Categories Almanac

Kerajaan Sriwijaya; Sejarah dan Perkembangan

Bagaimanakah perkembangan Kerajaan Sriwijaya yang menjadi bandar dagang terbesar pada zamannya dan mampu menjadi salah satu pusat keilmuan, agama, dan budaya? hal-hal inilah yang akan coba dipaparkan dalam artikel ini.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan penting di zaman Klasik Indonesia. Selain karena Sriwijaya mampu tampil sebagai penguasa terbesar di Suwarnadwipa (Sumatra), Sriwijaya pun tercatat sebagai salah satu pusat agama Buddha terbesar di dunia.

Kerajaan-kerajaan yang terlebih dahulu ada sebelum Sriwijaya seperti Tulang Bawang di Sumatra Selatan, Malayu di Jambi dan beberapa kerajaan kecil lainnya, dapat disatukan oleh kerajaan Sriwijaya menjadi satu kesatuan di bawah kekuatan yang utuh.

Berkat hal-hal inilah, Kerajaan Sriwijaya telah turut mengubah dan mewarnai bahkan menentukan peta politik di kawasan Nusantara. Namun, sejauh ini di mana letak pasti pusat pemerintahan Kerajaan ini masih banyak yang meragukan.

Bagaimanakah perkembangan Kerajaan Sriwijaya yang menjadi bandar dagang terbesar pada zamannya dan mampu menjadi salah satu pusat keilmuan, agama, dan budaya? hal-hal inilah yang akan coba dipaparkan dalam artikel ini.

Selain itu, kehebatan para penguasa kerajaan Sriwijaya, struktur kerajaan dan hubungannya dengan India dan Jawa, turut menjadi kisah yang menarik untuk ditelusuri.

I. Sejarah Sriwijaya Pada Masa Awal

Enam buah prasasti yang ditemukan di beberapa tempat banyak bercerita mengenai awal mula Kerajaan Sriwijaya di masa lampau. Prasasti-prasasti Sriwijaya tersebut umumnya menggunakan aksara Pallawa. Yang menarik adalah justru bahasa yang terpahat adalah bahasa asli penduduk Nusantara, yaitu bahasa Melayu Kuno.

Beberapa prasasti dari abad ke-7 dan ke-8 juga dapat membantu menceritakan usaha-usaha Kerajaan Sriwijaya dalam memperluas kekuasaannya. Dijelaskan dalam satu prasasti bahwa pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Sumatra Tengah.

Dari daerah sekitar Jambi tersebut, Sriwijaya mulai melebarkan sayapnya ke arah timur. Sesudah itu, perluasan wilayah ditujukan ke arah selatan, yakni ke daerah-daerah pulau Bangka dan Lampung Selatan.

Rupanya Kerajaan Sriwijaya tak hanya ingin menjadi yang dipertuan di wilayah Sumatra saja. Hal ini terbukti dengan usahanya menaklukkan Bhumi Jawa. Mengapa Sriwijaya begitu inginnya menguasai Tanah Jawa? Jawa merupakan saingan utama Kerajaan Sriwijaya dalam pelayaran dan perdagangan luar negeri.

Persaingan ini dapat ditelusuri dari peperangan dan adanya usaha penyatuan dengan hubungan perkawinan yang mereka lakukan terutama dengan Medang (Mataram Kuna), yang dikuasai dinasti Syailendra.

Prasasti Kedukan Bukit merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya yang cukup dikenal, prasasti yang ditemukan di wilayah Palembang ini, menceritakan bahwa ada seorang Raja Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang, yang telah mengadakan perjalanan. Perjalanan yang disebut siddhayatra itu bermaksud untuk menaklukkan beberapa daerah agar tunduk di bawah kekuasaan Sang Raja.

Dalam Prasasti yang berangka tahun 605 Saka (683 Masehi) itu, digambarkan bahwa Sang Raja bertolak dari suatu tempat yang bernama Minanga Tamwan. Sang Raja menggerakkan tentaranya yang berjumlah 20.000 untuk mendukung rencana ini. Pasukan sebanyak itu dibagi menjadi dua bagian; sebagian menaiki perahu, lainnya melalui jalur darat.

Dengan rasa suka cita, perjalanan tersebut telah memberikan keberhasilan yang gemilang dan membawa kemakmuran bagi Sriwijaya. Usaha-usaha Sriwijaya untuk menaklukkan Bangka dan perairan di sekitarnya memang tepat.

Nyatanya, sejak Kerajaan Sriwijaya menjadi kesatuan yang berkuasa atas wilayah ini, secara perlahan tetapi pasti, Sriwijaya mulai beranjak menuju puncak kegemilangannya karena menguasai lalu lintas perdagangan di perairan tersebut.

Setelah perairan di sekitar Bangka dapat dikuasai secara penuh, Kerajaan Sriwijaya memindahkan pusat pemerintahannya. Pusat yang semula di pedalaman kemudian pindah ke hulu sungai wilayah Jambi. Pelabuhan Jambi lebih baik untuk memajukan perdagangan. Dari sini lah Selat Malaka dapat di awasi secara penuh.

A. Perjalanan Dapunta Hyang

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa Prasasti Kedukan Bukit menceritakan tentang perjalanan Dapunta Hyang (Raja Sriwijaya) ke Mukha Upang dengan membawa sekitar dua puluh ribu pasukan, 682 M .

Tentang perjalanan Dapunta Hyang dalam prasasti Kedukan Bukit ini memang tidak dapat disangkal adanya sebuah ekspedisi militer yang dilakukan oleh Dapunta Hyang, sekaligus cikal bakal kebesaran kerajaan Sriwijaya.

