Categories Humaniora Tags

Kehilangan Pasangan dapat Memicu Masalah Jantung

Siapapun pasti setuju, kehilangan pasangan atau orang yang dicintai adalah salah satu ‘tantangan’ paling berat dalam hidup ini. Sebuah studi baru-baru ini bahkan melaporkan hal itu berpotensi meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular akut. Studi yang diterbitkan dalam Open Heart – a journal of The BMJ; openheart.bmj.com (5/4), menemukan hubungan risiko detak jantung tidak teratur—faktor kunci risiko … Read more

Siapapun pasti setuju, kehilangan pasangan atau orang yang dicintai adalah salah satu ‘tantangan’ paling berat dalam hidup ini. Sebuah studi baru-baru ini bahkan melaporkan hal itu berpotensi meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular akut.

Studi yang diterbitkan dalam Open Heart – a journal of The BMJ; openheart.bmj.com (5/4), menemukan hubungan risiko detak jantung tidak teratur—faktor kunci risiko stroke dan gagal jantung—yang meningkat hingga 1 tahun setelah kematian pasangan terkasih.

Dilansir medicalnewstoday.com (6/4), sejumlah penelitian sebelumnya juga telah melaporkan bahwa kehilangan orang yang dicintai menyebabkan stress dan masalah pskilogis yang parah hingga memengaruhi kesehatan jantung.

Studi yang dilakukan para peneliti dari St. George University of London di Inggris pada tahun 2014, misalnya, menemukan bahwa risiko serangan jantung atau stroke berpotensi dua kali lipat dalam 30 hari pertama setelah kematian pasangan terkasih.

Namun, Dr Simon Graff, dari Departemen Kesehatan masyarakat, Unit Penelitian untuk praktek umum di Aarhus University, Denmark, dan rekan-rekannya mencatat bahwa belum ada penelitian skala besar guna menilai bagaimana kematian pasangan mempengaruhi resikoAtrial Fibrillation (AF).

AF merupakan bentuk gangguan irama atau ketidakteraturan denyut jantung (aritmia) yang menyebabkan ruang atas jantung (atrium) tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga pasokan dan aliran darah ke seluruh tubuh pun berkurang.

AF pada gilirannya dapat menyebabkan pengumpulan dan penggumpalan darah. Gumpalan yang terbawa sampai ke otak, menyumbat pembuluh arteri, dan mengganggu pasokan darah. Situasi ini seringkali menjadi awal dari serangan stroke dan gagal jantung.

Dr. Graff dan Tim-nya lebih lanjut melihat hubungan kematian pasangan yang memengaruhi resiko AF dengan menganalisis data dari 88.612 orang yang didiagnosis AF beserta 886.120 orang sebagai kontrol sehat—tidak memiliki AF, tapi secara usia dan jenis kelamin hampir sama.

Di antara mereka yang didiagnosa AF, 17.478 melaporkan telah kehilangan pasangan, sementara itu 168.940 orang dari kelompok kontrol sehat menyatakan telah kehilangan pasangan mereka.

Dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kehilangan pasangan, para peneliti menemukan partisipan telah berada pada tahap 41% lebih besar risiko untuk mengembangkan AF dalam 30 hari pertama setelah pasangan mereka meninggal.

Risiko AF tertinggi terjadi dalam 8-14 hari setelah kematian pasangan terkasih, kemudian secara bertahap menurun. Namun, risiko AF tidak kembali normal seperti pada mereka yang tidak kehilangan pasangan, bahkan setelah 1 tahun berlalu.

Mereka yang berada di bawah usia 60 tahun dan telah kehilangan pasangan, memiliki risiko AF paling besar, risikonya bahkan mencapai dua kali lipat dibanding mereka dengan usia yang sama namun tidak kehilangan pasangannya.

Mereka yang pasangannya relatif sehat—di bulan sebelum meninggal—sangat rentan untuk terserang risiko AF; sementara itu hanya 57% dari mereka yang pasangan memang tidak sehat—di bulan sebelum kematian—beresiko mengembangkan AF.

Para peneliti berspekulasi bahwa keadaan itu dipicu oleh tingkat stres terkait dengan kehilangan pasangan yang tidak diharapkan atau tidak terduga sebelumnya.

Peningkatan risiko AF yang berhubungan dengan kematian pasangan juga dinilai tetap setelah memperhitungkan faktor jenis kelamin, kondisi—termasuk penyakit jantung dan diabetes—dan pengunaan obat.

Para penulis memberi penekanan bahwa studi yang mereka lakukan bersifat pengamatan, sehingga tidak mampu menyimpulkan bahwa kematian pasangan adalah penyebab langsung dari AF.

Para peneliti juga menyatakan mereka belum memperhitungkan sejumlah faktor yang berpotensi, termasuk gaya hidup dan riwayat kesehatan keluarga.

Sementara ini mereka hanya bisa berhipotesis bahwa itu mungkin karena stres berlebih yang telah meningkatkan produksi kimia tubuh dan terlibat dalam pembengkakan hingga mengganggu ritme jantung.

Meskipun mekanisme sebab-akibat yang mendasari hubungan kehilangan pasangan dan AF belum lah kuat, identifikasi ini mampu menjadi modal awal untuk mendorong dan memunculkan studi lebih lanjut khususnya untuk menentukan mekanisme kausal yang terlibat