Categories Almanac Tags ,

Epos Sriwijaya; Anak Dalom dan Si Dayang Rindu

Sangat sedikit karya sastra Melayu Klasik pra-Islam yang tersisa dalam bentuk tulisan. Belum banyak budayawan atau sastrawan yang secara intens melakukan pendokumentasian terhadap karya-karya Melayu Klasik (yang belum dipengaruhi sastra-sastra Persia dan Arab), dengan sedikit pengecualian Teuku Iskandar.

Selain prasasti-prasasti, bahwa karya epos Sriwijaya atau epik pun dimasukkan ke dalam khazanah kesusatraan sejarah Sriwijaya. Sangat sedikit karya sastra Melayu Klasik pra-Islam yang tersisa dalam bentuk tulisan.

Belum banyak budayawan atau sastrawan yang secara intens melakukan pendokumentasian terhadap karya-karya Melayu Klasik (yang belum dipengaruhi sastra-sastra Persia dan Arab), dengan sedikit pengecualian Teuku Iskandar.

Ada pun cerita asal usul dari kesusasteraan epos Sriwijaya (seperti Si Kelembai, Harimau Jadian, Gerhana Bulan, Cerita Nakhoda Ragam, dan Cerita Si Kantan) dipisahkan ke dalam bagian yang terpisah.

Kemungkinan besar, dari cerita-cerita epos Sriwijaya inilah lahir berbagai macam epos Melayu Klasik (Iskandar, 1996) di wilayah lain di Sumatra dan Semenanjung Melayu (dari Pasai, Aceh, Melayu-Singapura, Melaka, Palembang, Johor, Riau, Brunei, Banjar, hingga Patani) sejenis hikayat di masa-masa berikutnya. Menurut Iskandar, cerita epos lahir dari kesusastraan berbentuk bahasa berirama (diistilahkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana).

Bahasa berirama lahir dari kesusastraan lisan yang memparafrasakan (menceritakan dengan gaya bahasa sendiri) karya-karya Hindu berbahasa Sansekerta. Pigeaud (Iskandar, 1996: 12) menganggap teks-teks keagamaan Jawa Kuno merupakan peninggalan prosa berparafrasa dari seloka Sansekerta, seperti yang dapat dilihat pada bentuk parwa-parwa dalam Mahabharata dan Purana.

Epos: (Sastra); cerita kepahlawanan; syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan; wiracarita

Pada khazanah Melayu sendiri, dengan adanya aktivitas parafrasa dari karya agama Hindu ke bahasa Melayu, lahirlah nyanyian-nyanyian dalam bentuk epos di Sumatra Selatan. Dalam bahasa Melayu Tengahan, cerita epos ini disebut andai-andai; dalam bahasa Lampung disebut tetimbai. Cerita-cerita ini diresitasikan dalam bahasa persuratan khusus.

Bahasa yang juga digunakan dalam juarian (Melayu Tengahan), yakni upacara berbentuk dialog antardua kekasih. Andai-andai dan tetimbai ini diceritakan dengan kalimat pendek-pendek tanpa bersajak. Banyak kesamaan antara gaya penceritaan dalam epos-epos ini, yakni: bagian-bagian kecil diulang-ulang kembali dalam kombinasi yang beragam, dan juga banyak persamaan antara plot-plot dari cerita-cerita tersebut.

Ada dua teks epos Sriwijaya yang berhasil dikumpulkan H.N. van der Tuuk yang tersimpan di Universitas Leiden: Anak Dalom dan Si Dayang Rindu, yang masing-masing terdiri atas lima buah naskah. Naskah-naskah Si Dayang Rindu lainnya terdapat di London, Dublin, dan Munchen. Salah satu versi Anak Dalom telah diterbitkan oleh Helfrich pada 1891. Walau epos-epos Sriwijaya Anak Dalom dan Si Dayang Rindu terdapat dalam bahasa Lampung, akan tetapi lokasi ceritanya terdapat di luar Lampung, yakni di Bangkahulu dan Palembang.

