Categories Almanac Tags ,

Matari Singa Jaya Himat; Prasasti Tembaga Palembang

Prasasti dari tembaga ini mungkin salah satu prasasti yang unik yang pernah ditemukan di wilayah Sumatra. Berbeda dengan prasasti-prasasti lainnya (Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur) yang bertuliskan aksara Pallawa, Prasasti Pelembang ini menggunakan aksara Rencong dan teksnya cukup panjang dibandingkan prasasti-prasasti yang disebutkan sebelumnya.

Matari Singa Jaya Himat, Prasasti dari tembaga ini mungkin salah satu prasasti yang unik yang pernah ditemukan di wilayah Sumatra.

Berbeda dengan prasasti-prasasti lainnya (Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur) yang bertuliskan aksara Pallawa, Prasasti Pelembang ini menggunakan aksara Rencong dan teksnya cukup panjang dibandingkan prasasti-prasasti yang disebutkan sebelumnya.

Oleh Iskandar (1996: 23), prasasti yang ditemukan di Palembang ini disebut Prasasti Pun Matari Singa Jaya Himat, berdasarkan “tokoh utama” yang tertera pada prasasti, atau Prasasti Palembang.

Ia menyebutkan bahwa prasasti ini sezaman dengan Majapahit, sekitar abad ke-13 hingga ke-15, dan merupakan kelanjutan tradisi Sriwijaya (aksara Rencong pun dinilai merupakan perkembangan aksara Pallawa dengan pengaruh aksara Jawa, dan masih digunakan hingga awal abad ke-20). Bahasanya dianggap sebagai Melayu Kuno.

Prasasti ini telah diberi transkripsi dan terjemahannya dalam Koninklijk Koloniaal Instituut Amsterdam, Mededeelingen XXIX, Afdeeling Volkenkunde, no. 4, Aaneinsten 1931-32. Selanjutnya, C. Hooykaas pun menerbitkannya dalam Perinstis Sastera, 1951.

Belum ada penelitian lebih lanjut terhadap teks prasasti ini, apakah sebatas karya fiksi saja atau ada hubungan dengan kesejarahan Kerajaan Sriwijaya. Teks ini jelas menyebutkan bahwa peristiwa-peristiwanya berlangsung di Palembang dan sekitarnya.

Pelbagai nama geografis (sungai, bukit, hutan) diberikan secara jelas. Bahkan nama “Bukid Segu(n)tang” yang merupakan legenda yang beredar di masyarakat Lampung dan Sumatra Selatan, dituliskan di sini.

Iskandar (1996: 17-18) yang membahas kajian sastra dalam bukunya, memasukkan prasasti ini ke dalam kriteria “kesusasteraan sejarah Sriwijaya” (berbarengan dengan prasasti-prasasti lainnya), namun ia tak memaparkan keterkaitan teks dengan kesejarahan Sriwijaya.

Dalam Sejarah Melayu, Bukit Siguntang Mahameru merupakan tempat di mana lahir nenek moyang raja-raja Melayu. Disebutkan oleh Sejarah Melayu (teks tertua ditulis sebelum tahun 1536), bahwa dari Bukit Siguntang Mahameru turun tiga orang cucu Raja Iskandar Zulkarnain dan yang bungsu menjadi raja di Palembang dengan nama Sang Utama (Nila Utama menurut naskah lain) yang kemudian bergelar Sri Tribuana.

Yang tertua dijadikan raja di Minangkabau dengan nama Sang Sapurba, sedangkan yang kedua menjadi raja di Tanjungpura bernama Sang Maniaka. Patut dicatat, meski Sejarah Melayu mencampurbaurkan mitologi dengan sejarah (adanya tokoh Iskandar Zulkarnain dalam silsilah raja-raja Melayu).

Namun ingatan kolektif masyarakat Sumatra (baca: Melayu) terhadap keberadaan bukit tersebut (terdapat di Sumatra Selatan) dipertahankan oleh para penulis karya sajarah dan hikayat yang banyak dilahirkan dari khazanah budaya Melayu.

