Categories Almanac

Nama Kerajaan Dari Nama Pohon

Logika kita di zaman digital ini sangatlah sukar menerima. Bahwa latar belakang pemberian nama sebuah desa yang kelak menjadi kerajaan besar hanya didasarkan pada nama pohon. Seperti yang telah kita

Logika kita di zaman digital ini sangatlah sukar menerima. Bahwa latar belakang pemberian nama sebuah desa yang kelak menjadi kerajaan besar hanya didasarkan pada nama pohon.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa nama Majapahit diambil dari buah pohon maja alias wilwa (dalam Sansekerta) yang pahit. Berita ini memang tercantum dalam kitab Nagarakretagama (1365 M) dan Pararaton (1614 M).

Mengapa dulu Raden Wijaya dan orang-orang Madura yang membangun pemukiman baru itu menggunakan nama sebuah pohon? Apakah karena pohon ini mampu beradaptasi di lahan berawa, di tanah kering, dan bisa tumbuh di tanah yang agak basa?

Ataukah mereka hanya iseng menamai desa tersebut karena di sana banyak pohon maja yang buahnya pahit. Dan apakah mereka tak pernah membayangkan bahwa kelak desa mereka menjadi sebuah kerajaan yang sangat berkuasa di Jawa dan Nusantaraseperti yang disebutkan Pararaton?

Namun, bila melacak naskah Nagarakretagama (pupuh 18). Naskah yang ditulis Prapanca tahun 1365 M, saat Majapahit atau Wilwatikta di puncak kejayaannya. Kita akan menemukan bahwa kereta yang ditumpangi Sri Nata Wilwatikta alias Hayam Wuruk bergambar buah maja, beratap kain geringsing, berhias lukisan emas, bersinar merah indah.

Mengenai pohon maja yang pahit, Nagarakretagama tak mengisahkannya. Melainkan baru ditulis beradab kemudian dalam Pararaton dan sejumlah kidung (misalnya, Kidung Panji Wijayakrama), carita (Carita Waruga Guru misalnya), dan babad (Babad Tanah Jawi misalnya).

Beberapa karya sastra lain seperti Lubdhaka karya Mpu Tanakung pun mendukung hal ini. Lubdhaka mengisahkan seorang pemburu yang pada suatu malam menaburkan daun wilwa di atas lingga Dewa Siwa yang terletak di bawah pohon maja.

Sebagai tanda terima kasih, Dewa Siwa mengizinkan pemburu itu masuk ke taman surga. Ada pun di India dan wilayah yang warganya penganut Siwa, pohon maja pun begitu disakralkan.

Sementara, mengenai rasa pahit dalam kata Majapahit ada sebuah teori yang mengatakan bahwa bukan dari kata pahit melainkan dari kata pait/pawit yang berarti modal. Dengan begitu Majapait berarti bermodalkan kesakralan buah maja.

Sebagai catatan dan perlu diingat, bahwa buah maja rata-rata manis dan kini dapat dibuat sirup. Kesakralan pohon maja setara dengan pohon bodhi (Ficus religiosa) bagi umat Buddha, karena di bawah pohon inilah Sang Buddha bersemedi dan mendapatkan pencerahan.

Dari pemaparan tadi, dapat dipahami mengapa nama kerajaan Majapahit atau Wilwatikta yang diberikan. Bukan nama lain yang kedengarannya lebih gagah dan pantas untuk sebuah calon kerajaan.

Kini, mari kita selidiki kerajaan atau ibukotanya atau tempat lain yang memakai salah satu pohon sebagai namanya. Misalnya, pohon medang pada nama ibukota Kerajaan Mataram.

Seperti yang tertera dalam Prasasti Siwagraha, Mantyasih, Sugih Manek, Sangguran, Turyyan, Anjukladang, dan Paradah II yang dibuat pada abad ke-8 hingga ke-10. Prasasti-prasasti ini menyebut nama-nama: Mamratipurastha Medang kadatwan, i Medang i Bhumi Mataram, i Medang i Bhumi Mataram i Watugaluh. Belum lagi nama Medang Kamulan di Jawa Tengah, atau Medang Kahyangan di Sumedang, Jawa Barat.

