Categories Humaniora

Animisme Adalah? Menyoal Istilah Animisme

Dari kata Anima atau animus yang berarti Jiwa atau ruh dalam bahasa Latin, dibubuhi Sufiks -isme dari “-ismos” (Yunani), “-ismus” (Latin), “-isme” (Perancis), dan “-ism” (Inggris) akhiran yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih digunakan untuk menandakan suatu faham atau ajaran dan atau kepercayaan.

Animisme dari kata Anima atau animus yang berarti Jiwa atau ruh dalam bahasa Latin, dibubuhi Sufiks -isme dari “-ismos” (Yunani), “-ismus” (Latin), “-isme” (Perancis), dan “-ism” (Inggris) akhiran yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih digunakan untuk menandakan suatu faham atau ajaran dan atau kepercayaan.

Saya pernah berkelakar kepada para penggemar animasi buatan Jepang (anime) bahwa seharusnya mereka yang disebut sebagai “Penganut Animisme”sebagai catatan, Animasi atau animate bisa dimaknai sebagai proses untuk membuat hidup, menggerakkan, memberi jiwa, memberi kehidupan.

Tapi istilah Animisme memang kadung “ditujukan” untuk sistem kepercayaan atau agama yang dianut “penduduk asli” di sebuah tempat yang entah berantah, di sebuah tradisi yang tanpa kita tahu atau bertanya, sebenarnya mereka menamai apa kepercayaannya itu.

Semoga ini hanya dugaan saja, tapi istilah animisme justru lebih terasa negatif. Tapi jika benar, kita tentu dan pasti haruslah punya alasannya. Jika tidak, Istilah animisme untuk menyebut sistem kepercayaan tertentu, tidak bisa terus-terusan digunakan, karena konsep ini kabur, sifatnya penyamarataan; sebuah garis lurus dari pe-label-an karena kemalasan dalam berpikir mencari yang benar.

Kita sepakati dulu, bahwa apa yang kita bicarakan ini adalah sistem kepercayaan dan bukan tentang air mineral dalam kemasan—yang apapun merk-nya tetap disebut ‘Aqua’. Karena akan menjadi aneh adalah saat orang-orang yang kita anggap paling animisme itu tidak memiliki kosa-kata dalam bahasanya yang sesuai untuk “animisme“.

Mari kita kembali ke permulaan abad ke-18 masehi. Adalah seorang ilmuwan Jerman bernama Georg Ernst Stahl, Ia menggunakan istilah animismus sebagai sebuah pandangan bahwa segala yang hidup mempunyai jiwa immaterial.

Georg Ernst Stahl yang seorang profesor ahli kimia, dokter dan sekaligus filsuf ini, juga adalah pendukung teori vitalism; teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup mengandung beberapa unsur non-fisik, dan diatur oleh prinsip-prinsip yang berbeda daripada benda-benda mati.

Keyakinan ini tercermin dalam pandangannya terhadap obat-obatan. Sthal berpikir bahwa obat selain harus berurusan dengan tubuh secara keseluruhan, juga harus berurusan dengan anima (Jiwa).

Stahl yang menggunakan istilah ini adalah anak Zaman dari Revolusi Ilmu Pengetahuan. Abad ke-17 memang menjadi titik balik dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.

Alih-alih kita bertanya mengapa suatu hal terjadi, kita justru akan didorong untuk membuktikan bagaimana sesuatu itu terjadi. Ada pergeseran penekanan dalam keilmuan: dari spekulasi ke eksperimentasi, Interpretasi harus mekanistik, dan bahasa ilmu pengetahuan adalah matematika.

Anima atau vitalisme Sthal pada masanya sangat bertentangan dengan iatromechanisme yang cenderung mewakili paradigma baru dalam membingkai peristiwa fisiologis ke dalam prinsip-prinsip fisika dan matematika.

Sebuah alternatif baru dari filsafat mekanistik yang akhirnya terus mendominasi ilmu pengetahuan modern. Tapi musuh Vitalisme/animism saat itu yang paling besar adalah materialisme Hermann Boerhaave dan Friedrich Hoffmann.

***

Seorang antropolog Inggris, Edward Burnett Tylor pada tahun 1871, menggunakan Istilah Animism (animisme) yang tentunya telah ia definisikan kembali. Tylor adalah salah satu yang awalnya menggunakan konsep Animisme dalam antropologi–jika ia bukan yang pertama menggunakan istilah ini.

Dalam bukunya yang berjudul Primitive culture (Budaya primitive), animisme oleh Tylor disebut sebagai “doktrin umum” tentang jiwa dan makhluk spiritual, sering kali berisi “ide” yang meresapi kehidupan dan kehendak di alam; yaitu, keyakinan bahwa benda-benda yang ada di alam selain manusia juga memiliki jiwa.

Ya, itu hampir sama dengan pendapat Sthal. Tapi Pendapat ini sedikit berbeda dengan apa yang diusulkan oleh Auguste Comte. Untuk kasus yang sama, Comte menyebutnya sebagai fetisisme; kepercayaan akan adanya “kekuatan sakti” dalam benda tertentu.

Konsep animisme Tylor adalah definisi dari keyakinan yang berhubungan dengan spiritual tetapi sebagai gambaran minimum karena sepertinya kurang atau tidak dianggap sebagai agama. Walaupun begitu dia menyinggung semua agama dari yang paling sederhana hingga yang sengaja dikomplekskan juga mempunyai konsepsi animisme.

