Orang Sasak yakin telah menghuni Pulau Lombok selama berabad-abad, Mereka percaya telah menghuni wilayahnya itu sejak 4.000 Sebelum Masehi.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang sasak adalah orang Jawa.

Pulau Lombok merupakan kampung halaman Suku Sasak, terletak di sebelah timur Pulau Bali, dipisahkan oleh Selat Lombok.Di sebelah barat Pulau ini berbatasan dengan Pulau Sumbawa. Luas wilayah pulau yang termasuk ke dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat ini kurang lebih 5435 km2.

Pulau Lombok secara administratif terdiri dari lima Kabupaten dan Kota yakni Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Kurang lebih ada sekitar 3 juta jiwa yang mendiami pulau lombok, 80% di antaranya adalah Suku Sasak.

Menurut Goris S., “Sasak” secara etimologi, berasal dari kata “sah” yang berarti “pergi” dan “shaka” yang berarti “leluhur”. Dengan begitu Goris menyimpulkan bahwa sasak memiliki arti “pergi ke tanah leluhur”. Dari pengertian inilah diduga bahwa leluhur orang Sasak itu adalah orang Jawa.

Etimologi: (Linguistik); cabang dari ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul serta perubahan kata dalam bentuk dan makna.

Bukti lainnya merujuk kepada aksara Sasak yang digunakan oleh orang Sasak disebut sebagai “Jejawan”, merupakan aksara yang berasal dari tanah Jawa, pada perkembangannya, aksara ini diresepsi dengan baik oleh para pujangga yang telah melahirkan tradisi kesusasteraan Sasak.

Pendapat lain menyoal etimologi Sasak beranggapan bahwa kata itu berasal dari kata sak-sak yang dalam bahasa sasak berarti sampan. Pengertian ini dihubungkan dengan kedatangan nenek moyang orang Sasak dengan menggunakan sampan dari arah barat. Sumber lain yang sering dihubungkan dengan etimologi Sasak adalah kitab Nagarakertagama yang memuat catatan kekuasaan Majapahit abad ke-14, ditulis oleh Mpu Prapanca.

Dalam kitab Nagarakertagama terdapat ungkapan “lombok sasak mirah adi” yang kurang lebih dapat diartikan sebagai “kejujuran adalah permata yang utama”. Pemaknaan ini merujuk kepada kata sasak (sa-sak) yang diartikan sebagai satu atau utama; Lombok (Lomboq) dari bahasa kawi yang dapat diartikan sebagai jujur atau lurus; mirah diartikan sebagai permata dan adi bermakna baik.

Sejarah, Pengaruh, dan Kekuasaan

Sejarah Lombok sepertinya tidak dapat dipisahkan dari silih bergantinya kekuasaan dan peperangan pada masa itu. Baik itu peperangan antar kerajaan di Lombok sendiri, maupun peperangan yang ditimbulkan oleh perluasan kekuasaan dari wilayah lain.

Konon, pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan di Medang (Mataram Kuno), telah banyak pendatang dari Pulau Jawa ke Pulau Lombok. Banyak diantara mereka kemudian melakukan pernikahan dengan warga setempat sehingga keturunan-keturunan selanjutnya dikenal sebagai suku sasak.

Selanjutnya, dalam catatan sejarah abad ke-14-15 Masehi, Pulau Lombok ini kemudian berada di bawah pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit. Bahkan kabarnya Maha Patih Gajah Mada sendiri yang waktu itu datang ke Pulau Lombok untuk menundukkan beberapa kerajaan yang ada di Pulau itu.

Melemahnya pengaruh Majapahit membuka jalan bagi perkembangan Islam ke daerah Lombok. Islam mungkin sudah sampai di Pulau lombok jauh sebelumnya, tapi penyebaran yang signifikan muncul karena bantuan para wali beserta kekuasaan Islam di tanah Jawa dan wilayah Makassar.

