Categories Almanac Tags ,

Periode Pleistosen, Lingkungan Alam Prasejarah

Periode Pleistosen berlangsung kurang lebih selama antara 2,8 juta tahun yang lalu sampai dengan permulaan Holosen yaitu sekitar 12.000 tahun lalu. Pleistosen berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pleistos” yang bisa dimaknai “sebagian besar” atau “paling”, dan “ceno” artinya “baru”. Pada permulaan Pleistosen, bumi memasuki masa yang sangat dingin. Ini disebabkan karena terjadi perpindahan periode glasial … Read more

Periode Pleistosen berlangsung kurang lebih selama antara 2,8 juta tahun yang lalu sampai dengan permulaan Holosen yaitu sekitar 12.000 tahun lalu. Pleistosen berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pleistos” yang bisa dimaknai “sebagian besar” atau “paling”, dan “ceno” artinya “baru”.

Pada permulaan Pleistosen, bumi memasuki masa yang sangat dingin. Ini disebabkan karena terjadi perpindahan periode glasial menuju ke periode inter-glasial. Posisi benua walaupun tidak banyak mengalami perubahan tetapi diperkirakan telah bergeser lebih dari 100 Kilometer.

Pleistosen adalah periode keenam era Kenozoikum. Akhir Pleistosen berakhir sesuai dengan akhir periode glasial. Dalam arkeologi, Plestosen sering dihubungkan dengan masa Paleolitik

Periode Pleistosen dibagi menjadi empat tahap atau usia perkembangan; Gelasius, Calabria, Ionian, dan Tarantian. Semua tahap itu biasanya digunakan di Eropa.

Tundra merupakan dunia hutan tanah yang membeku abadi selama periode Pleistosen. Dengan musim tumbuh tanaman yang sangat pendek, kebanyakan di antaranya merupakan tanaman dari jenis lumut, liken, dan kelompok alang-alang.

Di wilayah yang lebih rendah dengan iklim yang lebih kering telah berhasil membawa keragaman vegetasi dari gurun. Sementara lapisan es yang menutupinya kemudian secara terpisah dapat tersebar di beberapa bagian Bumi yang lebih tinggi, terutama di wilayah utara.

Antartika walaupun sama dingin-nya dengan wilayah Artik, kedua tempat ini terpisah menjadi benua bagian selatan-utara dan oleh karenanya proses pembentukan glasir yang membentuk bukit-bukit glasir berbeda dengan wilayah lainnya.

Waktu untuk permulaan yang pasti berkenaan dengan proses pembentukan glasier Utara tidaklah sama pasti pasti, namun beberapa catatan dari penelitian isotop oksigen telah menunjukkan terjadi selama waktu akhir periode Pliosen sekitar 3 atau 2 juta tahun yang lalu.

Variasi mikro fosil plankton yang berlimpah sedikitnya telah menunjukkan bahwa terjadi perubahan besar pada suhu di permukaan laut yang diperkirakan terjadi sebelum 2,8 sampai 2,6 juta tahun lalu.

Penemuan dan penelitian yang dilakukan para ahli terhadap lapisan es sedimen bawah laut di wilayah Greenland yang diperkirakan berumur sekitar 7 juta tahun telah menunjukkan kemungkinan penumpukan jumlah es di wilayah Utara selama Periode Miosen.

Temuan Fosil dari periode Pleistosen sering kali terdapat dalam jumlah yang berlimpah karena terjaga dengan baik selama zaman es. Oleh karena itu tidak jarang fosil-fosil itu dapat diperkirakan umurnya dengan sangat tepat.

Bebebrapa penelitian yang dilakukan para paleontologis terhadap temuan fosil periode Pleistosen juga dapat mengungkapkan klim masa lalu. Dari beberapa hasil penelitian, Periode Pleistosen bukan lah satu-satunya masa ketika iklim bumi dan temperatur berubah secara drastis.

Periode Pleistosen menjadi saksi ekspansi dari spesies “manusia”; homo sapien. Pada periode ini manusia telah menyebar di seluruh penjuru dunia.

Bukti penemuannya berupa Fosil dari berbagai lapisan dan bagian dunia menujukan kepada kita bahkan hingga keragaman jenis manusia pada masa lalu itu.

Bukti ilmiah menunjukan bahwa manusia yang ada sekarang telah berdiri menghadapai bahaya alam selama periode Pleistosen.

Pada awal Pleistose, spesies Paranthropus diperkirakan masih ada dan jenis ini mungkin merupakan salah satu nenek moyang awal manusia, tetapi selama paleolitik akhir mereka telah menghilang.

Salah satu spesies Hominid yang ditemukan salam catatan fosil adala homo erectus yang hampir banyak ditemukan selama periode ini.

Mereka menunjukkan karakteristik fisik manusia, dengan kapasitas otak yang cukup besar, bagian gigi yang lebih kecil dan memiliki wajah berbeda dengan “nenek moyang” hominid lainnya.

Sekitar 130.000 tahun yang lalu manusia modern yang dikenal dengan homo sapiens telah menyebar ke Afrika, ke wilayah Asia-Australia, dan wilayah Eropa. Mereka memilki kerangka yang tegak, dan lebih tinggi, bagian tengkoraknya lebih bundar dari pada “saudara tua” mereka dari Eropa, Neanderthal.

Lukisan gua yang diperkirakan berumur 40.000 tahun telah menunjukkan bahwa homo sapiens mengembangkan kebudayaan yang sangat rumit; beberapa ahli bahkan mengidentifikasikan fenomena ini dengan munculanya bahasa; yang rumit.

Selain itu mereka juga telah menemukan berbagai alat dan “menciptakan” kebudayaan yang pengaruhnya masih terasa hingga periode selanjutnya.