Categories Almanac Tags ,

Penggalian Sungai dan Kesejahteraan Tarumanagara

Pada suatu hari—bayangkan saja menggunakan imajinasi—di awal abad ke-5 Masehi, seorang raja Tarumanagara yang bernama Purnawarman sedang berdiri gagah penuh wibawa, tampak megah dan juga agung. Hari itu, beliau hendak meresmikan sebuah proyek. Proyek yang cukup besar: penggalian kanal sepanjang kurang lebih 6.100 busur (12 km). Kanal itu akan melewati ibukota kerajaaan dan dinamai Gomati. … Read more

Pada suatu hari—bayangkan saja menggunakan imajinasi—di awal abad ke-5 Masehi, seorang raja Tarumanagara yang bernama Purnawarman sedang berdiri gagah penuh wibawa, tampak megah dan juga agung. Hari itu, beliau hendak meresmikan sebuah proyek. Proyek yang cukup besar: penggalian kanal sepanjang kurang lebih 6.100 busur (12 km). Kanal itu akan melewati ibukota kerajaaan dan dinamai Gomati.

Sebuah proyek besar? Ya, penataan dan penggalian kanal yang dikerjakan oleh hampir seluruh rakyat negeri taruma itu konon hanya memakan waktu 21 hari. Proyek yang dimaksudkan untuk menanggulangi banjir yang kerap datang dan mengganggu wilayah Kerajaan Tarumanagara. Tidak hanya itu saja, kabarnya penggalian kanal tersebut juga ditujukan untuk mengatasi kekeringan selama musim kemarau.

Kanal itu melintasi kediaman kakek Purnawarman, Rajadirajaguru Jayasinghawarman, yang dulu memerintah di Taruma dari tahun 358-382 Masehi. Tak lupa, peresmian itu diabadikan dan ditulis pada sebuah batu.

Sang Purnawarman juga menghadiahi untuk para brahmana 1.000 ekor sapi sebagai tanda penghormatan dari sang raja. Rupanya puaslah hati Sang Raja ini melihat bahwa pada tahun ke-22 di masa pemerintahannya, ternyata ia telah berbuat sesuatu yang memang sangat dibutuhkan oleh rakyatnya.

Dari batu peresmian itu didapati berita lainnya, bahwa sebelum menggali kanal Gomati, Sang Raja Purnawarman juga telah membuat dan merapikan kanal yang bernama Chandrabaga. Kanal atau sungai ini juga mengalir melintasi istana, lalu menuju laut ke arah utara (Laut Jawa).

Bagi mereka yang tidak hadir ketika menggali sungai Chandrabaga, mungkin tidak akan mengetahui kapan penggalian kanal Chandrabaga berlangsung. Yang jelas dari batu yang bertulis itu kita tahu bahwa dua proyek penggalian kanal jelas merupakan titah Sang Maharaja Purnawarman.

Melihat kurun waktu Raja Purnawarman memerintah, kurang lebih hampir selama 39 tahun, yaitu dari tahun 395-434 Masehi. Dapat lah kita duga bahwa penggalian kanal Gomati mungkin dilakukan pada tahun 412 Masehi, yang dimulai di tanggal 8 paro-terang bulan Caitra.

Mungkin kita sekarang bertanya-tanya apa untungnya tahu tentang kisah Purnawarman menggali Kanal-kanal itu. Setidaknya kita tahu persis kalau wilayah Jakarta-Bekasi-Karawang memang selalu dilanda oleh banjir, bahkan sejak abad ke-5 dan mungkin sebelumnya juga telah menjadi “langganan” banjir. Kini, 16 abad kemudian, sebuah ironi, bahwa kita sendiri juga masih mengalami—bukan sekadar tahu—banjir yang kerap datang tak diundang itu, entah dari luapan sungai Citarum, Ciliwung, atau sungai lainnya.

Upaya manusia dalam “menanggulangi banjir” merupakan hasil dari budi dan budaya. Bila pemerintahan Purnawarman membuat dan merapikan Gomati hingga Chandrabaga, maka pemerintahan Ir.

Juanda pada masa Presiden Soekarno membuat waduk Jatiluhur di Purwakarta—salah satu waduk terbesar di Indonesia. Jika masyarakat Taruma merasakan manfaat kali Chandrabaga, rakyat Indonesia nyaman dengan adanya waduk jatiluhur. Luapan air pun dapat diatasi, dan dimanfaatkan—untuk sementara.

Sebuah proyek besar dan berskala nasional itu tentu harus dicatat, agar diingat, atau bisa jadi “dirayakan” kembali oleh generasi berikutnya. Raja Purnawarman membuat prasasti-prasasti yang mencitrakan tentang kehebatan dirinya: sebagai manusia yang sempurna, raja pengayom rakyat, jelmaan Dewa Wisnu yang tak tertembus senjata musuh, penguasa negara yang ditakuti oleh lawan dan disegani negara-negara tetangga.

Raja itu tahu benar keadaan wilayahnya: banjir akan terus hadir, maka dari itu dia berpikir dan berbuat. Namun ia mungkin tak tahu bahwa kini banjir masih melanda, meluas, menghantam tanah di mana saja, padahal bendungan dan waduk yang luasnya beribu-ribu hektar telah dibangun, padahal teknologi sudah sedemikian maju. Sungguh, ia pun tak akan menyangka bahwa masyarakat di abad ke-21 ini ternyata sungguh bebal—baik pejabat maupun jelata, yang tak pernah tuntas dalam berpikir dan nyaman dengan sebatas menduga-duga.

Sepintas memang tidak adil jika membandingkan teknologi pada masa Raja Purwarman dengan teknologi yang diciptakan dengan serba canggih warga Indonesia masa kini—pun keduanya diwujudkan untuk kesejahteraan sosial.

Akan tetapi, membanding adalah sebuah usaha mencoba untuk sejengkal lebih maju. Mengetahui masa lalu adalah mempersiapkan masa yang datang.

Bila cermin di kamar rusak, masih ada jernih air untuk melihat. Kejernihan dapat memperlihatkan segala sesuatu: kekotoran, kecurangan, kemunafikan, sekaligus renungan. Sejauh mana kita telah melangkah, sejauh mana kita telah berubah.

Sayangnya, apa yang dikatakan G. B. Shaw lagi-lagi terbukti, manusia tidak pernah belajar dari Sejarahnya.