Image by Farrel Nobel
Categories Humaniora Tags

Orang Tua dan Anak; Membandingkan di Timur dan Barat

Hubungan Orang Tua dan anak selalu menarik. Ada yang menunjukkan kasih sayangnya dengan memberi hadiah, lainnya dengan kata-kata. Ada yang meluangkan dan berbagi waktu yang berkualitas, ada juga yang menyatakan kasih dengan Tindakan. Tapi secara umum, Orang Tua di dunia Timur memang jarang mengungkapkan ‘bahasa cinta’ untuk Anak mereka dengan kata-kata. Dunia yang sekarang dibagi … Read more

Hubungan Orang Tua dan anak selalu menarik. Ada yang menunjukkan kasih sayangnya dengan memberi hadiah, lainnya dengan kata-kata. Ada yang meluangkan dan berbagi waktu yang berkualitas, ada juga yang menyatakan kasih dengan Tindakan. Tapi secara umum, Orang Tua di dunia Timur memang jarang mengungkapkan ‘bahasa cinta’ untuk Anak mereka dengan kata-kata.

Dunia yang sekarang dibagi ke dalam beberapa budaya dan kuasa, suatu ketika pernah hanya dilihat sebagai dua alam yang memang berbeda; satu Timur yang lain Barat.

Saya tidak akan membahas istilah, konsep, atau dikotomi Timur-Barat secara khusus. Tulisan inipun tidak sedang berusaha untuk memecahkan masalah yang terjadi. Tulisan ini sejatinya sedang mencoba berbagi keraguan dari penyataan dan pertanyaan. Sesungguhnya–dengan penuh kesadaran Saya akui–bahwa Barat-Timur adalah analogi yang terlalu bombastis untuk diperbandingkan di sini.

***

Sehubungan dengan keluarga, bagi kebanyakan orang Timur, sebetulnya cara berhubungan mereka bukan masalah dan tidak perlu dipersalahkan. Tapi, persoalannya menjadi lain ketika Timur mulai dibandingkan dengan budaya yang berbeda, khususnya budaya keluarga Barat terutama Eropa dan Amerika. Yang lebih naasnya lagi adalah keraguan itu justru muncul dari penerus generasi Timur sendiri.

Misal yang sering diandaikan adalah hubungan Anak dan Orang Tua di budaya Barat yang kabarnya lebih merdeka. Hubungan yang konon berbeda, mereka bahkan bisa seperti ‘teman’, cara komunikasi mereka juga tidak kaku, dan mereka tidak malu-malu untuk mengatakan “I Love You“.

Apakah ada yang salah dengan hubungan antar keluarga di Timur? apakah Orang Tua dan Anak di budaya Timur salah dalam berhubungan? Pertanyaan yang kemarin sore saya dapati, dan tentu saja jawabannya adalah “Tidak!”

Sebagian besar Orang Tua Timur memang tidak mengatakan rasa cinta dengan sangat gamblang, namun itu tidak berarti mereka tidak mengatakan hal itu. Ya, ada yang tersirat dibalik yang tersurat–bahkan tidak butuh semiotik atau hermeneutik untuk bisa melihat itu.

Jangan harap Orang Tua di Timur mengatakan secara eksplisit bahwa mereka sangat cinta kepada anaknya–dan juga sebaliknya–namun di balik setiap kata “sudah makan?” “Bagaimana sekolah?” “Kamu sehat?” atau “perlu uang?” Ada ungkapan cinta yang tak perlu kita debatkan lagi berapa besar kadar kasih di dalamnya.

Belum lagi jika ditambah dengan tindakan. Di sini kita punya beratus kisah Orang Tua yang rela melakukan segala sesuatu yang mereka bisa, hanya ingin memastikan bahwa anaknya lebih baik dari mereka. Maka, kurang ajarlah jika ditarik kesimpulan Orang Tua di Timur tidak tau caranya mencintai anak.

