Categories Almanac

Tarumanagara, Salah Satu Kerajaan Tertua di Jawa

Dari bukti-bukti sejarah yang ada kita mengetahui bahwa di bagian barat Pulau Jawa ini terdapat salah satu kerajaan tertua di Pulau Jawa, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang berkembang sekitar abad ke-5 Masehi.

Dari bukti-bukti sejarah yang ada kita mengetahui bahwa di bagian barat Pulau Jawa ini terdapat salah satu kerajaan tertua di Pulau Jawa, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang berkembang sekitar abad ke-5 Masehi.

Tarumanagara dikenal berdasarkan peninggalannya berupa Prasasti—selama ini dikenal ada tujuh prasasti yang dianggap berasal dari masa kerajaan Tarumanagara—yaitu Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebonkopi, Prasasti Jambu (Koleangkak), Prasasti Munjul, Prasasti Muara Cianten, dan Prasasti Pasir Awi.

Kerajaan Tarumanagara berkembang pesat di bawah raja Purnawarman, meliputi seluruh Jawa Barat. Nama raja ini tercatat pada sejumlah prasasti batu. Salah satu di antaranya ditemukan pada batu besar di tengah kali.

Telapak kaki sang raja tercetak pada batu tersebut dan mungkin menunjukan penaklukkan atau pendudukan daerah bersangkutan, tapak kaki juga merupakan lambang para Dewa. Teks prasasti menyebutkan bahwa raja Purnawarman membandingkan tapak kakinya dengan telapak kaki dewa Wisnu.

Sebuah batu yang lain terdapat tapak kaki gajah kerajaan. Prasasti dengan pujian membandingkan tapak kaki gajah dengan tapak kaki Airawata, gajah mitologi tunggangan Dewa Indra, raja para Dewa. Purnawarman terkenal, terutama, karena terusan yang dibangunnya di sebelah timur laut Jakarta yang kemungkinan besar dimaksudkan untuk saluran air di daerah yang sering mengalami banjir.

Sumber-sumber yang berhubungan dengan Kerajaan Tarumanagara ini boleh dikatakan sedikit sekali yang berhasil diketemukan hingga sekarang. Dan mengenai predikat-nya sebagai kerajaan tertua pun, beberapa pihak beranggapan bahwa Kerajaan Salakanagara sebagai pendahulu dari Tarumanagara–walaupun masih perlu banyak pembuktian lagi.

Selain tujuh buah prasasti batu, juga ada berita Cina yang masing-masing berasal dari Fa-hsien tahun 414, Kronik Dinasti Soui dan T’ang, dan penemuan Arca serta Candi.

Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Bangka (Prasasti tentang Sriwijaya) diduga berhubungan dengan Taruma. Juga Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara. Dari seluruh sumber itu pun yang terakhir disebut, merupakan sumber dari abad ke-17 sehingga tidak jarang hanya digunakan sebagai pelengkap dan bukan sumber utama Sejarah kerajaan Tarumanagara.

Berita Cina yang berasal dari masa dinasti Soui mengatakan bahwa pada tahun-tahun 528 Masehi dan 535 Masehi telah datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Demikian pula halnya yang terjadi pada tahun 666 Masehi dan 669 Masehi, berita Dinasti T’ang telah mengatakan datangnya utusan dari negera yang sama.

Menurut berita ini, letak To-lo-mo disebelah tenggara, di antara Tcht e-t’ou dan Tan-tan menuju ke P’o-li. Dari Tan-tan yang letaknya belum diketahui, untuk menuju ke To-lo-mo, orang harus berlayar ke arah timur atau tenggara.

Karena diperkirakan bahwa Tcht e-t’ou adalah lafal Cina dari Patalung, sedangkan P’o-li disesuikan dengan Bali, rupanya dapat dipastikan, bahwa yang dimaksud dengan To-lo-mo adalah sebuah daerah di Jawa barat. Dari peninggalan abad ke-5 Masehi diketahui adanya sebuah Negara bernama Taruma, secara fonetik dapatlah dipertanggungjawabkan, jika yang dimaksud dengan To-lo-mo adalah Taruma.

