Categories Almanac

Ternate, Penguasa Maluku abad ke-16 Masehi

Dalam catatan orang-orang Eropa mengenai Ternate pada dasawarsa awal abad ke-16, Ternate disebut sebagai Kolano Maluku, “Penguasa Maluku”. Julukan ini jelas menyatakan bahwa Ternate pada waktu itu menjadi pusat politik yang berpengaruh di kawasan kepulauan rempah.

Dalam catatan orang-orang Eropa mengenai Ternate pada dasawarsa awal abad ke-16, Ternate disebut sebagai Kolano Maluku, “Penguasa Maluku”. Julukan ini jelas menyatakan bahwa wilayah tersebut pada waktu itu menjadi pusat politik yang berpengaruh di kawasan kepulauan rempah.

Sebelum agama Islam berkembang, orang-orang Ternate terbagi atas empat kelompok, yaitu: Tubo dari puncak gunung Gamalama, Tobona dari daratan tinggi Faramadiyahi, Tabanga dari daerah hutan, dan Toboleu dari daerah pesisir pantai.

Empat kelompok ini kemudian bersatu dalam konfederasi yang dipimpin oleh seorang Kolano. Kolano pertama dari Ternate adalah Cico Baiguna alias Baab Mashur Malamo dari Foramadiyahi yang berkuasa hingga 1272. Ini menandakan bahwa sejak 1257 telah terdapat sebuah pusat pemerintahan yang berada di Sampalo.

Selepas Masyhur Malamo, kemudian Ternate secara berturut-turut dipimpin oleh Kaicil Yamin (1272-1284), Kaicil Siale (1284-1298), Kaicil Kamalu (1298-1304), dan Ngara Lamo (1304-1317).

Kekuasaan politik yang telah berlangsung dari abad ke-13 ini kemudian menjadi kesultanan dengan rajanya yang pertama bernama Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin konon merupakan murid Sunan Giri salah satu Wali tanah Jawa yang berkedudukan di Demak.

Nama Ternate mengikuti nama ibu kotanya. Kata “Ternate” menurut sebagian pendapat berasal dari kata “tara no ate”, yang berarti turun ke bawah. Sebagai bandar dagang, wilayah ini menikmati masa gemilangnya di paruh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah yang juga didukung oleh kekuatan militer yang handal. Di masa jayanya itu Ternate dan Tidore berhasil meluaskan pengaruhnya hingga ke seluruh wilayah yang terbentang antara Sulawesi dan Papua.

Ternate yang lebih berekspansi ke bagian barat dan selatan. Ke wilayah selatan kekuasaannya Ternate diakui hingga ke pesisir Timur Sulawesi, termasuk kepulauan Banggai dan Sula. Kemungkinan besar pulau Buton juga termasuk dalam wilayah kekuasaan Ternate.

Ke bagian selatan, Ternate meluaskan pengaruhnya hingga ke wilayah Seram Barat (jazirah Hoamoal) hingga kepulauan Ambon. Juga tercatat bagian selatan dari kepulauan Filipina hingga Kepulauan Marshall di wilayah Pasifik berada di bawah pengaruh Ternate.

Tidore berekspansi ke wilayah Timur dan Selatan pula. Ke Timur kekuasaannya mencakup wilayah Papua. Ke Selatan kekuasaannya mencakup daerah-daerah pesisir Utara di pulau Seram dan kepulauan Gorong.

Peranan Ternate (dan Tidore) sebagai bandar dagang bagaimanapun dengan sendirinya terkait dengan kekuatan yang berhubungan dengan ekspansi. Tanpa adanya sumber daya militer yang memadai tidak mungkin kekuasaan-kekuasaan politik itu berhasil mengadakan ekspansi politik dan berhasil menjaga kestabilan bandar-bandar dagang mereka.