Maka dari itu, untuk sementara kita bisa anggap bahwa cerita ini merupakan legenda yang kemudian dituliskan oleh seorang bat atas titah penguasa Sriwijaya. Istilah bat ini terdapat dalam Sejarah Melayu, yakni semacam pencatat istana pada zaman Hindu.

Sementara itu, di India Selatan, Gujarat misalnya, kaum bhat merupakan kasta profesional golongan penyanyi dan pencatat istana yang menganggap diri mereka sebagai keturunan orang-orang yang sifatnya mitologis.

Kerja bhat itu adalah mencatat kelahiran, perkawinan, kematian, serta hal-hal penting lainnya yang berkaitan dengan kehidupan raja mereka. Sedangkan dalam Sejarah Melayu, bat lebih diartikan sebagai pujangga istana.

Yang menarik adalah bahwa alur dan tema ceritanya tak jauh berbeda dengan cerita-cerita sastra klasik Jawa yang dikitabkan dalam bentuk Kakawih. Dengan begitu, besar kemungkinan terjadi transformasi dalam hal karya sastra antara Sumatra dengan Jawa.

Bahasanya memperlihatkan keterpengaruhan akan bahasa Jawa Kuno, yang dapat dianggap sebagai keterpengaruhan budaya Majapahit (Jawa) atas Palembang pada masa kejayaan kerajaan tersebut.

Ringkasan Teks Prasasti Prasasti Pun Matari Singa Jaya Himat

Isi prasasti ini adalah tentang istri Ratu Matiyan Tadini dari Palembang (Palimbang) yang telah mengandung tujuh bulan dan hidup berkelana karena kesetiaannya sebagai istri disangsikan oleh sang Ratu Palembang. Sang Ratu berkata bahwa jika benar anak yang dikandung itu darah dagingnya, ia akan memakai nama yang telah baginda tentukan sendiri.

Anak itu pun lahir di tempat Raja Salakay, dan kelahirannya didengar ratu dari sutan-sutan yang berkeliling membawa barang dagangan. Ratu Palembang lalu memanggil Raja Salakay dengan anak—yang bernama Matari Singa Jaya Himat—untuk menghadap.

Anak itu diakui oleh sang Ratu. Sang Ratu lalu menahan putranya itu dalam istana dan Baginda tak keluar-keluar lagi untuk menghadap rakyatnya. Raja Salakay sakit hati, lalu pergi dari istana Palembang tanpa pamit, pulang ke hulu. Ratu menyuruh orang-orang untuk meminta maaf padanya, memberi Raja Salakay hadiah dan menyuruh memberikan minuman hingga mabuk.

Lalu ia diikat dengan cindai, sebagai tanda dihormati, terus dibawa ke Palembang. Mantari Singa Jaya Himat memperoleh sebidang tanah dengan terlebih dulu membukan sebuah hutan, lalu berkenalan dengan penguasa hutan (Batara Utan) dan dengan Batara Bukit Seguntang.

Sayang, cerita ini tak tamat karena transkripsi yang diberikan pun tak tuntas. Tak ada penjelasan lebih lanjut yang diberikan Iskandar, apa sebagian teks prasasti tak terbaca atau badan prasasti tak utuh atau sebab yang lainnya. Tak jelas pula, di mana beradanya prasasti tembaga ini kini.

Transliterasi Matari Singa Jaya Himat Bagian Depan

manakan ulih kita ‘ngan diya itu handa- knya lagi diaku itu. Kua- njukkan pula dangah anyih diaya itu paya bobot tujuh sasi. Hikalu diya baranak kalu dan ga samikan dangan anak nga dulu, jangan anakku diya itu; lamu-n batinah Putari Kambang Murna namanya, lamun lanang Matari Singa Jaya Himat namanya.

Lama lama baranak lanang; Matari Singa Jaya Mat, dari ratu, lami lami bangsa Malayu, Sutan dagang ambakta warta; Ih Ratu Matiyan Tadini, bagus rupanipun anak i- ng Ratu.

