Categories Humaniora

Limbah Makanan dan Dampak yang Bisa Dicegah

Konsumen termasuk pihak yang paling banyak dalam menghasilkan limbah makanan, baik itu dari makanan yang tidak dihabiskan, dibuang atau tidak sempat dikonsumsi akibat busuk atau habis masa kadaluwarsanya, lalu apa

Konsumen termasuk pihak yang paling banyak dalam menghasilkan limbah makanan, baik itu dari makanan yang tidak dihabiskan, dibuang atau tidak sempat dikonsumsi akibat busuk atau habis masa kadaluwarsanya, lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi limbah?

Berdasarkan Food and Agricultural Organisation (FAO), badan PPB untuk urusan pangan dan pertanian dunia, secara global limbah dari makanan dihasilkan dengan pola yang berbeda di setiap negara.

Limbah makanan (food waste/food loses) secara sederhana diartikan sebagai makanan atau bahan makanan yang ‘hilang’ atau terbuang, sepanjang rantai pasok dimulai dari proses produksi, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga di tingkat konsumsi.

Di negara yang berpenghasilan tinggi, limbah makanan paling banyak dihasilkan pada tahap pengolahan, distribusi, dan konsumsi. Hal tersebut disebabkan oleh preferensi estetika (contohnya terkait tampilan dan ukuran makanan) serta aturan masa kadaluwarsa.

Sedangkan di negara berpenghasilan rendah, limbah ini paling banyak dihasilkan pada tahap produksi dan paska panen, karena terbatasnya fasilitas dan pengetahuan dalam hal penyimpanan serta penanganan makanan, ditambah dengan kondisi iklim yang berperan dalam proses pembusukan makanan.

Limbah ini menjadi masalah yang serius karena selain erat hubungannya dengan isu ketahanan pangan juga terkait dengan pemanasan global yang memicu perubahan iklim.

Sisa makanan menggambarkan limbah dari sumber daya yang digunakan dalam produksi seperti air dan energi. Limbah tersebut menyebabkan adanya emisi CO2 yang tidak dibutuhkan ( emisi CO2 merupakan parameter utama dalam pemanasan global ).

Pada tahun 2011, FAO menerbitkan hasil penelitian terkait dampak sisa yang tidak digunakan dari makanan terhadap perubahan iklim melalui pendekatan jejak karbon. Hasil penelitian mengungkap bahwa secara global, sekitar sepertiga atau sekitar 1,3 milyar ton per tahun makanan yang diproduksi menjadi limbah.

Jumlah tersebut setara dengan 3,3 giga ton CO2. Tentu saja jumlah tersebut sangat besar baik secara ekonomi atau emisi CO2 yang dihasilkan oleh karena itu FAO menjadikan kampanye pengurangan limbah yang berasal dari makanan sebagai bagian dari kampanye perubahan iklim.

Gerakan mengurangi limbah makanan secara global

Gerakan mengurangi limbah dari atau sisa makanan secara global diinisiasi FAO secara resmi dengan meluncurkan gerakan The Save Food Initiative pada 2011. Gerakan tersebut berdasarkan empat pilar utama yaitu :

  • Kolaborasi dan koordinasi secara global
  • Peningkatan kesadaran kepada masyarakat terhadap isu limbah makanan dan solusi untuk menguranginya
  • Penelitian dalam hal kebijakan, strategi, dan program untuk mengurangi limbah makanan
  • Dukungan untuk memulai dan mengimplementasikan proyek terkait pengurangan limbah oleh pihak swasta dan publik.

The Save Food Initiative mempunyai cabang di tiap benua dengan kerjasama berbagai pihak seperti lembaga swadaya masyarakat dan perusahaan. FAO bersama lembaga PPB terkait juga meluncurkan kampanye bertajuk Think Eat Save-Reduce Your Footprint pada tahun 2013.

