Categories Almanac Tags ,

Fatahillah, Identifikasi dalam Sejarah dan Legenda

Nama Fatahillah kini banyak diabadikan sebagai nama diri, nama bangunan, taman, jalan, perusahaan, dan nama lembaga pendidikan. Tidak hanya di Jakarta, penggunaan nama Fatahillah juga populer di Banten dan Cirebon.

Nama Fatahillah kini banyak diabadikan sebagai nama diri, nama bangunan, taman, jalan, perusahaan, dan nama lembaga pendidikan. Tidak hanya di Jakarta, penggunaan nama Fatahillah juga populer di Banten dan Cirebon.

Fatahilah bahkan menjadi nama taman di depan gedung Museum yang juga bernama Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia, gedung yang pada masa kolonial merupakan Stadhuis atau Balaikota. Lantas siapa itu Fatahillah?

Kisah tentang Jakarta dikatakan tidak akan lepas dari keberadaan tokoh Fatahillah. Meski sebagian pakar menganggapnya sebagai tokoh mitos atau legenda, sebagian lagi justru memandangnya sebagai tokoh sejarah.

Bahkan hingga saat ini, Fatahillah masih dianggap sebagai tokoh pendiri Kota Jakarta. Fatahillah adalah tokoh yang dikenal umum telah berhasil menghilangkan pengaruh kekuasaan Portugis pada 1527. Pada tahun itu pula, ia mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta yang berarti “Kota Kemenangan”.

Menurut penelusuran sejarawan Edi S. Ekadjati (1989), nama Fatahillah sama sekali tidak didapatkan dalam babad atau sumber tradisi. Nama tersebut justru terdapat dalam jenis sumber modern, yakni buku Geschiedenis van Java (Sejarah Jawa, pen). karya Ny Fruin-Mees (1920).

Orang pertama yang menampilkan Fatahillah sebagai nama tokoh sejarah adalah Dr. B. Schrieke, yang mengaitkan tokoh tersebut dengan sejarah Kota Jakarta pada masa masuknya Islam.

Dasar penafsiran Schrieke adalah berdasarkan catatan orang Portugis (1546) tentang “Raja Sunda” yang bernama “Tagaril”. Menurutnya, Tagaril merupakan salah tulis dari kata Fagaril. Kata Fagaril sendiri merupakan perubahan dari kata aslinya, yaitu Fatahillah yang berarti “kemenangan Allah”.

Sedikit berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Schrieke, Prof. Hoesein Djajadiningrat lebih condong menganggap kata Tagaril tak ubahnya Fachrillah, bentuk sampingan dari Fachrullah (kemashyuran Allah).

Karena Fachrillah dapat disingkat menjadi Fachril—mungkin orang Portugis salah dengar atau salah tulis—maka muncullah nama Tagaril. Sementara Sejarah Banten menyimpulkan bahwa tokoh Tagaril itu identik dengan tokoh Faletehan atau Falatehan sebagaimana yang disebut berita Portugis lain (1527). Tokoh itu bahkan dianggap identik pula dengan Sunan Gunung Jati yang disebut dalam babad.

Ada pun kata Faletehan atau Falatehan, menurut Djajadiningrat (1983) dalam bukunya Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten, mungkin merupakan kekeliruan baik salah dengar atau salah tulis dari kata Fathan, lengkapnya fathan mubinan (“kemenangan yang sempurna”).

Tokoh ini berperan dalam merebut Sunda Kalapa dari tangan Kerajaan Sunda. Sebagai kesimpulan akhir, menurut Djajadiningrat, nama-nama Faletehan, Fatahillah, Tagaril, dan juga Makdum, Syarif Hidayat(ullah), serta Sunan Gunung Jati adalah tokoh yang identik (satu orang).

Ada beberapa pendapat tentang asal Fatahillah. Satu pendapat mengatakan ia berasal dari Pasai, Aceh Utara, yang kemudian pergi meninggalkan Pasai ketika daerah tersebut dikuasai Portugis. Sebelumnya ia pergi ke Mekah, lalu ke Tanah Jawa, Demak, pada masa pemerintahan Raden Trenggono.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Fatahillah adalah putra dari raja Mekah (Arab) yang menikah dengan putri Kerajaan Pajajaran. Pendapat lainnya lagi mengatakan Fatahillah dilahirkan pada 1448 M dari pasangan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang, putri dari Raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.

