Categories Almanac Tags

Bercocok Tanam; Budaya dan Tradisi yang Tetap Lestari

Di Indonesia masih terlihat tanda-tanda bertahannya tradisi prasejarah sampai jauh masuk masa sejarah, bahkan hingga masa kini. Berdasarkan sumber penelitian kehidupan masa bercocok tanam dan unsur-unsur prasejarah masih melekat di kehidupan saat ini. Beberapa unsur masih melekat dalam kehidupan masyarakat dan dapat digolongkan ke dalam beberapa aspek yaitu, kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan. Salah satu … Read more

Di Indonesia masih terlihat tanda-tanda bertahannya tradisi prasejarah sampai jauh masuk masa sejarah, bahkan hingga masa kini. Berdasarkan sumber penelitian kehidupan masa bercocok tanam dan unsur-unsur prasejarah masih melekat di kehidupan saat ini.

Beberapa unsur masih melekat dalam kehidupan masyarakat dan dapat digolongkan ke dalam beberapa aspek yaitu, kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan. Salah satu hal yang paling menonjol dari sisa kehidupan masa prasejarah konon adalah tradisi pemujaan nenek moyang.

Tradisi baik yang diwujudkan dalam bangunan megalitik maupun yang terkandung dalam pikiran meskipun beberapa konsepsi keagamaan seperti Hindu-Budha, Islam, dan Kristen tetap turut membentuk alam pemikiran spiritual bangsa Indonesia.

Penduduk di kepulauan Indonesia tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan masa prasejarah khusunya masa bercocok tanam, ini membuktikan bahwa kepulauan Indonesia sejak kala pasca-Plestosen telah didiami secara luas.

Jadi, faktor-faktor biologis dan kultural masih dapat dihubungkan dengan keadaan pada masa prasejarah, meskipun beberapa gelombang bangsa dan budaya masuk ke Indonesia.

Teknik dan Pembuatan Gerabah

Di beberapa tempat di Indonesia masih ditemukan teknik pembuatan gerabah yang mengingatkan kita pada teknik yang dikenal pada masa bercocok tanam. A.C. Kruyt dan H.R. Van Heekeren mencatat cara pembuatan gerabah di kalangan penduduk desa yang didiami oleh orang-orang Toraja di Sulawesi Selatan bagian barat.

Dari tempat tersebut dikenal pengerjaan yang masih sederhana. Segala sesuatunya disiapkan dengan tangan. Alat-alat yang dipergunakan hanya batu kali yang berfungsi sebagai tatap. Keseluruhan bentuk tergantung pada kemahiran tangan.

Heekeren dan R.P. Soejono mencatat cara membuat gerabah di Desa Beru Sulawesi Selatan. Di tempat tersebut pekerjaan untuk membuat gerabah dilakukan oleh kaum perempuan yang sudah berlangsung secara turun-temurun.

Mulai pembentukan hingga pembakaran dilakukan oleh kaum perempuan. Sedangkan para lelaki bertugas untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam pembuatan gerabah

Beberapa larangan masih berlaku pada saat melakukan pembakaran seperti; berbicara dengan sesama perempuan pada saat melakukan pembakaran, mereka mempercayai kalau larangan tersebut dilanggar akan mengakibatkan pecahnya gerabah yang sedang dibakar. Hal ini tentu akan merugikan bagi dirinya.

Satu hal yang perlu kita cermati dari sumber keterangan ini adalah peranan perempuan yang sangat menonjol dalam proses pembuatan gerabah.

Peranan perempuan dalam pembuatan gerabah yang lebih menonjol dibandingkan kaum laki-laki jelas menunjukkan adanya pembagian kerja yang seimbang, dimana kaum laki-laki lebih berperan di luar rumah seperti menyediakan bahan baku dalam pembuatan gerabah.