Anak Dalom

Seperti halnya cerita epos, kisah pelayaran angkatan perang, sabung ayam, pengembaraan, dan peperangan mengisi episode-episode epos Sriwijaya ini. Peperangan digambarkan terjadi antarwira (Pahlawan laki-laki)dua belah pihak. Wirasecera keseluruhan merupakan alam nenek moyang, sering disebutkan sebagai keturunan dari tokoh mitologis.

Namun, bagi pengkisah dan pendengarnya, tokoh wira itu merupakan tokoh historis. Dalam Tambo Bangkahulu, ikhtisar sebuah andai-andai yang wiranya Anak Dalom diberi pada awal cerita yang bersifat sejarah.[quote align=’right’]Tambo: sejarah; babad; hikayat; riwayat kuno; uraian sejarah suatu daerah yang sering kali bercampur dengan tradisi lisan.[/quote]

Meski umumnya andai-andai dan tetimbai disebarkan dari mulut-ke mulut, namun di Lampung terdapat naskah-naskah yang mengandung epos-epos ini serta disimpan sebagai pusaka, yakni; Tetimbai Anak Dalom dan Tetimbai Si Dayang Rindu, yang ditulis dalam aksara Lampung dan ada di antaranya yang dihiasi dengan lukisan (biasanya bentuk kapal dan rumah).

Versi tetimbai Lampung ini merupakan yang terlengkap. Dikisahkan, cinta Anak Dalom pada kedua putri Patani tak sukses, disebabkan dua putri itu adalah adiknya sendiri semasa di kahyangan sebelum Anak Dalom menjelma di Bangkahulu dan dua adiknya itu di Patani.

Tetapi, kisah Anak Dalom yang diterbitkan oleh Helfrich memiliki happy ending: Anak Dalom berbahagia di Bangkahulu bersama kedua permaisuriyang tak disebutkan berasal dari kahyangan. Ada pun versi dialek Serawai yang juga diterbitkan Helfrich, memiliki cerita yang berbeda: keluarga raja Bangkahulu berasal dari Demak di Jawa. Cerita berakhir ketika Nanta Kesumau, adik angkat Anak Dalom, melarikan putri Aceh, yang mendorong orang Aceh menghancurkan Bangkahulu.

Dialek: (Linguistik); variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misal: bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu)

Tambo Bangkahulu yang dikarang pada 1859 mengatakan bahwa menurut tradisi, raja pertama Bangkahulu datang dari Majapahit. Baginda Bangkahulu punya enam orang putra, salah satunya Anak Dalom. Dalam tambo tersebut, Bangkahulu dihancurkan oleh orang Aceh karena Anak Dalom enggan menyerahkan adik perempuannya, Putri Gading Cempaka, untuk nikah dengan raja Aceh. Lalu, keluarga raja Bangkahulu menyingkir ke Gunung Bungkuk. Yang kemudian mengawini Putri Gading Cempaka adalah raja keturunan Minangkabau.

Ada versi lain Anak Dalom dalam bahasa Melayu Tengahan, berbentuk andai-andai, dengan huruf Jawi yang dialihkan ke aksara Latin. Ceritanya sama dengan versi berbahasa Lampung; putri Patani dilarikan dan Bangkahuku diporakporandakan oleh pasukan Patani. Diksahkan, Anak Dalom, seorang pemuda yang lahir dari buku buluh dan hidup di istana Bangkahulu, berlayar ke Patani dan melarikan dua orang putri Patani idaman hatinya.

Namun, dua putri itu telah dipertunangkan, seorang dengan raja Aceh dan seorang lagi dengan putra mahkota Malaka. Kapal-kapal perang Patani dan sekutunya menyerang Bangkahulu kemudian menghancurkannya.

Keluarga raja Bangkahulu menyelamatkan diri ke Gunung Bungkuk, sementara Anak Dalom dibawa ke Patani sebagai tawanan. Di sana ia kawin dengan anak perempuan dari musuhnya, lalu mendapat seorang putra. Dengan bantuan putranya itu Anak Dalom berbalas dendam terhadap Patani. Akhir cerita, ia kembali ke negeri asalnya di kahyangan.

