Categories Almanac Tags , ,

Raja Airlangga; Raja Terakhir Medang dan Pendiri Kahuripan

Nama Airlangga dikenal di dua kerajaan; Kerajaan Kahuripan sebagai pendiri dan juga sebagai raja pertama, di Kerajaan Medang sebagai raja terakhir sebelum mencapai masa-masa keruntuhannya.

Nama Raja Airlangga dikenal di dua kerajaan; Kerajaan Kahuripan sebagai pendiri dan juga sebagai raja pertama, di Kerajaan Medang sebagai raja terakhir sebelum mencapai masa-masa keruntuhannya.

Raja Airlangga sendiri cukup tersohor dengan kesuksesan yang dicapainya di dua kerajaan, juga atas permasalahan keturunannya kerajaan yang ia dirikan akibat selalu berseteru.

Airlangga lahir tahun 990. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu, Bali dari Wangsa Warmadewa.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata).

Menurut Prasasti Pucangan, pada tahun 1006 Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang. Tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari dari Lwaram, yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya.

Dalam serangan itu, Dharmawangsa tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Setelah ia berhasil mendirikan kerjaan Kahuripan ia juga mencapai beberapa keberhasilan. Penguasa pertama yang dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa Raja Wuratan, Wijayawarma Raja Wengker, kemudian Panuda Raja Lewa.

Pada tahun 1031 putera Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya.

Airlangga terpaksa melarikan diri ke Desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala. Airlangga membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita itu akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana.

Terakhir, pada tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma Raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Sejarah mengenai Raja Airlangga banyak tercatat pada prasasti Kediri, tetapi perannya sebagai kerajaan terakhir Matram juga cukup berpengaruh. Kerajaan Medang yang kita kenal tidak pernah mengalami kehancuran karena adanya peperangan karena perebutan kekuasaan, tetapi semua itu terjadi karena keturunan Airlangga yang terus berseteru untuk merebut kekuasaan sebagai raja penerus.

Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan Prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru.

Kerajaan barat disebut Panjalu atau Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur bernama Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Kerajaan Kadiri atau Kerajaan Panjalu adalah Kerajaan yang terletak di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Pada tahun 1042, Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian.

Kedua kerajaan tersebut dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas. Tujuan pembagian kerajaan menjadi dua agar tidak terjadi pertikaian diantara kedua putranya.

Pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) dikisahkan dalam prasasti Mahaksubya (1289M), kitab Negarakertagama (1365 M), dan kitab Calon Arang (1540 M).

Begitu Raja Airlangga wafat, terjadilah peperangan antara kedua bersaudara tersebut. Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042 – 1052 M) dalam prasasti Malenga.

Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha. Sejak saat itulah sejarah kembali mencatat keruntuhan kerajaan ini dan kejayaan kerajaan yang baru, Kediri.

Kerajaan Kahuripan di Tangan Airlangga

Zaman dulu, ada kemungkinan orang menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Kahuripan sepertinya nama yang lazim digunakan untuk menyebut sebuah kerajaan di Jawa Timur pada masa pemerintahan Raja Airlangga.

Membicarakan Kerajaan Kahuripan tak terlepas dari nama pendiri dan penguasanya, yaitu Airlangga. Nama Kerajaan Kahuripan juga hanya disematkan pada masa pemerintahan Raja Airlangga.

Alasannya, karena setelah Airlangga melepaskan tahtanya, ia membagi kerajaan ini menjadi dua, yaitu Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Jenggala. Nama Kahuripan disebut sebagai Kerajaan juga karena pusat pemerintahan Raja Airlangga berada di Kahuripan.

Airlangga adalah putra sulung Raja Udayana yang berkuasa di Kerajaan Bali. Dia memiliki dua adik, yaitu Marakata dan Anak Wungsu yang di kemudian hari menjadi raja di Bali sepeninggal ayahnya.

Airlangga lahir di Bali tahun 990, dan dibesarkan pula di Bali hingga menginjak usianya yang ke 16 tahun. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Dinasti Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Nama Airlangga memiliki arti “Air yang melompat”. Raja Medang kala itu adalah Dharmawangsa Teguh, kakak ibundanya Airlangga.