Orang Tua di Timur justru kebanyakan adalah perwujudan dari ungkapan “cinta adalah tindakan, bukan sekadar ungkapan”. Mereka merasa tidak perlu untuk mengatakan “I Love You” untuk membuktikan bahwa mereka mencintai, tindakan mereka akan memberitahu itu, bahkan lebih dari yang kita dapat dari sekadar ungkapan.

Sayangnya, Anak di Timur mungkin sebagian tidak menyadari bahwa itu adalah bahasa cinta dari Orang Tua mereka. Hingga akhirnya mereka memaksa untuk “pindah budaya”. Yang pasti adalah, saat mereka tumbuh dewasa dan saat Orang Tua telah tidak ada, kesadaran itu mungkin akan datang menggoda.

***

Bicara mengenai keluarga di dunia timur, seturut Berger, bisa diamati dari konstitusi realitas dengan bahasa. Orang Eropa, misalnya Belanda, hanya mengenal kira-kira dua puluh istilah berhubungan dengan keluarga (kinship).

Jauh berbeda dengan bahasa orang Tionghoa yang mengenal lebih dari seratus untuk kasus yang sama. Orang Betawi di Jakarta bahkan menganggap sekampung adalah saudara. Suku Sunda lebih jelimet lagi, mereka punya istilah sabondoroyot, artinya7 turunan–generasi ke atas dan ke bawah dengan tetek bengek panggilannya yang harus diobrolkan dengan saling mengingatkan (Panca Kaki).

Kita memang dihadapkan pada realitas “lain di Barat lain di Timur”. Di Barat, anak didorong secepat mungkin berdiri sendiri (miskin atau kaya urusan dia). Kedepannya dia berarti tidak banyak berhubungan lagi dengan keluarga–bahkan tidak mengharap ditolong saudara dan juga tidak bersedia menolong. Untuk masalah kemandirian, memang luar biasa.

Namun, Orang Tua jika saatnya tiba harus rela disimpan dalam rumah-rumah khusus untuk orang Jompo–gejala yang mulai menjalar ke Timur–karena dianggap bukan urusan dari anak-anak atau cucu-cucunya lagi dan bahkan mungkin hanya merepotkan.

Anak di dunia Timur walaupun sangat kaku, sejatinya berhubungan erat dengan Orang Tuanya. Hal yang sama, Orang Tua bahkan tidak mendorong anak untuk meng-individualisasi-kan dirinya–walaupun pada dasarnya sebagian Orang Tua juga tahu persis Anak mereka adalah “harta” dalam arti sesungguhnya.

Banyak anak, banyak rezeki. Walaupun sepertinya adagium usang, namun sepenuhnya masih menjadi lambang. Orang Tua tanpa anak dianggap sial karena tidak ada yang akan menguburnya nanti dan tidak akan ada yang meratapi dengan doa-doa untuk menjinakkan Surga.

Segala hal berdasar protokol dan segala tindakan dilegalisir berdasar pepatah, kode, adat susila, atau aturan norma-agama. Protokol yang justru hampir hilang di dunia Barat ini, masih kuat di Timur.

Tidak hanya orang tua, nenek moyang yang telah tiada bahkan selalu dianggap berpartisipasi dalam hidup mereka yang masih berkeliaran di dunia. Bahkan dari kata “Orang Tua” pun sesungguhnya tergambar bahwa bukan hanya hubungan darah saja penghormatan itu berakar.

Setiap tahun–atau bahkan jika ada kepentingan–orang-orang Timur tak segan-segan datang dan berdoa di muka tempat moyang beristirahat. Jika masih kurang, mereka akan menyediakan tempat khusus berdoa di rumah. Di lain wilayah, bahkan raga si Jenazah akan terus “dirawat”.

***

Kesatuan, integritas dan rasa aman ialah dasar realitas hubungan keluarga di Timur. Mungkin orang Timur lebih miskin daripada orang Barat, tapi kemiskinan dan kesusahan hidup mereka nyatanya lebih ringan dipikul karena beban dibagi rata antar keluarga.

