.
Categories Almanac

Saat Manusia Mulai Bercocok Tanam

Sesuatu yang telah mengubah Bumi lebih dari yang lain— bermula dari tepian sungai. Saat Manusia mulai bercocok tanam dan memilih untuk menetap.

Perubahan terbesar yang manusia pernah buat untuk planet ini —bahkan di usia ilmu pengetahuan kita yang sekarang, belum ada perubahan yang sebesar ini. Sesuatu yang telah mengubah Bumi lebih dari yang lain— bermula dari tepian sungai. Saat Manusia mulai bercocok tanam.

Tinggal dan bercocok tanam adalah ide gila pada masa semua orang melakukan perburuan, menunggu sekian lama adalah hal yang absurd untuk dilakukan di saat mereka akan bisa menemukan makanan setiap hari.

Setelah puluhan ribu tahun hidup sebagai pemburu-pengumpul yang bersandar pada belas kasih alam, transformasi iklim yang terjadi membantu nenek moyang kita untuk melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang radikal. Kurang lebih 16,000 tahun yang lalu, belahan bumi—berawal dari bagian utara—mulai kembali hangat dan nyaman untuk ditinggali.

Nenek moyang kita bisa jadi telah menemukan sebuah fakta bahwa mereka bisa memakan 56 jenis rumput liar, dan 32 jenis diantaranya tumbuh di Asia, dibandingkan, misalnya, hanya empat di Amerika.

Tidak secepat yang kita bayangkan, mungkin perlu ratusan tahun untuk mengubah pola hidup mereka. Awalnya nenek moyang kita mungkin memakan tanaman liar, juga beberapa hewan yang dijinakkan, dan mereka terus berjalan lebih jauh agar menemukan rumput dan hewan yang lebih enak untuk dimakan.

Tapi pada akhirnya, ya, akhirnya, kemalasan mungkin menjadi kekuatan dalam mengubah sejarah manusia itu. Bahkan sampai sekarang, ada adagium “teknologi itu diciptakan oleh orang-orang malas”.

Saat Manusia Mulai Bercocok Tanam dan Menetap

Kapan Manusia mulai bercock tanam? Jika kita tidak ingin pergi untuk menemukan makanan, berarti kita harus membuat makanan itu datang atau setidaknya selalu ada di dekat mereka. Bisakah nenek moyang kita melakukan itu?

Bercocok tanam dalah penemuan hebat. Saat nenek moyang kita akhirnya cukup malas juga untuk terus berjalan. Mereka malas untuk menemukan hewan dan tanaman yang bisa dimakan, mereka akhirnya menetap.

Sebuah terobosan yang penting dalam menggeser keseimbangan antara manusia dan seluruh alam kemudian sedang tercipta.

Menanam benih ke tanah agar kita bisa menikmati hasilnya di kemudian hari sepertinya gagasan yang tidak perlu diperdebatkan lagi jika itu terjadi sekarang. Tapi 15.000 tahun yang lalu itu adalah sebuah pertaruhan yang aneh.

Saat mereka sedang mempunyai kelimpahan makanan, mungkin ide untuk bercocok tanam bisa saja muncul.Tapi bayangkan ketika makanan itu dalam keadaan cukup untuk beberapa hari saja atau mereka justru sedang lapar.

Makanan yang seharusnya untuk dimakan dengan keluarga atau kelompok itu, bukannya diolah menjadi makanan, justru disisihkan beberapa untuk ditanam kembali ke tanah.

Dan tidak berhenti sampai di sana, kemudian mereka juga masih harus menunggu, harus yakin kalau apa yang mereka lakukan akan berhasil meski pun tidak tahu kapan.

Mungkin setiap hari nenek moyang kita itu melihat adanya kemajuan, dan bahwa apa yang mereka lakukan tidak sia-sia. Tapi masalahnya mereka tidak mempunyai gambaran yang jelas kapan masa panen itu tiba.