Konsep tentang jiwa, tentang Ruh, tentang spirit yang dapat pergi dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Jiwa-jiwa yang tidak hanya ada di manusia, tetapi juga terdapat pada tanaman, hewan dan bahkan benda mati juga.

Tylor dikritik oleh antropolog Inggris lainnya, Robert Ranulph Marett (1866-1943) menurutnya penjelasan tentang kepercayaan pada manusia di masa lalu, tidak sesederhana seperti yang diusulkan Tylor.

Marett menganggap bahwa apa yang menurut Tylor Animisme itu justru konsep kepercayaan yang melibatkan perasaan dan berasal dari intuitif yang sangat komplek.

***

Animisme yang konon merupakan salah satu konsep kepercayaan tertua itu, dengan asal-usulnya yang kadang ditarik jauh ke zaman Paleolitik–sepertinya memang cukup tua jika untuk dibanggakan namun lebih banyak menyebalkan karena dianggap ketinggalan zaman.

Dari awal yang paling awal itu keyakinan yang disebut animisme ini memang menganggap bahwa entitas selain manusia (hewan, tumbuhan, dan benda mati atau sebuah fenomena) memiliki esensi spirit.

Jiwa atau roh ada di setiap benda, bahkan jika itu mati, jiwa ini atau roh ini akan ada sebagai bagian dari jiwa immaterial. Konsep tentang Ruh dan jiwa yang seperti ini, ada di hampir semua kebudayaan, mungkin karena itu, Animisme dianggap konsep yang universal.

Animisme lebih lanjut sering dihubungkan dengan konsep abstrak; seperti kata-kata yang mempunyai kekuatan, nama-nama yang tidak boleh diucapkan, atau metafora dalam mitologi dan Legenda.

Tapi animisme memang seharusnya tidak dikembangkan dari pemikiran bahwa beberapa benda yang tidak bergerak dianggap hidup seperti manusia dan berperilaku seperti manusia, tetapi jauh lebih kompleks lagi–atau meminjam istilah Robert Marett, tidak sesederhana itu, kawan.

Misalnya Pohon dan tanaman yang dipuja sebagai totem yang sepintas mungkin kita kira itu karena keagungan-nya, karena ukurannya, karena kegunaannya atau karena keindahannya.

Dalam beberapa budaya masa lalu dan kini, di beberapa budaya yang masih ada, pohon dianggap sebagai dewa atau roh hutan, penjaga, sebagai leluhur. Ada yang menganggapnya sebagai ibu–bukan dalam bentuk fisiknya mungkin, tapi sifatnya.

Benda-benda yang kita anggap mati itu benar-benar dihormati bahkan ketika mereka dikorbankan saat akan dimanfaatkan. Anda sekarang mungkin akan menganggap lucu jika ketika menebang pohon atau mengambil sesuatu yang berasal dari alam terlebih dahulu harus meminta maaf dan melakukan upacara-upacara dengan doa dan pujian, nyanyian, bahkan ratapan. Tapi itulah yang terjadi dalam kepercayaan yang kita sebut animisme. Jadi, mereka tidak mungkin merusak hutan dengan gegabah.

Bagi mereka tidak ada perbedaan antara spiritual dan material, sakral dan sekuler. Semuanya satu, tunggal. Karena menurut mereka, saat hidup hubungan manusia itu tidak sebatas dengan sesamanya dan dengan tuhan, tetapi juga dengan alam; sebuah triangulasi.

***

Animisme sayangnya, tanpa dimengerti dengan baik, tanpa diketahui asal-usulnya, kemudian digunakan secara membabi buta dalam kajian sederhana untuk membahas tema-tema Antropologi, sejarah dan bahkan untuk beberapa ilmu lainnya; sebagai sebuah istilah dangkal untuk sistem kepercayaan di beberapa suku dan kebudayaan yang belum menganut agama besar, agama yang oleh si peneliti belum diketahui, atau tidak diakui.

Padahal setiap budaya di masing-masing tempat itu memiliki konsepsi kepercayaan yang berbeda dan juga tentu saja ritualnya berbeda. Perspektif animisme terus saja digunakan untuk men-generalisasi, untuk mereduksi gagasan yang sebenarnya, yang panjang lebar seharusnya.

Istilah animisme ini jelas adalah konstruksi antropologi, yang memang dipahami oleh mereka para antropolog dan bukan sembarang orang–untuk memakai istilah ini kita haruslah ahli, tentu saja.

Minimal kita melakukan kerja-kerja para antropolog dan tentu saja jika anda ditanya kenapa, mengapa, dan bagaimana, anda siap dengan jawaban panjang lebar dari apa yang kita istilahkan itu.

Atau bayangkan jika ada yang memanggil Saya, Anda, Teman Anda, Ibu Anda, atau bahkan orang yang sekarang ada di samping Anda dengan nama yang sama?

Bahwa mungkin saat kita dipanggil dengan nama yang sama adalah untuk menyatakan bahwa orang itu tidak kenal kita, atau kita tidaklah penting, tidak spesial, atau bisa jadi sebaliknya?

Permasalahan konsepsi kepercayaan ini belum selesai, bagaimana dengan Dinamisme, Politeisme, Henoteisme, Monotheisme, atau dengan isme-isme lainnya?
De omnibus dubitandum, segala sesuatu harus diragukan!