Categories Almanac Tags

Peradaban Mesir Kuno; Sejarah, Budaya, dan Capaian

Mesir Kuno adalah salah satu peradaban paling awal, paling lama, tahan lama, dan paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Peradaban Mesir Kuno adalah salah satu peradaban paling awal, paling lama, tahan lama, dan paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Mesir Kuno terutama dikenal karena prestasi luar biasa dalam berbagai macam bidang, diantaranya termasuk seni dan arsitektur, teknik, kedokteran dan tata negara.

Beberapa bangunan yang besar di tepi Sungai Nil pun masih membuat orang-orang yang melihatnya berdecak kagum hingga detik ini.

Peradaban Mesir Kuno sebagai salah satu yang paling awal biasanya dikaitkan dengan keberadaannya hingga jauh ke masa 3000 SM, ketika daerah-daerah di lembah sungai Nil menjadi satu di bawah penguasa tunggal. Mungkin hanya peradaban kota Sumeria di Mesopotamia yang pada waktu itu telah sama-sama melek huruf.

Namun seperti yang dapat dilihat, Peradaban Mesir Kuno selain hadir sebagai salah satu yang paling awal, Mesir Kuno juga telah menjadi peradaban abadi dalam catatan sejarah dunia; Kejayaan Mesir Kuno mungkin hanya dari 3000 SM hingga 1000 SM, namun keajegan budayanya bertahan selama berabad-abad setelahnya.

Mesir bahkan kembali bisa menjadi kekuatan besar di Timur Tengah antara tahun 612 SM – 525 SM, Sampai-sampai Sang Penakluk Macedonia Alexander Agung (Alexander the Great) merasa perlu untuk menobatkan dirinya sebagai firaun pada tahun 332 SM—menunjukkan bahwa peradaban firaun masih memiliki pengaruh besar.

Ptolemy—salah satu Jendral Alexander—yang memiliki kekuasaan independen, juga menobatkan dirinya sebagai firaun pada tahun 305 SM. Dari garis keturunannya lah justru muncul ratu terkenal Bangsa Mesir, Cleopatra, yang meninggal pada 31 SM.

Beberapa menganggap peradaban Mesir kuno di bawah Dinasti Ptolemaic lebih bernuansa Yunani ketimbang Mesir, tetapi peradaban Mesir yang lebih tua nyatanya masih cukup penting bagi legitimasi kekuasaan sehingga mereka masih merasa perlu untuk tampil dan memelihara budaya lama dari Firaun (Pharaohs) terdahulu.

Lembah Nil setelahnya memang menjadi bagian dari kuasa kekaisaran Romawi. Mesir sebagai provinsi diperintah dari luar perbatasannya selama hampir seribu tahun. Selama itu pula budaya memang banyak berubah.

Periode sejarah Mesir dari awal peradaban di tahun 3000 SM sampai dengan penaklukan oleh Roma pada 31 SM, bahkan hampir seribu tahun lebih lama dari periode antara 31 SM hingga hari ini.

Letak Peradaban Mesir Kuno

Mesir terletak di Lembah Nil, di timur utara Afrika. Asal-usul penghuninya berasal dari beberapa suku yang mendiami dataran tinggi Mesir; dari Abydos dan Hierakonpolis yang kemudian menyebar ke utara menuju Memphis dan Mediterania.

Kurang lebih sekitar 3000 SM, ada persatuan di Mesir dengan penguasa yang nyaman memerintah seluruh Lembah Nil di bagian utara —cabang lainnya dari Sungai Nil membentang ke selatan menuju Sudan sekarang.

Hingga 1250 SM, Mesir Kuno telah menempati wilayah di berbagai penjuru arah; dari pantai Suriah di utara, ke Laut Merah di timur, menyusuri Lembah Nil ke Nubia di selatan, dan menyebar ke barat memasuki keheningan Gurun Libya.

Kehidupan Mesir Kuno memang berpusat di sekitar sungai Nil dan tanah yang subur di sepanjang tepi sungai itu dimanfaatkan dengan efektif. Para petani di sepanjang lembah yang sempit mengembangkan metode irigasi untuk mengontrol aliran air; tanaman dapat tumbuh baik melalui musim hujan dan kering.

