Categories Almanac

Hayao Miyazaki dan Karya-karya Terbaik Studio Ghibli

Studio Ghibli dicintai di seluruh dunia karena memproduksi film animasi yang luar biasa. Film-film yang berhasil memikat puluhan juta orang, menantang imajinasi, menjadi inspirasi, dan memenangkan Oscar. Namun, di jantung

Studio Ghibli dicintai di seluruh dunia karena memproduksi film animasi yang luar biasa. Film-film yang berhasil memikat puluhan juta orang, menantang imajinasi, menjadi inspirasi, dan memenangkan Oscar. Namun, di jantung nama besar Studio Ghibli ada satu orang yang begitu dipuja dan telah menjadi legenda, dialah Hayao Miyazaki

Film-film karya Hayao Miyazaki—selama lebih dari 30 tahun—memiliki sentuhan khas, baik dari plot yang menarik, karakter yang menawan, animasi yang indah, dan dicintai karena imajinasi-nya yang jenius. Dia kini, sayangnya, memutuskan untuk pensiun

Bagi yang belum mendengar tentang film-film Studio Ghibli terutama karya Hayao Miyazaki atau orang tua yang ingin menginspirasi anak-anak mereka, berikut ini adalah 10 film terbaik Miyazaki yang akan meninggalkan kesan pada siapa saja yang menontonnya.

Nausicaä of the Valley of the Wind (1984)

Animasi yang diadaptasi berdasarkan Manga yang dibuat Miyazaki dari tahun 1982. “Nausicaä of the Valley of the Wind“, mengangkat kisah seorang protagonis, putri muda yang berjuang untuk memulihkan ketertiban di lingkungannya. Sentimen lingkungan dan anti-perang sangat terasa dalam film ini. Mulai dari tempat yang damai kemudian meningkat ke klimaks yang benar-benar epik

Secara teknis, Nausicaä yang didasarkan pada dua jilid pertama dari tujuh jilid cerita pada versi Manga ini memang bukan film dari studio Ghibli. Produksi dan rilisnya pada tahun 1984 mendahului pendirian studio, setahun. Tapi hampir semua orang penting yang bekerja pada film ini kemudian tergabung dengan Studio Ghibli.

Ponyo (2008)

“Ponyo” bisa dibilang merupakan film karya Miyazaki yang paling sadar lingkungan. Hayao Miyazaki seolah terang-terangan menyisipkan kritik sosial mengenai krisis lingkungan laut. Visual dan karakter ceritanya sangat cocok untuk anak-anak dan memiliki pesona yang mendalam hingga cukup menyentuh bagi orang dewasa

Ponyo menawarkan beberapa elemen cerita yang menggambarkan bagaimana Miyazaki memadukan mitologi dengan kehidupan maritim masyarakat Jepang

Alur ceritanya berpusat pada kehidupan seorang putri ikan yang ingin melihat kehidupan lain di atas laut. Putri ikan itu kemudian terlibat pertemanan “polos” khas anak kecil dengan seorang bocah laki-laki hingga ia mencintai dirinya menjadi manusia.

The Wind Rises (2013)

Film “terakhir” Hayao Miyazaki, “The Wind Rises” sangat berfokus pada daya tarik dunia penerbangan. Dari segi cerita, film animasi ini merupakan salah satu cerita yang cukup “pedih”. Banyak hal yang coba diangkat; cinta, kehidupan, penerbangan, muda-tua, penuaan, kehilangan, lingkungan dan balutan humanisme khas ala Miyazaki

Film Miyazaki selalu dapat dinikmati oleh penonton dari segala usia, “The Wind Rises” sepertinya menyajikan porsi yang lebih besar untuk penonton dewasa. Meskipun ter-inspirasi oleh kehidupan perang dunia kedua, film ini justru lebih banyak bermain keluar dari kanvas sejarah. Beberapa pihak justru beranggapan film ini menggambarkan resepsi dan kritis kontroversial.

Porco Rosso (1992)

Film ini sering dilupakan dan tersembunyi di balik film-film megah Miyazaki lainnya. Tapi bagi penggemar Miyazaki, “Porco Rosso” yang rilis pada tahun 1992 ini justru salah satu karyanya yang dianggap fantastis. Beberapa bahkan berpendapat “Porco Rosso” jauh lebih baik dalam menggambarkan kisah perang dan pesawat terbang dibanding “The Wind Rises”

Karakter utama Porco Rosso yang entah bagaimana secara misterius berubah menjadi babi adalah mantan pilot pesawat terbang dari Perang Dunia I. Hayao Miyazaki mengarahkan cerita Porco Rosso dengan menghabiskan waktunya sebagai pemburu hadiah memerangi bandit dan perompak di udara

Jika berada di tangan orang lain, premis tersebut mungkin terlalu aneh untuk menjadi tontonan yang baik. Miyazaki nyatanya berhasil mengubah Porco Rosso menjadi tontonan yang menarik.

