Mengenal Lampung, Sang Bumi Ruwa Jurai
Published :
Oleh: Irfan Anshory*

M
asyarakat Lampung mempunyai falsafah “Sang Bumi Ruwa Jurai”, artinya sebuah rumah tangga dari dua garis keturunan, masing-masing melahirkan masyarakat beradat pepadun dan masyarakat beradat sebatin. Pada zaman modern sekarang, pengertian Sang Bumi Ruwa Jurai diperluas menjadi masyarakat Lampung asli (suku Lampung) dan masyarakat Lampung pendatang (suku-suku lain yang tinggal di Lampung).

Nenek moyang orang Lampung menurut legenda adalah Puyang Mena Tepik di negeri Sekalaberak. Seperti kata wawancan: Asal jak Lemasa Kepampang – anak umpu Puyang Mena Tepik – cakak di Gunung Pesagi – regah di Sekalaberak – nurunkon ruwa muwari – Umpu Sidenting jama Umpu Pernong – sai ngiwakkon pepadun – sai ngiwakkon sebatin.
Menurut pakar bahasa Dr. H.N. van der Tuuk, daerah ini dinamai “Lampung” sebab jika dilihat dari laut seperti bukit yang melampung (mengapung)

Aksara Lampung, huruf ka-ga-nga, mirip dengan aksara Batak, aksara Bugis, dan aksara Sunda Kuno (yang bukan aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka). Aksara-aksara ini memang bersaudara, sebab sama-sama diturunkan dari aksara Dewanagari di India.

Jika ditinjau dari segi bahasa dan adat istiadat, masyarakat atau budaya Lampung meliputi juga hulun lampung yang berdiam di Provinsi Sumatera Selatan (Ranau dan Komering) serta Provinsi Banten (Cikoneng). Saat ini diperkirakan ada tiga juta orang berbahasa ibu bahasa Lampung.

Masyarakat beradat pepadun terdiri dari “Abung Siwo Mego” (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa); “Mego Pak Tulangbawang” (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan); “Pubian Telu Suku” (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi);
Serta “Sungkay-Way Kanan Buay Lima” (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat beradat sebatin terdiri dari “Peminggir Paksi Pak” (Ratu Tundunan, Ratu Belunguh, Ratu Nyerupa, Ratu Bejalan di Way); serta “Komering-Kayuagung”, yang sekarang termasuk Provinsi Sumatera Selatan.

Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi. Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga. Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjung Karang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedung Tataan, dan Pugung. Masyarakat Sungkay-Way Kanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Masyarakat Peminggir mendiami sebelas wilayah adat: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang (Gunung Alip), Kota Agung, Semangka, Belalau, Liwa, dan Ranau. Yang terakhir ini dinamai Peminggir karena mereka berada di pinggir pantai barat dan selatan.

Menurut kitab Kuntara Raja Niti, orang Lampung memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1) piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri),

2) juluk-adok (memunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya),

3) nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu),

4) nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), dan

5) sakai-sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan “lima kembang penghias sigor” pada lambang Provinsi Lampung. Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):

Tandani hulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia hina sehitung, wat malu rega diri
Juluk-adok ram pegung, nemui-nyimah muwari
Nengah-nyampur mak ngungkung, sakai-sambaian gawi.

Sejarah Singkat Lampung

Pada zaman Hindu-Buddha, Lampung termasuk daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Hal ini ditandai oleh prasasti dari Datu (Raja) Sriwijaya bertarikh 608 Saka (686 Masehi) yang ditemukan di Desa Palas Pasemah, daerah Kalianda

Berita Tionghoa menyebutkan kerajaan-kerajaan Kan-to-li, To-lang-po-hwang, dan Yeh-po-ti. Lokasi kerajaan-kerajaan itu masih diperdebatkan para ahli sejarah, tetapi tidaklah tertutup kemungkinan bahwa nama-nama itu sebutan Cina untuk “Kenali”, “Tulangbawang”, dan “Seputih”.

Tidak jauh dari Kenali, antara Liwa dan Gunung Pesagi, ditemukan Prasasti Hujung Langit yang bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997 Masehi), sebagaimana tercantum dalam buku Prof. Dr. Louis-Charles Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hlm.26-45.

Nama raja yang mengeluarkan prasasti itu tercantum pada baris ke-7, menurut pembacaan Prof.Damais namanya Sri Haridewa. Inilah nama raja di daerah Lampung yang pertama kali ditemukan pada prasasti! Melihat lokasinya, barangkali prasasti tersebut ada hubungannya dengan Kerajaan Sekalaberak yang legendaris itu.