Lembah itu subur dan kaya, menciptakan kemakmuran hingga dimungkinkan proyek bangunan yang luar biasa seperti Piramida dan kuil-kuil Luxor dapat didirikan. Kekayaan Mesir juga digunakan untuk mendanai gaya hidup penguasa; untuk mengembangkan perdagangan, diplomasi, dan membiayai usaha-usaha perang hingga penakluk-kan.

Prestasi inovasi peradaban yang cukup menonjol lainnya adalah budaya melek huruf—hieroglif dan demotik; dalam hal administrasi; matematika dan arsitektur; irigasi dan metode pertanian; serta”). beberapa teknologi perahu awal.

Pemerintahan Mesir Kuno

Peradaban Mesir Kuno tercatat sebagai salah satu pemerintahan pertama yang memerintah sebuah bangsa. Sebagai pembanding adalah Sumeria, pada kurun 3000 SM, masyarakatnya tinggal di kota-kota kecil yang masing-masing berjumlah tidak lebih dari beberapa puluh ribu orang. Kerajaan Mesir, di sisi lain, dipadati jutaan penduduk.

Firaun adalah penguasa Mesir pada waktu itu, baik secara politik dan agama. Firaun ditahbiskan dengan gelar ‘Lord of the Two Lands‘, ia memerintah wilayah Hulu dan wilayah Hilir Mesir; ia juga digelari ‘Imam Besar Setiap kuil’, yang berarti bahwa seorang”).Firaun akan dianggap mewakili semua dewa di muka bumi.

Di mata orang Mesir, Firaun adalah dewa itu sendiri; yang berdiri di antara langit dan bumi. Sisi lain dari dualisme ini adalah kesejahteraan pribadi dan kesejahteraan seluruh rakyat terikat erat.

Firaun juga bertanggung jawab atas tentara, dan akan pergi berperang ketika wilayahnya diancam. Tak lupa ia akan menuntut upeti yang berharga dari wilayah-wilayah yang ditaklukkan jika kemenangan diperoleh.

Untuk membantu Firaun dalam mengatur kekuasaannya, sebuah organisasi yang rumit dibentuk dan dihuni oleh para pejabat, ahli-ahli agama dan pengawas tanahini mungkin organisasi sipil pertama di duniahingga membawa jangkauan pemerintah turun ke wilayah-wilayah yang jauh ke bawah hingga tingkat terkecil.

Mesir dibagi menjadi beberapa wilayah setingkat provinsi; wilayah administratif yang kurang lebih mencapai 42 wilayah dengan masing-masing diatur oleh seorang gubernur. Firaun sendiri di istananya selalu dikelilingi oleh para pejabat tinggi, para menteri dan pejabat istana yang memiliki tugas hingga bagian-bagian paling tidak penting.

Untuk sebagian besar dalam sejarah Mesir Kuno Firaun dibantu oleh kepala menteri yang disebut Wazir. Ia mewakili Firaun dalam masalah administrasi tanah, keuangan (pendapatan kerajaan) dan hukum. Kuil-kuil digunakan sebagai tempat ibadah dan juga sebagai lumbung dan kas negara di mana biji-bijian dan barang berharga disimpan.

Prajurit-Prajurit Mesir Kuno

Tentara Mesir kuno bersenjatakan busur, anak panah, tombak, perisai, dan mereka dilengkapi dengan baju besi. Senjata dan baju besi mereka bahkan terus-menerus membaik setelah mengenal pengelolaan perunggu: perisai sekarang selain terbuat dari kayu solid yang juga terlapis perunggu, tombak memiliki ujung-tajaman dari perunggu, pengait berbentuk senjata yang dapat memotongan juga hadir.

Pada perkembangan selanjutnya, kereta perang menjadi bagian standar dari tentara. Firaun sering ditampilkan naik di kereta perang. Penampilan seperti itumungkin juga sebagai propaganda, Firaun ditampilkan seperti ksatria yang memimpin dan berjuang di tengah-tengah pasukannyabelum lah tentu bagaimana seorang Firaun menepatkan dirinya.