Dhamarwangsa Teguh meminta kepada Mahendradatta untuk menikahkan Airlangga dengan putrinya yang bernama Dewi Galuh. Dalam artian, Airlangga akan dinikahkan dengan saudara sepupunya sendiri.

Harapannya, kelak tahta Kerajaan Medang dapat diwariskan kepada Airlangga. Berangkatlah Airlangga beserta ibunya meniggalkan Bali menuju pulau Jawa. Kemudian, diadakanlah pesta perkawinan tersebut.

Dari sinilah bermula kisah berdirinya Kerajaan Kahuripan. Saat acara pesta perkawinan tersebut, semua orang yang ada di sana terlena dengan pesta. Hal itupun dimanfaatkan oleh musuh Kerajaan Medang, yakni Raja Wurawari dari Lwaram.

Tanpa diduga, kerajaan tersebut diserang. Pesta pun berantakan, banyak orang yang berhamburan ketakutan. Para pasukan kerajaan tak dapat mengahalau serangan tersebut karena tak ada persiapan. Banyak orang yang terbunuh, termasuk Dharmawangsa Teguh dan ibu Airlangga, Mahendradatta.

Sementara Airlangga dan istri beserta kerabatnya bisa lolos dari maut, lalu melarikan diri dan mengungsi ke daerah Ampel. Pelarian tersebut ditemani oleh pembantu Airlangga, Mpu Narotama.

Selama pelariannya, Airlangga melanjutkan perjalanannya untuk mencari pendeta guna belajar sutra sebagai bekal hidupnya di kemudian hari.

Sementara istrinya dia titipkan kepada Ki Buyut Ampel. Selama pencarian pendeta, Airlangga akhirnya tiba di lereng gunung Penanggungan, dan bertemu sang Biksu Budha atas petunjuk dari Mpu Bharada.

Dari pasangan dengan Dewi Galuh, Airlangga dikaruniai dua orang anak. Anak pertama seorang putri bernama Sanggramawijaya, dan kedua seorang anak laki-laki bernama Samarawijaya. Airlangga juga menikah lagi dengan putri Ki Buyut Niti, dan dikaruniakan seorang putra bernama Mapanji Garasakan.

Selama tiga tahun dalam perasingannya, Airlangga didatangi utusan rakyat dari bekas Kerajaan Medang. Utusan tersebut meminta kepadanya untuk membangun kembali kerajaan yang telah runtuh.

Karena Kota Watan sebagai ibu kota Kerajaan Demang telah hancur, Airlangga pun mendirikan ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan tahun 1009.

Dia membangun kekuatannya untuk mendirikan Kerajaan Kahuripan. Ki Buyut Niti diangkat menjadi penasehat politik, sementara Mpu Narottama sebagai perdana menteri. Kekuasaanya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan.

Sementara wilayah-wilayah dan kerajaan-kerajaan lain yang dulu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demang memisahkan diri.

Tahun 1023, Kerajaan Sriwijaya sebagai musuh bebuyutan Dinasti Wangsa Isyana— sebuah dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang—dikalahkan Rajendra Coladewa raja Colamandala dari India. Kekalahan Sriwijaya pun membuat Airlangga leluasa menaklukan pulau Jawa.

Sejak saat itu, banyak kerajaan yang dulu di bawah kekuasaan Kerajaan Demang ditaklukan kembali oleh Kerajaan Kahuripan. Raja pertama yang ditaklukan adalah Raja Hasin.

Kemudian tahun 1030 Kerajaan Kahuripan mengalahkan Wisnuprabhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, Panuda raja Lewa. Tahun 1031 putra Panuda mencoba membalas dendam, tapi dapat dikalahkan. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.

Setahun kemudian, Airlangga ternyata dapat dikalahkan oleh seorang raja wanita dari Tulungagung. Kota Watan Mas sebagai ibu kota kerajaan ikut hancur.

Airlangga pun melarikan diri ke ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala. Karena Watan Mas hancur, dia pun membangun ibu kota baru di Kahuripan. Di tahun itu pula, Raja Airlangga dapat membalas dendam Raja Wurawari yang telah menghancurkan Kerajaan Demang.

