Categories Humaniora Tags

Komunikasi Budaya: Tak Kenal Maka Tak Nyambung

Komunikasi atau berkomunikasi pada dasarnya bukan memaksa pihak lain atau orang lain untuk berubah dan mengikuti kita, melainkan memberi pemahaman agar kesadaran orang lain mendekat sedekat mungkin dengan yang kita pahami. Semakin dekat pemahaman dan kesadaran orang lain dengan pemahaman dan kesadaran kita, maka semakin baik dan efektif lah sebuah komunikasi tersebut. Sebaliknya, jika semakin … Read more

Komunikasi atau berkomunikasi pada dasarnya bukan memaksa pihak lain atau orang lain untuk berubah dan mengikuti kita, melainkan memberi pemahaman agar kesadaran orang lain mendekat sedekat mungkin dengan yang kita pahami.

Semakin dekat pemahaman dan kesadaran orang lain dengan pemahaman dan kesadaran kita, maka semakin baik dan efektif lah sebuah komunikasi tersebut. Sebaliknya, jika semakin jauh pemahaman orang lain dengan sikap kita, maka semakin tidak efektif lah proses komunikasi tersebut.

Karenanya, komunikasi kadang menjadi jembatan, menjadi titik temu yang baik dalam hubungan sosial di tengah keragaman dan kemajemukan suatu bangsa yang beragam.

Sebagai bangsa yang majemuk dan juga gemuk, Indonesia sudah sepantasnya mau saling membuka diri bagi keberadaan orang lain. Sebab hanya dengan sikap inilah ruang komunikasi akan dengan mudah terbangun.

Hal lain yang patut diperhatikan dalam komunikasi budaya multilateral adalah komunikasi yang bisa masuk dalam komunitas yang berlainan, maka diperlukan sebuah tindakan yang komunikatif dari budaya kita.

Komunikatif di sini dimaksudkan sebagai tindakan yang mampu memberi motivasi, energi bagi pihak lain, menyenangkan serta menginformasikan tanpa adanya kepentingan secara sepihak.

Dalam artian yang komunal, lebih jelasnya lagi kita perlu sebuah pola yang membuat kita sama duduk dalam kesejajaran kerjasama yang di dalamnya tercipta pola-pola komunikasi dan saling berinteraksi dengan landasan kepentingan bersama.

Kearifan lokal merupakan sebuah gagasan konseptual yang hidup dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat. Ia bisa berfungsi dalam “mengatur” kehidupan dari yang sifatnya berkaitan dengan hal-hal yang sakral sampai pada hal-hal yang profan.

Secara jujur, dari semua masalah persilangan budaya yang ada di Indonesia hari ini, harus dikatakan bahwa budaya komunikasi yang tertanam dalam kearifan lokal masyarakat Indonesia sudah hampir hilang dari kehidupan sehari-hari.

Jika membaca dan mendengar tutur dari setiap rahim budaya, komunikasi nyatanya menjadi tradisi yang diagungkan; Budaya duduk bersama, budaya mufakat, dan budaya “berunding” itu ada dan nyata. Komunikasi bahkan mewujud dan mencakupi berbagai persoalan.

Perbedaan sungguh pun adalah keniscayaan, maka jalan keluarnya adalah mengerti jika kebersamaan itu tak harus selalu memaksa serupa. Saling mengenal sesungguhnya adalah awal timbulnya persatuan.

Maka dari itu, kiranya perlu sebuah usaha bersama untuk (setidaknya) dapat menghidupkan kembali nilai-nilai dari tradisi komunikasi dalam khazanah kearifan lokal masyarakat kita.

Komunikasi yang efektif timbul karena ada pengertian dan jika pun muncul perbedaan, secara naluriah itu akan disikapi dalam jenjang-jenjang komunikasi dengan mengedepankan toleransi dan saling memahami.

Kesepahaman yang menuju tercipta-nya kebersamaan dalam cakupan perbedaan antar-ras, antar-etnik, maupun antar-kebiasaan yang berbeda, dalam cakupan apa pun memang sukar dilakukan tanpa memahami karakter dan unsur-unsur penting yang terdapat dalam kebudayaan orang per orang.

Komunikasi Budaya; Kearifan Lokal dan Jalan Keluar

Tidak jarang seseorang yang pergi ke luar negeri akan merasa tenang jika di tempat yang ia datangi terdapat beberapa orang yang berasal dari negerinya sendiri. Tidak berbeda pula jika pergi keluar kota, akan lebih percaya diri jika menemukan seseorang yang berasal dari kota yang sama.