Akan tetapi, bagaimana-pun dugaan kita saat ini Seorang Firaun mungkin telah melakukan hal itu. Apa yang tidak diragukan lagi adalah bahwa menjadi komandan dan pemimpin besar angkatan perang adalah bagian penting dari peran seorang Firaun.

Tugas utama dari tentara-tentara itu sudah barang tentu untuk membela Mesir melawan invasi asing. Tapi setali tiga uang, mereka lebih sering dikerahkan dalam usaha menaklukkan dan menduduki wilayah lain, dan juga ada kemungkinan melindungi ekspedisi pertambangan di wilayah Sinai dan Nubia, serta menjadi penjaga di sepanjang rute perdagangan penting, terutama ke wilayah Nubia.

Kepercayaan Orang Mesir Kuno

Mesir kuno menyembah banyak dewa dan dewi. Termasuk yang paling dikenal saat ini seperti Ra, dewa matahari; Isis, dewi alam dan sihir; Horus, dewa perang; dan Osiris, dewa orang mati. Jajaran dewa dan dewi lainnya secara bertahap berubah dari waktu ke waktu, beberapa dewa baru kadang menjadi lebih penting, dan beberapa jadi kurang begitu penting.

Naik dan turunnya “posisi” dewa dan dewi itu tampaknya juga mencerminkan nasib politik para Imam dan kuil mereka. Misalnya, ketika penguasa Thebes menjadi raja seluruh Mesir, dan mendirikan Kerajaan Baru, dewa lokal mereka Amun menjadi dewa utama, dan bersatu dengan Ra menjadi Amun-Ra.

Dewa yang disembah di kuil-kuil dijaga dan ‘dijalankan’ oleh para imam. Kuil-kuil itu bagaimanapun sepertinya bukan tempat ibadah umum: kuil tempat dewa tertutup dari dunia luar. Hanya pada kesempatan tertentu patung atau benda-benda yang mewakili dewa tersebut dibawa dan ditunjukkan ke publik.

Beberapa patung kecil yang dibuat ‘pengrajin’ lokal banyak digunakan oleh penduduk Mesir untuk menyembah para dewa dan dewi di rumah mereka sendiri. Patung Dewa dianggap memiliki pesona untuk perlindungan terhadap kekuatan jahat.

Keyakinan agama Mesir Kuno tentang akhirat juga berubah dari waktu ke waktu. Pada awalnya kehidupan sesudah mati erat dengan pelestarian tubuh fisik dengan mumifikasi; bahwa si mati akan tetap ‘hidup’ jika tubuhnya terjaga.

Namun, ide lebih besar hadir belakangan bahwa manusia terdiri dari kedua aspek fisik dan spiritual. Setelah kematian, yang terakhir tinggal hanyalah spirit-nya. Beberapa orang yang menjadi jiwa tanpa tubuh, atau hantu, akan berkeliaran di bumi; tetapi jika dinilai layak, seseorang bisa menjadi “yang diberkati”, tinggal di tanah kebaikan dan bahagia; surga.

Ekonomi dan Sosial Masyarakat Mesir Kuno

A. Pertanian

Hampir sama dengan semua peradaban pra-industri, ekonomi Mesir Kuno digerakkan dan didasarkan pada pertanian. Sebagian besar dari orang-orang Mesir saat itu petani walaupun sudah barang tentu ada usah-usaha lainnya. Karena sifat subur dari Lembah Nil, para petani senantiasa menghasilkan surplus besar berkelanjutan untuk menopang gaya hidup Firaun dan pejabat-pejabat istana lainnya.

Pertanian di Mesir tergantung sepenuhnya pada Sungai Nil. Namun hanya beberapa mil jauhnya dari lembah-lembah sungai, di kedua sisi-nya adalah gurun-gurun yang tandus. Musim hujan yang berlangsung dari Juni hingga September akan menyetorkan lapisan lumpur subur membuat tanah di samping sungai mendapat anugerah banjirnya.