Beribu kota di Kahuripan ini, Airlangga membangun kekuataan yang lebih besar lagi. Raja wanita pada akhirnya dapat dikalahkan. Tahun 1035, Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa, dan mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Setelah menaklukan banyak kerajaan, kekuasaan Kahuripan pun mencakup hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Nama Kahuripan pun sering digunakan sebagai nama kerajaan. Namun, berdasarkan prasasti Pamwatan (1042) dan Serat Calon Arang, pusat kerajaan yang tadinya di Kahuripan dipindahkan ke Daha.

Pada masa Kerajaan Kahuripan ini, terdapat beberapa hal yang sudah dibangun. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti antara lain:

  • Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
  • Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.

Kahuripan Terbelah Dua

Raja Airlangga semakin tua, sudah waktunya dia pensiun dari kerajaan dan menyerahkan tahta kepada anaknya. Anak pertama Airlangga adalah seorang putri. Dia ingin menyerahkan tahtanya kepada anak pertama tersebut.

Alasannya, kedua putra Airlangga tengah berebut kekuasaan, dia tak ingin ada pertumpahan darah dalam perebutan tersebut. Sayangnya, sang putri mahkota tak mau. Dia memilih hidup sebagai pertapa dengan rnama Dewi Kili Suci.

Airlangga teringat dengan kerajaan ayahnya di Bali. Sebenarnya Airlangga memiliki hak untuk memimpin kerajaan di Bali yang kini tengah dipegang oleh adiknya bernama Anak Wungsu, melanjutkan kakanya bernama Marakata.

Dia memilih untuk menempatkan salah satu putranya di Bali. Diutuslah seseorang untuk meminta bantuan gurunya, Mpu Bharada.

Berangkatlah Mpu Baradha. Saat akan menyebrang laut, sekalipun dia tak melihat kapal ataupun perahu. Akhirnya sang Mpu mengambil sehelai daun nangka, lalu membacakan mantra. Daun itupun dia lemparkan ke laut, sang Mpu menaiki daun nangka itu.

Ajaib, daun itu bisa ia kendarai menyebrang laut menuju pulau Bali. Sesampai di Bali, Mpu Bharada menemui Mpu Kuturan untuk menanyakan perihal hak Raja Airlangga yang kemudian akan diserahkan kepada salah satu putranya. Sayang, Mpu Kuturan tak setuju. Misi Mpu Bharada pun gagal, dan hal itu ia sampaikan kepada Raja Airlangga.

Mpu Bharada memberikan saran, supaya Kerajaan Kahuripan dibelah dua. Dengan demikian, kedua putra Airlangga dapat menerima haknya masing-masing. Saran itupun diterima Airlangga. Akhir November 1042 kerajaan dibagi dua. Mpu Bharada ditugaskan untuk membuat batas-batas kerajaan tersebut.

Kerajaan pertama di bagian Barat dipegang oleh Sri Samarawijaya, yakni Kerajaan Kadiri yang beribu kota di Daha. Sedangkan kerajaan kedua di bagian Timur diserahkan kepada Mapanji Garasakan, yakni Kerajaan Jenggala yang beribu kota di Kahuripan. Sementara Airlangga sendiri memilih untuk menjadi seorang pertapa. Sementara kedua kerajaan itu pun saling bersaing.

Kerajaan Jenggala bertahan dari persaingannya selama 90 tahun. Saat Kadiri dipegang oleh Sri Jayabhaya, dia ingin menyatukan Jenggala dengan Kadiri. Terjadilah peperangan antara kedua kerajaan bersaudara ini, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Kadiri. Jenggala pun berada di bawah kekuasaan Kadiri. Sejak saat itu, berakhirlah Kerajaan Jenggala.

Tahun 1222, Kerajaan Kadiri runtuh karena dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel. Raja terakhir Kadiri tersebut adalah Sri Maharaja Kertajaya. Kadiri kala itu membawahi Tumapel, dan Ken Arok ingin memerdekakannya dari Kadiri. Meletuslah peperangan antara Kadiri dan Tumapel yang dimenangkan oleh Tumapel atau Singosari.