Pembagian kerja seperti ini mungkin terjadi juga pada zaman prasejarah, bahkan ada kemungkinan kalau pada zaman prasejarah kaum perempuan lebih berperan dalam pembuatan gerabah.

Sejak adanya pembagian kerja, perbedaan jenis kelamin mulai menunjukan batas-batasnya. Larangan yang berlaku pada saat pembakaran gerabah, selain bersifat magis, secara tidak disadari diproduksi oleh kaum perempuan. Pada masa perundagian tendensi ekonomi lebih terasa, pembagian kerja semakin jelas, dan semakin meluas.

Selain di Indonesia, peranan perempuan dalam pembuatan gerabah juga sangat menonjol di belahan dunia lainnya. Beberapa bukti mengenai kedudukan perempuan dalam peroduksi gerabah, berdasarkan sumber etnografis, telah dicatat sebagai berikut; Laos, Filipina, Thailand, Timor Leste.

Memanfaatkan Kulit Kayu

Bukti lain yang menunjukkan sisa kehidupan prasejarah masa bercocok tanam kini ialah pakaian yang dibuat dari kulit kayu yang masih dapat kita saksikan di Sulawesi Tengah. Kruyt telah mengumpulkan beberapa data penting tentang hal ini.

Tidak semua pohon menghasilkan kulit kayu yang baik untuk pakaian. Ada beberapa jenis pohon yang untuk pembuatan baju yaitu; Broussonetia papyrifera atau pohon besaran (bahasa Jawa). Jenis kayu ini menghasilkan kulit yang berwarna putih. Untuk mendapat kulitnya maka harus dilakukan sebagai berikut:

Batang pohon itu dikerat-kerat melingkar di bagian atas dan bagian bawah.

Untuk melepaskan dari bagian batangnya, kulit yang dikerat tadi diiris-iris dari atas ke bawah.

Keratan dan irisan itu dibuat sedemikian rupa menghasilkan lembaran-lembaran kulit kayu yang berukuran panjang setengah meter dengan lebar kira-kira 10 cm.

Bagian luar yang keras dikeluarkan terlebih dahulu dan tinggallah kulit bagian dalam yang mudah dilipat.

Biasanya kulit-kulit yang telah dibungkus dibiarkan selama satu sampai tiga malam hingga betul-betul lembut dan siap dikerjakan.

Tahap selanjutnya adalah meratakan lembaran kulit kayu dengan jalam memukul-mukul dengan alat yang terbut dari batu atau kayu. Pemukul itu berbentuk persegi dengan bidang pukul yang berjalur-jalur.

Sebagai landasan dipergunakan papan kayu. Hasilnya dinamakan “funya”, yaitu kulit kayu yang telah dimasak dan dipukul-pukul.

Kemudian dikeringkan ditempat yang berangin dan kemudian dilemas dengan air buah ula (Strychnos ligustrina).

Setelah diberi cairan pelumas kemudian dilipat dan dipukul-pukul lagi hingga lembut dan halus. Kadang-kadang diberikan hiasan berwarna dengan alat-alat cap yang berpola. Pakaian kuli kayu tersebut dibuat di Toraja, Kalimantan, Halmahera, Papua, dan Nias.

Seperti halnya pengerjaan gerabah, pengerjaan kulit kayu juga banyak dikerjakan oleh perempuan. Sisa penemuan kulit kayu yang diperkirakan dari zaman prasejarah ditemukan di Watunonju, Kalumpang, dan Minanga Sipakka, dan Kalimantan Barat.

Hunian dan Tempat tinggal

Bangunan tempat tinggal pada masa bercocok tanam diperkirakan dibangun di atas tiang dengan ukuran besar dan berbentuk persegi panjang. Dugaan itu berdasarkan pada corak rumah yang masih bertahan sampai saat sekarang di Kalimantan bagian utara didiami oleh orang-orang Dayak Ot-Siang dan Murung.