Banyak air banjir mungkin disimpan dalam kolam-kolam penampungan. Setelah banjir surut, musim tanam berlangsung dari Oktober sampai Februari. Mesir hanya menerima sedikit hujan, sehingga irigasi mereka benar-benar harus dioptimalkan. Dari air sungai dan dari waduk penampungan, parit serta kanal dibuat untuk membawa air ke ladang-ladang pertanian.

B. Perdagangan

Perdagangan orang Mesir juga telah sangat dibantu oleh kehadiran Sungai Nil, dan oleh fakta bahwa tidak ada bagian dari wilayah penting yang terbentang jauh dari jalur air besar ini. Sampai zaman modern, untuk sesuatu yang masih bisa dijangkau, transportasi air selalu jauh lebih murah daripada transportasi darat.

Banyak kota-kota yang berada di tepian sungai sengaja diperindah karena menjadi tempat jual-beli yang potensial beberapa diantaranya bahkan menjadi pusat administrasi. Mesir mungkin sering dianggap sebagai peradaban tanpa kota. Ini tidak benar. Mesir justru tidak seperti Sumeria, kota-kota Mesir bukan lah negara merdeka; ada banyak permukiman perkotaan di Lembah Nil dan Memphis adalah salah satu kota terbesar di dunia.

Ketika perunggu menjadi primadona perdagangan, perdagangan internasional hampir sama dengan diplomasi, beberapa barang penting bahkan mengambil peran pertukaran “hadiah” antara penguasa. Orang Mesir sepenuhnya bisa mengambil keuntungan penuh dari ini. Komoditi Perunggu Timur Tengah, menemukan jalan menuju Het, Suriah, hingga dimungkinkan telah mencapai Mesopotamia.

Sebelum pengembangan rute perdagangan jarak jauh hingga melintasi Sahara, Lembah Nil berfungsi sebagai satu-satunya “pinch point” di mana perdagangan barang dari sub-Sahara Afrika melalui rute ke utara menuju Mediterania.

Ekspedisi perdagangan juga sering mengambil rute jauh ki selatan ke Sudan sekarang dan Laut Merah; untuk pencarian barang eksotis seperti gading, emas, bulu burung unta dan budak. Komoditas yang sangat bernilai dan sangat besar pengaruhnya bagi Mesir di mata dunia internasional.

C. Sumber Daya Mineral

Mesir kaya akan sumber daya mineral, dan ini juga dimanfaatkan di zaman kuno. Batu kapur dan granit di tambang di sepanjang lembah Nil. Di sebelah timur porfiri, alabaster, Akik dan zamrud adalah yang utama. Ada tambang emas luas di Nubia. Tembaga dan bijih perunggu ditambang di Sinai. Deposito besi yang ditemukan di Mesir juga sangat banyak.

Beberapa sumber daya mineral ini mungkin harus ditambang dari lokasi yang jauh, lokasi yang tidak ramah di timur dan gurun Sinai. Usaha-usaha ekspedisi besar untuk mendapatkannya pun harus dilakukan, biasanya diorganisir oleh pemerintah dan harus dilindungi oleh sejumlah pasukan. Bagaimanapun, sumber daya alam tersebut memungkinkan orang Mesir kuno untuk membangun monumen, patung, alat-alat logam, hingga perhiasan.

Lapisan Masyarakat Mesir Kuno

Seperti masyarakat di dunia kuno pada umumnya, sebagian besar penduduknya adalah petani. Namun, tanah itu milik Firaun, atau miliki para imam penguasa salah satu kuil, atau milik keluarga bangsawan, hingga pejabat. Petani juga dikenai pajak, dan mereka harus siap jika diperlukan dalam proyek-proyek yang membutuhkan pengerahan tenaga kerja banyak; irigasi atau pekerjaan konstruksi.

Pengrajin tampaknya telah memiliki status yang lebih tinggi dari petani. Sebagian besar mungkin bekerja untuk kuil atau negara. Ahli Agama dan pejabat berpangkat tinggi dalam masyarakat Mesir kuno adalah kelompok elit. Dalam kelompok elit ini juga ada imam, dokter dan insinyur; dan dari mereka biasanya yang akan mengisi posisi imam terkemuka hingga menteri di istana.