Berikut adalah terjemahan dari prasasti Kedukan Bukit:

Bahagia! Pada tahun Saka 605 hari ke sebelas. Bulan terang bulan waiseka Dapunta Hyang naik di…. Perahu mengadakan perjalanan. Pada hari ke tujuh bulan terang…. Bulan Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari Minanga.. Tambahan beliau membawa tentara dua laksa..

Dua ratus koli di perahu; yang berjalan darat seribuTiga ratus dua belas banyaknya; datang di Mukha Upang… Dengan senang hati. Pada hari ke lima bulan terang bulan Asada… Dengan lega gembira datang membuat wanua……Perjalanan Jaya Sriwijaya memberikan kepuasan……

Apa yang dilakukan Dapunta Hyang terhadap Mukha Upang, bisa dikatakan sebuah bentuk penyerangan terhadap wilayah lain dengan tujuan untuk mendapatkan wilayah yang lebih baik, sehingga akhinya dia mendapatkan nama besar, kekayaan dan kekuasaan.

Melihat letak Mukha Upang yang berada di muara sungai besar dan dekat dengan lautan maka dia memprediksi wilayah itu akan menjadi wilayah yang besar, sebab perdagangan pada masa itu masih tergantung dengan lautan.

Keberadaan Prasasti Kedukan Bukit merupakan sebuah bukti ingin dikenangnya nama besar dia, karena sudah mampu menguasai Mukha Upang dan mendirikan kerajaan yang besar.

Prasasti Kedukan Bukit sampai saat ini memang masih menjadi bahan perdebatan yang alot berkenaan dengan kapan sebenarnya kerajaan Sriwjaya itu berdiri? G. Coedes menafsirkan sebagai prasasti ziarah raja guna memperoleh kekuatan gaib. Sedangkan N.J.Krom berpendapat sebagai berikut:

“Tidak semuanya terang, tetapi ziarah itu mencari kekuatan gaib itu mencolok sekali. Peristiwa itu cocok dengan pendapat umum di tempat-tempat lain.

Mungkin hal itu berhubungan dengan peristiwa mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Suatu kenyataan ialah bahwa prasasti itu bermaksud untuk memperingati kejadian yang penting sekali untuk Negara”

Muhammad Yamin berpendapat bahwa Prasasti Kedukan Bukit berhubungan dengan peristiwa mendirikan Negara. Baru pada tahun 683 dipahat pemaklumatan proklamasi pembentukan kedaulatan Sriwijaya dengan resmi di atas batu Kedukan Bukit di Palembang. (Slamet Muljana: 1981, 70).

Pendapat-pendapat di atas akhirnya mendapat sanggahan dari Slamet Muljana yang mengatakan bahwa Prasasti Kedukan Bukit tidak mungkin bertalian dengan peristiwa mendirikan kerajaan Sriwijaya, karena pada tahun 670 kerajaan Sriwijaya telah berdiri dan mengirim utusan ke Cina.

Prasasti Kedukan Bukit juga bukan prasasti siddhiyatra (tempat untuk memperingati ziarah raja guna memperoleh kekuatan gaib), karena Dapunta Hyang membawa tentara sebanyak dua puluh ribu; dua ratus koli dengan perahu dan seribu tiga ratu dua belas berjalan kaki.

Prasasti Kedukan Bukit ditutup dengan kalimat Sriwijaya jayasiddayatra subhiksa artinya perjalanan jaya Sriwijaya memuaskan. Maka atas dasar itu Slamet Muljana menyebutnya sebagai prasasti jayasiddayatra. (Slamet Muljana: 1981, 70).

Terlepas dari semua perdebatan di atas, yang jelas bahwa pada tahun 682 Dapunta Hyang melakukan perjalanan ke Mukha Upang dengan membawa sejumlah pasukan yang tidak sedikit. Dia berhasil membangun dan membesarkan kerajaan Sriwijaya, menguasai perdagangan laut dan menguasai Negara-negara tetangganya sebagai jalan untuk mewujudkan misinya dalam mendapatkan wilayah kekuasaan dan keuntungan ekonomi yang besar.

B. Letak Ibu Kota Kerajaan Sriwijaya

Masalah letak Kerajaan Sriwijaya ini memang masih menjadi perdebatan yang ramai. Ada pendapat yang menyatakan bahwa selain Sumatra Tengah dan pulau-pulau sekitarnya, wilayah Sriwijaya meliputi Muang Thai Selatan dan Malaya.

Mengenai letak ibu kotanya juga ada perbedaan pendapat, ada yang mengatakan Jambi, ada juga yang beranggapan di Palembang. Bahkan ada yang mengatakan di wilayah Kedah dan di Chaiya (Muang Thai Selatan).

Pendapat yang mengatakan pusat Kerajaan Sriwijaya terletak di Jambi didasarkan atas letak hulu Jambi yang strategis. Menurut berita-berita pedagang dan pelancong asing, Kerajaan Sriwijaya letaknya di sebuah bandar atau pelabuhan dagang yang ramai.

Hal ini cocok dengan letak Hulu Jambi yang tepat di persimpangan jalan dagang. Selain itu, Jambi memiliki teluk yang cukup dalam dan terlindung dengan baik. Dari teluk ini kapal-kapal dapat berhubungan langsung dengan laut bebas.

Tanpa diketahui penyebabnya, ibu kota kemudian dipindahkan lagi ke Sumatra di tepi Sungai Kampar, Muara Takus. Namun pendapat ini banyak yang menyangsikan. Kendatipun demikian, ada pula yang menyatakan bahwa ibu kota Kerajaan Sriwijaya dialiri oleh sebuah sungai.

Hal itu dikuatkan pula oleh pernyataan pendeta I-T’sing yang berturut-turut mengunjungi Kerajaan Sriwijaya, serta berdasarkan hasil penelitian geomorfologi yang menyatakan bahwa dahulu Jambi dan Palembang sama-sama terletak di pantai Sumatra sebelah timur.

