Categories Almanac Tags ,

Archaeobotanical dan Budidaya Tanaman Bangsa Cina Kuno

Biasanya, penelitian arkeologi untuk mengungkap asal-usul pertanian akan mengarah ke Asia Barat, di wilayah-wilayah seperti kawasan Bulan Sabit yang Subur (Timur Tengah sangat ini). Para ilmuwan melaporkan bahwa benih tanaman dapat ditelusuri kembali sekitar 30.000 tahun lalu di Cina. Temuan ini dilaporkan dalam Jurnal PLoS ONE, 3 Februari (3/2/2016). “Manusia berevolusi, demikian pula cara untuk … Read more

Biasanya, penelitian arkeologi untuk mengungkap asal-usul pertanian akan mengarah ke Asia Barat, di wilayah-wilayah seperti kawasan Bulan Sabit yang Subur (Timur Tengah sangat ini).

Para ilmuwan melaporkan bahwa benih tanaman dapat ditelusuri kembali sekitar 30.000 tahun lalu di Cina. Temuan ini dilaporkan dalam Jurnal PLoS ONE, 3 Februari (3/2/2016).

“Manusia berevolusi, demikian pula cara untuk penggunaan atau pemanfaatan tanaman,” kata penulis utama studi ini, Can Wang di Laboratory of Cenozoic Geology and Environmentdan, Beijing, dilansir pnas.org.

Selama Paleolitik, dimulai sekitar 2,5 juta tahun yang lalu ditandai oleh beberapa temuan awal dari konstruksi alat batu, manusia pada masa itu mengumpulkan tanaman secara acak. Namun, selama periode Paleolitik Tengah, sekitar 300.000 tahun yang lalu, ada bukti bahwa manusia mulai berfokus pada tanaman tertentu, seperti umbi-umbian dan akar tanaman.

Kemudian, selama Paleolitik akhir, dimulai sekitar 50.000 tahun yang lalu, manusia mulai mengolah tanaman yang dapat mereka makan. Berkembang dari awalnya yang hanya mencari dan mengumpulkan makanan bergeser pada pertanian.

Wang dan rekan-rekannya secara sistematis menyusun database archaeobotanical dari tanaman endemik Cina yang berasal dari sekitar 30.000 dan 5.000 tahun yang lalu. Data ini berasal dari 127 spesies, termasuk buah-buahan, kacang-kacangan, ubi jalar, dan sereal seperti millets juga padi.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa masyarakat kuno dari Cina utara dan selatan memanfaatkan tanaman yang berbeda—mungkin karena pengaruh iklim—misalnya, Cina utara lebih banyak memanfaatkan kacang, akar dan umbi-umbian dibanding mereka yang ada di Cina selatan selama periode Paleolitik.

Para ilmuwan juga meneliti data dari 84 situs arkeologi, 74 di antaranya terletak di Cina utara dan 10 yang terletak di Cina selatan. Biji dari rumput liar sengaja dikumpulkan dari dua wilayah itu yang berasal dari sekitar 33.000 tahun yang lalu.

“Proses transisi ke pertanian di Cina adalah lambat dan dalam jangka waktu yang panjang,” kata Wang.

Iklim di Cina secara bertahap mulai kembali hangat sekitar 14.000-9.000 tahun yang lalu, selama fase transisi dari Paleolitik ke Neolitik. Para ilmuwan mencatat bahwa penduduk Cina Utara saat itu telah menanam millet dan di Cina Selatan mereka menanam padi.

Memasuki periode Neolitik awal 9.000-6.000 tahun yang lalu, iklim di Cina cenderung hangat dan basah. Selama Neolitik tengah 6.000-5.000 tahun yang lalu, budidaya millet telah benar-benar mendominasi di China utara, dan pertanian padi dominan di Cina selatan.

Salah satu penjelasan yang mungkin untuk meningkatkan penggunaan benih selama Paleolitik adalah iklim yang kering-dingin yang bersahabat. Populasi manusia tumbuh dan sumber makanan yang ada sebelumnya dinilai tidak mencukupi, “dan kemudian manusia harus mulai memperluas menu mereka, termasuk dengan sengaja menimbun benih tanaman,” ungkap Can Wang.

Para peneliti menyimpulkan bahwa transisi Padi dan pertanian millet di Cina adalah proses yang lambat, mencakup puluhan ribu tahun. Mereka menduga pergeseran ini hampir sama dengan perkembangan pertanian gandum dan barley di Asia Barat.

Saat manusia mulai bekerja sama dan berdamai pada keseimbangan alam, pertanian bagaimanapun juga termasuk lompatan besar dalam sejarah manusia. 12.000 tahun yang lalu, beras, gandum, millet dan bahkan jagung kemudian telah menjadi menu pokok bagi kebutuhan manusia.