Dawuh i ling Ratu: Ih, anak isun ika anana ing Raja Salakay ika? Kakinan Ratu ring Raja Salakay kinin ambak- ta milir. Rawuh kakinan ika. Inggih Raja Salakay.

Inggih rawuh ing Palembang. Inggih kakinin wong dalam matur ing Ratu: Inggih tatiyang pun puni rawuh, ambakta anak ngandika pun, Matari Singa Jaya Himat. Inggih madal Ratu mbakta takulingga saras.

Nggih siwa-siwa Ra- tu: Lamun istu ang anak isun, yan mu- nggah ing pasiban, din-alap tabuh ing ta- ngan isun munggah lungguh ing pakonisun, din- urak-urak galung nisun.

Dami rawuh ing Pasiban bapalayuan maring Ratu ngambil tabuh in tangan Ratu, anutan linggih ing pakuan Ratu, angurak-angurak galung Ratu. Din-ambung- ambung Ratu, nutan binakta ming dalam angadus suri.

Sinanggih madal: mbaya ma- Angatus injang sinanggih madal: mboya madal. Sutan watara sajamat anga- tus ing Pasiban. Mboya madal-madal Ratu.

Kata Raja Salakay: Balangani din-ambil Ratu anak isun. Inggih mudik Raja Salakay mboya amit malik. Sutan wong matur ing Ra- tu dining puni mudik, wong tan Pada ngandika: Lamun makono saknihi dina anak isun alap ika.

Lamun makono lunga para si kacil para (ba)sar tuturna pu- n(an): igi pasah n saking ninun kikiri- man ingawasa dodot kalawan sajang bana si awak kiha(?) sakmana (=ksamana) dining anak isun-alap ika aja ora sun-alap karani sun bakta ming dalam dining isun lagi u- nang iku, milir pun ihalap anak kihu rahu wa ujar ingsun ing puni.

Inggih mudik para sikacil para sibasar, idak bada- pat lagi di Palimbang mudi, diturutkan sajalan-jalannya, batamu di Hata Candanah.

Disalakan pasaJin pakirim Ratu dodot la- wan sabuk kalambi lan sa(n)jang. Maka para sikacil para sibasar bakata, mana radikuran Ratu datang Raja Salakay; kata Ratu: Ulih apa pakanira mudik, idak amit. lagi pa- da Ratu pakanira sakmana ulih Mata

Sambungan di Bagian Belakang

ri Singa Jaya Himat digalik Ratu. Kata Ratu: Ma- sa kuambik nuli sakan kundi ka dalam aku lagi indu itu iluh punay ambik anak.

Ngahidak Raja Salakay handak i- pila diundi minum ulih para sikacil ulih para sibasar, minum sanang pakirim Ratu.

Mabuk tidur ditali dengan cindih, dipalayukan ipila datang ka Palimbang matur ming Ratu a- kon adus karamas, binakta akan pasa- lin, diundang ming dalam.

Pandi- ka Ratu: Upuni para sakmana dini anak para sun-alap ta muli garansan bakta ming dalam? Dini ingsun lagi pulang, inggih anganut akan pun Matari Singa Jaya Anging i anak ing san sinungan Karang Tanah Daka Wusung tangkulak kang lawan lama lama hap mbaharanipun lami-lami ing Palihmbang anggita amun daduku arih sinu- ngan alas.

Pun Matari Singa Jaya Himat kang ngamatas alas kinin Ratu Bukit Sagutang pura si kacil para si basar dalika panjak dalika injang i ran puan kinin Ratu Bukit Sagutang: Anggih ta mudik ka mata sasa- t-ing Lubuk Sindu Saliha di tanga Musi rahagan kala- san badil ngahrungu sapun tambahurasa ruh ing Tanjangan, madal maring lubuk

Sindu Wali Kancil malas ming dara- t manuju Baluran Katapan, manuju Lu- buk Butuh dalam Sungay Dawih basah mudik kan Sunga Dawih Satiya Rajih duli Raja Utan Su- ngay Dawi dengan Batara Utanitu, manuju Ulu Su- nga Bamban, manuju Lubuk Tunggul dalam Sungay-Ka- rik itu marasakih nuju