Bandar Dagang dan Pusat Perdagangan Rempah

Maluku dalam sejarahnya merupakan wilayah penghasil rempah-rempah yang sangat terkenal di dunia. Komoditi ini lah yang menarik para saudagar dari berbagai pelosok bumi datang ke Nusantara. Para pedagang itu membawa barang-barangnya untuk dijual di bandar-bandar dagang saat perjalanannya ke Nusantara dan mereka akan mengisi muatan kapalnya dengan rempah-rempah jika waktunya untuk pulang.

Menjelang abad- ke-16, Maluku mulai berubah dari satu di antara sejumlah kepulauan —yang diberkahi dan sekaligus “dikutuk”—oleh pohon cengkih dan pala yang menjadi kekuatan dalam perdagangan rempah. Keunggulan ini melalui proses yang seperti gabungan misteri dan histori yang juga terjadi di pulau-pulau lain. Konon, desa asli terletak di puncak gunung dan lama-kelamaan bergeser ke bawah mendekati laut mengikuti hingar-bingar arus dagang internasional.

Dengan kedatangan agama Islam di akhir abad ke-15, dan disusul Portugis di awal abad ke-16, Ternate menjadi pusat utama perdagangan cengkih yang memperkuat kedudukan politik raja, istana, dan seluruh wilayah kerajaan hingga membantu Ternate menjadi kekuatan yang menguasai kawasan.

Ternate–dan juga Tidore–muncul sebagai bandar dagang sejak akhir abad ke-15. Namun Islam di Maluku, seperti halnya di wilayah Nusantara, sepertinya tidak terkait secara langsung dengan jaringan-jaringan perdagangan yang telah jauh muncul di Samudra Hindia sebelum abad ke-10 itu.

Ternate sebagai bandar dagang memiliki kaitan erat dengan interaksi jalur darat (jalur sutra) dan jalur laut. Hubungan tidak langsung dengan Cina misalnya memungkinkan Cengkih dikenal di Cina pada abad ke-3 Sebelum Masehi. Di Eropa, cengkih sudah dikenal dejak pada abad ke-4.

Bahkan istilah cengkih sendiri konon berasal dari bahasa Cina yang kurang lebih berarti paku. Dari kata zhi jia dalam bahasa Mandarin dan dalam dialek Kanton adalah zhenga. Istilah cengkeh kemudian mulai umum digunakan sejak awal abad ke-16. Akan tetapi bagaimanapun, cengkih merupakan tanaman endemik yang hanya ada di Maluku.

Hubungan langsung yang sangat penting dengan Cina-Maluku sepertinya tidak lah berlangsung lama. Menurut kronik sejarah Cina (catatan Wang Tayuan, 1349) hubungan perdagangan antara Cina dan Maluku intensitasnya mulai berkurang memasuki pertengahan abad ke-14.

Namun dalam masa itu, bukan hanya orang-orang Maluku dan Cina saja yang menyadari nilai ekonomi dari cengkih. Sejak para pedagang dari Cina tidak muncul lagi di Maluku, peranan mereka nyatanya digantikan oleh orang-orang dari Sumatra, Jawa, dan Makasar yang menjadi penyalur penting dari perdagangan rempah-rempah dari dan ke luar wilayah Maluku.

Sebelumnya dalam masa Sriwijaya, rempah-rempah dari Maluku memungkinkan telah dialirkan melalui kerajaan di Sumatra itu melalui perdagangan dengan kerajaan Bacan. Perdagangan antara wilayah Maluku dan Jawa mungkin telah berkembang sejak abad ke-10. Melalui kota-kota pelabuhan di Sumatra dan Jawa rempah-rempah dari Maluku disalurkan ke India oleh para pedagang Gujarat.

Sultan Babullah dan Puncak Keemasan Ternate

Awal hubungan antara Ternate dan Portugis berlangsung damai karena masing-masing melihat kerja sama yang saling menguntungkan. Lambat laun, keinginan Portugis memonopoli perdagangan rempah telah menimbulkan pertikaian dengan Ternate. Portugis melakukan beberapa tindakan yang tidak masuk akal, seperti memenjarakan beberapa penguasa setempat dan menghina para bangsawan serta pemimpin agama.