Di Kalimantan Tengah sudah jarang dan hanya ditemukan di daerah Sungai Kahayan pada orang Ot-Danum di Tumbang Kurik dan Tumbang Anoi. Oleh masyarakat sekitar rumah tersebut disebut “betang”

Betang adalah rumah panjang dibuat dari kayu bertonggak tinggi sebagai kaki. Tinggi tonggak antara 5-7 m. Di dalamnya terdapat ruangan-ruangan kecil sampi 50 buah jumlahnya.

Ruang pada rumah Betang suku Dayak Ngaju, dapat dikelompokan dalam tiga bagian yang pertama ruang utama rumah, yang kedua ruang bunyi gong, dan yang ketiga adalah ruang ragawi yang tidak kelihatan.

Ruang utama adalah ruang yang menghubungkan manusia dengan alam surgawi. Ruang kedua adalah ruang yang menghubungkan manusia dengan penghuni alam surgawi, dan yang ketiga adalah ruang surgawi yang juga adalah ruang ragawi.

Sementara itu kematian adalah hal terpenting dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Ngaju, karena melalui kematian maka roh seorang Dayak dapat diberangkatkan ke alam sorgawi, melalui upacara Tiwah dimana didalamnya terdapat ritual tabuh yang bermakna penyucian.

Pola wilayah Perkampungan

Di Flores desa-desa tradisional biasanya dibangun diatas bukit untuk keperluan pengamanan. Pola perkampungan dari desa-desa kuno itu biasanya merupakan suatu lingkaran dengan tiga bagian, yaitu depan, tengah, dan belakang. Sisa-sisa pola seperti itu masih tampak pada desa-desa di Flores pada zaman sekarang.

Di Manggarai misalnya masih ada sebutan khusus untuk bagian depan desa, yaitu “palang”, bagian tengah “beo” dan bagian belakang “ngaung”. Dahulu pda rumah-rumah tersebut ada tempat keramat berupa susunan batu-batu besar yang dianggap tempat turunnya arwah penjaga desa.

Pada masa sekarang, sisanya masih ada paling sedikit satu tempat keramat di tengah lapangan desa. Tempat itu berupa tumpukan batu besar yang disusun seperti piramida bertangga dan dipuncaknya terdapat takhta datar yang tersusun dari batu-batu pipih. Hal seperti itu kita temukan pada desa-desa tradisional di Ngada. Di sini takhta datar itu diberi sandaran yang disebut “watu lewa”

Berladang dan Bercocok Tanam

Kegiatan berladang di Kalimantan Tengah oleh orang-orang Dayak di Manyam, Ngaju, dan Ot-Danum mengingatkan kita kepada cara bercocok tanam atau berladang pada zaman dulu.

Masyarakat peladang biasanya melakukan penebangan atau pembersihan lahan untuk menanam pada masa kemarau. Perkiraan menanam biasanya dilakukan sekitar bulan Oktober (atau pada masa musim pengujan)

Bagi orang dayak, berladang ini sudah menjadi tradisi dari sejak Nenek moyang terdahulu, dan berladang ini sendiri ada beberapa tahapan yang harus kita lakukan yaitu;
Tahapan yang pertama harus melakukan Baburukng, (baburukng ini dilakukan oleh kelompok masyarakat yang ada, baburukng ini dilakukan di tempat yang dianggap sakral bagi masyarakat setempat.

Tujuan dari baburukng ini adalah meminta kepada jubata ai’ tanah, supaya tempat yang akan kita jadikan ladang tidak diganggu oleh hal-hal yang tidak kita inginkan, selain itu juga baburukng ini bertujuan meminta petunjuk kepada jubata tentang daerah mana yang akan di jadikan ladang dan sawah).

Tahapan kedua kita harus melakukan sembayang besi, sembayang besi ini bertujuan supaya besi yang kita pergunakan seperti pisau dan lain sebagainya tidak melukai kita yang mempergunakannya, (karena menurut kepercayaan orang Dayak besi mempunyai jubata juga), sembayang besi ini dilakukan di tempat panyugu, dan setelah itu kita melakukan pantangan selama tiga hari tidak mengunakan pisau ke hutan.

