Categories Humaniora

Tanam Pohon Hari ini, Belum Terlambat Menabur

Kesadaran untuk tanam pohon atau ‘membangun’ kembali hutan memang perlu digalakkan. Kegiatan penanaman kembali wilayah yang dahulunya hutan, harus menjadi terus populer sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungan. Konversi

Kesadaran untuk tanam pohon atau ‘membangun’ kembali hutan memang perlu digalakkan. Kegiatan penanaman kembali wilayah yang dahulunya hutan, harus menjadi terus populer sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungan.

Konversi hutan dari waktu ke waktu untuk ‘penggunaan lain’, seperti pertanian dan pemukiman, sangat berdampak terhadap keseimbangan ekologi. Banjir, longsor, kekeringan, dan berkurangnya keanekaragaman hayati adalah masa depan nanti.

Namun, keberhasilan penanaman sejatinya memang dipengaruhi berbagai faktor, baik secara teknik ataupun non teknik (seperti kondisi keamanan atau konflik di wilayah penanaman).

Secara teknik misalnya, ada beberapa hal yang kiranya perlu diperhatikan agar tingkat keberhasilan penanaman mampu maksimal, sekurangnya meliputi:

Pemilihan Bibit Tanam Pohon

Dalam kegiatan penanaman, pemilihan bibit pohon merupakan hal sangat penting, mengingat banyak kegagalan kegiatan penghijauan akibat kurang tepatnya memilih bibit.

Bibit pohon jenis ‘lokal’ seharunya menjadi pilihan yang utama karena jenis tersebut paling sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar, meliputi kesesuaian dengan jenis tanah dan iklim.

Penanaman beragam jenis (heterogen) sangat disarankan, karena tegakan campuran akan lebih tahan dari gangguan hama dan baik untuk mendukung relung ekologi.

Pemilihan bibit sebaiknya disesuaikan dengan tujuan penanaman itu sendiri karena dalam kegiatan penanaman biasanya ada ‘target’ yang ingin dicapai. Sebagai contoh, ada yang melakukan kegiatan penanaman yang tujuan utamanya melakukan restorasi. Maka jenis yang cocok adalah jenis pohon yang sama dengan pohon asli area tersebut.

Selain penghijauan, ada juga yang bertujuan memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Untuk hal ini, jenis pohon yang cocok digunakan adalah jenis pohon serbaguna atau istilahnya multi purpose tree species (MPTS) seperti dari jenis buah-buahan contohnya: nangka, durian, rambutan. Ada juga yang melakukan penanaman untuk tujuan estetika seperti taman kota.

Pemilihan jenis bibit yang kurang tepat bisa merugikan. Kegagalan total penanaman atau bahkan pada tahap yang serius menyebabkan terganggunya ekosistem jika yang ditanam jenis invasive species.

Karakteristik jenis bibit pun harus diperhatikan karena ada jenis bibit pohon yang perlu naungan. Mengingat kegiatan penanaman yang paling banyak dilakukan saat ini dilakukan di area terbuka (tanpa naungan) sehingga perlu dipersiapkan naungan ‘buatan’ –yang biasanya dibuat dari daun kelapa yang dianyam–jika tidak tersedia naungan alami.

Ukuran bibit ideal yang ditanam adalah sekitar 20 cm sampai 100 cm tergantung jenisnya. Ukuran minimal bibit sebenarnya ditentukan ketika bibit siap dipindahkan. Pemilihan bibit ini sangat menentukan tingkat keberhasilan tumbuh.

Bibit yang masih dalam masa semai, tingkat adaptasinya lebih tinggi, perawatan-nya pun lebih mudah, dan murah jika dibandingkan bibit yang terlalu besar.

Persiapan Lahan

Persiapan lahan diawali dengan pembersihan gulma dengan tujuan mengurangi gangguan yang ditimbulkan oleh gulma. Karena gulma bisa jadi inang untuk hama penyakit dan untuk mengurangi pesaing dalam mendapatkan nutrisi dalam tanah. Tahap selanjutnya adalah penentuan jarak tanam.

Penentuan jarak tanam disesuaikan dengan kondisi lahan dan jenis yang akan ditanam. Kondisi lahan yang subur membuat bibit tumbuh dengan baik, sehingga jika menanam di tanah yang subur maka perlu jarak tanam yang cukup luas dibanding dengan tanah yang kurang subur.

Untuk jenis pohon yang ukuran normalnya besar dan atau mempunyai kanopi lebar, memerlukan ruang tumbuh yang sesuai sehingga perlu jarak tanam yang luas. Oleh karena itu perlu pertimbangan yang matang dalam penentuan jarak tanam.

Setelah jarak tanam ditentukan, dilanjutkan dengan pembuatan lubang tanam. Pembuatan lubang tanam ditentukan jenis dan ukuran bibit. Secara umum dimensi lubang tanam (Panjang x Lebar x Kedalaman) setidaknya 50 cm x 50 cm x 50 cm.