Raja Ternate, Sultan Khairun (1550-1570) dihukum pancung di depan rakyatnya pada tahun 1560 ketika diajak berunding. Anakna, Babullah, sangat dendam tehadap Portugis atas kejadian ini. Setelah Sultan Khairun mangkat, kemudian ia digantikan oleh Sultan Babullah.

Pada masa pemerintahan Babullah konon hubungan Ternate-Tidore sudah membaik. Bersama bantuan dari Sultan Tidore, kemudian kerajaan Ternate di bawah Sultan Baabullah menjadi rival terberat bagi Portugis.

Armada Maluku yang terkenal perkasa, ditambah kapal-kapal yang didatangkan dari galangan-galanagan kapal Jawa (Jepara), Buton, Melayu, Makasar, membuat armada Portugis kewalahan. Akhirnya benteng Fort Tolocce, Santo Lucia Fortress, dan Santo Pedro, berhasil diduduki oleh laskar Ternate. Akhirnya, di bawah pimpinan Sultan Babullah (1570-1583), Ternate berhasil mengusir mereka dari pulau itu pada tahun 1575.

Kemenangan Babullah terhadap orang-orang Eropa itu dibantu oleh para ulama Islam, dan kekuasaannya menandakan pengaruh Islam yang lebih kuat di istana dibanding sebelumnya, Saat itu juga merupakan masa Ternate memperluas wilayah ke laut daerah sejauh Sulawesi utara, Salayar, Butung, dan Saparua.

Sementara itu di Eropa, takhta Portugis dan Spanyol digabung pada tahun 1580 yang berpengaruh langsung untuk masalah Maluku. Portugis yang awalnya menjadikan Ternate sebagai sekutunya.

Sementara Spanyol memilih bersekutu dengan Tidore. Meskipun Portugis berusaha memperoleh kembali kedudukan mereka dengan bantuan Tidore, pulau tetangga dengan hubungan “mendua” terhadap Ternate, mereka nyatanya tidak berhasil.

Pengganti pusat kekuasaan Portugis di Asia berada jauh di Goa, pantai barat India dipindahkan ke Manila-Spanyol. Dari Manila, satu ekspedisi kuat Spanyol tiba di Ternate pada tahun 1606, menaklukkan kerajaan Ternate dan membawa raja, serta putra Mahkota, dan para bangsawan sebagai tawanan ke Filipina.

Spanyol meninggalkan pasukan kuat untuk menjaga dan menjadikan pulau ini sebagai markas terjauh Spanyol di Asia sampai mereka mundur sepenuhnya dari Ternate sesudah tahun 1663.

Kolonial Belanda di Ternate

Peran Ternate sebagai bandar dagang berakhir sejak awal abad ke-17. Sejak itu Maluku Utara beralih ke suatu sistem perdagangan lain yang berasal dari orang-orang Barat yang dimotori VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) milik Belanda.

Berawal dari upaya pembesar Maluku untuk membendung ekspansi Spanyol yang membangun basis kekuatan baru dari Manila, maka sejak tahun 1606 VOC secara berangsur-angsur telah membangun benteng-benteng pengaruhnya di kerajaan itu. Sebagai imbalan-nya, VOC kemudian mendapat hak untuk mendistribusikan rempah-rempah dari wilayah kerajaan Ternate.

Belanda pertama kali datang ke Maluku tahun 1599, tetapi mereka baru memantapkan kehadiran secara tetap tahun 1607 di bagian timur Ternate. Baik Belanda maupun Spanyol tidak berhasil mengungguli satu sama lain dalam hal kekuatan dan menghasilkan modus vivendi yang mengkhawatirkan.

Beberapa tahun kemudian VOC menjadi semakin berkuasa di Nusantara setelah pembentukan-nya di Batavia tahun 1619 yang menjadi kantor pusat di Asia. Sampai saat pengunduran diri, Spanyol tidak berusaha lebih lama bersaing untuk memperoleh cengkih dan bertahan atas kebaikan para gubernur Belanda.