Ini menunjukkan kemajuan dalam pemikiran manusia. Bercocok tanam adalah sebuah gambaran bahwa mereka telah berpikir ke depan, atau kita bisa menyebutnya perencanaan kalau tidak boleh menyamakan-nya dengan “bertaruh” karena sepertinya nenek moyang kita bertaruh pada keseimbangan manusia dan alam.

Cerita selanjutnya sudah bisa kita tebak, bahwa perlahan, manusia mulai tinggal dekat dengan tanah-tanah yang subur untuk ber-investasi kepada alam.

Harga yang Harus Dibayar

12.000 tahun yang lalu, gandum, beras, dan jagung telah menjadi menu pokok bagi manusia. Dan dengan memilih benih terbaik, kita juga telah mengubah bentuk tanaman. Biji lebih besar dan, pada akhirnya, lebih baik dari sebelumnya.

Pertanian adalah lompatan besar, namun ada harga yang harus kita bayar dari dampak kemajuan itu. Ketika orang-orang duduk untuk pertanian, kehidupan semakin sulit.

Para arkeolog memberitahu kita sesuatu hal yang mencengangkan, bahwa saat manusia beralih untuk bertani, fisik kita menjadi lebih kecil dan kita mati lebih muda dari pada saat kita menjadi pemburu-pengumpul.

Peneliti lain menyatakan bahwa kerusakan gigi untuk pertama kalinya justru ditemukan saat manusia mulai menetap untuk bercocok tanam.

Jadi mengapa kita bertani ketika dunia masih penuh dengan makanan? Lebih penting lagi, mengapa manusia terus melanjutkan pertanian? Bagian dari alasannya adalah bahwa mereka telah terperangkap oleh ledakan populasi.

Setelah mereka hidup dengan lebih banyak makanan, jumlah anggota keluarga pun tumbuh sementara para pemburu harus membatasi jumlah anak-anak atau bahkan tidak sembarang anak yang akan tersisa.

Mereka yang kuat dan terpilih akan terus bertahan hidup dalam kelompok perburuan, karena lemah bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tapi juga kelompok. Tetapi para petani tidak berpikir seperti itu.

Nenek moyang kita yang tengah hidup dengan lebih banyak makanan saat masa pertanian, menyebabkan angka dalam keluarga tumbuh tak ter-kontrol.

Jumlah manusia mulai meningkat, dan orang-orang mulai bekerja sama untuk anggota keluarga saja, petani mulai menetap di kelompok yang lebih besar tapi dengan pembagian kerja yang hanya berlaku antar anggota keluarga.

Yang lebih mengerikan adalah penyakit. Tinggal dalam jarak dekat menciptakan kondisi sempurna untuk menyebar-nya penyakit. Kerusakan gigi pun ditemukan pertama kalinya di masa itu.

TB lalu ditularkan dari ternak ke manusia. Sebagian besar ancaman terburuk bagi kesehatan manusia –cacar, campak, flu— datang lebih dahulu menyerang para petani kita ini.

Bercocok tanam dan tinggal menetap telah membawa bahaya baru, tapi perangkap telah ditutup. Tidak akan bisa keluar bagi yang sudah masuk karena bagaimana pun bahayanya, kehidupan bercocok tanam ini ternyata sangat nyaman.

Manusia yang benci perbedaan harus tinggal-berkelompok lalu membentuk perbedaan dengan jalinan keluarga dan kekerabatan. Mereka justru menciptakan sendiri musuhnya.

Pemimpin kini lebih kompleks, ia pertama harus berasal dari keluarga yang memiliki banyak lahan pertanian, dan bisa jadi berasal dari sebuah keluarga besar.

Pada kenyataannya, masalah yang lebih besar ternyata hadir dari perang kepentingan dan kekuasaan ini. Mengejutkan atau tidak, sejarah selanjutnya telah membuktikan bahwa atas nama kekuasaan, manusia ternyata “bermasalah” saat hidup bersama.