Categories Almanac Tags ,

Periode Karboniferus; Lingkungan Alam Prasejarah

Periode Karboniferus berlangsung dalam rentang waktu sekitar 360 sampai 286 juta tahun lalu. Istilah Karboniferus dalam bahasa Inggris “carboniferous” yang berarti “daerah yang kaya dengan kandungan karbon”. Nama karbon berarti batu bara berasal dari kata latin “carbo” yang berarti batu bara dan dari kata “Fero” kurang lebih maknanya pembawa atau pemberi. Pada periode Karboniferus ini, … Read more

Periode Karboniferus berlangsung dalam rentang waktu sekitar 360 sampai 286 juta tahun lalu. Istilah Karboniferus dalam bahasa Inggris “carboniferous” yang berarti “daerah yang kaya dengan kandungan karbon”.

Nama karbon berarti batu bara berasal dari kata latin “carbo” yang berarti batu bara dan dari kata “Fero” kurang lebih maknanya pembawa atau pemberi.

Pada periode Karboniferus ini, benua-benua sudah bergabung membentuk gugusan kelompok-kelompok kecil daratan yang cukup luas dengan jembatan-jembatan darat terbentuk dari wilayah Eropa ke wilayah Amerika Utara, dan dari wilayah Afrika ke wilayah Amerika Selatan, Antartika, dan juga menghubungkan Australia.

Tumbukan antar benua yang terjadi pada masa ini menghasilkan sabuk Pegunungan Hercynian di Inggris dan Pegunungan Appalachian di bagian timur Amerika Utara.

Tabrakan benua ini lebih lanjut kemudian juga terjadi antara daratan Eropa Timur dan wilayah Siberia yang kemudian membentuk Pegunungan Ural.

Kehidupan di darat pada periode Karboniferus telah sangat mapan. Amfibi menjadi kelompok vertebrata yang menguasai darat hingga memiliki jumlah yang dominan.

Salah satu cabang dari Amfibi yang menjelajah ke darat ini nantinya, menurut para ahli, akan berevolusi menjadi keluarga reptil yang sepenuhnya benar-benar menjadi vertebrata darat.

Antropoda juga sangat umum, dan banyak, sepeti jenis meganuera, yang memiliki ukuran jauh lebih besar daripada saat ini.

Pada masa ini, kondisi sangat mendukung bagi pembentukan awal dari batu-bara (karbon). Perkembangan dari aspek biologis, geologis, dan juga iklim di Bumi menjadikan wilayah-wilayah hutan yang luas meliputi tanah, yang akhirnya akan ditetapkan menjadi tempat kandungan batu bara, yang menjadi karakteristik dari periode karboniferus.

Salah satu dari kejadian evolusioner terbesar selama periode Karboniferus adalah diketemukannya amniotic egg dalam hal ini evolusi tersebut telah membuat bangsa reptil awal dari habitat air mulai mengolonisasi daratan karena telah menyesuaikan reproduksi mereka di darat.

Amniotic egg nyatanya telah membuat leluhur bangsa burung, mamalia, dan juga reptil dapat bereproduksi di daratan dengan sangat baik karena mereka berhasil mencegah embrio-embrio yang mereka hasilkan terbebas dari kekeringan. Yaitu dengan adanya cangkang, sehingga pada masa ini telur telah dapat disimpan jauh dari wilayah air.

Reptil purba (Cotylosaur) seperti jenis Hylonomus dan Paleothyris merupakan keluarga reptil yang banyak dijumpai pada periode Karboniferus. Mereka berukuran kurang lebih sebesar kadal modern dengan bagian tulang tengkoraknya masih mirip dengan binatang amfibi.

Bagian bahu, panggul dan anggota tubuh serta gigi mungkin masih menunjukan peralihan dari vertebrata. Tetapi sisanya benar-benar menunjukan seperti rangka reptil modern.

Kebanyakan dari reptil-reptil tersebut memiliki penampilan seperti keluarga amfibi berukuran kecil lainnya yang kita temui di masa kini. Akan tetapi, kadang-kadang mereka telah berkembang biak dan bertelur di wilayah darat secara langsung.

Hal ini bisa jadi merupakan proses yang bersamaan dengan terjadinya evolusi mereka yaitu perubahan beberapa bagian tubuh yang kemudian mengecil.

Pohon-pohon yang bertahan selama periode Devonian pada periode Karboniferus ini merupakan jenis tumbuhan yang bertanggung jawab mengubah bentuk dari pemandangan bumi.

Tanaman jenis lumut diperkirakan ada yang dapat mencapai tinggi 30-40 meter, bahkan tanaman buntut kuda (horsetail) telah mampu tumbuh sampai dengan 15 meter, hampir setinggi pohon pakis.

Kandungan oksigen di atmosfer bahkan mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah selama periode Kaboniferus berlangsung. kurang lebih mencapai 35% dibandingkan dengan kandungan oksigen saat ini yang hanya berkisar di 21%. Hal ini juga yang menyebabkan meningkatnya kerapatan atmosfer hingga sepertiga nilai saat ini.

Pohon-pohon seperti keluarga Konifera telah menggunakan strategi pelepasan spora mereka dengan bantuan angin hingga mereka dapat melepaskan berjuta-juta polen ke udara agar dapat membuahi cone betinanya.

Mereka telah beradaptasi untuk memanfaatkan tiupan angin agar bisa bereproduksi. Akan tetapi strategi ini membutuhkan jumlah polen yang tidak sedikit agar mendapatkan hasilnya.

Kendati demikian, sistem ini sepertinya cukup baik jika dibandingkan dengan sistem lain, karena pohon-pohon tersebut akan dibuahi secara bersamaan dan mengurangi kompetisi di antara mereka.

Peristiwa kepunahan masal terjadi di tengah-tengah periode karboniferus ini Para ilmuwan menduga hal tersebut disebabkan oleh perubahan iklim. Pada periode ini mengalami glasial, yang membuat permukaan laut menjadi rendah, dan sebagian benua bertabrakan untuk membentuk pangaea, daratan yang maha luas.