Selain itu saat ini FAO menyusun materi edukasi terkait isu limbah atau sisa konsumsi makanan untuk meningkatkan kesadaran di lingkungan sekolah untuk menguranginya.

Target edukasi ini meliputi siswa, guru, pengelola sekolah dan keluarga mereka dengan harapan pendidikan tersebut menimbulkan dampak yang luas terhadap pengurangan limbah di sekolah dan rumah tangga.

Selain FAO banyak gerakan serupa yang dilakukan oleh organisasi ataupun perorangan, seperti yang dilakukan oleh Selina Juul di Denmark.

Selina Juul telah membantu mengurangi sekitar 25% limbah makanan di Denmark dengan meyakinkan salah satu supermarket terbesar di Denmark untuk mengganti sistem diskon pembelian jumlah banyak (quantity discount) dengan diskon pembelian tiap satuan (single item discount) terutama untuk produk sayuran dan buah. Idenya tersebut diterima dan cukup berhasil.

Selain itu dia memberikan edukasi terhadap konsumen (termasuk program di sekolah-sekolah) dengan memberikan panduan dalam mengurangi limbah makanan. Dengan bantuan idenya tersebut, Denmark menjadi negara eropa paling sukses dalam upaya pengurangan limbah makanan.

Mengurangi limbah makanan skala rumah tangga atau perorangan

Belanja Secara Realistis

Mempertimbangkan apa yang akan dibeli merupakan salah satu cara mengurangi limbah. Susun daftar belanja yang dibutuhkan, meliputi jenis dan jumlah. Hal tersebut akan menghindari kita dalam membeli makanan secara berlebihan sehingga kita bisa melakukan penghematan uang.

Simpan Makanan di Tempat yang Benar

Menyimpan makanan di tempat yang benar bisa membuat makanan lebih tahan lama . Tidak semua buah dan makanan harus disimpan di dalam kulkas agar tahan lama, ada juga yang lebih baik disimpan di dalam suhu ruangan.

Selain itu tata letak makanan di dalam kulkas pun perlu diperhatikan, seperti daging di dalam freezer atau sayuran di bagian paling bawah. Biasanya kulkas telah memberikan petunjuk melalui simbol yang terdapat di dalamnya.

Akan tetapi untuk informasi yang lebih detail kita bisa mencari informasi melalui sumber tepercaya (buku atau tulisan di internet) atau bertanya terhadap orang yang lebih mengerti. Sebagai tambahan jangan lupa untuk menggunakan prinsip FIFO (First in, Firs Out) dalam mengkonsumsi makanan yaitu mengkonsumsi yang dibeli terlebih dahulu.

Memasak Seperlunya

Seperti halnya saat berbelanja kita juga harus mempertimbangkan jenis dan jumlah makanan yang akan kita masak, terkadang kita khawatir kurang dalam memasak maka cara yang bisa dilakukan adalah dengan menghitungnya per saji. Hal tersebut bisa mengurangi sisa makanan.

Simpan dan Makan Makanan Sisa

Terkadang makanan sisa tidak terhindarkan, maka yang perlu dilakukan adalah menyimpan makanan itu di kulkas agar makanan tersebut bisa dimakan di kemudian waktu. Jangan lupa untuk memberi label batas waktu aman konsumsi makanan tersebut

Menyumbangkan Makanan

Jika mempunyai makanan berlebih atau makanan yang ’tidak sempat’ dikonsumsi maka menyumbangkan-nya atau berbagi dengan tetangga menjadi hal yang tepat, selain bisa membantu orang lain juga mengurangi sisa makanan, dengan catatan makanan tersebut masih layak dikonsumsi.

Mulailah Membuat Kompos

Beberapa bahan makanan bisa dijadikan kompos seperti bagian tertentu sayur dan buah yang dibuang saat proses memasak. Jika ada suka berkebun, maka membuat kompos dari makanan sisa tersebut menjadikan limbah lebih berguna. Yang perlu menjadi catatan tidak semua sisa makanan bisa dijadikan kompos.