Prasasti-Prasasti Tarumanagara

Prasasti Ciareuteun (Ciampea, Bogor) yang ditemukan di Sungai Ciareuteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Yang menarik perhatian dari prasasti Ciareuteun ialah lukisan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan di sebelah atas huruf-nya.

Prasasti ini terdiri dari empat baris puisi mengabarkan bahwa dua kaki yang tertera itu adalah kaki Purnawarman, yang seperti kaki dewa Wiṣṇu. Purṇawarman juga dikatakan sebagai raja yang gagah berani dari negeri Taruma.

Prasasti Pasir Koleangkak (Jambu) didapatkan di bukit yang bernama sama, kira-kira 30 km sebelah barat Bogor. Di dalam Prasasti ini selain terdapat telapak kaki, juga diceritakan tentang sifat-sifat dan kemasyhuran Purnawarman saat memerintah kerajaan Tarumanagara, yang Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya. Juga ada informasi tentang baju (zirah-nya) milik raja yang tak tertembus senjata musuh. senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, ia ditakuti lawan dan disegani kawan.

Pada Prasasti Jambu, Purnawarman disamakan dengan Indra yang selain dikenal sebai dewa perang, memiliki pula sifat-sifat sebagai dewa matahari. Dari semua berita itu jelas bahwa kepercayaan di daerah Jawa Barat pada zaman Tarumanagara sangat erat hubungannya dengan kepercayaan Weda.

Prasasti Kebon kopi terletak di kampung Muara Hilir, Cibungbulang. Prasasti ini memperlihatkan dua tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kakgi gajah Airāwata, hewan mitologi tunggangan Dewa Indra.Prasasti ini juga ditulis dalam bentuk puisi anustubh¸ dengan huruf yang lebih kecil bentuknya jika dibandingkan dengan prasasti-prasasti Purnawarman yang lain. Bunyinya sebagai berikut:

Prasasti Tugu yang diketemukan di wilayah Tugu, Jakarta, untuk saat ini menjadi prasasti yang terpanjang dari semua prasasti peninggalan Purnawarman. Seperti juga prasasti lainnya, prasasti ini pun berbentuk puisi, tulisannya dipahatkan secara melingkar”). pada sebuah batu bulat seperti telur.

Ada beberapa hal menarik dari prasasti ini dibandingkan dengan prasasti-prasasti Purnawarman lainnya. Pertama, di dalamnya disebutkan nama dua buah sungai, yaitu sungai Candrabhaga dan Gomati, yang telah menimbulkan pelbagai tafsiran. Kedua, walaupun tidak lengkap, prasasti ini menjadi satu-satunya prasasti Purnawarman yang terdapat unsur pertanggalan.

Ketiga, prasasti ini menyebutkan dilakukannya upacara selamatan oleh brahmana disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan. Keempat, prasasti ini menyebutkan dua buah nama lain di samping Purnawarman, sehingga setidak-tidaknya dapat dipergunakan untuk menentukan siapa sebenarnya Purnawarman.

Prasasti Tugu meski menyebutkan penanggalan, sayang sekali tidak memuat angka tahun yang pasti, hanya menyebutkan Phalguna dan Caitra, yang bertepatan dengan bulan-bulan Februari-April menurut perhitungan tarikh Masehi. Karena di Jawa barat paling lebat turun hujan pada bulan-bulan Januari dan Februari, mungkin dapat diduga, bahwa maksud pembuatan saluran itu tentulah sedikit banyak ada hubungannya dengan usaha mengatasi banjir (luapan sungai).

Prasasti Cidanghiang atau lebak, didapatkan di kampong Lebak, di pinggir Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi dua baris. Hurufnya Pallawa yang dalam beberapa hal mirip dengan huruf pada prasasti tugu. Prasasti ini menceritakan Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian Purnawarman, yang dijuluki sebagai panji dari semua raja.