Medang , disebut juga pohon huru (Cinnamomum porrectum), merupakan pohon yang tumbuh di ketinggian 700 m dpl. Tinggiannya mencapai 35 m, panjang cabang 10 20 m, diameter 100 cm. Umumnya batang berdiri tegak, berbentuk silindris, kulit luar warna kelabu, kelabu-coklat, coklat merah sampai merah tua. Penelitian arkelogis di Karangagung Tengah, Sumatra Selatan, menemukan batang pohon medang sebagai tiang bangunan peninggalam zaman Sriwijaya.

Penemuan ini memperkuat alasan mengapa pohon ini begitu penting. Di Karangagung Tengah, pun ditemukan sejumlah tiang bangunan dari pohon medang dan pohon nibung. selain itu ditemukan pula tinggalan arkelogis lain seperti manik-manik dari bebatuan, kaca, dan emas. Kemudian tembikar polos maupun berhias, natu asah, bandul jala, tulang vertebrata, cangkang moluska; gelang kaca, emas, dan perunggu.

Begitu pula nama Kerajaan Aceh. Sejak abad ke-16 Aceh telah menjadi kerajaan besar penguasa Sumatra dan sebagian kerajaan di Semenanjung Malaka. Menurut orang Melayu, nama Aceh diambil dari sejenis pohon yang khas di tempat tersebutyang bernama achi.

Lombard menulis bahwa nama tempat ini pun (Aceh) berasal dari nama sejenis tumbuhan, kendati kepastian mengenai hal itu tak ada. Di Asia Tenggara sendiri penamaan sebuah wilayah atau kota (toponimi) memiliki etimologi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Itulah nama-nama sejumlah kerajaan tua di Nusantara yang namanya diambil dari sejenis pohon atau tumbuhan yang sebagian dianggap sakral. Belum lagi jika kita menelisik sejumlah nama sungai, desa, kecamatan yang tersebar di Nusantara.

Kita akan menemukan nama-nama pohon pada tempat geografis tersebut. Sebagai tambahan, ternyata nama Kerajaan Malaka di Semenanjung Malaya pun diambil dari pohon malaka, salah satu pohon yang disucikan oleh umat Hindusama halnya pohon maja.

Perlu ditambahkan pula bahwa kata puun atau puhun atau tangkal dalam bahasa Sunda yang berarti pohon banyak tertera dalam naskah-naskah Sunda kuno seperti Sewaka Darma dan Kawih Paningkes. Kata ini selalu mengacu kepada leluhur atau nenek moyanghampir bermakna sama dengan lingga.

Gelar puun sendiri di Kanekes, Baduy, Banten, hingga kini mengacu kepada pemimpin adat tertinggi. Ia lah yang memberikan mandat atau tugas tentang mengelola pemerintahan pada wakilnya, yakni jaro tangtu.

Jelaslah, bahwa pohon memiliki makna yang khusus dalam pandangan kosmologis masyarakat kunomungkin jauh sebelum kehadiran agama Siwa, Wisnu, Buddha di Nusantara.

Hal ini juga menjelaskan mengapa dulu raja-raja, bangsawan serta sebagian rakyat awam mempergunakan nama hewan-hewan. Karena ternyata nama-nama mengandung makna istimewa pada zamannya.

Dari telaah ini, menurut hemat penulis, pendapat yang menyatakan bahwa Majapahit merupakan akronim dari maharaja purahita perlu dipertimbangkan kembali (walau dari segi semiotika masuk akal).

Memang sejumlah kata yang kini beredar berasal dari perpaduan sejumlah suku kata, dan kosakata masyarakat purba memang sangat sederhana di mana sebuah suku kata merupakan kata pada zamannya dan dengan begitu memiliki makna tersendiri.