Categories Almanac

Media Tulis dan Sejarah Media Penulisan Indonesia

Media tulis tertua yang dikenal orang di Nusantara adalah aksara pada prasasti batu dan logam yang berasal dari abad ke-5 M. Media Tulis terkadang berasal dari materi organik seperti daun

Media tulis tertua yang dikenal orang di Nusantara adalah aksara pada prasasti batu dan logam yang berasal dari abad ke-5 M. Media Tulis terkadang berasal dari materi organik seperti daun palem, kayu, bambu, dan kulit kayu mungkin telah digunakan jauh sebelum itu, namun minimnya bukti media lain selain batu dikarenakan media lain yang digunakan jarang bertahan lebih dari beberapa abad di lingkungan tropis.

Penggunaan kertas dalam Media tulis di Indonesia yang semakin meluas, dihubungkan dengan lalu lintas perdagangan yang berkembang pada abad ke-13, media tulis pun berkembang, namun tidak meinggalkan cirikhas Nusantara, baik pada huruf maupun media yang telah ada sebelumnya.

Media Tulis Batu dan Logam

Contoh tertua tulisan yang masih ada di Indonesia terpahat pada prasasti monumental yang diukir pada batu. Tujuh tiang berukir, Yupa Kutai yang berukir huruf pallawa yang diketemukan dekat Kutai di Kalimantan Timur, dan diperkirakan berasal dari sekitar tahun 400 M, merupakan yang tertua dari semua peninggalan batu bertulis di Nusantara.

Prasasti pada logam biasanya piagam perunggu, ada sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Format horizontal pada lempengan perunggu senada dengan pola rontal/lontar yang biasa digunakan. Peninggalan Majapahit berupa prasasti perunggu abad ke-13 ditulis dalam Jawa Kuno.

Emas dan perak juga digunakan sebagai alat tulis untuk urusan yang bermakna penting secara simbolis. Peninggalan ini banyak diketemukan di tanah Melayu-Riau.

Media Tulis Rontal/Lontar dan Palem Nipah

Daun tal (Borassus flabellifer) yang telah dikeringkan dan diolah banyak digunakan selama berabad-abad di Jawa, Lombok, da Bali, dan hingga kini masih digunakan di Bali. Tulisan ditoreh di kedua sisi daun dengan pisau (senjata tajam), lalu hurufnya dihitamkan dengan jelaga. Halaman-halamannya dirangkai dengan tali melalui lubang di tengah, dengan dua papan kayu sebagai penutup.

Daun nipah (Nipa futicans) lebih tipis daripada daun tal, dan biasanya ditulisi dengan pena tinta atau kuas, alih-alih di toreh dengan pisau. Sebuah naskah kuno dari Jawa yang berasal dari abad ke-14 dan kini disimpan di perpustakaan Universitas Leiden merupakan naskah organik tertua yang masih ada dari Indonesia.

Media Tulis Dluwang, Kulit pohon dan Kayu

Dluwang merupakan alat tulis halus dengan penampil “seperti kayu”, terbuat dari kulit pohon murbei (Broussonetia papyrifera) yang dipukuli. Meski dikenal sebagai kertas jawa, sebenarnya dluwang bukan kertas karena tidak terbuat dari endapan encer. Dluwang kebanyakan digunakan di Jawa untuk naskah-naskah berbahasa Arab dan Jawa.

Bahan tulis kulit pohon biasanya menggunakan kulit bagian dalam pohon alim (Acquilaria), digunakan oleh peramal Batak untuk naskah buku lipat khusus mereka yang dikenal sebagai pustaha, memuat catatan tentang sihir dan ramalan. Beberapa pustaha memuat diagram magis dengan tinta merah dan hitam, serta memunyai penutup kayu yang penuh hiasan dengan pegangan terbuat dari bambu anyaman, rotan, atau tali akar.

Prasasti kayu berukir dalam bahasa kebudayaan Nusantara sering dipadukan ke dalam arsitektur rumah dan masjid. Ukiran huruf ini terpasang sepanjang panel.

Media Tulis Bambu dan Tanduk

Penggunaan bambu sebagai alat tulis terutama ditemukan di Sumatra di antara orang-orang Batak, Lampung, dan Rejang. Bambu dibelah menjadi lembaran dan dirangkaikan seperti daun palem, atau dibiarkan dalam bentuk tabung, dan teksnya ditoreh dengan pisau tajam.

Orang-orang Jambi pada masa lalu menggunakan tanduk sebagai salah satu media tulis di Indonesia. Beberapa Alsara Incung yang sampai pada kita ada yang ditulis di atas tanduk binatang khusunya kerbau.

Media Tulis Kain dan Kertas

Pakaian yang ditenun atau dicat sempat menjadi media yang digunakan di Nusantara. Media ini hingga sekarang dapat dengan mudah kita jumpai. Tulisan yang menggunakan media kain lebih berorientasi sebagai pelindung (jimat) bagi si pengguna. Kain sebagai media penulisan meluas seraya penyebaran kebudayaan Islam di Nusantara.

Pembuatan kertas ditemukan oleh orang-orang dari Cina sekitar tahun 103 M, dan teknik itu menyebar kepada bangsa Asia di abad ke-7. Penggunaan kertas yang meluas di Nusantara dihubungkan dengan lalu lintas yang semakin kompleks pada abad ke-13 dan seterusnya, khususnya untuk naskah-naskah yang menggunakan bahasa Melayu dan Arab, Jawa, Madura, Bugis, dan lain-lain.