Dikisahkan bahwa ibu kota kerajaan Sriwijaya sangat besar dan kaya. Di tepi sungai-sungai banyak didirikan pasar dan gudang-gudang tempat menyimpan barang dagangan yang berharga. Dikatakan pula bahwa keraton Sriwijaya sangat indah, kokoh dan menakjubkan. Letaknya di antara sungai di mana terdapat sebuah pulau yang amat indah.

Beberapa ahli purbakala mencoba menjawab kabut rahasia pusat kerajaan Sriwijaya lewat temuan benda-benda arkeologis. Berdasarkan patung-patung, arca dan temuan lainnya, timbul pendapat yang cukup berbeda, bahwa letak pusat Kerajaan Sriwijaya bukan di Sumatra tapi mungkin di Pulau Jawa.

Piagam Talang Tuwo yang ditemukan di sebelah barat kota Palembang, menyebutkan bahwa raja Sriwijaya yang bernama Raja Punta Hyang Jayanasa telah membangun sebuah taman bunga.

Prasasti yang berisi empat belas baris kalimat itu berangka tahun 606 Saka (684 Masehi), menyebut taman ini sebgai Taman Sriksetra. Taman yang dikatakan bermanfaat bagi segala makhluk juga menandakan bahwa penguasa Sriwijaya yang sati ini amat taat menjdi pengikut Buddha.

Lebih jauh, Prasti Talang Tuwo pertama kali diketahui keberadaannya oleh Louis Constant Westenek pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang, yang dikenal sebagai tempat peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya.

Keadaan fisiknya masih relatif baik dengan bidang datar berukuran 50 x 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 M), ditulis dengan menggunakan aksara Pallawa, dan Bahasa Melayu Kuno. Orang yang pertama kali berhasil membaca prasasti ini adalah Van Ronkel dan Bosch.

Prasasti ini menceritakan tentang pembangunan sebuah taman oleh raja Sriwijaya yang diperuntukan bagi rakyatnya. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa taman itu terletak disebuah tempat yang mempunyi pemandangan indah.

Lahan yang digunakan untuk membuat taman ini berbukit-bukit dan berlembah. Di dasar lembah mengalir sebuah sungai yang menuju Sungai Musi.

Taman itu diberi nama Taman Sriksetra, begitulah yang tercantum dalam prasasti yang ditemukan di Dusun Talang Tuwo, Kecamatan Talang Kelapa, Palembang.

Berikut adalah terjemahan dari Prasasti Talang Tuwo:

Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Sriksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Sri Jayanasa.

Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua mahluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan.

Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka.

Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan rasi menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka.

Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagi pula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga istri mereka bagi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah.

Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan ()… dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu.

Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan.

Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahasattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahma.

Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.”

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti maksud dan tujuan dari dibangunnya Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang. Mungkin pembuatan Taman Sriksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi), sebagaimana tercantum pada prasasti Talang Tuwo, masih merupakan rangkaian manifestasi rasa gembira akibat suksesnya siddhayatra (ekspedisi militer) dua tahun sebelumnya, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Raja Sriwijaya berusaha untuk mensejahtrakan rakyatnya dan menunjukan kebesarana Kerajaan Sriwijaya lewat pembangunan taman ini. Prasasti Talang Tuwo dibuat sebagai pengingat bagi rakayatnya agar tidak lupa kepada rajanya bahwa ia telah berhasil membangun Kerajaan Sriwijaya, dengan bukti pembangunan taman Sriksetra.

Prasasti-prasasti lainnya seperti prasasti Kota Kapur di Bangka, Prasasti Karang Berahi di Merangin, Jambi dan Prasasti Palas Pasemah dari Lampung Selatan. Dalam prasasti-prasasti ini disebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah meminta kepada para Dewa dan makhluk-makhluk penghuni dunia tinggi lainnya agar melindungi kedaulatan Sriwijaya.

Juga ada semacam kutukan yang ditujukan kepada siapa saja yang tidak setia atau berkhianat terhadap raja. Sedangkan bagi mereka yang setia dan patuh, kebahagiaan lah yang akan mereka dapati.

Ada pula pernyataan bahwa Bumi Jawa tidak mau tunduk pada Kerajaan Sriwijaya. Kemungkinan besar, yang dimaksud dengan Bumi Jawa itu adalah Kerajaan Tarumanagara yang terletak Jawa bagian barat dan telah ada sejak abad ke-5 Masehi.

Para pedagang dan peziarah Cina dan India juga banyak berkisah tentang Sriwijaya pada masa awalnya. Bahkan berkat catatan-catatan mereka, beberapa informasi sehubungan dengan Kerajaan Sriwijaya dapat kita ketahui. Dalam Kronik atau Tambo Cina dikatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan wilayah yang sangat penting bagi mereka.

C. Struktur Pemerintahan Sriwijaya

Terdapat tiga bagian pentadbiran di Sriwijaya yaitu pentadbiran diraja tertumpu kepada hal-ihwal raja, bidang kehakiman dan mengutip cukai. Kedua ialah pentadbiran ketenteraan yang diketuai oleh seorang panglima (pratisara) yang menguruskan hal ketenteraan.

Bagian ketiga adalah terdiri daripada pentadbiran daerah yang diketuai oleh ketua wilayah atau datu yang bertanggung jawab atas hal-ihwal tanah dan kebajikan serta kesetiaan rakyat.

Kekuasaan tertinggi di Kerajaan Sriwijaya dipegang oleh raja. Untuk menjadi raja, ada tiga persyaratan yaitu:

  1. Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya.
  2. Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan pada rakyatnya.
  3. Ekachattra; eka berarti satu dan chattra berarti payung. Kata ini bermakna mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya.

