Menyibak Bhaktapur; Kota Kuno di Lembah Kathmandu, Nepal
Published :

D
idirikan pada abad ke-12 oleh Raja Ananda Malla—menurut berbagai kronik, Bhaktapur adalah ibu kota Malla Raya sampai abad ke-15 dan merupakan kerajaan independen hingga abad ke-18.

Tiga penguasa terakhir dinasti Malla: Jitamitra Malla, Bhupatindra Malla, dan Ranjit Malla, mempunyai andil besar dan peran kunci dalam membangun istana dan kuil-kuil di Durbar Square.

Pada tahun 1744, Prithvi Narayan Shah, keturunan dravya Shah, yang merupakan pendiri dinasti Gorkha, mulai melakukan serangkaian penaklukan di Lembah Kathmandu. Visi-nya adalah menyatukan Kathmandu, Patan, Bhaktapur, dan kota-kota kecil di lembah itu dalam satu aturan.

Setelah periode ketidakstabilan dan kudeta berdarah pada tahun 1846, Jang Bahadur Kunwar Ranaji menguasai Nepal. Dinasti Rana memerintah Nepal hingga tahun 1951, ketika Partai Kongres membentuk pemerintahan baru.

Pada tahun 1960, Raja Mahendra mengambil kendali, melarang partai politik dan menyerukan reformasi. Sisanya, kekacauan politik terus berlanjut sepanjang abad ke-20.

Pada tahun 1934, gempa bumi besar menghancurkan wilayah ini. Kurang lebih sekitar 2.000 rumah rusak berat dan korban jiwa mencapai 1.000 orang. Banyak bangunan kemudian direstorasi selama bertahun-tahun, termasuk upaya yang didanai oleh pihak luar.

Tragisnya, gempa kembali mengguncang lembah Kathmandu pada tahun 2015 lalu dan menyebabkan kerusakan yang sama hebatnya. Banyak rumah dan akses jalan harus mengalah pada bencana. Beberapa candi hancur, namun ada juga yang selamat.

Pun demikian, ketika datang ke jalan-jalan pasca bencana, atraksi dan kehidupan masyarakatnya tetap sama seperti bencana tidak pernah ada. Bhaktapur tetap menyegarkan, tanpa lalu lintas dan polusi—meskipun semakin banyak sepeda motor mengancam pesona perjalanan kaki di Bhaktapur.

Terletak sekitar 20 km sebelah timur Kathmandu di Lembah Kathmandu, Bhaktapur banyak diisi dengan monumen, candi, terra-cotta, tiang-tiang berukir, istana dan kuil-kuil dengan ukiran rumit, atap berlapis emas, halaman terbuka.

Kota ini dipenuhi dengan pagoda dan kuil-kuil agama. Terbentang di sepanjang rute perdagangan kuno antara India dan Tibet, Bhaktapur dikelilingi oleh pegunungan dan menyediakan pemandangan agung dari Himalaya.

Bhaktapur dipengaruhi oleh seni dan religi dari agama Hindu dan Buddha. Meskipun Hindu mendominasi, ada sembilan belas biara-biara Budha (Vihara).

Di Indra Varna Madavihar, dibangun pada 1671 dan terletak di antara Durbar Square dan Dattatraya Square, pengunjung bisa melihat dua patung singa, sebuah Patinga Hiti (sumber mata air), jendela kayu berukir tantra, dan roda doa.

Monumen Buddha dan kuil-kuil lainnya, termasuk Lokeswor Mahavihar, Prasannasheel Mahavihar, Chatu Brahma Mahavihar, Jaya Kirti Mahavihar, Sukra-varna Mahavihar, Dipanker Mahavihar.

Hampir sepanjang tahun, kota ini menawarkan banyak festival yang bisa anda lihat, di antaranya adalah: Dashain, festival yang berlangsung 15 hari untuk menghormati dewi Devi Durga, berlangsung September-Oktober.

Gai-Jatra (Festival Sapi), festival bagi keluarga yang berkabung, berlangsung Juli-Agustus. Bisket Jatra, perayaan Tahun Baru Nepal, pada bulan April. Tihar, festival lampu, untuk menghormati Laksmi, dewi kekayaan, berlangsung bulan Oktober.

Bhaktapur memang tidak memiliki hotel mewah, tapi ada beberapa penginapan di tempat yang menawarkan banyak panorama eksotis ini. Juga, tentu saja, ada Himalaya di dekatnya.