Di bagian paling atas adalah keluarga kerajaan, Bangsawan yang menguasai harta warisanbiasanya kepemilikan tanahberada di bawahnya.

Perbudakan memang dikenal di Mesir kuno, tapi sejauh yang jelas, kebanyakan budak tampaknya telah digunakan sebagai pembantu di rumah tangga kaya daripada sebagai pekerja pertanian. Secara hukum, budak bisa membeli dan menjual, seperti masayarakat pada umumnya.

Perempuan mempunyai status yang relatif tinggi dalam masyarakat Mesir. Seperti laki-laki, mereka bisa memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, menerima warisan, dan mengejar sengketa hukum di pengadilan.

Pasangan yang sudah menikah bisa memiliki properti bersama-sama. Beberapa wanita menikmati status yang sangat tinggi sebagai pendeta utama. Di sisi lain, seperti dalam hampir semua masyarakat kuno, jabatan publik hampir selalu digenggam laki-laki.

Capaian-Capaian Bangsa Mesir Kuno

A. Bahasa dan Aksara

Tulisan Hieroglif yang telah sampai kepada kita berasal dari 3000 SM. Sebuah tulisan yang dapat mewakili sebuah kata, suara, atau yang menentukan diam; dan simbol yang sama dapat melayani tujuan yang berbeda dalam konteks yang berbeda.

Tulisan Hieroglif Mesir terdiri dari ratusan simbol, yang dapat dibaca dalam baris atau kolom, dan di kedua arahmeskipun dalam kebanyakan kasus, ditulis dari kanan ke kiri.

Hieroglif yang sejauh kita tahu, secara eksklusif digunakan pada monumen batu dan kuburan. Dalam pekerjaan sehari-hari mereka, ahli-ahli kitab menggunakan jenis lain untuk menulis, yang disebut Hieratic (tulisan yang khusu untuk imam dan orang suci).

Hieratic menggunakan pola yang menggabungkan bentuk tulisan yang jauh lebih cepat dan lebih mudah digunakan daripada hieroglif. Tulisan tangan bersambung itu selalu ditulis dari kanan ke kiri, biasanya dalam baris horizontal.

Kemudian, sekitar 500 SM, dan karena itu menjelang akhir peradaban Mesir Kuno, bentuk baru penulisan hadir; demotik mulai digunakan secara luas. Demotik adalah fonetik, naskah semi-abjad, yang mulai hidup sebagai transkripsi bahasa sehari-hari, tapi seiring waktu berkembang menjadi bahasa sastra, lambang budaya tinggi dan agama.

B. Kesusastraan

Kesusastraan Mesir ditemukan di monumen publik, di dinding kuil dan makam, dan dari catatan perbuatan para dewa dan manusia, serta puisi. Puisi-puisi cinta, lagu-lagu pujian, peribahasa, mantra dan kutukan, pelajaran dan catatan medis, mitos dan legenda.

Salah satu contoh yang paling terkenal dari sastra Mesir adalah kumpulan mantra yang berasal dari masa Kerajaan Baru yang sering diebut sebagai “Kitab Orang Mati”: objeknya adalah untuk memungkinkan orang agar berhasil lulus dari kehidupan ini di masa depan.

Kisah Sinuhe mungkin adalah karya terbaik yang dikenal dalam sastra Mesir yang telah sampai kepada kita. Kisah lain yang populer adalah Kisah Wenamun yang memberikan gambaran kepda kita saat Mesir sedang dalam fase menurun.

C. Seni dan Kesenian

Tradisi yang telah sampai kepada kita adalah seni penguburan Sebuah tradisi yang dirancang untuk penguburan. Bangsa Mesir Kuno juga percaya bahwa kehidupan berlanjut ke alam akhirat, sehingga saat orang mati ia harus membawa bekal kubur dengan barang mewahtermasuk benda-benda seniuntuk membantu mereka menikmati kehidupan baru kelak.