Penyamaan raja dengan Dewa Indra menunjukkan bahwa raja di Sriwijaya memiliki kekuasaan yang bersifat transenden. Belum diketahui secara jelas bagaimana struktur pemerintahan di bawah raja. Salah satu pembantunya yang disebut secara jelas hanya senapati yang bertugas sebagai panglima perang.

Dan yang terpenting, prasasti Telaga Batu di Palembang merinci nama jabatan yang hanya mungkin ada di pusat pemerintahan: putra mahkota, selir raja, senapati, hakim, para menteri, sampai pembersih dan pelayan istana.

II. Politik dan Strategi Perluasan Wilayah Kerajaan Sriwijaya

Bukti tentang dilakukannya politik perluasan kekuasaan oleh kerajaan Sriwijaya terdapat dalam Prasasti Kota Kapur. Prasasti ini bisa dihubungkan dengan keberhasilan Kerajaan Sriwijaya menguasai teluk Bangka. Selat Bangka adalah salah satu selat yang dianggap penting untuk jalur pelayaran, maka untuk mendapatkan Selat Bangka ini Kerajaan Sriwijaya harus menundukannya.

Salah satu yang menjadi sumber sejarah untuk mengkaji tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah berita dari Cina (I-Tsing). I-Tsing pernah datang ke Kerajaan Sriwijaya pada tahun 671 dan menetap selama enam bulan di sana untuk belajar bahasa Sansekerta, guna persiapannya ke India. Yang kedua datang lagi pada tahun 688, sepulangnya dari Nalanda (India).

Selama tujuh tahun dia menetap di Sriwijaya. Pada saat menetap di sana, I-Tsing banyak menulis tentang keadaan yang berlangsung di Kerajaan Sriwijaya, dari mulai masalah ekonomi, agama dan politik.

Salah satu yang diungkapkan dalam catatan I-Tsing dan berhubungan dengan masalah politik perluasan wilayah adalah tentang keberadaan kerajaan Melayu. Pada awal kedatangannya tahun 671 kedudukan kerajaan Melayu adalah sebagai kerajaan Merdeka, sedangkan pada kedatangan kedua tahun 688 kerajaan Melayu sudah menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. (Slamet Muljana: 1981, 67).

Catatan yang di buat oleh I-Tsing ini jelas menggambarkan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah berhasil membentangkan sayap kekuasaan ke wilayah kerajaan Melayu. Menurut Slamet Muljana dengan pendudukan kerajaan Melayu, Sriwijaya menerapkan politik perluasan wilayah terhadap Negara tetangganya. Penerapan politik perlusan wilayah ini tidak terlepas dari kekuasaan dan pengamanan kerajaan.

Bukti tentang dilakukannya politik perluasan kekuasaan oleh kerajaan Sriwijaya terdapat dalam Prasasti Kota Kapur. Prasasti Kota Kapur bisa dihubungkan dengan keberhasilan Kerajaan Sriwijaya menguasai teluk Bangka. Selat Bangka adalah salah satu selat yang dianggap penting untuk jalur pelayaran, maka untuk mendapatkan Selat Bangka ini Kerajaan Sriwijaya harus menundukannya.

Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hyang, seorang penguasa dari Sriwijaya. Inilah isi lengkap dari Prasasti Kota Kapur, seperti yang ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Coedes:

Keberhasilan !

Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kadātuan Śrīwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !

Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadātuan ini akan ada orang yang memberon tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;

yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Śrīwijaya, dan biar mereka
dihukum bersama marga dan keluarganya.

Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti meng ganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,
saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk.

Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut
mati kena kutuk.

Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas an dari bencana, kelimpahan segala nya untuk semua negeri mereka !

Tahun Śaka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi jāwa yang tidak takluk kepada Śrīwijaya.

Isi Prasasti Kota Kapur merupakan sebuah kutukan kepada siapa saja yang melakukan perlawanan kepada kerajaan Sriwijaya baik dalam bentuk penyerangan langsung maupun menggunakan ilmu gaib. Melihat isi teks yang berupa kutukan, jelas bahwa daerah ini tidak diperoleh dengan gampang, atau mungkin untuk mendapatkan wilayah selat Bangka tersebut diperoleh dengan cara pertempuran.

Apa yang dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya terhadap wilayah Selat Bangka, jelas merupakan sebuah penguasaan atau perluasan kekuasaan dengan tujuan untuk mendapatkan tempat strategis dalam hal keamanan dan ekonomi. Sebagai selat maka daerah ini berpotensi untuk dijadikan pelabuhan perdagangan maupun untuk pelabuhan keamanan (markas angkatan laut kerajaan Sriwijaya).

Wilayah selanjutnya yang menjadi sasaran perluasan kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan Melayu, berita I-Tsing tentang berubahnya kedudukan kerajaan Melayu dari yang sebelumnya Negara/kerajaan merdeka berubah menjadi di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Dengan pendudukan Melayu, Sriwijaya sepenuhnya menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan Selat Malaka. Melayu tetap berfungsi sebagai pelabuhan, namun statusnya sudah menjadi milik Sriwijaya. (Slamet Muljana, 1981: 69).

Penguasaan untuk wilayah Sumatra terus dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya, hingga akhirnya dia berhasil menguasai perdagangan dengan kuat dan tangguh. Kepuasan kerajaan Sriwijaya untuk berjaya besar tidak sampai di sana, mereka terus melakukan ekspansi keluar pulau Jawa.

