Beberapa Perlengkapan dan Peralatan Tradisional Bima
Published :

P
erlengkapan dan peralatan dalam pemenuhan kebutuhan orang Bima meliputi alat rumah tangga, pertanian, berburu, perikanan, peternakan, dan kerajinan.

Alat rumah tangga digunakan untuk keperluan di dalam rumah tangga pada masyarakat Bima, terutama peralatan dan perlengkapan yang melengkapi ruang dapur mereka.

Orang Bima biasanya membuat dapur di bagian terbelakang dari uma panggu. Orang Bima menyebutnya rika, sementara para-para disebut tajarika.

Ruang dapur tersebut di samping sebagai tempat memasak, juga tempat untuk menyimpan berbagai peralatan dan perlengkapan. Orang Bima membuat cobek sebagai alat untuk menggiling sambal yang tidak dibuat dari tanah liat seperti kebanyakan suku lain yang ada di Nusa Tenggara Barat.

Tetapi cobek yang digunakan berasal dari batu kali yang dipungut begitu saja. Batu kali yang dipergunakan dipilih yang memiliki bentuk pipih, jadi bukan dibentuk atau dibuat oleh mereka. Dalam Bahasa Bima, cobek atau alat penggiling sambal tersebut disebut wadu kiru

Adapun piring yang digunakan oleh orang Bima dibuat dari tempurung kelapa, namanya dalam bahasa Bima adalah kalea. Alat-alat rumah tangga lain adalah roa ro tabe, fungsinya untuk keperluan dapur yang terbuat dari tanah liat.

Seperangkat alat untuk makan sirih disebut ta’u’a yang dibuat dari jenis kuningan atau juga dari kayu. Untuk pencuci tangan disebut ngamo ro wacarima yang terbuat dari kuningan ataupun dari tanah liat.

Untuk menyimpan beras, orang Bima menyimpannya di pantu bongi yang terbuat dari tanah liat. Pantu bongi berbentuk seperti gentong, alat tersebut diletakan di tempat tidur atau di dekat alat-alat dapur lain. Sementara lumbung padi di Bima disebut lengge atau juga jompo yang dimiliki oleh para petani

Alat untuk menumbuk padi di Bima disebut kandei ro nocu yang dibuat dari kayu, sedangkan alu dibuat dari bambu atau kayu. Untuk air pencuci keperluan sehari-hari, mereka menggunakan perlengkapan yang disebut padasa, terbuat dari tanah liat.

Sementara alat-alat lain seperti ember, tempat nasi pada suku Bima kebanyakan buatan pabrik—yang menggunakan mesin modern—bukan buatan tangan manusia

Alat dan perlengkapan lain adalah untuk pertanian. Orang Bima menggunakan kerbau ataupun sapi untuk mengolah sawah. Kerbau atau sapi tersebut dipasangi tenggala untuk membajak sawah. Tenggala terdiri dari tatahan, yakni kayu dari pohon kelapa dan kayu enau sepanjang dua setengah meter dengan ketebalan sekitar satu setengah meter.

Pada tenggala dibuatkan pegangannya, di bagian bawah tenggala dilubagi untuk menyelipkan gigi yang terbuat dari besi, namanya penggigi berbentuk anak panah yang cukup tebal. Di antara kedua sapi yang menarik bajak tersebut dibuatkan alat untuk menyatukan sapi-sapi tersebut yang terbuat dari kayu.

Peralatan tani lain yang digunakan orang Bima adalah cangkul. Tangkai cangkul tersebut panjangnya sekira satu setengah meter. Guna cangkul tersebut untuk menggemburkan tanah, dan membuat saluran air ke sawah-sawah mereka.

Cangkultersebut dapat dibeli di toko, atau mereka juga bisa membuatnya sendiri. Untuk membersihkan ladang atau sawah dari tumbuhan yang mengganggu tanaman, orang Bima menggunakan alat yang disebut cila, yang memiliki tangkai agak pendek dan ujung lebih besar.

Cila juga digunakan oleh orang Bima untuk berburu, di samping mereka juga menggunakan anjing buruan.

Dalam perikanan, mereka memiliki berbagai macam peralatan, diantaranya adalah sejenis jala yang bernama ndala, kodong, krakat dan lainnya. Ndala dibuat dari benang yang dipintal, dan dipasang pemberat yang berbahan timah.

Mereka melemparkan jala ke air, kemudian ditarik secara perlahan setelah pemberat sampai di dasar air. Ndala bisa digunakan di perairan darat maupun laut

Ada lagi alat perikanan lain, yaitu sejenis pancing. Orang Bima menggunakan alat tersebut yang berbeda antara di perairan darat dan laut. Mereka menggunakan sejenis pancing yang disebut kawi untuk memancing ikan di sungai.

Sementara untuk menangkap ikan-ikan kecil di laut, orang Bima menggunakan sai, yakni sejenis pancing untuk di laut. Alat tersebut terbuat dari anyaman bambu yang ditancapkan di laut agak dangkal

Ada lagi alat lain yang bernama kodong. Alat tersebut terbuat dari bambu yang dianyam menjadi benda menyerupai sangkar burung yang memanjang ke bawah.

Di bagian bawah diberi lubang yang bentuknya lancip sebagai jalan masuknya ikan kecil atau udang-udang. Kemudian ada lagi krakat, bentuknya sama dengan jala. Hanya saja krakat tidak menggunakan pemberat berbahan timah tadi.

Krakat hanya digunakan untuk menangkap ikan di laut saja. Sementara alat untuk peternakan tidak terlalu banyak karena orang Bima melepaskan ternaknya secara bebas di hutan.

Pada bidang kerajinan, peralatan yang digunakan orang Bima diantaranya adalah tandiman, yakni alat untuk menenun. Alat untuk membuat benang disebut gantian yang terbuat dari kayu setebal 30 cm, dan panjangnya 80 cm. Di atasnya dibuat tempat pemutar benang.

Sebelum kapas dibuat benang, kapas dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran atau biji-bijian dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu. Alat tersebut berfungsi sebagai pemeras kapas.

Selain tandiman, orang Bima juga membuat alat kerajinan tangan lain berupa pisau kecil. Kebanyakan alat-alat tersebut dibuat sendiri oleh keluarga pada masyarakat Bima.