Selama kurun waktu abad ke-16-17 Islam bahkan telah berhasil menguasai Kerajaan Selaparang, salah satu kerajaan yang cukup kuat di Pulau Lombok. Islam kemudian menyebar di Lombok, meski masih tetap tercampur dengan kebudayaan lokal.

Kerajaan Bali yang selalu berusaha menjadikan wilayah Lombok menjadi kekuasaannya, berhasil menduduki Lombok Barat sekitar akhir abad ke-I7 Masehi, kemudian melebarkan kekuasaannya terhadap hampir seluruh wilayah Lombok setelah berhasil menaklukkan Selaprang dan memukul mundur pengaruh Makassar.

Belanda yang saat itu telah menguasai Sumbawa dibukakan jalan oleh bangsawan Sasak untuk berkuasa di Lombok. Konon Kabarnya para bangsawan sasak meminta campur tangan dari militer Belanda agar memerangi dinasti Bali di Lombok.

Ketika akhirnya Belanda berhasil mengambil penguasaan Lombok dari Kerajaan Bali, alih-alih mengembalikan Lombok kepada para bangsawan Sasak, mereka justru menjadi penjajah baru di wilayah itu. Menurut Kraan (1976) menyebutkan bahwa Belanda telah berhasil mengambil wilayah yang sebelumnya berada di bawah Kerajaan Bali, dan memberlakukan pajak yang sangat tinggi pada penduduknya.

Antara Jawa-Bali-Lombok memang mempunyai beberapa kesamaan budaya, selain karena faktor perluasan kekuasaan kerajaan-kerajaan yang silih berganti, kedekatan wilayah yang memungkinkan penduduknya dengan mudah berpindah dan terjadi akulturasi budayanya.

Bahasa Orang Sasak

Bahasa Sasak, terutama yang berkenaan dengan sistem aksaranya, memiliki kedekatan dengan sistem aksara Jawa-Bali, sama-sama menggunakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Kendati demikian, secara pelafalan, bahasa Sasak ternyata lebih memiliki kedekatan dengan bahasa Bali.

Etnologi: Cabang dari antropologi, yang mempelajari berbagai suku bangsa beserta aspek kebudayaannya, dan hubungan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Etnis: Suku bangsa. Etnolog: Adalah orang yang ahli etnologi.

Menurut penelitian para etnolog yang mengumpulkan hampir semua bahasa di dunia, menggolongkan bahasa Sasak kedalam rumbun bahasa Austronesia Malayu-Polinesian, Juga ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi, dan Bali-Sasak.

Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan wilayah penuturnya; Mriak-Mriku (Lombok Selatan), Meno-Mene dan Ngeno-Ngene (Lombok Tengah), Ngeto-Ngete (Lombok Tenggara), dan Kuto-Kute (Lombok Utara).

Struktur dan Sistem Masyarakat Sasak

Suku Sasak pada masa lalu secara sosial-politik, digolongkan dalam dua tingkatan sosial utama, yaitu golongan bangsawan yang disebut perwangsa dan bangsa Ama atau jajar karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan.

Golongan perwangsa ini terbagi lagi atas dua tingkatan, yaitu bangsawan tingi (perwangsa) sebagai penguasa dan bangsawan rendahan (triwangsa). Bangsawan penguasa (perwangsa) umumnya menggunakan gelar datu. Selain itu mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk perempuan.

Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan.

Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar lalu untuk para lelakinya dan baiq untuk kaum perempuan. Tingkatan terakhir disebut jajar karang atau masyarakat biasa.Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah loq dan untuk perempuan adalah le.

Golongan bangsawan baik perwangsa dan triwangsa disebut sebagai permenak. Para permenak ini biasanya menguasai sejumlah sumber daya dan juga tanah. Ketika Kerajaan Bali dinasti Karangasem berkuasa di Pulau Lombok, mereka yang disebut permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan pembekel (pejabat pembantu kerajaan).

Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak).

Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan.

Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakatnnya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).

Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka.

Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.

Kepercayaan Masayarakat Sasak

Boda adalah nama dari kepercayaan asli Suku Sasak, beberapa menyebutnya Sasak Boda. Walapun ada kesamaan pelafalan dengan Buddha, Boda tidak memiliki kesamaan dan hubungan dengan Buddhisme.

Orang Sasak yang menganut kepercayaan Boda tidak mengenal dan mengakui Sidharta Gautama (Sang Buddha) sebagai figur utama. Agama Boda orang Sasak ini justru ditandai dengan penyembahan roh-roh leluhur mereka sendiri dan juga percaya terhadap berbagai.

Kerajaan Majapahit masuk ke Lombok dan membawa serta budayanya. Hindu-Buddha Majapahit pun kemudian dikenal oleh Suku Sasak. Di akhir abad ke 16 hingga abad ke 17 awal perkembangan agama Islam menyentuh pulau Lombok. Salah satunya karena peran Sunan Giri. Setelah perkembangan Islam, kepercayaan Suku Sasak sebagian berubah dari Hindu menjadi penganut Islam.

Berdasarkan sistem kepercayaan Suku Sasak pada masa-masa selanjutnya, kemudian dapat diklasifikasikan tiga kelompok utama; Boda, Wetu Telu, dan Islam (Wetu Lima).

Penganut Boda sebagai komunitas kecil yang berdiam di wilayah pegunungan utara dan di lembah-lembah pegunungan Lombok bagian selatan. Kelompok Boda ini konon adalah orang-orang Sasak yang dari segi kesukuan, budaya, dan bahasa menganut kepercayaan asli. Mereka menyingkir ke daerah pegunungan melepaskan diri dari islamisasi di Lombok.

Sedangkan Agama Wetu telu awalnya memiliki ciri sama dengan Hindu-Bali dan Kejawen. Di antara unsur-unsur umum, peran leluhur begitu menonjol. Hal itu didasarkan pada pandangan yang berakar pada kepercayaan tentang kehidupan senantiasa mengalir.

Pada perkembangannya Wetu telu justru lebih dekat dengan Islam. Konon, sekarang hampir semua desa suku Sasak sudah menganut Agama Islam lima waktu dan meninggalkan Wetu telu sepenuhnya. Sementara sinkretisme Islam-Wetu telu kini berkembang terbatas di beberapa bagian utara dan selatan Pulau Lombok. Meliputi Bayan, dataran tinggi Sembalun, Suranadi di Lombok Timur, Pujut di Lombok Tengah, dan Tanjung di Lombok Barat.

Istilah Islam-Wetu Telu diberikan karena penganut kepercayaan ini beribadah tiga kali di bulan puasa, yaitu waktu Magrib, Isya, dan waktu Subuh. Di luar bulan puasa, mereka hanya satu hari dalam seminggu melakukan ibadah, yaitu pada hari Kamis dan atau Jumat, meliputi waktu Asar. Untuk urusan ibadah lainnya biasanya dilakukan oleh pemimpin agama mereka; para kiai dan penghulu.

Para penganut Islam-Wetu telu membangun Masjid (tempat ibadah) mereka dengan gaya arsitektur khas Suku Sasak; dari kayu dan bambu, dengan bagian atapnya terbuat dari jenis alang-alang atau sirap dari bambu.

Dengan denah berbentuk persegi empat dan bagian atap seperti piramid bertumpang yang disangga dengan tiang-tiang, beberapa ahli menilai arsitektur masjid ini mirip dengan Arsitektur masjid lama di Ternate dan Tidore.

Tata Ruang dan Arsitektur Suku Sasak

Rumah-rumah suku Sasak berbeda dengan arsitektur Bali pada umumnya. Di dataran, perkampungan suku Sasak cenderung luas dan melintang. Desa-desa Suku Sasak di wilayah pegunungan tertata rapi mengikuti perencanaan yang pasti.