Pada tahun 686, Dapunta Hyang melakukan ekspedisi militer ke Bumi Jawa. Keterangan ini di dapat dari prasasti Kota kapur yang ditutup dengan ucapan:

“Tahun saka 608 (686 M) hari pertama bulan terang, bulan Waisaka, itulah waktunya sumpah itu di pahat. Pada waktu itu tentara Sriwijaya berangkat ke Bhumi Jawa, karena (Bhumi Jawa) segan tunduk kepada Sriwijaya.”

Keterangan apa yang ada dalam Prasasti Kota Kapur ini kiranya dapat mengacu kepada Pulau Jawa, seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa yang diduga kerajaan di Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya adalah Kerajaan Tarumanagara asumsi ini berdasarkan kerajaan Tarumanagara memiliki rentang masa yang cuku dekat dengan Kerajaan Sriwijaya.

Tarumanagara sendiri sudah ada sejak pertengahan abad ke lima. Berangkatnya Dapunta Hyang ke Tanah Jawa dan mengarah kepada penaklukan kerajaan Tarumanagara semakin diperkuat dengan penemuan prasasti berbahasa Melayu di Bogor yang berisi sebagai berikut:

“Prasasti ini dimaksud untuk memperingati perintah Rakryan Juru Pengambat pada tahun Saka 854 (926 Masehi) untuk mengembalikan kekuasaan kepada raja Sunda”.

Dari apa yang ada dalam Prasasti Kota Kapur dan dihubungkan dengan prasasti Melayu di Bogor, maka indikasi serangan yang dilakukan kerajaan Sriwijaya ke Pulau Jawa semakin kuat dan berjalan dengan mulus. Dari keterangan Cina, diketahui bahwa Kerajaan Taruma terakhir datang utusan pada tahun 669 Masehi, dan sejak saat itu tidak datang lagi utusan ke Cina.

Sederet cerita perluasan wilayah yang dilakukan kerajaan Sriwijaya di atas, merupakan sebagian kecil dari langkah-langkah yang dilakukan raja-raja Sriwijaya untuk mendapatkan nama besar, harta dan kekuasaan. Untuk mendapatkan semua itu Kerajaan Sriwijaya rela mengorbankan banyak darah, harta dan waktu, sebagai konsekuensi atas apa yang dilakukannya.

III. Kerajaan Sriwijaya; Pusat Ilmu dan Cahaya Buddha di Asia

Menurut seorang penjelajah yang sekaligus pendeta Cina bernama I-T’sing, di Kerajaan Sriwijaya ada seribu orang pendeta agama Buddha, jumlah yang teramat banyak. Ajaran agama Buddha memang berkembang pusat di Sriwijaya. Pusat-pusat agama Buddha pun banyak didirikan. Wihara-wihara suci itulah yang menjadi tempat bagi para biksu dan biksuni yang sedang menuntut ilmu.

Pengembaraan I’Tsing dari cina ini amatlah menarik. Dalam tambo-tambo dan hikayat Cina dikatakan bahwa musafir agama Buddha ini singgah di Kerajaan Sriwijaya dalam perjalanannya ke India. Ia telah tinggal selama enam bulan di Sriwijaya.

Di kerajaan ini I-T’sing memperdalam pengetahuan tata bahasa Sanskerta. Hal ini emang perlu bagi bekalnya kelak di India. Ia pun sempat singgah di Melayu–kerajaan yang ada di bawah pengaruh Sriwijaya saat itu– sebelum bertolak ke India.

Ternyata, orang-orang yang pergi berguru agama buddha makin lama makin banyak di Sriwijaya. Bahkan seolah-olah telah menjadi semacam tradisi bahwa siapa pun yang akan ke India harus terlebih dahulu memperdalam ilmunya di Sriwijaya.

Mengapa Sriwijaya begitu terkenal sebagai pusat ilmu dan agama? hal ini tak lain karena Sriwijaya adalah tempat persinggahan yang paling tepat bagi para peziarah yang akan ke India.

Selain itu, di Sriwijaya mereka tidak melulu belajar agama. Ilmu-ilmu lain seperti ilmu pelayaran, ilmu dagang bahkan bahasa dapat dipelajari di sini. Pantas lah apabila waktu persinggahan mereka yang menimba ilmu di Sriwijaya sedikitnya menetap selama dua tahun.

I-T’sing menyatakan bahwa Raja-raja Sriwijaya amat saleh dan memperhatikan agama Buddha. Raja-raja Sriwijaya adalah kepala negara sekaligus pemimpin dan pelindung agama Buddha.

Ketaatan raja-raja Sriwijaya tercatat pada berita-berita Cina. Sebagai contoh, seorang raja Sriwijaya telah menyumbang perbaikan sebuah kuil di Kanton, Cina.

Raja Balaputradewa, raja Sriwijaya yang terkenal telah datang ke Nalanda untuk memperdalam agama dan pengetahuan Buddha-nya. Belum lagi pendirian biara-biara suci di India Selatan oleh para Raja Sriwijaya yang lain.

Sriwijaya adalah juga pusat studi agama Buddha–mungkin semacam universitas– karena guru-guru besar agama Buddha yang kesohor se-antero dunia ada tujuh orang di Sriwijaya. Diantaranya mahaguru itu, ada seorang yang paling harum namanya, yaitu Sakyakirti.

Pada masa pemerintahan Sri Syudawarmadewa, Sriwijaya telah muncul sebagai pusat pengajaran agamma Buddha bagi negara-negara lain. Seorang pendeta yang berasal dari Tibet bahkan telah datang ke Sriwijaya untuk memperdalam agama pada seorang guru bernama Dharmakirti.

Pendeta Tibet yang bernama Atisa itu, datang pada sekitar tahun 1011 hingga tahun 1023 Masehi. Dharmakirti yang merupakan pendeta tinggi di Sriwijaya saat itu telah dianugerahi sebuah kitab suci dari Sang Raja Dharmapala, pengganti Raja Marawijayatunggawarman.