Ada sumber sejarah yang mengatakan sebenarnya ia lahir di Asia Tengah (mungkin di Samarkand), menimba ilmu ke Baghdad, dan mengabdikan dirinya ke Kesultanan Turki, sebelum bergabung dengan Kesultanan Demak.

Ketika pada 1972 ditemukan sebuah naskah kuno di Indramayu, pandangan tentang tokoh Fatahillah mulai berubah. Kitab kuno itu, Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada 1720, oleh Pangeran Arya Carebon. Namun yang menjadi masalah, masa penulisan kitab itu adalah 200 tahun setelah masa hidup Fatahillah.

Dalam Carita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon) diberitakan seorang tokoh yang bernama Fadhilah Khan, yang diperintahkan oleh Pangeran (Sultan) Trenggana untuk meluaskan kekuasaannya ke Jawa bagian barat, menguasai Sunda Kalapa yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dan pengaruh Portugis.

Pelabuhan Sunda Kalapa diserang sehingga armada Portugis di bawah Francisco de Sa dipukul mundur dan Sunda Kalapa akhirnya dapat direbut. Fadhilah Khan kemudian mengganti nama kota pelabuhan itu menjadi Jayakarta. Fadhilah Khan yang berasal dari Pasai.

Meski kontroversial, pandangan Prof. Hoesein Djajadiningrat memunyai pengaruh yang amat luas di kalangan sejarawan. Hampir semua kepustakaan yang ada mengenai sejarah Indonesia hingga 1970-an, khususnya sejarah Jakarta, Banten, dan Cirebon, masih menganggap tokoh Fatahillah identik dengan Sunan Gunung Jati. Akan tetapi penelitian terakhir menunjukkan Sunan Gunung Jati tidak sama dengan Fatahillah.

Pandangan kontroversial juga pernah mengemuka pada 1968, sebelum ditemukannya kitab Carita Purwaka Caruban Nagari. Adalah seorang filolog, Prof. Slamet Muljana, yang membahasnya dalam sebuah buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (diterbitkan ulang LKiS, 2005).

Dia menafsirkan bahwa Fatahillah adalah seorang muslim China yang sebelumnya bernama Toh A Bo alias Pangeran Timur. Pendapatnya itu didasarkan pada data kronik Tionghoa yang berasal dari klenteng Semarang dan klenteng Talang (Cirebon).

Menurut Muljana, semula Syarif Hidayat Fatahillah adalah panglima tentara Demak. Tokoh ini identik dengan Sunan Gunung Jati. Toh A Bo adalah putra Sultan Trenggana, Tung Ka Lo. Fatahillah adalah orang kelahiran Demak dan berasal dari bangsawan tinggi, yakni putra Sultan Demak (2005: 232).

Nama Fatahillah kemudian dipakai oleh Toh A Bo ketika dia dinobatkan sebagai Sultan Banten. Tidak dapat dikatakan dengan pasti kapan Fatahillah menjadi sultan. Yang pasti, pada 1552 dia meninggalkan Banten dan menetap di Cirebon serta mendirikan Kesultanan Cirebon. Kesultanan Banten dia serahkan kepada putranya, Hasanuddin. Pada 1570, Fatahillah wafat dan dimakamkan di Sembung, Bukit Gunung Jati.

Identifikasi tokoh Fatahillah memang merupakan hal yang lumayan rumit karena sumber-sumber yang ditemukan masih terbatas. Banyak pakar sampai kini masih menyangsikan tokoh Fatahillah, Faletehan, atau Syarif Hidayat ini.

Benarkah dia seorang tokoh sejarah sekaligus pendiri kota Jakarta dan mengacu pada satu nama yang sama? Benarkah dia hanya seorang tokoh fiksional? Benarkah dia seorang muslim Cina?

Masih banyak pertanyaan lain yang masih cukup sulit mendapatkan kejelasannya. Juga, benarkah dia yang menjadi tokoh bagi ikon Jakarta?

Satu hal yang pasti dari tokoh ini, namanya telah menjadi legenda bagi masyarakat Indonesia khususnya di Kota Jakarta, Cirebon, dan Demak.