Prasasti-prasasti Pasir Awi dan Muara Cianten, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca, seperti halnya dengan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun, di sebelah gambar tapak kaki. Oleh karena itu, tidak dapat dibicarakan di sini.

Berdasarkan sebaran tempat-tempat penemuan prasasti dapatlah dipastikan, luas wilayah kerajaan Tarumanagara tersebut meliputi hampir seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat, Provinsi DKI Jakarta, dan provinsi Banten sekarang. Kawasan Situs Batujaya yang terletak di wilayah pantai utara Karawang di daerah dekat muara aliran Citarum, termasuk pula ke dalam wilayah kerajaan Tarumanagara.

Keadaaan Masyarakat Tarumanagara

Berdasarkan bukti-bukti dan sumber-sumber yang terdapat sampai saat ini dapatlah diduga bagaimana kita-kira mata pencaharian penduduk zaman Tarumanagara. Bahwa pada masa itu perburuan, pertambangan, perikanan, dan perniagaan termasuk mata pencaharian penduduk, di samping pertanian, pelayaran, dan peternakan.

Berita tentang perburuan kita peroleh dari berita tentang adanya cula badak dan gading gajah yang diperdagangkan, sementara kita tahu bahwa badak dan gajah adalah binatang liar, dan untuk mendapatkan cula dan gadingnya, terlebih dahulu harus dilakukan perburuan.

Tentang aktivitas perikanan (nelayan) barangkali dapat disimpulkan dari berita yang mengatakan bahwa kulit penyu juga termasuk barang dagangan yang banyak digemari saudagar-saudagar Cina. Kemungkinan akan adanya pertambangan, kita peroleh dari berita tentang perdagangan logam mulia emas dan perak, dengan sendirinya tidak usah disangsikan lagi bahwa perniagaan juga merupakan salah satu mata pencaharian penduduk.

Sementara itu, kemungkinan tentang adanya pertanian dan peternakan sebagai mata pencaharian, dapat kita peroleh berdasarkan sumber-sumber prasasti, terutama Prasasti Tugu yang terlengkap dari semuanya itu.

Pada prasasti ini disebutkan usaha pembuatan saluran yang dilakukan pada tahun kedua puluh dua pemerintahan raja Purnawarman, dan di antara kegunaannya tidak pula mustahil dimaksudkan sebagai usaha untuk mengatasi banjir yang masuk ke daerah pertanian di sekitar itu, atau bisa jadi sebagai bagian dari rencana irigasi. Juga ditemukan beberapa alat terbuat dari batu yang erat sekali hubungannya dengan usaha pertanian dan perladangan.

Selama ini terdapat anggapan, khususnya di kalangan para sejarawan dan budayawan Jawa Barat, bahwa masyarakat Sunda Kuna adalah masyarakat petani ladang dan bukan masyarakat petani sawah. Anggapan ini perlu ditinjau kembali, mengingat kepada keadaan lingkungan ekologinya.

Untuk daerah-daerah di pedalaman yang bergunung atau di daerah perbukitan mungkin sekali penanaman padi dengan sistem ladang (dry-rice cultivation) merupakan sistem yang tepat sesuai kondisi lingkungannya, akan tetapi untuk daerah-daerah seperti pantai utara yang landai dengan banyak sungai-sungai mengalir ke arah Laut Jawa, sistem pertanian sawah dengan pengairan (wet-rice cultivation) merupakan sistem yang ideal.

Di dalam naskah Sunda Kuna, Sanhyan Siksa Kanda-n Karesian, yang ditulis pada tahun 1440 Saka (1518 Masehi), dengan jelas disebutkan bahwa pada zaman Sunda Kuno selain ada huma (pertanian ladang) juga sudah ada sawah dan sawah agӧn (sawah yang luas). Bahkan, dalam pengelompokan masyarakat dengan jelas pula disebutkan adanya kelompok pahuma (peladang) dan paῆawah (penyawah).