My Neighbor Totoro (1988)

Totoro—seperti kucing besar—menjadi ikon Studio Ghibli dan kini telah menjadi sebuah fenomena budaya. Film ini juga menjadi contoh lainnya bagaimana Miyazaki dapat membuat film yang dapat dinikmati segala usia. “My Neighbor Totoro” ditulis dan disutradarai sendiri oleh Miyazaki, diluncurkan pada tahun 1988. Pada dasarnya film ini adalah sebuah kisah sederhana dari dua anak perempuan pedesaan yang dapat berinteraksi dengan roh hutan yang ramah

Totoro sangat manipulatif dan luar biasa halus. Sebuah film tanpa penjahat. Tidak ada adegan perkelahian. Tidak ada orang dewasa yang jahat. Tidak ada pertempuran antara dua anak. Tidak ada monster menakutkan. Tidak ada kegelapan sebelum fajar. Sebuah dunia yang jinak. Sebuah dunia di mana jika kita bertemu dengan makhluk aneh besar di hutan, kita bisa meringkuk di perutnya untuk tidur siang.

Castle in the Sky (1986)

Secara resmi, “Castle in the Sky” adalah film pertama dari Studio Ghibli. Miyazaki seolah menempatkan kemampuannya untuk menguji dengan sesuatu yang spektakuler bagi perusahaannya. Film yang dirilis pada tahun 1986 ini kemudian berhasil menjadi tonggak dalam gaya khas dari karya yang ditulis dan disutradarai oleh Miyazaki kemudian

“Castle in the Sky” bercerita tentang dua anak yang mencari harta karun di sebuah kota terapung legendaris. Film petualangan yang benar-benar sempurna. Tidak ada adegan terbuang percuma dari awal sampai akhir. Film ini secara resmi membuat studio Ghibli mengklaim diri mereka sebagai tempat yang dapat melahirkan film-film terbaik dan itu terbukti.

Kiki’s Delivery Service (1989)

Salah satu film Miyazaki yang kurang dikenal dan beberapa beranggapan film ini memang sengaja telah dikerdilkan secara dramatis. “Kiki’s Delivery Service” diadaptasi dari novel Eiko Kadono bercerita tentang penyihir muda bernama Kiki yang pindah ke sebuah kota baru. Animasi ini dapat dinikmati oleh segala usia, tetapi anak-anak akan sangat menyukainya

Anak-anak akan menangkap imajinasi yang luar biasa karena sepintas film ini memang terlihat ringan. Tapi, jauh lebih dari itu jika diperhatikan, Animasi ini adalah perumpamaan brilian untuk proses menjadi mandiri, mencari tahu jati diri, dan bagaimana kita harus meninggalkan sifat kanak-kanak untuk menjadi dewasa.

Howl’s Moving Castle (2004)

Diadaptasi dari novel Dianna Wynne Jones, Miyazaki berhasil yang konon bekerja tanpa skenario terbukti dapat menulis skenario dan mengarahkan sesuatu menjadi karya epik. Cerita mengisahkan ketika Sophie, gadis muda berubah menjadi seorang wanita tua dan berusaha mencari solusinya. Animasi dalam film ini benar-benar jenius dan seperti biasa, dijejali imajinasi, humor, dan drama

“Howl’s Moving Castle” memang tidak mengalir bebas dan seolah ceritanya tak berbentuk, liku ceritanya aneh dan mungkin bagi beberapa penikmat terkesan terlalu acak. Miyazaki terlihat menggabungkan ide cerita menjadi sebuah karya seni yang cantik, terbukti film ini berhasil memperlihatkan prestasi visual yang cerdas.

Spirited Away (2001)

Animasi pemenang Oscar ini benar-benar membangkitkan penonton Barat dan seluruh dunia terhadap film-film karya Miyazaki dan studio Ghibli. “Spirited Away” benar-benar sebuah karya yang menakjubkan dari imajinasi dan kematangan membuat tampilan penting untuk segala usia

Bercerita tentang seorang gadis kecil yang terjebak di dunia roh. Tema dari film ini menyuguhkan dunia lama versus baru secara harfiah. Dari sisi lain, takhayul lama dan etos kerja diperlihatkan terbukti menjadi kunci untuk bertahan hidup dan tumbuh dewasa. Tapi yang paling menantang dari film ini adalah pengaturan setting tempat yang sangat kompleks dan memukau.

Princess Mononoke (1997)

Dirilis pada tahun 1997, “Princess Mononoke” adalah *masterpiece* yang menyapu tema klasik dengan indah. Banyak yang berpendapat animasi ini adalah salah satu epos fantasi terbaik dalam sejarah sinema yang mengesankan dengan karakter dan sinematografi yang menarik. Film ini lebih jauh memperlihatkan pendekatan kompleks untuk perbedaan pandangan manusia dengan faktor lingkungan menjadi isu utamanya

Cerita berkisah pada petualangan protagonis Ashitaka yang tengah mendapat (luka) kutukan dan berusaha untuk menemukan bantuan. Pada akhirnya, ia ternyata terlibat pada suatu petualangan yang jauh lebih kompleks dan dramatis. Miyazaki dalam animasi ini banyak mengangkat cerita rakyat dan mitologi Jepang

Film ini dari segi adegan memang tanpa malu-malu memperlihatkan adegan kekerasan. Akan tetapi apa yang diperlihatkan justru membantu meningkatkan daya tarik cerita karena tak satu pun dari itu serampangan. “Princess Mononoke” adalah Animasi yang menggugah, menggembirakan, tragis, menggelisahkan, dan berbicara tentang pengalaman.