Tahapan selanjutnya dalam persiapan lahan adalah pemupukan. Pemberian pupuk bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah yang mungkin sebelumnya menurun akibat konversi lahan.

Pupuk yang direkomendasi-kan adalah pupuk kandang atau pupuk kompos karena jenis pupuk tersebut tidak menimbulkan efek samping bagi lingkungan. Pupuk yang diperlukan setiap lubang tanam sekitar 0,5 – 1 kg. Kemudian lahan dibiarkan kurang lebih sekitar 1-2 minggu sebelum siap ditanami.

Tanam Pohon, Penanaman

Penanaman pohon paling baik dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 dan sore 16.00 sampai 18.00 karena saat tersebut suhu permukaan tanah sedang turun dan stabil sehingga tingkat stress bibit rendah.

Biasanya sebelum ditanam bibit disemai dalam polybag, saat mengeluarkan bibit harus hati-hati agar akar tidak terganggu. Bibit diletakan tegak lurus di dalam lubang tanam agar proses adaptasi dan pertumbuhannya berjalan baik.

Kemudian lubang tanam ditutupi oleh tanah dengan menekan tanah pelan-pelan sampai bibit bisa berdiri dengan tegak. Musim hujan adalah saat terbaik untuk menanam , jika tidak memungkinkan maka perlu penyiraman secara berkala.

Pemeliharaan

Tahap pemeliharan adalah tahap yang kadang dilupakan dalam kegiatan penanaman, padahal tahap ini pun menentukan tingkat keberhasilan tumbuh bibit yang telah ditanam. Hal itu kadang disebabkan oleh keterbatasan biaya, waktu ataupun pengetahuan.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya: pembersihan gulma, penyiraman dan pemberian pupuk (jika perlu), penyulaman, dan pemangkasan dahan/daun (pruning).

Pembersihan gulma mutlak diperlukan secara rutin, mengingat bibit dalam masa adaptasi (dari lingkungan persemaian ke lahan) sehingga kemampuan untuk bertahan dan pertumbuhannya perlu dijaga dan gulma bisa mengganggu hal tersebut.

Penyiraman perlu dilakukan jika sedang tidak musim hujan atau sudah lama tidak turun hujan. Waktu terbaik menyiram tanaman saat pagi sekitar pukul 05.00-09.00 karena pada saat itu transpirasi tanaman sedang rendah.

Sedangkan pemupukan dilakukan jika diperlukan saja, karena tiap lahan mempunyai kondisi berbeda, jika tanah kurang subur maka perlu ditambahkan pupuk.

Secara umum tingkat keberhasilan tumbuh paling tinggi adalah 80 %, oleh karena itu penyulaman atau penggantian bibit yang gagal tumbuh perlu dilakukan jika ingin memaksimalkan penggunaan lahan. Penyulaman dilakukan dengan menghilangkan bibit yang gagal tumbuh terlebih dahulu kemudian menggantinya dengan bibit yang baru.

Pemangkasan dahan/daun (pruning) biasanya diperlukan untuk jenis pohon dan tujuan tertentu. Sebagai contoh bibit pohon jati (Tectona grandis) pada awal pertumbuhan daunnya sangat lebat dan rapat, jika dibiarkan hal itu akan menyebabkan batang bengkok karena terlalu berat menahan beban daun. Maka menghilangkan sebagian daun merupakan langkah yang diambil agar pertumbuhan batang utama baik (tumbuh besar, kuat, dan lurus).

Contoh lainnya, untuk beberapa jenis pohon yang diambil buahnya seperti nangka atau rambutan, pemangkasan dahan dilakukan agar nutrisi yang digunakan tidak ‘boros dan fokus’ terhadap persiapan untuk berbuah.

Tidak seperti kegiatan pemeliharaan lainnya yang diperlukan sekitar 3-6 bulan saja, kegiatan pruning ini bisa dilakukan sampai bertahun-tahun, disesuaikan dengan kebutuhan.

Kawan, Rekan, dan Handai Taulan, ada pepatah lama dari Cina yang kurang lebih menyatakan bahwa, waktu yang teramat sangat baik untuk tanam pohon itu adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik berikutnya yaitu saat ini.

Banyak program penanaman kekinian memang telah dilakukan terutama setelah isu lingkungan menjadi ‘masalah’. Semisal ‘One Man One Tree’ pada tahun 2008 yang kemudian dilanjutkan dengan program ‘Penanaman Satu Milyar Pohon’ pada tahun 2011 oleh pemerintah Indonesia.

Dari pihak perusahaan (pihak swasta), tanam pohon pun menjadi salah satu kegiatan favorit dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Masyarakat pun tak kalah dalam hal kegiatan penanaman, baik yang dilakukan secara swadaya atau kerja sama dengan lembaga non-pemerintah.

Data mengenai jumlah bibit yang berhasil ditanam (realisasi penanaman) mudah didapatkan terutama untuk kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Akan tetapi untuk tingkat keberhasilan tumbuh, baik secara data ataupun kenyataan, sayangnya untuk saat ini, di lapangan, sulit sekali ‘diketahui’—atau memang tidak pernah ada?