Jika sistem persawahan dihubungkan dengan informasi yang tersirat dalam Prasasti Tugu dari Raja Purnawarman, yang menyebutkan pembuatan dua buah saluran air (kanal) Candrabhaga dan Gomati. Menurut Setten van der Meer kanal-kanal yang disebutkan dalam prasasti Tugu itu dibangun oleh Raja Purnawarman untuk keperluan irigasi

Pengamatan awal yang dilakukan oleh Hasan Djafar (2010) mengindentifikasi bahwa kulit padi yang digunakan sebagai temper pada bata percandian dari situs Batujaya dan Cibuaya merupaka jenis padi sawah.

Tentang usaha peternakan, berita prasasti tugu tentang penghadiahan seribu ekor sapi kepada para Brahmana, sedikitnya dapat menujukan ada usaha peternakan yang memungkinkan hal itu terlaksana. Di samping itu, tidak mustahil upacara selamatan dengan menghadiahkan seribu ekor sapi itu hanya merupakan nama salah satu upacara keagamaan dengan tata cara tertentu.

Mengenai pelayaran, barangkali ini tidak usah disangsikan lagi, walau bagaimana pun, keadaan lingkungan Tarumanagara bukannya tidak memberikan kemungkinan akan adanya keterampilan penduduknya di bidang ini. Di samping itu, juga tidak mustahil bahwa para pedagang melakukan pelayaran sendiri ke daerah-daerah luar wilayahnya. Hal ini dimungkinkan juga karena letak Tarumanagara yang cukup strategis, di jalan niaga Nusantara.

Berdasarkan sumber-sumber yang sangat tidak lengkap itu, dapat diperkirakan golongan-golongan masyarakat yang ada pada masa itu, ialah kaum tani, pemburu, pedagang, pelaut, penangkap ikan, dan peternak. Walaupun demikian, tidak dapat dipastikan, bagaimana pembagian kerja itu dilakukan dan mungkin masih terdapat banyak jenis pekerjaan lainnya.

Dari berita Cina dapat diketahui bahwa orang-orang pada masa itu mempunyai kepandaian membuat minuman keras, mungkin yang dimaksud sejenis tuak. Mengenai makanan utama, sudah dapat dipastikan bahwa yang menjadi makanan utama pada waktu itu adalah beras (nasi). Di samping padi, pasti dimakan pula jenis-jenis buah-buahan dan tanaman yang lain, serta daging hewan.

Sementara itu, ditinjau dari segi budaya, setidak-tidaknya ada dua golongan dalam masyarakat itu, ialah golongan masyarakat yang berbudaya berlatar belakang agama Hindu dan golongan masyarakat yang beragama asli.

Mengingat bahwa pada waktu itu pengaruh India boleh dikatakan ada pada taraf penyebarannya, dapatlah dikatakan bahwa golongan yang pertama itu terbatas pada lingkungan keraton saja, sedangkan golongan yang kedua meliputi bagian terbesar penduduk Tarumanagara. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, kedua golongan itu tidak saling terpisah, malahan dalam beberapa hal mereka dapat bekerja sama.

Berdasarkan temuan prasasti, kita hanya mengetahui adanya huruf Pallawa dan bahwa Sanskerta pada masa itu, untunglah berita Cina sedikit banyak memberikan pertolongan, mereka menyebut adanya suatu bahasa dengan nama K’un-lun, yang dipergunakan baik di Jawa maupun di Sumatra. Jadi, K’un-lun adalah nama umum yang diberikan orang Cina untuk menyebut bahasa yang dipergunakan di pelbagai tempat di Indonesia, yaitu suatu bahasa Indonesia yang tercampur dengan kata-kata Sanskerta.

Tentang Kepercayaan Penduduk Tarumanagara

Berdasarkan prasasti yang ditulis dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta dapatlah diketahui bahwa agama resmi pada masa awal Kerajaan Taruma –setidaknya yang dianut oleh rajanya–adalah agama Weda. Agama Weda pada mulanya adalah agama orang Arya, yang bersifat kat-henotheisme, yaitu agama yang dewa tertingginya berganti-ganti sesuai dengan kepentingan pemujaan.