Anugerah ini seolah-olah merupakan lambang penghargaan tertinggi raja kepada pendeta yang banyak berjasa dalam menyebarkan pengetahuan Buddha.

A. Tentang Buddha Mahayana dan Hinayana Di Sriwijaya

Pada saat itu ada dua aliran yang berkembang, yaitu aliran Hinayana dan Mahayana. Tetapi , aliran Mahayana sepertinya bukanlah aliran yang banyak tersebar di kalangan penduduk Sriwijaya waktu itu.

Berdasarkan sejarah, kita mengetahui bahwa kurang lebih pada abad ke-2 Masehi, agama Buddha terpecah menjadi aliran Mahayana dan Hinayana. Secara sederhana Mahayana berarti kendaraan besar, dan Hinayana kendaraan kecil.

Tentunya makna yang sesungguhnya tidak sesederhana itu. Perbedaan terpenting antara kedua aliran tersebut adalah mengenai; Keanggotaan Sangga, Tujuan Akhir, dan mengenai siapa saja yang dipuja sebagai Dewa.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Sangga yaitu wadah bagi mereka yang dapat mencapai Nirwana, anggotanya bukan hanya terdiri dari Biksu atau Biksuni saja, melainkan terbuka bagi seluruh umat yang menganut agama Buddha. Setiap umat berhak mencapai Nirwana, tergantung usahanya untuk melepaskan diri dari lingkaran Samsara.

Tujuan Akhir dari aliran Mahayana bukan Nirwana bagi diri sendiri melainkan menjadi Buddha, agar dapat membimbing orang lain untuk mencapai Nirwana. Dalam aliran Mahayana tidak hanya Buddha yang dipuja sebagai Dewa, bahkan calon-calon Buddha, yaitu Bodhisatwa dipuja pula sebagai Dewa.

Para Buddha dan Bodhisatwa dibagi lagi menjadi Dhayani Buddha atau Dhyani Bodhisatwa yang bersemayam di surga, dan Manusi Buddha atau Manusi Bodhisatwa yang mengejawantah di dunia ini serta membimbing umatnya.

Manusi Buddha dunia kita sekarang adalah Cakyamuni, yaitu Sidharta yang telah menjadi pendeta sebagai Buddha. Cakyamuni sebenarnya adalah Pancaran dari Dhyani Buddha Gautama (Sidharta) wafat, karena Amithaba tak dapat langsung berhubungan dengan dunia dan umatnya. Maka Amitabha memancarkan wakilnya, ialah Dhyani Bodhisatwa yang disebut Awalokitecwara atau Awalokita.

Dhyani Buddha, Dhyani Bodhisatwa dan Manusi Buddha jumlahnya tak terbatas. Namun yang perlu diketahui misalnya yang sedang berlangsung di dunia sekarang, yaitu yang menempati angin barat ialah Dhyani Buddha: Awalokita, Manusia Buddha: Cakyamuni.

Buddha yang akan datang yaitu menempati mata angin sebelah selatan ialah Dhyani Buddha: Ratna Sambhawa, Dhyani Bodhisatwa: Widwapani dan Manusia Buddha: Maitreya yang sekarang ada di Surga.

Di samping nama-nama tersebut arca-arca Buddha ang sering ditemukan sebagai peninggalan di Nusantara antara lain: Wairocana adalah Dhyani Buddha masa lampau, yang ada di tengah. Wajrapani adalah Dhyani Bodhisattwa sebagai wakil Amitabha di dunia yang berada di timur. Aksobhya adalah Dhani Buddha masa lampau yang ada di utara.

B. Sekilas Tentang Perjalanan I-T’sing

Belum lah lengkap jika dalam membicarakan sejarah Suwarnadwipa pada umumnya dan sejarah Kerajaan Sriwijaya khususnya, kita tidak membicarakan seorang tokoh pendeta Cina yang bernama I-T’sing. Betapa tidak! Segala pengalaman yang dilihatnya mengenai keadaan, kejadian, dan hal-hal lain mengenai Sriwijaya tanpa disadari kini menjadi dokumen yang berharga dan mampu mengungkapkan berbagai fakta sejarah.

Yang juga patut kita hargai adalah bahwa ia mencatat demikian lengkap sampai hal-hal kecil yang mungkin untuk mereka mereka saat itu tidaklah penting. Sebagai contoh, ia mengatakan bahwa di Sriwijaya banyak dijumpai hewan gajah. Hewan ini menjadi alat yang penting bagi kehidupan di Sriwijaya. Hal-hal lain yang seperti inilah yang luput dan jarang diungkapkan oleh pencatat sejarah lainnya.

Kisah pengembaraannya amat lah menarik. Peziarah ini bertolak dari Cina menuju Tanah Suci Hindustan; Dari Timur Ke barat yang merupakan ritual perjalanan suci waktu itu.

Dalam perjalanan yang dimulai tahun 671 masehi ini, ia ternyata harus singgah di Sriwijaya selama enam bulan. Sejak itulah, hal-hal yang dilihat atau disaksikannya selama di Sriwijaya terus mengalir deras dalam catatan atau kisah pengembaraannya.

Selama waktu yang cukup lama ini, I-T’sing ternyata mempelajari dan mendalami seluk-beluk Bahasa sanskerta. Bahasa inilah yang kelak akan digunakan selama di India. Mengapa bahasa ini amat penting?

Hal ini tak lain karena kita-kitab suci agama Buddha menggunakan bahasa yang di Sriwijaya sudah cukup berkembang luas waktu itu. Selain itu, ia pun menyempatkan diri untuk mampir di Melayu–sebuah kerajaan yang sudah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Sriwijaya.

