Pusat Latihan Gajah Sebanga Duri, Riau
Published :

P
embalakan hutan dan terutama kebakaran hutan yang terjadi di provinsi Riau kerap mendorong ‘penurunan’ keseimbangan alam. Ekosistem satwa mengakibatkan kerugian bagi masyarakat Riau itu sendiri

Gajah sebagai salah satu satwa yang menghuni provinsi Riau terkena imbasnya. Wilayah hidup yang semakin sempit membuat gajah Sumatera ini masuk ke permukiman warga

Hal ini acap kali mengakibatkan korban jiwa baik dari gajah itu sendiri atau pun warga. Tak ayal, warga pun memburu gajah dengan alas an untuk pengamanan hidup mereka. Di satu sisi langkah ini akan justru dapat mengurangi populasi gajah Sumatera itu sendiri

Gajah Sumatera (Elephas maxims Sumatranus) merupakan satwa langka di Indonesia yang dilindungi Undang-undang No. 5 Tahun 1990. Satwa ini juga merupakan salah satu kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional

Penyempitan habitat gajah Sumatera selain pembalakan liar dan kebakaran hutan juga disebabkan oleh perluasan areal perkebunan, pembukaan areal permukiman transmigrasi, dan eksploitasi minyak, sehingga gajah semakin terdesak dan terpisah-pisah dalam kantong-kantong dan daerah gajah yang terisolir

Berangkat dari kasus tersebut dan mengacu dari hasil upaya pencegahan terhadap gangguan gajah yang telah dilakukan, maka pada tahun 1988 didirikan Pusat Latihan Gajah Sebanga Duri di Provinsi Riau

Pusat Latihan Gajah Sebanga-Riau bertujuan untuk membentuk sarana menumbuh dan mengembalikan kesan kepada masyarakat bahwa gajah bukan sebagai satwa perusak yang harus dimusnahkan tetapi merupakan satwa yang bermanfaat bagi pembangunan nasional

Sasaran dari Pusat Latihan Gajah adalah untuk menangkap gajah-gajah yang memasuki daerah pertanian masyarakat, daerah pemukiman transmigrasi dan daerah perkebunan yang kemudian dijinakkan dan dilatih untuk dapat dimanfaatkan sebagai gajah tangkap/gajah latih, gajah atraksi dan gajah kerja

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau Nomor: KPTS.387/VI/1992 tanggal 29 Juni 1992, luas Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau ± 5.000 Ha yang terletak di Desa Muara Basung, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, tepatnya pada seratus kilometer dari Pekanbaru

Lokasi ini masuk ke dalam lokasi jalan Caltex ± 15 Km. PLG Sebanga dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dengan waktu tempuh dari Pekanbaru 2-2,5 jam. Kemudian dilanjutkan dari Duri ke lokasi PLG ± 45 menit

Penangkapan gajah sendiri dilakukan dengan sistem pelacakan terhadap lokasi keberadaan gajah/kelompok gajah yang terisolasir. Sedangkan metode penangkapan gajah yang digunakan ialah dengan sistem tembak bius

Penangkapan diprioritaskan di sekitar hutan yang berbatasan dengan daerah gangguan atau populasi yang terancam kehidupannya karena habitatnya sempit oleh peruntukan lain. Tujuan dari penangkapan adalah untuk meredakan gangguan gajah yang mengganggu di pemukiman transmigrasi, perkebunan

Gajah liar yang pernah ditangkap dan setelah sampai di Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau menjalani kegiatan pertama yaitu penjinakan. Pada umumnya kegiatan penjinakan memakan waktu antara 2-4 minggu

Penjinakan dilakukan di tempat tertentu yang disebut Runk (tempat penjinakan gajah) dan para pelatih/pawang menggunakan alat-alat seperti ganco, tombak, tali, rantai rotan dan sebagainya

Setelah gajah “lulus” pada program penjinakan, selanjutnya mengikuti program berikutnya, yaitu program pelatihan. Program pelatihan meliputi 3 tahap, yaitu Latihan Tingkat Satu (LTS), Latihan Tingkat Dua (LTD), dan Latihan Tingkat Tiga (LTT)

Setelah gajah “lulus” mengikuti Latihan Tingkat Satu sampai dengan Latihan Tingkat Tiga maka selanjutnya gajah-gajah tersebut dilatih keterampilan sesuai dengan kebutuhan, seperti keterampilan untuk gajah tangkap, keterampilan sebagai gajah latih, keterampilan untuk gajah atraksi, keterampilan untuk gajah kerja dan lain sebagainya yang pada akhirnya nanti gajah tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk menunjang pembangunan Nasional

Gajah-gajah hasil didikan dari pusat Latihan Gajah Sebanga Riau yang telah dimanfaatkan oleh beberapa HPH dan Kebun Binatang sebanyak 22 ekor dari jumlah 78 ekor

Selain gajah, terdapat pula macam-macam fauna yang dapat dilihat di PLG Sebanga Riau ini. Misalnya, Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Beruang Madu (Helarctus Malayanus), Kancil (Tragulus sp), Rusa (Cervus sp), Babi (Sus sp) serta berbagai jenis Aves dan ayam hutan

Sebagian besar Flora yang tumbuh adalah kayu jenis Meranti (Shorea spp), Jelutung (Dyera costulata), dan jenis lain yang tumbuh pada hutan sekunder. Pada tempat tertentu yang telah terbuka ditumbuhi alang-alang dan tumbuhan perdu lainnya, diantaranya terdapat juga beberapa jenis tumbuhan yang dapat dimakan oleh gajah

Pemerintah nampaknya belum secara resmi menjadikan Pusat Latihan Gajah Sebanga-Riau ini sebagai objek wisata. Oleh sebab itu, tidak ada tiket masuk khusus yang harus dibeli. Hanya apabila pengunjung ingin pengunjung ingin menunggang gajah, pengunjung akan dikenakan tarif khusus

Lokasi ini juga kerap mempertunjukan atraksi gajah, di antaranya melangkahi potongan kayu ukuran besar yang telah disusun, memberi hormat kepada pengunjung, mengangkat kayu dengan bejalai, melangkahi manusia yang terbaring di atas tanah dan sebagainya

Dari adanya atraksi dan jenis fauna yang beragam, PLG Sebanga-Riau ini sangat cocok untuk dikunjungi sebagai objek wisata “kebun binatang alam liar”.