Image by Hans Splinter / Flickr
Categories Almanac Tags ,

Gerabah Prasejarah, Kebudayaan Neolitikum

Benda-benda yang terbuat dari unsur tanah dan air itu menjadi luar biasa karena telah melewati berbagai masa, tetapi masih bisa dijumpai. Bentuk, bahan, dan pola hiasan terkadang menjadi kunci bagi mereka yang ahli untuk penganalisis lebih jauh budaya si pembuat artefak gerabah itu.

Gerabah Prasejarah atau kadang juga disebut tembikar (pottery) berkembang pesat pada masa neolitik. Benda-benda yang terbuat dari unsur tanah dan air itu menjadi luar biasa karena telah melewati berbagai masa, tetapi masih bisa dijumpai saat ini.

Bentuk, bahan, dan pola hias Gerabah Prasejarah terkadang menjadi kunci bagi mereka yang ahli untuk penganalisis lebih jauh perkembangan budaya dalam satu masa.

Para arkeolog dalam penggalian-penggalian mereka biasanya menemukan pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar (kereweng) yang merujuk pada rekonstruksi arkeologi.

Gambar Gerabah Prasejarah
Image by Hans Splinter / Flickr

Lapisan tanah tempat temuan gerabah prasejarah seringkali menjadi kunci untuk memberi jawaban terbesar dari pertanyaan dari mana dan siapa yang membuat gerabah-gerabah prasejarah itu.

Gerabah adalah perkakas dari tanah liat (tanah lempung) yang dibentuk sedemikian rupa, biasanya membentuk sebuah wadah, kemudian dilakukan proses pembakaran atau penjemuran di bawah sinar matahari.

Setelah kering, gerabah-gerabah itu dapat dimanfaatkan menjadi alat-alat yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Misalnya, kendi yang dapat digunakan untuk penampung air minum, kemudian ada juga tempayang, periuk, cawan, dan gerabah yang berfungsi dalam upacara keagamaan sebagai bekal kubur.

Selain itu, juga ada bentuk celengan, patung, dan bahkan mainan. Dalam perkembangannya, gerabah bahkan menjadi benda yang memiliki nilai artistik yang sangat tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia, gerabah telah dikenal di Nusantara sejak masa prasejarah yang diperkirakan digunakan dan dikembangkan oleh manusia yang mendukung kebudayaan bercocok tanam awal (neolitik; kurang lebih 12.000 SM).

Daerah penemuan Gerabah Prasejarah meliputi Kadenglebu (Banyuwangi), di daerah Kalapadua (Bogor), di Serpong (Tangerang), di Kalumpang dan daerah Minanga Sepakka (Sulawesi), di sekitar situs danau Bandung, dan di Poso (Minahasa).

Pada masa perundagian kerajinan benda-benda termasuk gerabah mencapai puncak perkembangannya. Daerah penemuannya juga lebih jelas diketahui serta ragamnya lebih kaya.

Tempat-tempat yang sangat terkenal sebagai pabrik gerabah masa perundagian adalah kompleks gerabah Buni di Desa Buni (Bekasi), kompleks gerabah Gilimanuk di pantai Gilimanuk dan Desa Ceki (Bali), kompleks gerabah Kalumpang di daerah Kalimpang. tepi Sungai Karama (Sulawesi).

Gerabah dari masa perudagian juga diketemukan di bagian barat Pulau Bali, di pasir Angin dekat Bogor, di pantai utara Jawa Barat antara Bekasi dan Rengasdengklok (Karawang), Plawangan (Rembang), Gunung Wingko (Yogyakarta), Anyer (Banten), Lambanapu (Sulawesi Selatan), Melolo (Sumba Timur) dan lain-lain.

Pembuatan Gerabah Prasejarah

Penemuan gerabah Prasejarah atau tembikar dari masa prasejarah merupakan suatu bukti adanya kemampuan manusia pada masa lalu dalam menciptakan benda-benda yang berguna bagi mereka.