Awal seni orang Mesir kuno menekankan gaya kaku yang dalam perkembangannya tidak banyak berubah selama ribuan tahun. Ini tidak berarti bahwa seni Mesir itu tidak berubah tetapi perubahan terjadi dalam batas-batas yang cukup sempit. Ironisnya, pada tahun-tahun menurunnya peradaban Mesir Kuno, seni mereka menjadi lebih konservatif dan kaku, seolah ingin membawa kembali kejayaan lama.

Gaya dua dimensi Mesir sangat ikonik dan ditemukan dalam makam, candi dan patung-patung. Patung Mesir yang diukir dari batu atau kayu sebagai alternatif yang murah, dicat berwarna-warni.

Lukisan dinding di makam atau kuil sering menggambarkan adegan kehidupan sehari-hari, seolah mereka ingin membawa peradaban kuno ini untuk terus hidup. Rumah-rumah orang kaya juga banyak dihias lukisan dinding dengan adegan orang, burung, kolam air, dewa dan desain geometris.

D. Arsitektur

Bangsa Mesir Kuno membangun beberapa arsitektur yang paling mengagumkan dan memberi banyak inspirasi karena beberapa masih bisa kita lihat hari ini; seperti Piramida Giza. Arsitektur Mesir Kuno tidak terbatas pada piramid, arsitektur monumental lainnya dapat dilihat dalam kuil-kuil dan patung-patung raksasa dari lembah para raja dan Abu Simbel.

Rata-rata kebanyakan rakyat Mesir Kuno membangun rumah-rumah mereka secara sederhana; dari lumpur, kayu atau batu bata. Berbeda dengan rakyat kebanyakan, bangsawan tentu saja memiliki rumah mewah multi-kamar dengan lukisan dinding, lantai, dan beberapa taman serta kolam yang dibangun di sekitar halaman.

E. Teknologi Orang Mesir Kuno

Matematika. Bangsa Mesir Kuno mengembangkan tingkat tinggi keterampilan matematika untuk memungkinkan mereka membangun piramida dan kuil-kuil dengan ‘alat yang sangat sederhana’.

Matematika tampaknya telah bersifat lebih praktis dibandingkan dengan yang digunakan di Mesopotamia, dan karena itu mungkin kurang dipengaruhi oleh peradaban kemudin; Namun, matematika praktis ini pasti berasal dari urutan dan pemahaman yang sangat tinggi.

Obat dan Medis. Praktek penguburan Mesir kuno yang melibatkan pembalseman, memang tidak melibatkan pengetahuan rinci tentang anatomi manusia. Namun demikian, obat-obat orang Mesir telah memperoleh reputasi yang sangat baik di Dunia Kuno.

Dokter Mesir kuno bisa menjahit luka, memperbaiki tulang yang patah dan mengamputasi anggota badan yang terinfeksi. Pemotongan yang dibalut oleh daging mentah, linen, dan penyeka direndam dengan madu. Opium juga digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit. Bawang dan bawang putih digunakan sebagai makanan kesehatan dalam diet mereka.

Dekat dengan sungai Nil berarti bahwa akan banyak penyakit yang terbawa air, seperti malaria misalnya. Penyakit umum lainnya termasuk tekanan fisik yang disebabkan dari beban kehidupan kerja. Naas-nya, harapan hidup mereka hanya dikisaran antara 30 (wanita) dan 35 (pria). bahkan sekitar sepertiga dari bayi yang lahir di Mesir tidak pernah mencapai usia dewasa.

Alat Transportasi Sungai. Sungai adalah inti perdaban kuno. Sungai Nil telah membesarkan peradaban Mesir Kuno dan telah menjadi lingkungan yang ideal untuk pengembangan teknologi perahu.

Pada awal 3000 SM perahu orang Mesir panjangnya bisa mencapai 25 meter. Papan-papan kayu untuk membangun perahu mungkin awalnya hanya diikat oleh tali, dengan alang-alang atau rumput papan kayu itu menjadi tidak mudah tertembus air.

Selanjutnya, Paku telah digunakan untuk menahan papan agar tetap dalam posisinya, Bubungan dilapisi dempul untuk menutup jahitan; mortise dan tenom juga telah dikembangkan.