Pada abad ke-14 tercatat Kerajaan Buway Tumi. Menurut sumber sejarah Sunda, salah seorang putri Buway Tumi yang bernama Dewi Ratna Sarkati diambil menjadi permaisuri Prabu Wastu Kancana dari Kerajaan Sunda. Menurut cerita turun-temurun, Dewi Ratna Sarkati membawa pisang muli (bahasa Lampung: muli = gadis) ke tanah Sunda, yang sampai sekarang tetap disebut “cau muli” oleh masyarakat Jawa Barat

Bersamaan dengan masuknya agama Islam dari Banten ke Lampung pada masa Sultan Maulana Hasanuddin abad ke-16, Lampung berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten. Konon kabarnya Fatahillah (panglima Demak asal Pasai, pendiri kota Jakarta, dan pelopor pengislaman Banten) menikahi Putri Sinar Alam dari Keratuan Darah Putih di Lampung.

Menurut Thomas Walker Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam, yang diterjemahkan oleh Nawawi Rambe Sejarah Da’wah Islam (Widjaya, Jakarta, 1979, h. 324), Islam masuk ke Lampung dari Banten dengan dibawa oleh seorang pemimpin adat Lampung yang bernama Minak Kemala Bumi.
Daerah Lampung dibagi menjadi beberapa kejonjoman (semacam kabupaten) yang masing-masing dikepalai seorang jonjom mewakili sultan Banten. Ketika Banten dikalahkan VOC pada abad ke-18 (tahun 1750), Lampung ikut menjadi daerah jajahan Belanda.

Tetapi ini hanya di atas kertas perjanjian VOC dengan Banten, sebab kenyataannya kekuasaan kolonial baru tertanam di Lampung pada 1817, dengan terbentuknya Lampongsche Districten di bawah seorang residen yang berkedudukan di Terbanggi. Pada 1847, pemerintah Hindia-Belanda memindahkan ibukota (kedudukan residen) dari Terbanggi ke Teluk Betung.

Perlawanan yang terkenal dalam menentang kolonialisme Belanda adalah Perang Lampung (Lampong Oorlog) pada abad ke-19 yang dilancarkan oleh Radin Intan dari Kalianda selama 30 tahun (1826-1856), sezaman dengan Perang Jawa dari Pangeran Diponegoro serta Perang Paderi dari Tuanku Imam Bonjol.

Perang Lampung berakhir dengan gugurnya Radin Intan. Kini Radin Intan telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.

Pada 1917 daerah Lampung dibagi menjadi dua afdeling dan enam onderafdeling. Pertama, Afdeling Teluk Betung yang meliputi Onderafdeling Teluk Betung, Semangka, dan Katimbang. Kedua, Afdeling Tulang Bawang yang meliputi Onderafdeling Tulang Bawang, Seputih, dan Sekampung.

Di zaman pendudukan Jepang (1942-1945), daerah Lampung berada di bawah pimpinan seorang Suchokkan Kakka, dan dibagi dalam tiga bunshu (Telukbetung, Metro, Kotabumi). Setiap bunshu terdiri dari beberapa gun (kewedanaan) yang membawahi marga-marga.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, daerah Lampung menjadi keresidenan yang tergabung ke dalam Provinsi Sumatra Selatan yang beribukota di Palembang. Baru pada 1964, melalui UU No.14 Tahun 1964, terbentuklah Provinsi Lampung dengan ibukota Tanjungkarang-Telukbetung (sekarang menjadi Bandar Lampung)

Ada adi-adi yang populer pada tahun 1964/1965 ketika Lampung baru menjadi provinsi:

Lah lawi matti hanjak, patutni ram bugindang
Ngaliak lampung minjak, bupisah jak pulimbang
.

Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung

1. Berani menghadapi tantangan: mak nyerai ki mak karai, mak nyedor ki mak bador.

2. Teguh pendirian: ratong banjir mak kisir, ratong barak mak kirak.

3. Tekun dalam meraih cita-cita: asal mak lesa tilah ya pegai, asal mak jera tilah ya kelai.

4. Memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama: pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih.

5. Menyadari bahwa hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan: wat andah wat padah, repa ulah riya ulih.

6. Mengutamakan persatuan dan kekompakan: dang langkang dang nyapang, mari pekon mak ranggang, dang pungah dang lucah, mari pekon mak belah.

7. Arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah: wayni dang robok, iwani dapok.