Categories Humaniora Tags

Palliative Care dan Harapan Hidup Pasien Kanker

Para peneliti Jepang yang mempelajari pasien kanker stadium terminal dari tahun 2012-2014, menyimpulkan bahwa mereka yang memilih untuk Palliative Care di rumah hidup lebih lama daripada yang memilih meninggal di rumah sakit. Studi ini dilakukan oleh Japan Prognostic Assessment Tools Validation (J-ProVal) yang melakukan penelitian intensif terhadap 2.069 pasien penerima Palliative Care (perawatan paliatif)—perawatan yang … Read more

Para peneliti Jepang yang mempelajari pasien kanker stadium terminal dari tahun 2012-2014, menyimpulkan bahwa mereka yang memilih untuk Palliative Care di rumah hidup lebih lama daripada yang memilih meninggal di rumah sakit.

Studi ini dilakukan oleh Japan Prognostic Assessment Tools Validation (J-ProVal) yang melakukan penelitian intensif terhadap 2.069 pasien penerima Palliative Care (perawatan paliatif)—perawatan yang sudah berfokus pada pengurangan gejala saja, bukan untuk menghentikan atau menunda.

1.582 pasien dalam studi ini dilaporkan menerima perawatan paliatif di rumah sakit dan 487 pasien menerima perawatan paliatif di rumah.

Sementara itu dilaporkan ada 58 spesialis perawat paliatif yang terlibat dalam penelitian ini. Hasil analisisnya bahkan telah disesuaikan dengan faktor-faktor yang cukup kecil, seperti karakteristik klinis hingga demografi.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ‘Cancer- Wiley Online Library‘; onlinelibrary.wiley.com minggu ini (28/3).

Tujuan utama studinya sendiri adalah untuk mengeksplorasi perbedaan potensial dalam waktu kelangsungan hidup pasien kanker, meninggal di rumah atau di rumah sakit.

Kesimpulan yang peneliti berikan, dengan memilih untuk meninggal di rumah, membantu pasien kanker stadium terminal (proses yang progresi menuju kematian) hidup lebih lama.

Tim peneliti mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa ahli onkologi (spesialis penanganan kanker) tidak perlu ragu untuk mempertimbangkan perawatan paliatif berbasis rumahan.

Dr. Juni Hamano, asisten profesor di University of Tsukuba, mengatakan bahwa pasien dan keluarga cenderung khawatir bahwa perawatan di rumah tidak akan memberikan kualitas perawatan seperti yang diberikan di rumah sakit.

“Pasien, keluarga, dan dokter harus diyakinkan bahwa perawatan di rumah yang baik justru tidak memperpendek umur pasien, dan bahkan mungkin mencapai kelangsungan hidup lebih lama,” tegas Hamano.

Kebanyakan dari kita mungkin akan lebih memilih untuk meninggal di rumah, dikelilingi oleh orang-orang terkasih dan tidak ingin menyusahkan keluarga dengan biaya perawatan.

Akan tetapi, seringkali hidup seseorang harus berakhir di rumah sakit, dalam kesendirian.

Penelitian ini benar-benar akan memberi kita ruang diskusi untuk kembali melihat sistem medis kita dan kualitas hidup seseorang selama hari-hari terakhirnya.

Terlebih perawatan paliatif (Palliative Care) sebetulnya bukan hal baru dalam dunia medis kita. Di Indonesia sendiri, Pemerintah lewat Menteri Kesehatan bahkan telah merumuskannya dalam Kemenkes RI Nomor 812, 2007.

Namun perlu diingat bahwa penelitian ini tidak berbicara tentang lebih baik merawat di rumah daripada di rumah sakit untuk kasus-kasus penyakit umum. Pastikan sebelum mengambil keputusan perawatan, diskusikan dengan ahli-nya terlebih dahulu.