Di Lombok bagian utara, biasanya perkampungan Suku Sasak terdapat dua baris rumah tipe bale, dengan sederet lumbung padinya di satu sisi yang lain. Bangunan lain yang menjadi ciri khas perkampungan orang Sasak adalah rumah besar (bale bele).

Di antara deretan rumah-rumah itu dibangun balai yang bersisi terbuka (beruga) sebagai tempat pertemuan. Balai terbuka menyediakan panggung untuk kegiatan sehari-hari dalam fungsi hubungan sosial masyarakat. Balai ini juga digunakan untuk urusan keagamaan misalnya upacara penghormatan jenazah sebelum dikuburkan. Sementara makam leluhur yang terdiri dari rumah-rumah kayu dan bambu kecil dibangun di wilayah bagian atas dari perkampungan.

Sedikitnya ada empat jenis dasar lumbung dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua lumbung, kecuali jenis lumbung padi yang berukuran kecil, memiliki panggung di bawah.

Di desa-desa Lombok bagian selatan, panggung yang berada di bagian bawah lumbung padi berperan sebagai balai. Di Lombok bagian utara, tidak semua desa memiliki lumbung padi.

Lumbung padi menjadi ciri khas yang sangat menarik dalam arsitektur suku Sasak. Bangunan Lumbung itu didirikan pada tiang-tiang dengan cara dan ciri khas yang mirip bangunan-bangunan Austronesia.

Bangunan ini memiliki atap berbentuk “topi” yang ditutup ilalang. Empat tiang besar menyangga tiang-tiang melintang di bagian atas tempat kerangka utama dibangun. Bagian atas penopang kayu kemudian menguatkan rangka-rangka bambunya yang semua bagiannya ditutupi ilalang.

Satu-satunya yang dibiarkan terbuka adalah sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di bagian ujung berfungsi untuk menaruh padi hasil panen. Untuk mencegah hewan pengerat masuk. Piringan kayu besar yang mereka sebut jelepreng, disusun di bagian atas puncak tiang dasarnya.

Rumah tradisional Suku Sasak berdenah persegi, tidak berjendela dan hanya memiliki satu pintu dengan pintu ganda yang telah diukir halus. Di bagian dalam, tidak terdapat tiang-tiang penyangga atap.

Bubungan atapnya curam, terbuat dari jerami yang memiliki ketebalan kurang lebih 15 centimeter. Atap itu sengaja dibiarkan menganjur ke bagian dinding dasar yang hampir menutupi bagian dinding.

Dinding terdiri dari dua bagian, bagian tengah yang menyatu dengan atap dibuat dari bambu, bagian bawah dibuat dari campuran lumpur, dan jerami yang permukaannya telah dipelitur halus.

Rumah digunakan terutama untuk tempat tidur dan memasak. Masyarakat Sasak jarang menghabiskan waktu di dalam rumah sepanjang hari.

Di sisi sebelah kiri dibagi untuk tempat tidur anggota keluarga, juga terdapat rak di langit-langitnya untuk menyimpan pusaka dan benda berharga.

Anak laki-laki tidur di panggung bawah bagian luar; anak perempuan tidur di atas bagian dalam panggung.

Untuk kegiatan memasak, bagian dalam rumah berisi tungku yang berada di sisi sebelah kanan yang dilengkapi rak-rak untuk menyimpan dan mengeringkan jagung. Kayu bakar disimpan di belakang rumah, kadang juga disimpan di bawah panggung.

Tradisi dan Seni

Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Pun sejarah mencatatnya demikian, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara.

Kini, Sasak bahkan dikenal bukan hanya sebagai kelompok masyarakat tapi juga merupakan entitas budaya yang melambangkan kekayaan tradisi Bangsa Indonesia di mata dunia.

Berikut beberapa seni dan tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:

A. Bau Nyale

Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (anelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercaan Suku Sasak, Nyale bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale.

Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.

Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.

B. Rebo Bontong

Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.

Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

C. Bebubus Batu

Dari kata “bubus”, yaitu sejenis ramuan obat berbahan dasar beras yang dicampur berbagai jenis tanaman, dan dari kata batu yang merujuk kepada batu tempat melaksanakan upacara.

Bebubus Batu adalah upacara yang digelar untuk meminta berkah kepada sang Kuasa. Upacara ini dilaksanakan tiap tahun, dipimpin oleh Penghulu (pemangku adat) dan Kiai (ahli agama). Masyarakat ramai-ramai mengenakan pakaian adat serta membawa dulang, sesajen dari hasil bumi.

D. Sabuk Beleq

Merujuk kepada sebuah pustaka sabuk yang besar (Beleq) bahkan panjangnya mencapai 25 meter, masyarakat Lombok khususnya mereka yang berada di wilayah Lenek Daya akan menggelar upacara pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah.

Tradisi pengeluaran Sabuk Bleeq ini mereka awali dengan mengusung Sabuk Beleq mengelilingi kampung diiringi dengan tetabuhan gendang beleq. Ritual upacara kemudian dilanjutkan dengan menggelar praja mulud hingga diakhiri dengan memberi makan berbagai jenis makhluk.

Upacara ini dilakukan untuk mempererat ikatan persaudaraan, persatuan dan gotong royong antar masyarakat, serta cinta kasih di antara makhluk Tuhan.

E. Lomba Memaos.

Memaos kurang lebih artinya membaca dan orang yang membaca di sebut pepaos. Lomba memaos adalah lomba untuk membaca lontar yang menceritakan hikayat dari leluhur mereka.

Tujuan lomba pembacaan cerita ini adalah agar generasi selanjutnya dapat mengetahui kebudayaan dan sejarah masa lalu. Selain itu, Lomba ini juga dapat berfungsi sebagai regenerasi nilai-nilai sosia, budaya, dan tradisi pada generasi penerus. Satu kelompok pepaos biasanya terdiri dari 3-4 orang; pembaca, pejangga, dan pendukung vokal.

F. Tandang Mendet.

Tandang Mendet adalah tarian perang Suku Sasak. Konon Tarian ini telah ada sejak zaman Kerajaan Selaparang. Tarian yang menggambarkan keperkasaan dan perjuangan ini dimainkan oleh belasan orang dengan berpakaian dan membawa alat-alat keprajuritan lenggap; kelewang (pedang), tameng, tombak. Tarian diiringi dengan hentakan gendang beleq serta pembacaan syair-syair perjuangan.

Peresean. Kadang ada yang menulisnya Periseian dan atau Presean adalah seni bela diri yang dulu digunakan oleh lingkungan kerajaan. Peresean awalnya adalah latihan pedang dan perisai bagi seorang prajurit. Pada perkembangannya, latihan ini menjadi pertunjukan rakyat untuk menguji ketangkasan dan “keberanian”.

Senjata yang digunakan adalah sebilah rotan yang dilapisi pecahan kaca. Dan untuk menangkis serangan, pepadu (pemain) biasanya membawa sebuah perisai (ende) yan terbuat dari kayu berlapis kulit lembu atau kerbau. Setiap pepadu memakai ikat kepala dan mengenakan kain panjang.

Festival peresean diadakan setiap tahun terutama di Kabupaten Lombok Timur yang akan diikuti oleh pepadu dari seluruh Pulau Lombok.

G. Begasingan

Permainan rakyat yang mempunyai unsur seni dan olahraga, bahkan termasuk permainan tradisional yang tergolong tua di masyarakat Sasak. Permainan tradisional ini juga dikenal di beberapa wilayah lain di Indonesia.

Hanya saja, Gasing orang sasak ini berbeda baik bentuk maupun aturan permainannya. Gasing besar, mereka namai pemantok, digunakan untuk menghantam gasing pengorong atau pelepas yang ukurannya lebih kecil.