Dalam masyarakat, unsur dasar bagi orang Timur adalah Desa, dan dalam Desa unsur dasar itu adalah keluarga. Desa terdiri dari sejumlah keluarga yang hampir semua saling mengenal dan jika ditelusuri punyai hubungan moyang yang dekat.

Setiap keluarga berperan dalam kerja-kerja turunan yang memang sudah stabil dan harus stabil. Akibatnya, yang penting untuk satu keluarga dianggap penting untuk semua orang. Kelahiran, kematian, dan perkawinan bahkan dianggap urusan bersama.

Dalam segala hal, kooperasi menjadi syarat mutlak untuk hidup di Timur. Setiap orang selain dapat makan dan keamanan, mereka juga miliki kehormatan yang kadang tidak berdasar pada kekayaan atau prestasi pribadi. Semua itu bisa jadi adalah amanat, warisan dari Orang Tua yang di Barat masih dipelihara baik atas nama kerajaan.

Rasa keamanan dalam keluarga lebih jauh dibentuk pada ketergantungan dan berdasar pada hak dan kewajiban yang sudah tak perlu diingatkan. Rasa keamanan ini justru yang menjaga wilayah-wilayah bagi setiap konservatif yang tidak mau mengusik hal-hal sensitif.

Bagi orang Barat, sukses mungkin digambarkan sebagai dorongan kerja keras dan mencari jalan baru; sukses memberi gengsi pribadi. Bagi orang Timur, sukses hanya mempunyai arti jika dia menjadi the favorite son, anak mas dari ibunya, ayahnya atau sanak keluarganya. Lebih dari itu adalah atas jasanya kepada desa, bahkan tidak keluar dari norma yang berakibat mempermalukan keluarga saja itu dihitung dan dijumlah.

Harus diakui bahwa juga di India, corak keluarga itu utama. Bahkan bagi mereka, sistem kasta bisa hilang tapi kehormatan keluarga masih harus terus dijaga. Hal yang sama terjadi di Jawa. Orang Jawa bisa saja berganti gaya, tapi pada dasarnya prinsip mereka sama, “mangan ora mangan waton kumpul“; makan atau tidak yang terpenting adalah berkumpul bersama.

Sedemikian perbedaan Timur dan barat perihal hubungan Anak dan Orang Tua yang lebih dari sekadar perbedaan tempat yang berbeda. Pun realitas dunia mungkin kini sama, tapi realitas karakter keduanya sangat berbeda baik historis maupun budaya.

Pembagian Barat-Timur yang berakar dalam realitas historis itu pun sepertinya kembali riskan. Kita tak bisa menutup mata bahwa persoalan kebudayaan utama pada zaman sekarang bagi Timur ialah, Apakah dunia Timur akan bertahan terhadap banjir pengaruh Barat? Apakah Timur akan berhasil mempertahankan jiwa asli kebudayaan mereka?

Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah kekuatan kultural sekarang masih cukup kuat untuk “melawan” pengaruh barat? Apakah Timur bisa sekali lagi membuat benteng akulturasi yang di dalamnya ia tetap menapak pada karakternya?

Dewasa ini, kita bisa saja menjadi cukup pesimis atas jawaban-jawaban yang muncul. Bahkan sebelum sampai pada kegundahan itupun, rasanya tak adil juga jika mengatakan hubungan keluarga di Barat sepenuhnya buruk dan keluarga di Timur adalah yang terbaik.

Mungkin saja, justru, apa yang dilakukan di Barat itu adalah jawaban terbaik dari keinginan zaman. Tapi lagi-lagi hanya sejarah hari depan yang bisa menjawab dan membuktikan hal ini.

Untuk sekarang, mari kita sama-sama renungi, bahwa Timur saat ini harus bisa melihat kembali tentang “sikap diam” mereka yang mulai tak terbaca penerus generasi. Walaupun begitu, tetap harus ada satu yang pasti: East is East and West is West. Timur tanpa Barat, justru akan kehilangan eksistensi-nya, begitupun sebaliknya.