Categories Almanac Tags ,

Kerajaan Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur

Kerajaan Kanjuruhan adalah kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke 7 atau sekitar tahun 670 Masehi, di antara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di lereng sebelah timur Gunung Kawi. Di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Kerajaan Kanjuruhan adalah kerajaan Hindu yang berdiri pada abad ke 7 atau sekitar tahun 670 Masehi, di antara Sungai Brantas dan Sungai Metro, di lereng sebelah timur Gunung Kawi. Di dataran yang sekarang bernama Dinoyo, Merjosari, Tlogomas, dan Ketawanggede Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Berdasarkan prasasti yang tulisan tahunnya berbentuk Condro Sangkala, berbunyi Nayana Vasurasa yang berarti angka tahun 682 saka atau tahun 760 terletak di desa Dinoyo, sebelah barat laut Kota Malang.

Prasasti tersebut berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang bercerita bahwa pada abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan—sekarang desa Kejuron—dengan raja-nya bernama Dewasimha dan berputra Limwa.

Kerajaan Kanjuruhan kemudian berkembang pesat pada masa pemerintahan Raja Gajayana, putra Dewasimha yang awalnya bernama Limwa, baik dari segi pemerintahan, sosial, ekonomi maupun seni budayanya. Dengan sekalian para pembesar negeri dan segenap rakyatnya, Raja Gajayana memerintahkan pembangunan tempat suci pemujaan, yakni Candi Badut diresmikan tahun 760 untuk memuliakan Sang Resi Agastya. Upacara peresmian dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa).

Raja Gajayana juga menyuruh membuat arca sang Resi Agastya dari batu hitam yang sangat elok, sebagai pengganti arca Resi Agastya yang dibuat dari kayu oleh nenek Raja Gajayana. Sehingga di dalam bangunan kuno berlanggam Jawa Tengah yang bernama Candi Badut ini terdapat lingga, mungkin lambang Agastya. Dan sebagian dari Candi Badut masih tegak, hingga saat ini masih bisa kita temui di desa Kejuron.

Raja Gajayana hanya mempunyai seorang putri, yang diberi nama Uttejana. Seorang putri kerajaan pewaris tahta Kerajaan Kanjuruhan. Ketika dewasa, Uttejana dijodohkan dengan seorang pangeran dari Paradeh bernama Pangeran Jananiya. Akhirnya Pangeran Jananiya bersama Permaisuri Uttejana, memerintah Kerajaan Kahuripan warisan ayahnya ketika sang Raja Gajayana meninggal.

Kerajaan Kanjuruhan tidak mampu bertahan lama, karena sekitar tahun 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan Dyah Saladu, melakukan perluasan ke Pulau Jawa bagian timur, tanpa peperangan. Hal ini membuat Kerajaan Kanjuruhan takluk oleh Rakai Watukura dari kerajaan Mataram kuno tersebut. Setelah takluk penguasanya dianggap sebagai raja bawahan dengan gelar Rakai Kanjuruhan di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno.

Walaupun demikian Kerajaan Kanjuruhan tetap memerintah di daerahnya. Hanya setiap tahun harus melapor ke pemerintahan pusat. Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno zaman Raja Balitung, Raja Kerajaan Kanjuruhan lebih dikenal dengan sebutan Rakryan Kanuruhan, artinya “Penguasa daerah” di Kanuruhan. Kanuruhan sendiri diartikan perubahan bunyi dari kata Kanjuruhan.

Hubungan antara bekas kerajaan Kanjuruhan yang kemudian menjadi kerajaan bawahan Mataram Kuno tercatat dalam Prasasti Sangguran atau Batu Minto ini merupakan prasasti beraksara dan bahasa Jawa Kuno yang berasal dari abad ke-10 dari daerah Ngandat, Malang, Jawa Timur. Prasasti Sangguran ini pernah dibawa ke luar negeri oleh Stamford Raffles pada 1814, sehingga prasasti ini juga dikenal dengan nama ‘Lord Minto’ atau ‘Minto Stone’ dalam versi Skotlandia.

Isi pokok dari prasasti Sangguran adalah tentang peresmian Desa Sangguran menjadi sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka. Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi, maka identik dengan 2 Agustus 928.

Prasasti tersebut menyebutkan nama Rakryan Mapatih I hino pu Sindok Sri Isanawikrama dan istilah sima kajurugusalyan di Mananjung. Sima tersebut ditujukan khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (besi, perunggu, tembaga, dan emas). Isi prasasti seperti itu boleh dikatakan amat langka, jarang terdapat pada prasasti-prasasti lain yang pernah ditemukan di Indonesia.

Ahli epigrafi Boechari menafsirkan bahwa mungkin pada masa pemerintahan Raja Wawa ada sekelompok pandai atau seorang pemuka pandai, yang berjasa kepada raja. Pendapatnya didasarkan atas analogi dari kitab kuno Pararaton yang menyebutkan Mpu Gandring, tokoh yang dianggap pembuat keris legendaris, bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa atau biasa kita kenal dengan sebutan Ken Arok, berupa anugerah sima kajurugusalyan.

Di mata para epigraf, Prasasti Sangguran juga menyebutkan istilah rakryan kanuruhan. Menurut J.G. de Casparis, kanuruhan berasal dari nama kerajaan Kanjuruhan yang disebut dalam Prasasti Dinoyo (760 Masehi).

Dari Prasasti Sangguran kita bisa mengetahui bahwa keturunan dari raja-raja Kanjuruhan tetap berkuasa sebagai penguasa daerah dengan gelar Rakryan Kanuruhan. Gelar Kanuruhan pun ditemukan di antara tulisan-tulisan singkat pada salah satu gugusan Candi Loro Jonggrang (Prambanan), sebagai penyumbangkan candi perwara pada candi kerajaan itu.