Categories Almanac Tags ,

Gereja Tertua di daerah Tropis di Pulau Cidade Velha

Para arkeolog telah menemukan reruntuhan Gereja berumur 500 tahun yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-15 di pulau Cidade Velha, di lepas pantai Afrika Barat. Gereja yang dibangun oleh penjajah Portugis ini disebut-sebut sebagai gereja Kristen Eropa tertua di daerah tropis. Diberitakan Foxnews (20/11), arkeolog Universitas Cambridge telah meneliti reruntuhan gereja yang mungkin menjadi penggalian … Read more

Para arkeolog telah menemukan reruntuhan Gereja berumur 500 tahun yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-15 di pulau Cidade Velha, di lepas pantai Afrika Barat. Gereja yang dibangun oleh penjajah Portugis ini disebut-sebut sebagai gereja Kristen Eropa tertua di daerah tropis.

Diberitakan Foxnews (20/11), arkeolog Universitas Cambridge telah meneliti reruntuhan gereja yang mungkin menjadi penggalian besar pertama di Cape Verde.

Christopher Evans, direktur Unit Arkeologi Cambridge berpikir tentang kemungkinan gereja tersebut yang dikunjungi dan dijelaskan Charles Darwin selama perjalanan panjang kapal HMS Beagle.

Untuk kota yang dibangun berlandas pada perdagangan budak, Cidade Velha memiliki banyak gereja Kristen. Bangunan yang baru terungkap, mungkin bisa menampung sekitar 75 orang, dan ini hanya salah satu dari sekitar dua lusin gereja dan kapel di Cidade Velha, kata Evans.

“Agama adalah bagian integral dari awal kolonialisme Portugis,” ungkap Evans kepada Live Science. “Orang-orang berlomba membangun gereja dan mereka juga mendapat perintah memegang kedudukan di awal abad ke-16, dan Cidade Velha menjadi kursi keuskupan Afrika pertama.”

Budak tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan beragama di Cape Verde. Analisis isotop gigi dari mereka yang terkubur di bawah gereja tersebut menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang Afrika, dan kemungkinan budak.

“Fakta bahwa mereka mendapatkan pemakaman di gereja bisa menjadi bukti bahwa mereka masuk agama Kristen” kata Evans. Penyelidikan lebih lanjut dari tulang bisa mengungkap kondisi kerja dan membuka tabir perbudakan dalam konteks abad pertengahan akhir.

“Penjajah yang menghuni pulau ini tidak memiliki pengetahuan tentang lingkungan setempat, dan mereka membuat beberapa kesalahan kritis ketika membangun gereja. Pertama, gereja dibangun di atas aliran musiman.”

“Kedua, gereja itu terletak di tikungan sungai. Faktor-faktor ini membuat bangunan rentan terhadap banjir bandang, dan gereja harus dibangun kembali dua kali pada abad 16 dan 17.”

“Alih-alih menjadi gereja dengan proporsional yang sesuai, gereja ini menjadi agak gemuk,” ungkap Evans. “Ini adalah refleksi bahwa mereka tidak memahami lanskap.”

Serangan bajak laut akhirnya menyebabkan kejatuhan Cidade Velha pada abad ke-18, namun gereja tersebut kemungkinan hancur karena banjir.

“Semua orang menganggap keruntuhan Cidade Velha disebabkan oleh bajak laut,” kata Evans.

“Dalam kasus gereja ini, sebenarnya disebabkan oleh alam.” Pungkasnya.