Raja Purnawarman adalah penganut agama Weda yang memuja Wisnu sebagai dewa tertingginya. Mengenai perkembangan agama Weda pada masa awal Tarumanagara, seperti halnya juga di Kutai pada masa Raja Mulawarman.

Temuan inskripsi ayat suci agama Buddha di kompleks percandian Batujaya dapat dijadikan bukti bahwa agama Buddha telah berkembang pula di Tarumanagara. Dalam sebuah sumber tertulis Tiongkok dari abad ke-5, yaitu kita Fo-kuo (Fo-kwo-ki) yang berisi catatan perjalanan yang ditulis oleh seorang pendeta Tionghoa Fa-Hsien (Fa Xian) pada tahun 414 Masehi, terdapat pula indikasi adanya agama Buddha di wilayah Tarumanagara walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit pemeluk agama Buddha.

Berlainan dengan berita-berita Cina di atas yang terutama mengabarkan hubungan diplomatik, berita Fa-Hsien sangat penting untuk menyelidiki kehidupan keagamaan zaman Tarumanagara. Fa-Hsien mengatakan bahwa di Ye-po-ti sedikit sekali dijumpai orang yang beragama Buddha, tetapi banyak dijumpai orang-orang Brahmana dan mereka yang agamanya kotor.

Dari berita Fa-Hsien jelas bahwa pada awal abad ke-5 Masehi, di Taruma terdapat tiga macam agama, yaitu Buddha, Hindu dan agama yang “kotor”. Agama Hindu paling banyak diketahui karena diperkuat pula oleh bukti-bukti prasasti dan arca.

Apa yang kita ketahui tentang agama Buddha di Tarumanagara, sama sekali terbatas pada berita Fa-Hsien, yang mengatakan bahwa pada waktu itu di sana hanya sedikit ditemui orang-orang yang beragama Buddha seperti Fa-Hsien sendiri. Yang cukup menarik untuk diungkapkan ialah berita Fa-shien tentang agama “kotor” yang telah menimbulkan pertentangan di antara para sarjana.

Ada yang berpendapat bahwa yang disebut sebagai agama kotor itu ialah agama Siwa Pasupata, berdasarkan berita yang berasal dari seorang Cina bernama Huen-Tsang (abad 8 Masehi), yang mengatakan adanya kaum brahmana dan pemeluk palsu. Karena yang dimaksudkan oleh Huen-Tsang di India adalah agama Siwa Pasupata, pendapat pertama ini beranggapan bahwa agama itulah yang tersebar di Tarumanagara.

Sementara itu, ada pula pendapat yang menghubungkan agama kotor itu dengan agama orang Parsi (Majusi), yang mengenal upacara penguburan dengan menempatkan jenazah demikian saja di dalam hutan. Dengan ditunjang pendapat bahwa Ye-po-ti sebagaimana diberitakan oleh Fa-hsien itu sebenarnya tidak terletak di Jawa, tetapi di Kamboja, akhirnya pendapat ini sampai pada kesimpulan seperti itu.

Barangkali akan lebih dapat diterima jika agama kotor itu ditafsirkan sebagai agama yang sudah lama ada sebelum masuknya pengaruh India ke Nusantara. Oleh karena “agama” ini melakukan upacara-upacara yang berbeda dengan agama yang dikenal Fa-Hsien (Buddha dan Hindu)

Tidak mustahil jika disimpulkan, bahwa penamaan agama kotor itu pada dasarnya disebabkan ketidaktahuan Fa-Hsien akan sistem dan kehidupan keagamaan asli Nusantara pada masa itu, yang dapat dipastikan masih dianut oleh bagian terbesar penduduk Tarumanagara.

Penggalian-penggalian prasejarah yang dilakukan di daerah Pasirangin (Bogor) lebih menunjang pendapat ini karena berdasarkan dugaan sementara dapat diketahui bahwa tradisi prasejarah (asli) di daerah tersebut yang diperkirakan menjadi pusat kerajaan Tarumanagara, masih berlangsung sampai menjelang abad 10 Masehi.