Si Dayang Rindu

Berbeda dengan epos Sriwijaya Anak Dalom yang memasang seorang wira (pahlawan; laki-laki) sebagai tokoh sentral, epos Sriwijaya Si Dayang Rindu berpusat pada tokoh perempuan, yakni Si Dayang Rindu sendiri.

Naskah tetimbai Si Dayang Rindu yang tertua berasal dari koleksi Marsden, mungkin dari abad ke-18. Bahasanya terpengaruh oleh bahasa Jawa jika dibanding dengan naskah-naskah yang ditulis kemudian. Naskah dari Munchen disalin pada 1884, sedangkan bahasanya cenderung mendekati bahasa Melayu Klasik.

Teks tertua isinya lebih pendek, yang berakhir dengan Si Dayang Rindu terbang ke kahyangan. Selanjutnya tedapat dua naskah yang ditulis berasalkan dari kisah lisan dalam bentuk puisi di Palembang, satu dalam koleksi Brandes di Jakarta dan satu lagi dalam koleksi Van der Tuuk di Leiden (Iskandar, 1996: 31).

Dikisahkan, Keriya Niru memberi warta pada raja Palembang, Pangiran Riya, bahwa ada seorang wanita cantik bernama Si Dayang Rindu, cucu dari Keriya Carang dan anak Wayang Semu, di Tanjung Iran.

Depati Anum memanggil lapan dayang-dayang, namun Keriya Niru menyatakan bahwa tak seorang pun bisa menyamai kecantikan Si Dayang Rindu. Pangiran Riya pun, karena tak sabar, menyuruh Tumenggung Itam dan enam hulubalang lain beserta Keriya Niru pergi ke Tanjung Iran. Mulanya Tumenggung Itam berkata bahwa pahlawan-pahlawan Tanjung Iran kuat-kuat.

Namun Pangiran Riya bersedia membayar masa kawin yang sangat mahal untuk melamar Si Dayang Rindu, jika orang-orang Tanjung Iran melawan maka kekerasan adalah jalan terakhir. Sementara itu, Keriya Niru kembali ke Niru, kampung halamannya.

Tumenggung Itam meminta agar kapal dan senjata, juga agar tukang dan pawang mengukir dan mengecat kapal-kapal. Perkakas dibawa, balatentara dikerahkan. Tumenggung berpakaian indah dan bersenjata.

Ia minta diri pada istrinya, lalu berlayar dengan kapal besar melalui Sungai Ogan dan sampai ke Niru. Awalnya Keriya Niru enggan mengikuti angkatan perang itu, namun setelah diancam ia ikut serta. Keriya Niru minta nasihat dari perdana menteri, lantas pamit pada istrinya di kampung.

Angkatan perang tiba di pelabuhan Tanjung Iran. Keriya Niru menitah utusan untuk memberi kabar pada raja Tanjung Iran akan kedatangannya. Akhirnya, Keriyu Carang, kakek Si Dayang Rindu, menyuruh dua anaknya, Wayang Semu dan Agung Karap, mengelu-elukan tamu dari Palembang. Lamaran yang disampaikan Tumenggung Itam ditolak oleh Keriya Carang karena Si Dayang Rindu telah bertunangan dengan Ki Bayi Radin.

Si Dayang Rindu menyuruh orang memanggil Ki Bayin Radin, tunangannya, dan mengecamnya karena memanjang-manjangkan pertunangan mereka. Ki Bayin Radin mengingatkan bahwa semua itu disebabkan karena Keriya Carang menghendaki kerbau bertanduk tiga sebagai salah satu syarat mas kawin mereka.

Ia bersumpah akan tetap setia padanya dan pergi dengan air mata bercucuran. Lalu Si Dayang Rindu memanggil kundangnya, Ki Bayi Cili. Ia bertemu dengan kundangnya itu dalam mahligai dan meningagalkan dengan air mata. Mereka pun berpantun ria.

Si Dayang Rindu akhirnya meninggalkan mahligai, kediaman, serta kampung halamannya, lalu pergi ke kapal Palembang. Ki Bayi Metig, hulubalang Palembang, bersorak karena menilai orang Tanjung Iran melepaskan Si Dayang Rindu tanpa syarat. Keriya Carang pun marah, lalu mengerahkan rakyat dan pahlawan-pahlawannya menuju medan perang sambil berpantun-pantun.