Selain itu, dari sisi teknologi, pembuatannya juga menunjukkan bahwa kehidupan mereka senantiasa berkembang. Bahan-bahan yang bisa digunakan mereka dapati dari alam yaitu tanah liat, akan tetapi tidak semua tanah bisa digunakan untuk membuat gerabah perlu pengetahuan khusus untuk memilih jenis tanah liat terbaik agar tembikar yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik pula.

Pembuatan gerabah pada masa prasejarah ternyata mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari mulai bentuk dan pola hias yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks lagi.

Pada masa-masa neolitik awal, yaitu pada masa bercocok tanam mulai menjadi bagian kehidupan, segala sesuatunya mungkin dibentuk dan dikerjakan dengan menggunakan tangan tanpa teknik atau alat lainnya.

Teknik pembuatan gerabah kemudian berkembang. Teknik pencetakan mulai dikenal, perkembangan selanjutnya terlihat dari alat dan teknologi yang digunakan seperti mulai adanya roda pemutar.

Dengan menggunakan teknik cetak dan roda pemutar, gerabah dapat diproduksi dalam jumlah banyak. Perkembangan selanjutnya adalah dari segi artistiknya, gerabah-gerabah itu dihias dengan berbagai warna.

Teknik awal dari pembuatan gerabah adalah teknik melingkar. Tanah liat terbaik ditumbuk dan diaduk agar mempunyai tingkat kepadatan yang sempurna. Tanah liat itu kemudian dipilin lalu dibuat sebuah kumparan secara bertahap hingga kumparan itu menciptakan bentuk dan memiliki ruang.

Setiap pilinan yang melingkar selanjutnya dirapikan menggunakan jari lalu selanjutnya adalah proses penghalusan menggunakan batu atau kulit kerang.

Tanah liat yang telah dibentuk itu harus dikeringkan dengan baik agar dapat bertahan lama dan tidak mudah rusak. Sebelum mengenal teknik pembakaran, gerabah mungkin dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama berhari-hari.

Penggunaan teknik atau teknologi tatap batu dan roda pemutar mulai dikenal pada masa awal perundagian. Bahkan di beberapa tempat teknik ini terus berlanjut hingga sekarang.

Fungsi Gerabah Prasejarah

Tampak sekali bahwa peranan gerabah dalam kehidupan masyarakat prasejarah sangat penting dan fungsinya tidak lantas hilang ketika manusia sudah bisa membuat alat-alat yang dibuat dari logam (perunggu atau besi). Selain bahan baku yang mudah, gerabah juga dinilai bisa diproduksi secara massal.

Gambar Grabah Prasejarah Tembikar prasejarah
Gerabah Prasejarah dari Yunani (5.300-4.500 SM) | Image by Gary Todd / Flickr

Pada umumnya gerabah dibuat untuk kepentingan rumah tangga sehari-hari, misalnya, sebagai tempat air, alat untuk memasak, dan tempat menyimpan makanan. Dalam upacara keagamaan tembikar ini dapat digunakan sebagai wadah kubur, bekal kubur, atau tempat peralatan upacara.

Gerabah yang digunakan untuk alat-alat rumah tangga dari sisi motif memiliki pola hias yang sederhana atau bahkan polos, berbeda dengan gerabah-gerabah yang digunakan untuk kepentingan yang berhubungan dengan seni dan tradisi tentunya memerlukan pola hias dan motif dan bahkan bentuk yang lebih baik.

Sebagai contohnya pola atau motif hias gerabah yang digunakan dalam upacara, misalnya upacara keagamaan tentunya akan mempunyai pola hiasan yang lebih baik bahkan jauh lebih rumit lagi.

Gerabah dapat dibedakan sebagai wadah dan non-wadah. Sebagai wadah antara lain adalah periuk, tempayang, cawan, piring, kendi. Sedangkan yang non-wadah antara lain adalah bandul jala, patung, anglo, saluran air, dan manik-manik.

Mula-mula wadah dari gerabah berbentuk sederhana seperti dasar rata dan tanpa pola hias. Dalam perkembangannya gerabah mulai dibuat dengan teknik yang lebih maju, dengan pola hias yang bervariasi, dan bentuk yang beraneka macam.