Orang-orang Mesir pada waktu itu memang telah mengenal dan memiliki perahu yang sepenuhnya bisa berlayar, Namun bangsa Mesir Kuno tidak lah terkenal sebagai pelaut yang besar dan tampaknya mereka tidak begitu banyak terlibat dalam lalu lintas di Mediterania atau di Laut Merah secara teratur.

Mesir kuno Bagi Sejarah Dunia

Bukti paling jelas untuk warisan Mesir Kuno dapat dilihat dalam arsitektur. Kuil-kuil Mesir bisa dikatakan memengaruhi kuil Yunani awal; dan ini menunjukan bahwa Yunani Kuno mendapat gagasan arsitektur monumental mereka dari Mesir.

Warisan Mesir lainnya lebih sulit untuk dijabarkan. Patung Yunani kuno tampaknya lebih terkait erat dengan model Mesopotamia dan astronomi dari Mesir. Hal yang sama juga untuk matematika Yunani yang lebih dekat hubungannya dengan Babylonia.

Apa yang jelas adalah bahwa peradaban kuno ini telah memberi banyak landasan tak tertandingi pada peradaban di kemudian hari, bahkan hingga saat ini.

Orang-orang Yunani menganggap Mesir sebagai tanah kebijaksanaan yang penuh misteri. Hubungan rumit antara Romawi Kuno dengan Mesir dapat dilihat pada sejumlah obelisk yang dapat ditemukan di kota Roma hingga hari ini (beberapa dari mereka dikirim dari Mesir ke ibukota kekaisaran, lainnya merupakan salinan model yang ada di Mesir).

Orang-orang Arab abad pertengahan menulis tentang peradaban Mesir. Daya tarik Bangsa Eropa modern terhadap Mesir dipicu oleh penaklukan Napoleon ke negara itu pada tahun 1798; dan orang-orang mulai tertarik kepada mesir; Egyptology mulai diminati sejak saat itu hingga hari ini.

Kekinian, Mesir adalah salah satu tujuan wisata utama dunia. Kita masih bisa menyaksikan daya tarik salah satu peradaban yang benar-benar besar itu. Mesir Kuno benar-benar menempatkan dirinya masuk dalam jajaran peradaban tertinggi yang bisa dicapai oleh umat manusia.

Timeline Sejarah Peradaban Mesir Kuno:

5000 SM : Pertanian telah berkembang di lembah Nil

3500 SM-3000 SM : Masa Pra-dinasti yang mengarah ke penyatuan Mesir

2650 SM : Awal dari Kerajaan Lama

2575 SM – 2465 SM”). The Great Pyramid Giza dibangun

2150 SM : Jatuhnya Kerajaan Lama mengarah ke periode Kerajaan Tengah Pertama

2074 SM : Kekuasaan periode Kerajaan Pertengahan dimulai; Mesir bersatu dan kuat lagi

759 SM : Jatuhnya Kerajaan Pertengan I, mengarah ke periode Menengah II, dan pendudukan wilayah utara Mesir oleh Hyksos

1539 SM : Reunifikasi Mesir dan pengusiran Hyksos menandai dimulainya Kerajaan Baru, masa ketika Mesir menjadi kekuatan terkemuka di Timur Tengah

1344 SM -1328 SM : Firaun Akhenaton melakukan reformasi agama namun berumur pendek

1336 SM – 1327 SM : Masa Pemerintah Tutankhamen

1279 SM – 1213 SM : Masa pemerintahan Ramses II membawa Mesir ke puncak kekuasaan

1150 SM : Pemerintahan Mesir memasuki masa penurunan

728 SM: Mesir ditaklukkan oleh raja-raja dari Nubian

656 SM: Mesir ditempati oleh Asyur

639 SM: Orang Mesir mengusir Asyur dan mulai periode kebangkitan mereka

525 SM : Mesir ditaklukkan oleh Persia

332 SM : Mesir ditaklukkan oleh Alexander Agung

305 SM : Ptolemy, salah satu jenderal Alexander Agung, mendirikan sebuah dinasti perpaduan Yunani

30 SM : Cleopatra, ratu terakhir dari Mesir yang independen di zaman kuno, meninggal. Mesir sepenuhnya dianeksasi oleh Kekaisaran Romawi.