Wayang Semu, ayah Si Dayang Rindu, mengumpulkan bala tentara, menuju sungai, dan tewas dalam pertempuran. Ki Bayi Radin membunuh pahlawan Palembang, namun kemudian tewas oleh keriya Niru. Ia ditangisi oleh Si Dayang Rindu, tunangannya. Ki Bayi Cili juga tewas.

Singa Ralang, hulubalang Tanjung Iran, banyak membunuh musuh dan menenggelamkan kapal Palembang. Orang Palembang mundur ke hilir sungai. Singa Ralang memotong telinga Tumenggung Itam dan Ki Bayi Metig. Melihat ayah dan tunangannya tewas, Si Dayang Rindu menyatakan agar perang berhenti. Singa Ralang pulang ke Tanjung Iran.

Tiba di Palembang, Ki Bayi Metig memberi warta pada Pangiran Riya tentang kematian banyak wira serta kehilangan kapal. Pangiran Riya kurang peduli pada berita tragis itu, malah menyuruh agar istana dihiasi untuk menyambut Si Dayang Rindu. Pangiran Riya datang menemui Si Dayang Rindu di kapal.

Namun begitu hendak dipegang tangannya, Si Dayang Rindu terbang ke kahyangan. Pangiran Riya terpukul hatinya. Dalam teks-teks tertentu, cerita berakhir dengan terbangnya Si Dayang Rindu ke kahyangan. Namun, dalam naskah Munchen dan teks-teks lain, cerita terus berlanjut, yaitu:

Depati Anum Palembang kembali ke Tanjung Iran dengan angkatannya untuk mengambil bela. Keriya Carang terbunuh, Tanjung Iran dimusnahkan. Yang selamat lari ke Gunung Tulung Aman. Singa Ralang terus berperang, memburu tentara Palembang ke Niru. Ia mendapatkan bantuan dari Ki Bayi Cili yang telah hidup kembali tetapi terbunuh pula akhirnya, dan membunuh penduduk Niru.

Ia kemidian mengikuti kapal-kapal Palembang dan membunuh Tumenggung Itam dan Ki Bayi Metig. Ia sendiri tak terbunuh karena dapat menghilangkan diri. Bandar Palembang dimusnahkan dan Pangiran Riya akhirnya mundur ke dalam kota dengan 40 puluh pengikut serta mengunci pintu. Singa Ralang kembali ke Tanjung Iran dan sambil menangis melihat hanya reruntuhan istana raja yang nampak.

Prakarsa

Hingga kini, kami kira, belum ada sejarawan yang berminat menelisik kedua epos Sriwijaya ini untuk dikaji dalam perpektif ilmu sejarah. Usaha Iskandar yang mengkaji sebatas ilmu sastra, perlu ditindaklanjuti oleh para sejarawan yang tertarik akan keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Sebagai cerita yang bermuara pada tradisi lisan, Anak Dalom dan Si Dayang Rindu memiliki nilai tersendiri dalam kedudukannya sebagai peninggalan budaya Sriwijaya atau lebih luasnya Melayu.

Bila kita ingin melangkah lebih maju, maka dalam kisah-kisah kewiraan ini kita dapat mengurai, mana yang bersifat dongeng (misalnya kayangan) dan mana yang bernilai sejarah. Nama Palembang, Bangkahulu (Bengkulu?), Aceh, Patani, Minangkabau, dan Demak yang tertera dalam teks kedua tetimbai tersebut, adalah nama-nama yang bisa dilacak dalam peta.

Kita tentu akan dibingungkan dengan kerajaan Tanjung Iran yang tak bisa serta merta dihubungkan dengan Parsi atau Persia atau Republik Iran. Lantas, perlu dilakuan penelaahan lebih atas identitas para tokoh dalam epos-epos bersangkutan, juga terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam karya-karya tersebut, seperti peperangan antara Palembang dengan Patani atau dengan Tanjung Iran.