Patungan Buluh mudih da- lam Sunga Madak Satiya Raja kuni rajih aran Sunga Madak danga Batara Hutan itu, nu-
ju Bukid Sakasi dalam Langgaran, nuju Hulu Sungay Putih Mati, nuju Parunggang tuju, nuju Tambunan arang-arang kasini Talan Punjung Satiya
Raja nibaran Rajah urang Taling Punjung dangan

Batara Utan itu; Baliyan nuju Cukup kayu arih, nuju Payih-gasak manuju Salapah Sapun manuju Pamatang-manggus utan jun kahula ika puh Satiya Rajah, ma- ngkih Raja Arang Sandahwar dangan Batara Utan iku, manyabarang manuju Bungu- rangasan, nuju Batang Ulak, nuju Lamban, a-
nuju Kambawayan, nuju

Batang Taniyang; ngilukan Batang Taniyang, nuju Danaw Putat kanan; ayangayang Batang Lakih ngiluhkan Batang Tamiyang, nuju Buluh mangahil dalam Tusan Bungin Tambun, talapas ka Musi Tabing Arang kapulu utan.

Ma- tari Singa Jaya Himat pambari Ratu pada anak Ratu Tbing Arang kahiluh utan Kipasa dalam utan Tabalan, danga .

Terjemahan Bebas Bagian Depan

….

….

… ia lelah hamil tujuh bulan jauhnya. Jikalau dia beranak, anak itu serupa dengan anak yang dahulu, jangan anakku dia itu. Jika betina Puteri Kambang Murna namanya, jika laki-laki Matari Singa Jaya Himat namanya. Lama- lama beranak laki-laki; Matari Singa Jaya Mat, seperti Ratu-ratu dahulu kala ba(ng)sa Melayu.

Sutan-sutan yang berdagang membawa warta: Ih Ratu Matyan Tadini, bagus rupanya seperti anak-nya Ratu. Ratu bertitah: Ih anakkukah itu pada Raja Salakay itu? Selanjutnya Ratu menyuruh membawa Raja Salakay bersama-sama ke hilir. Utusan pergi ke situ. Patik tuanku.

Raja Salakay betul datang di Palembang bersama-sama utusan itu, seorang dalam yang menyembahkan kepada Ratu: Ya Tuanku, patik kembali membawa putera Tuanku Matari Singa Jaya Himat. Ratu keluar dan melihat anak itu sehat.

Baginda bersabda:Jika itu anakku dan ia naik ke Paseban, tentulah diambilnya palu tabuh dari tanganku, naik ia ke pangkuanku diuraknya galungku. Demi tiba anak itu di Paseban, lalu berlari ia ke tempat Ratu dan diambilnya palu dari tangan Ratu. lalu duduk ia di pangkuan Ratu, diuraknya galung Ratu.

Ditimang-timang Ratu, ia dibawa ke dalam tempat mandi Ratu. Dilarang ia keluar: Jangan Setiap pagi dilarang keluar: Jangan keluar. Sutan watara sajamat mencoba menghadap di Paseban. Ratu tak pernah memperlihatkan rupa.

Kata Raja Salakay: Barangkali diambil Ratu anakku. Pergi mudik Raja Salakay tidak dengan pamit. Sutan itu mempersembahkan pada Ratu bahwa Raja itu telah mudik tidak dengan pamit.

Berkata baginda: Sebabnya tentulah karena anak itu kuambil. Jika demikian pergilah kamu, kecil besar, bawa untuknya kain pesalin kirimanku, dodot dan ikat pinggang, serta baju dan sehelai selendang.

Aku minta maaf karena anak itu kuambil, aku tak dapat berbuat lain sebab sudah kubawa ke dalam tatkala ia sendiri menghantarkannya. Katakanlah apa yang kukatakan ini kepadanya. Sesungguhnyalah pergi mudik kecil besar, di Palembang tak ada yang tinggal, diturutkan sejalan-jalannya, bertemu di Hata Candanah.