Meski sebelumnya kita tak saling mengenal di negeri sendiri. Bahkan mungkin sebelumnya kita enggan mengenal karena berasal dari daerah yang kita “kurang sukai”. Namun di tempat asing, secara naluriah kita akan bahu membahu membangun komunikasi antar- individu, terutama dengan mereka yang secara kultur ‘tak asing’ bagi kita.

Untuk saling mengenalpun prosenya tidak begitu lama, karena secara tidak sadar telah mengetahui beberapa kesamaan. Jika pun ada perbedaan, kita akan dengan cepat beradaptasi karena komunikasi yang dibangun atas dasar saling membutuhkan dan membawa nilai-nilai kebersamaan.

Beda tempat, beda lagi kasusnya. Ketika kita di luar negeri, kita akan sangat terbuka dan mau menerima kehadiran orang yang bukan satu daerah dan berbeda dengan kebiasaan serta budaya kita, karena kita mengedepankan persamaan; sebagai sebangsa dan senegara.

Perbedaan Agama, Budaya, cara hidup, etnik, dan sebagainya dengan cepat kita pahami terlebih dahulu. Tidak jarang kita saling membantu satu sama lain dan tidak mau kalau sampai teman satu negeri atau kota tersebut tertimpa kesusahan.

Perspektif tersebut naasnya akan kembali buyar jika kita hanya berada pada tempat yang lebih kecil lagi. Hal ini diperjelas dengan hilangnya kata ‘kita’ menjadi kata ‘kami’ yang pada akhirnya, hanya akan “mengurangi” makna dan substansi dari kebersamaan.

Jakarta dan Miniatur Sengketa

Jakarta adalah potret dari miniatur Indonesia. Berbagai macam individu atau kelompok yang berasal dari berbagai provinsi dan berbagai pulau di Indonesia tumpah ruah di tempat tersebut. Tanpa kita sadari di Jakarta terbentuk koloni-koloni kedaerahan yang bahu membahu saling membantu satu sama lain dalam eksistensi kelompoknya masing-masing.

Dengan alasan sederhana atau dengan alasan paling sederhana; karena berbeda bahasa. Hal ini kerap menjadi alasan untuk secara tegas memisahkan identitas suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Masyarakat yang hanya memikirkan kelompoknya sendiri tanpa peduli dengan kelompok lain seringkali memunculkan clash.

Masyarakat multi-kultural seperti Jakarta memerlukan kearifan lokal dalam meminimalisasi atau mengklasifikasi persoalan kelompok. Di sinilah pentingnya kesamaan kata dan langkah tentang persamaan dalam perbedaan agar meminimalkan sengketa.

“Sengketa” mungkin merupakan fenomena sosial yang umurnya hampir sama dengan kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai kepentingan, atau keinginan yang tidak pernah seragam satu sama lain.

Sebuah sengketa di dalam masyarakat bila tidak tertangani secara baik akan mengganggu produktivitas dan efisiensi dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan bisa menimbulkan chaos.

Berbagai sengketa yang kita hadapi secara sosial, kolektif atau pun individual, sering kali disebabkan karena kegagalan kita menerima orang lain dan tak mampu mereduksinya.

Budaya; Pembeda dan Pemersatu

Sebagai satu bentuknya budaya meliputi adat istiadat, kebiasaan, cara hidup, norma, dan sistem nilai yang dipercayai serta diamalkan, budaya kerap menjadi ciri khas dan sekaligus juga pembeda. Dengan kata lain, setiap manusia sebagai pelaku budaya akan membentuk perilaku hidup yang juga berbeda.

Karena itulah budaya kerap dipahami sebagai “keseluruhan” cara dan ciri dari hidup manusia yang dipengaruhi oleh berbagai karakteristiknya. Dalam kenyataannya, persentuhan dari nilai-nilai budaya sebagai manifestasi dari dinamika kebudayaan tidak selamanya berjalan dengan mulus. Permasalahan silang budaya dalam masyarakat majemuk (heterogen) dan jamak (plural) seringkali bersumber dari masalah komunikasi.

Sementara itu persinggungan budaya yang diakibatkan oleh kesalahan persepsi, memori dan motivasi dari dua atau lebih budaya dari berbagai etnik dan negara berlanjut kepada sistem yang dapat merusak kehidupan itu sendiri.

Secara psikologis faktor-faktor yang menyebabkan konflik dan permusuhan antar budaya diakibatkan oleh tidak di-mengertinya dimensi-dimensi kebiasaan dan kurangnya terbangun sarana komunikasi yang baik. Hal ini membawa dampak pada pendekatan konsep individu yang benar dan persepsi individu atas individu lainnya dalam suatu komunitas yang tidak terbangun dengan baik.