasa disebut dengan urang awak.
Masyarakat minang merupakan bagian dari kultur etnis rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki dan menganut sistem adat yang khas. Sistem adat yang khas dari masyarakat minang adalah kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal.
Ada pendapat yang menyatakan jika nenek moyang masyarakat suku Minang berasal dari keturunan Isakandar Zulkarnain. Hal ini diketahui dari kisah tambo yang diterima secara turun temurun.

Masyarakat Minang sendiri menurut pendapat dari beberapa ahli sebenarnya adalah bagian dari masyarakat Melayu Muda (Deutro Melayu) yang bermigrasi dari daratan Cina Selatan ke wilayah-wilayah di pulau Sumatera sekitar 2.500–2.000 tahun yang lalu.

Kelompok masyarakat ini diperkirakan memasuki sumatera dari arah timur dan kemudian mereka telah menyusuri aliran dari sungai Kampar hingga berhasil tiba di dataran tinggi yang disebut darek hingga kemudian menjadi daerah-daerah yang dikenal sebagai kampung halaman orang Minang.

Seiring dengan berkembangnya pertumbuhan penduduk, masyarakat Minang menyebar ke kawasan darek lain dan membentuk beberapa kawasan tertentu menjadi kawasan rantau. Masyarakat Minang mengenal rantau sebagai Rantau Nan Duo yang terbagi atas Rantau di Hilia (wilayah pesisir timur) dan Rantau di Mudiak (wilayah pesisir barat).

Dahulu masyarakat Minang tidak dibedakan dengan masayarakat Melayu pada umumnya, namun sejak abad ke-19 suku Minang mulai dibedakan dengan dengan masyarakat melayu karena melihat budaya matrilineal yang dipegang teguh oleh masyarakat minang, semnetara masyarakat melayu sendiri menganut system kekeluargaan patrilineal. Sejak saat itulah masyarakat Minang dikenal dengan suku minang.

Penamaan suku Minangkabau berasal dari kata ‘Minangkabau’ yang dituturkan dari mulut ke mulut oleh orang minang terdahulu. Kata Minangkabau menurut beberapa pendapat berasal dari kata Minang yang berarti Menang dan Kabau yang berarti Kerbau.

Secara keseluruhan kata Minangkabau berarti kerbau yang menang. Kata ini diduga berasal dari kisah perlawanan masyarakat minang terhadap 300 orang bala tentara yang dari Pulau Jawa mendarat di pantai barat Pulau Sumatra.

Kedatangan tentara-tentara tersebut adalah untuk membuat masyarakat setempat tunduk dan patuh kepada kekuasaan Raja di Jawa sehingga wilayah tersebut bisa menjadi daerha kekuasaan kerajaan di jawa

Akan tetapi masyarakat Minang tidak mau ditaklukan begitu saja, mereka ingin melakukan perlawanan. Hanya saja orang Minang tidak memiliki tradisi berperang, mereka pun tak punya peralatan untuk berperang

Alhasil setelah berunding dengan masayarakat dan pemimpin adat setempat masyarakt minang pun menyepakati untuk melakukan lomba adu kerbau dengan tentara jawa. Setelah kedua pihak bersepakat untuk melakukan adu kerbau, masing-masing menyiapkan kerbau masing-masing.

Tentara jawa menyiapkan kerbau yang besar kuat dan ganas, mengetahui kerbau yang telah disiapkan oleh tentara Jawa, masyarakat Minang melakukan perundingan kembali dan diambilah kepu tusan bahwa kerbau yang akan mereka gunakan untuk diadukan adulah anaka kerbau yang masih menyusu pada induknya tapi selama dua hari harus dipisahkan dari induknya.

Tiba saatnya pertandingan, anak kerbau yang lapar menanduk kerbau besar lawannya dan mencari susu dari kerbau tersebut sampai kerbau milik tentara jawa pun terjatuh. Anak kerbau itu menyangka si kerbau adalah ibunya, bahkan setelah kerbau tentara jawa terjatuh pun anaka kerbau masih menanduk-nanduk perut kerbau tersebut sampai kerbau itu akhirnya kalah. Sejak saat itulah dikenal minangkabau yang berarti kerbau yang menang.

Masyarakat Minang dikenal sebagai masyarakat yang menganut sistem matrilineal terbesar di dunia. Masyarakat Minang juga dikenal sebagai masyarakat yang menjalankan tradisi dan adat istiadat berdasarkan syariat Islam.

Hal ini berdasarkan prinsip adat Minangkabau yang cukup terkenal di kalangan orang-orang minang yaitu Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Quran.

Masyarakat Minang dari zaman dahulu dikenal memiliki keunggulan dalam bidang perniagaan dan intelektual. Mereka juga dipercaya sebagai pewaris tradisi tua Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang dahulu terkenal akan perdagangannya. Selain itu, masyarakat minang memilki tradisi merantau yang kuat, saat ini masyarakat Minang tercatat menduduki hampir seluruh wilayah kota-kota besar di Indonesia bahkan ke luar negeri.