Disilakan pesalin pekirim Ratu, dodot serta sabuk, baju dan selendang. Maka para sikecil para sibesar berkatakan pesan Ratu kepada Raja Salakay. Kata Ratu: Oleh apa tuan mudik tidak pamit, dan Ratu menyampaikan maaf karena Matari

Terjemahan Sambungan Matari Singa Jaya Himat di Bagian Belakang

Singa Jaya Himat, yang telah di … Ratu. Kata Ratu: Pada masa kuambil anak itu. berarti itu kusimpan, sebab kubawa ke dalam lagi kupelihara dan kuaku sebagai anak.

Selanjutnya Raja Salakay hendak diundang minum oleh kecil dan besar minum senang pekirim Ratu. la mabuk lalu tidur, diikat dengan cinde dan segera dibawa ke Palembang kembali serta disembahkan pada Ratu.

Ratu menitahkan supaya ia diberi mandi dan keramas serta pesalin. Setelah itu ia diundang ke dalam. Bersabda Ratu: Beri ampun aku telah mengambil anak itu tetapi mengapa Tuan tergesa-gesa pergi tatkala anak itu kubawa ke dalam? Ampun tuanku, patik telah kembali untuk menerima titah tuanku, tentang Pun Matari Singa Jaya Himat.

Tetapi kepada anak itu dihadiahkan sebidang tanah. Karang Tanah Daka Wusung dan lama- lama tanah itu semakin luas.

Seperti biasanya di Palembang, jika membuat tempai kedudukan, maka diberi sebidang hutan. Pun Matari Singa Jaya Himat. yang sekarang menebas hutan, mendapat titah dari Ratu Bukit Sagu(n)tang. Segala yang kecil dan yang besar mendapat perintah dari Ratu Bukit Sagu(n)tang:

Pergi ke mudik ke mata air tempat Lubuk Sindu Saliha di tengah Musi-rahagan kering di rimba di mana bunyi bedil terdengar. Setiba di Tanjangan, pergi mereka ke Lubuk Sindi Wali Kancil, mereka lalu ke darat menuju Baluran Katapan (pertapaan).

Setelah itu ke Lubuk Butuh di daerah Sungai Dawih Basih. Sungai Dawih Satiyah kajih juti kepunyaan Raja Utan dilayari dengan Batara Hutan ke arah Sungai Bamban, kemudian ke Lubuk Tunggul di daerah Sungai Karik, sepanjang Mara Saki ke Pacungan Buluh di daerah Sungai Madak Salihah Raja kuni rajih, yang bernama Sungai Madak, bersama-sama dengan Batara Utan

Tersebut, setelah itu Bukit Sakasi di Langgaran, kemudian ke hulu Sungai Putih Mati. kemudian ke Pamnggang Tujuh, kemudian ke Tambunan arang-arang Kasini Talang Punjung Satiya.

Raja Mbaran, raja orang Talang Punjung, bersama-sama dengan Batara Utan. Setelah itu ke Baliyan, kemudian ke Cukup Kayu Hari, setelah itu ke Payih Gasak dan ke Salapah.

Kini mereka telah tiba di Panatan, daerah Mpu Satiya Raja, kini Raja Harang Sandawar. Bersama-sama dengan Batara Utan tersebut mereka menyeberangi sungai itu lagi pergi ke Bungu- rangasan, setelah itu ke Batang Ulak dan ke Lamban, kemudian ke Kambuwayan dan ke Batang Tamiyang.

Batang Tamiyang itu mereka turutkan ke Danau Putat kanan dekat Sungai Batang Laki. Mereka turutkan Batang Tamiyang itu ke Buluh Mangahil di daerah mala air Bungin Tambun, kemudian ke Musi Tabing Arang.

Ke dalam rimba raya pergilah Matari Singa Jaya Himat. dan Ratu memberikan kepada putera Raja Tabing Arang itu rimba Utan Kipasa di rimba Tabalan. bersama-sama dengan ….