Semula hubungan Ternate-VOC ramah arena keduanya melihat ada itikad untuk menjaga persahabatan untuk menghadapi musuh bersama, Spanyol. Seperti Portugis abad ke-16, Belanda mulai mencampuri masalah Ternate, terutama yang berhubungan dengan perdagangan rempah.

Belanda, seperti Portugis, berusaha menjalankan monopoli perdagangan rempah. Ketika terang-terangan melakukan pengawasan perairan untuk mencegah “penyelundupan” rempah, VOC bahkan mengambil tindakan yang mengherankan dalam usaha mengendalikan hasil dengan mencabuti seluruh pohon cengkih kecuali yang tumbuh di Ambon dan Banda.

Kebijakan extirpatie (Pemusnahan) diberlakukan tahun 1652, termasuk pemberian imbalan terhadap penguasa dan pegawai tinggi istana atas hak menghancurkan seluruh pohon rempah.

Kebijakan extirpatie tentu saja berpengaruh juga di Ternate, Raja dan pegawai tinggi istana mendapat tambahan kekayaan dan kekuatan sebagai hasil imbalan, yang digunakan untuk menambah dan memelihara pengikut.

Sebaliknya, sebagian kecil bangsawan dan petinggi kehilangan sumber utama, dan tergantung pada hadiah dari istana. Dengan VOC sebagai sumber menyumbang dana terbesar, politik istana berkembang menjadi kisah tipu-daya dengan tujuan mengambil hati Belanda. Keadaan ini menumbuhkan kekesalan dan perpecahan di kerajaan.

Tahun 1679-1681 Sultan memimpin rakyatnya memerangi Belanda tetapi usaha itu gagal. Dalam perjanjian yang ditandatangani di Batavia (1683), Ternate kemudian menjadi bawahan (leen) VOC, dan Belanda secara terang-terangan tidak menjamin takhta tetap di tangan keluarga raja saa itu. Para pemimpin yang berutang budi pada VOC, perlahan namun pasti menyesal atas kedudukan mereka.

Para penguasa Maluku tetap berhak mengatur wilayah mereka, tetapi atas nama Kompeni. Juga dinyatakan bahwa Ternate harus memelihara peraturan di seluruh pulau, termasuk daerah yang tidak pernah di bawah kekuasaan Ternate.

Dalam ketetapan ini kabar baiknya adalah Ternate dijadikan penguasa kerajaan yang lebih luas dari sebelumnya. Syarat ini bahwa Ternate harus mempertahankan peraturan dalam wilayah luar untuk meningkatkan orang Maluku masuk ke dalam batas, mengakibatkan seringnya pertikaian, dan akhirnya campur tangan militer Belanda.

Pada akhir abad ke-17 dan sepanjang abad ke-18, VOC datang dengan pengaruh lebih kuat ke istana. Perjanjian tahun 1683 memberi Belanda hak pemindahan batas kerajaan ke keluarga bangsawan, dengan demikian membuat penguasa ingin menujukan kesetiaan terhadap Belanda.

Di samping itu, sebagaimana kompeni membutuhkan bukti keberhasilan pemusnahan pohon rempah, istana Ternate mempercayakan kekuasaan pada bantuan Belanda.

Anggapan Maluku atas “kepasrahan” Ternate terhadap Belanda menimbulkan dukungan pangeran Nuku dari Tidore memimpin keberhasilan memerangi Belanda sejak tahun 1780. Dalam peperangan yang cukup lama ini Pangeran Nuku juga mendapat dukungan dari rakyat Ternate yang meninggalkan raja mereka.

Pada akhir abad ke-18, keberadaan VOC mulai pudar, Pangeran Nuku menjadi pemimpin tunggal Maluku dengan bantuan Inggris dan Ternate yang untuk sementara tunduk pada Tidore. Ternate bangkit dan memperoleh kedudukan kembali di Maluku dengan kembalinya Belanda pada tahun 1802.