Setelah ia merasakan bahwa ilmu agama yang dipelajarinya selama di Nalanda sudah cukup, pulanglah I-T’sing ke tanah airnya. Dalam perjalanan pulang ini, untuk kedua kalinya ia singgah ke Sriwijaya. Konon peristiwa ini terjadi tahun 685 Masehi.

Sekarang, pekerjaan utamanya adalah menerjemahkan kitab-kitab suci Buddha yang telah ditekuninya.”). Kali ini I-T’sing cukup lama tinggal di Sriwijaya, yakni selam kurang lebih empat tahun lamanya. Setelah itu, ia pun berkeinginan untuk pulang ke Kanton.

Kepergiannya ini ternyata bukan untuk selama-lamanya. Kembalinya I-T’sing ke Cina hanyalah untuk mencari pembantu yang dapat membantu pekerjaan-pekerjaannya selama di Sriwijaya nanti.

Usaha I-T’sing ternyata tidak sia-sia, ia dapat menyusun dan menerbitkan beberapa buku yang cukup terkenal pada zamannya. Diantaranya yang cukup termasyhur adalah buku yang menceritakan mengenai adat-istiadat agama Buddha di India. Yang lainnya adalah mengenai riwayat para peziarah Cina abad ke-7 Masehi.

Demikian lah, Sriwijaya telah muncul sebagai suatu negara yang digambarkan laksana menara ilmu dan budaya Buddha yang senantiasa memancarkan cahaya kemuliaan nan cemerlang bagi masyarakatnya.

IV. Kerajaan Sriwijaya; Bandar Dagang dan Negara Maritim

Selain jalan dagang melewati rute lautan luas, para pedagang Arab, Cina, Parsi dan India sudah lebih dahulu mengenal jalur sutra. Jalan sutera yang melewati darat itu penuh dengan tantangan. Jika mereka memilih jalan darat berarti mereka telah siap untuk menanggung segala bahaya yang tidak sedikit.

Pegunungan Himalaya yang alamnya sama sekali tidak ramah, harus mereka hadapi dengan sabar. Selain itu, gangguan dari penyamun, setiap saat dapat saja menghadang dan merampok barang-barang dagangan mereka yang amat bernilai.

Pilihan lain yang mereka ambil adalah lewat jalur laut. Mungkin badai ataupun hujan deras dapat mengandaskan kapal-kapal mereka. Tetapi dengan perkembangan teknologi perkapalan dan ilmu kelautan, disertai dengan persiapan yang matang, mereka bisa sampai ke tempat tujuan dengan aman.

Rute yang seolah sudah terpatri di kepala orang Asia pada masa itu adalah Cina – Laut Cina Selatan – Selat Malaka – Bandar – Sriwijaya – India – Oman – dan langsung menuju Arab; begitu juga sebaliknya.

Tentu saja hal ini sangat menguntungkan Kerajaan Sriwijaya, terlebih perairan di sebelah tenggara juga merupaka wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Jelas kini, mengapa Kerajaan Sriwijaya terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu penguasa utama jalur perdagangan dari segala jurusan baik lewat utara maupun lewat tenggara (Selat Sunda).

A. Bandar Dagang yang Aman

Bersamaan dengan berkembangnya teknologi dan lalu lintas perdagangan jalur laut, Kerajaan Sriwijaya juga memperkuat armada lautnya. Armada Kerajaan Sriwijaya kabarnya banyak yang ditugaskan untuk mengatasi rintangan yang didalangi para bajak laut.

Perompak-perompak itu dapat terhalau dan kemudian tunduk pada Kerajaan. Bahkan para bajak laut yang sudah takluk itu tidak sedikit yang kemudian bergabungdengan armada Kerajaan. Itulah sebabnya armada Sriwijaya semakin kuat dan mampu menahan berbagai serangan dari dalammaupun yang datang dari luar.

Selain itu armada Kerajaan Srwijaya juga telah berhasil menaklukkan daerah-daerah pelabuhan yang dapat menjadi saingannya dalam penyaluran barang-barang perdagangan.

Pengaruh Kerajaan Sriwijaya tidak sampai di sini saja. Sriwijaya kemudian membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara besar, seperti Cina dan India yang bertujuan melindungi kepentingannya di Asia Tenggara.

Kerajaan Sriwijaya secara ruitn mengirimkan utusan-utusan atau duta mereka ke Cina; dan juga sebaliknya. Ada dugaan bahwa hubungan Sriwijaya dengan Cina bertujuan agar mereka tidak membuka perdagangan secara langsung dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia, dan harus melalui bandar-bandar dagang Sriwijaya terlebih dahulu. Hasilnya memang sungguh besar dan menguntungkan.

Hubungan perdagangan antara Cina dan Sriwijaya makin erat. Para pejabat Sriwijaya yang diutus ke Cina bahkan dapat turut serta menentukan kebijakan perdagangan yang akan dikeluarkan oleh pejabat perdagangan Cina yang berkedudukan di wilayah Kanton. Hal ini mungkin berkembang ketika Cina di bawah kekuasaan Dinasti T’ang

Kegiatan perdagangan yang semakin ramai itu menyebabkan barang-barang dan hasil bumi wilayah Kerajaan Sriwijaya menjadi barang perdagangan yang laku di pasaran dunia.

Barang-barang seperti gading gajah, kulit penyu, emas, dan perak, diburu karena mutunya sudah tidak diragukan lagi di kalangan para pedagang asing. Belum lagi rempah-rempah, damar, dan kemenyan yang sudah lebih dahulu menjadi primadona perdagangan di Nusantara.

Bandar-bandar dagang Sriwijaya tumbuh secara mantap beberapa pedagang yang datang dan pergi dari Sriwijaya, mereka kabarnya sama sekali tidak khawatir dan was-was apabila melewati perairan yang dijaga armada-armada Sriwijaya yang ditugaskan oleh kerajaan.