Tahapan ke tiga adalah ngawah. Ngawah ini bertujuan untuk melihat lahan yang cocok untuk dibuat ladang, kita mau pergi ngawah ini harus membawa sirih sekapur.

Ini bertujuan untuk meminta izin kepada roh halus yang tinggal di tempat dimana kita mau membuat ladang supaya di tidak menganggu kita nantinya, dan selain itu kita juga harus mendengarkan kata-kata rasi, seperti bunyi burung dan rusa yang dianggap kata rasi.

Tahapan ke empat adalah Nebas. Nebas adalah suatu pekerjaan yang akan kita lakukan dalam pembuatan ladang maupun sawah, ini bertujuan untuk membersihkan kayu-kayu yang kecil.

Tahapan ke lima adalah Nebang. Ini bertujuan untuk menebang kayu-kayu yang besar. Nebang ini dilakukan biasanya setelah tiga hari atau seminggu setelah penebasan selesai dilakukan.

Tahapan ke enam adalah Ngarangke Raba’ (mengeringkan ranting dan batang kayu), ngarange raba ini di lakukan selama satu bulan atatu lebih dan setelah raba’ ini sudah kering.

Berikutnya nagrentes, ini bertujuan untuk melakukan pencegahan supaya sewaktu membakar api tidak merembet kemana-mana (nyangkit) dan setelah selesai kita melakukan rentesan baru kita bisa membakar ladang, dan melakukan pembakaran ini kita tidak bisa satu orang kita harus berkelompok supaya bisa mengontrol api supaya di tidak menjalar kemana-mana.

Setelah melakukan pembakaran, kita baru melakukan yang namanya Ngalaet/Ngarantak (membersikan sisa-sisa pembakaran) dan setelah semua sisa pembakaran ini tadi kita bersihkan baru kita mencari hari dan tanggal yang baik (menurut ramalan bintang dll) untuk melakukan penaburan benih (nugal).

Tak lupa mereka juga mencari hari dan tanggal yang baik ini bertujuan supaya kita melakukan penaburan bibit (nugal) tidak bertepatan dengan hari binatang, pekerjaan ini sangat sensitif sekali, kalau kita salah mencari hari dan tanggal yang baik maka ladang kita akan habis dimakan hama seperti tikus burung dan lain-lain.

Setelah satu bulan kita selesai melakukan penaburan bibit (nugal), kita harus melakukan ngamalo lubakng tugal, ini kita lakukan guna memberi makan padi yang kita tanam dan selain itu juga untuk menjaga kemunngkinan adanya binatang atau hama yang mau merusak padi kita, dan dengan upacara ini kita meminta supaya Jubata (Tuhan) menjaga tanaman kita supaya terhindar dari hama dan penyakit padi lainnya. Upacara ini memakai ayam satu ekor dan lengkap dengan alat sesajiannya, dan upacara ini juga didoakan oleh imam kampung (panyangahatn).

Setelah semua tahapan di atas selesai kita lakukan, selanjutnya msayarakat mengadakan upacara adat mipit. Mipit ini dilakukan untuk mensyukuri hasil pekerjaan dan sekaligus pemberitahuan kepada jubata bahwa padi sudah mau dipanen.

Kebiasaan masyarakat adat setelah selesai panen yaitu bekas ladang ini tidak ditinggalkan begitu saja, biasanya mereka menanaminya dengan buah-buahan dan karet.

Pekerjaan ini dilakukan secara bergotong royong, biasanya mereka saling membatu antar tetangga (bergantian). Untuk tahap selanjutnya berupa memelihara tanaman padi bisanya diserahkan kepada pemiliknya masing-masing. Demi menjaga tanaman padi tersebut biasanya ada orang yang tinggal di dangau sampai waktunya panen.