Semua ini tak lain adalah akibat usaha dari raja Sriwijaya yang berusaha keras melindungi keselamatan dan nyawa para saudagar dan pelaut dari negara-negara sahabat dan penduduk Sriwijaya sendiri.

Dengan perasaan tenang, para saudagar dari seluruh penjuru membawa barang-barang dagangannya ke tempat tujuan. Ramainya pertemuan antara para saudagar dari berbagai negara telah mewarnai hari-hari di wilayah Sriwijaya. Jika waktu bertolak telah tiba, mereka tak lupa memenuhi kapal-kapalnya dengan barang-barang dagangan khas Nusantara dan Sriwijaya untuk dijual ke seluruh bandar dagang di seluruh dunia.

B. Sriwijaya yang Bergelimang Kemewahan

Berkat keuntungan yang menumpuk secara terus menerus inilah, para penguasa Kerajaan Sriwijaya kian hari kian makmur. Menurut legenda yang berasal dari Cina, dikatakan bahwa saking begitu kayanya para penguasa di Kerajaan Shi li fo si —begitu mereka menyebut Sriwijaya— hingga pada tiap hari jadinya, Sang Raja nan Agung itu senantiasa membuang sebungkal emas ke dalam kolam di lingkungan keraton kerajaan.

Berita kekayaan dan hidup yang makmur dari penguasa Sriwijaya bahkan tersebar sampai ke mancanegara. Menurut seorang musafir Arab yang bernama Ibn Rosteh, kekayaan Raja Sriwijaya sangat jauh melebihi kekayaan raja-raja dari Hindustan yang sangat masyhur sekalipun.

Para musafir Arab abad ke-10 yang sering menyebut nama Sarbaza atau Sribuza bagi Sriwijaya, yang menurut mereka merupakan kerajaan terbesar di Zabaj. Dua wilayah yang dapat merujuka Zabaj adalah Jawa dan Jambi. Menurut berita Cina dan berita Arab itu, pusat Sribuza kemungkinan besar terletak di wilayah Palembang.

Dari manakah kekayaan yang begitu banyak itu didapat Kerajaan Sriwijaya? Tentu saja dari pelayanan jasa pelabuhan dan jasa-jasa perniagaan lainnya. Selain itu juga berkat kekayaan alam wilayah Sriwijaya yang sangat makmur.

Yang jelas sebagai bandar dagang yang sibuk, pemasukan bisa berasal dari cukai-cukai yang dipungut dari barang-barang dagangan yang masuk dan pajak-pajak yang ditarik dari bandar-bandar atau pelabuhan cukup banyak untuk menopang kebesaran peradaban Sriwijaya pada masa-masa sesudahnya.

Kekayaan-kekayaan yang demikian besar itu menyebabkan para penguasa dan keluarga bangsawan Sriwijaya hidup bergelimang kemewahan. Dalam catatan-catatan sejarah disebutkan bahwa barang-barang mewah teramat laku di wilayah Sriwijaya. Orang kaya di Sriwijaya begitu menyukai kain-kain yang halus.

Selain itu sutra bermutu tinggi dari Cina dan porselen-porselen yang anggun menjadi bagian dari kehidupan mereka. Apalagi beberapa kerajinan dari logam emas, perak, dan perunggu merupakan perhiasan penting yang melengkapi upacara-upacara keagamaan.

Selain patung-patung, mereka juga amat menyukai harum wangi dari parfum dunia Arab di samping kerajinan-kerajinan halus lainnya. Pada masa Sriwijaya juga masyarakatnya mula menenun kain yang terbuat dari emas (Songket).

Kita telah berbicara mengenai kehidupan perekonomian Kerajaan Sriwijaya dilihat dari segi perdagangan dan wilayah lautnya. Tetapi, bagaimanakah dengan pertanian mereka?

JDapat dikatakan berita-berita mengenai Sriwijaya jarang sekali menyinggung masalah pertanian. Oleh karena itu, boleh jadi pertanian memang kurang berkembang di wilayah Sriwijaya. Hal itu, kemungkinan karena Sriwijaya terlampau memusatkan diri sebagai negara maritim, dengan kata lain Sriwijaya bukan lah negara agraris.

Memang ada prasasti-prasasti yang menyebutkan mengenai perladangan. Tetapi mengenai cara pertanian masyarakat Sriwijaya, hampir tak ada beritanya sama sekali.

V. Meredupnya Kekuasaan Sriwijaya

Sriwijaya, dikenal oleh bangsa Cina sebagai Shi-li-fo-shih, tercatat mengirim dutanya yang terakhir ke Cina pada tahun 742 Masehi, setengah abad kemudian setelah didirikan di Sumatra.

Pada abad berikutnya, tidak ditemukan petunjuk jelas di Sumatra mengenai kegiatan kerajaan ini. Namun kerajaan Sriwijaya tidak hilang. Sebaliknya abad ke-10 mungkin justru merupakan masa paling makmur bagi Sriwijaya.

Pertikaian dengan Jawa berulang kali terjadi selama abad ke-10. Mungkin pertikaian ini timbul karena kedua belah pihak ingin menguasai hasil rempah-rempah dari Indonesia timur. Cina menerima banyak duta dari pra raja Melayu di Sumatra, yang sekarang memakai nama San-fo-shi untuk menyebut Sriwijaya yang telah pulih kekuasaannya.

Namun, kekuasaan ekonomi Sriwijaya akhirnya melemah setelah menerima pukulan-pukulan dari timur dan barat. Pada perempat akhir abad ke-11, pusat politik Sriwijaya diperkirakan berpindah dari Palembang menuju Jambi.