Begasingan berasal dari kata gang yang artinya “lokasi”, dan dari kata sing artinya “suara”. Permainan tradisional ini tak mengenal umur dan tempat, bisa siapa saja, bisa di mana saja.

H. Slober

Alat musik tradisional Lombok yang cukup tua, unik, dan bersahaja. Slober dibuat dari pelepah enau dan ketika dimainkan alat musik ini biasanya didukung dengan alat musik lainnya seperti gendang, gambus, seruling, dll.

Kesenian yang masih dapat anda saksikan hingga saat ini, sangat asyik jika dimainkan ketika malam bulan purnama.

I. Gendang Beleq

Satu dari kesenian Lombok yang mendunia. Gendang Beleq merupakan pertunjukan dengan alat perkusi gendang berukuran besar (Beleq) sebagai ensembel utamanya. Komposisi musiknya dapat dimainkan dengan posisi duduk, berdiri, dan berjalan untuk mengarak iring-iringan.

Ada dua jenis gendang beleq yang berfungsi sebagai pembawa dinamika yaitu gendang laki-laki atau gendang mama dan gendang nina atau gendang perempuan).

Sebagai pembawa melodi adalah gendang kodeq atau gendang kecil. Sedangkan sebagai alat ritmis adalah dua buah reog, 6-8 buah perembak kodeq, sebuah petuk, sebuah gong besar, sebuah gong penyentak , sebuah gong oncer, dan dua buah lelontek.

Menurut cerita, gendang beleq dahulu dimainkan bila ada pesta-pesta yang diselenggarakan oleh pihak kerajaan. Bila terjadi perang gendang ini berfungsi sebagai penyemangat prajurit yang ikut berperang.

Lambung dan Pegon, Pakaian Adat Sasak, Lombok

Secara umum pakaian adat Sasak dibedakan menjadi dua, pakaian adat perempuan dan laki-laki; Lambung dan Pegon. Lambung adalah pakaian tradisional Sasak untuk perempuan, sedangkan Pegon dikenakan oleh laki-laki.

Lambung dan Pegon lebih jauh adalah nama dari salah satu kelengkapan baju dalam pakaian tradisional sasak yaitu merujuk pada bagian atau nama baju atau atasan yang dipakai.

Pakaian adat Perempuan Suku Sasak

Pakaian adat Sasak bagi perempuan disebut Lambung. Yaitu baju hitam tanpa lengan dengan kerah berbentuk hurup “V” dan sedikit hiasan di bagian gigir baju.

Pakaian ini menggunakan bahan kain pelung. Ditambah selendang yang menjuntai di bahu kanan bercorak ragi genep yang merupakan jenis kain songket khas sasak, sepadu dengan sabuk anteng (ikat pinggang) yang dililitkan dan bagian ujungnya yang berumbai dijuntaikan di pinggang sebelah kiri.

Bawahannya memakai kain panjang sampai lutut atau mata kaki dengan bordiran di tepi kain dengan motif kotak-kotak atau segitiga. Sebagai tambahan aksesoris, ditambahkan sepasang gelang dan gelang kaki berbahan perak.

Sowang (anting-anting) berbentuk bulat terbuat dari daun lontar. Rambut diikat rapi dan sebagai aksen diselipkan bunga cempaka dan mawar, atau bisa juga disanggul dengan model punjung pliset.

Pakaian adat lambung digunakan gadis-gadis Sasak khusus untuk menyambut tamu dan pembawa woh-wohan dalam upacara mendakin atau nyongkol.

Tidak seperti sekarang, awalnya pakaian adat Lambung tidak disertai dengan baju dalam dan alas kaki. Tetapi beberapa orang masih mempertahankan bentuk lama pakaian ini.

Pakaian adat Laki-laki Suku Sasak

Untuk pakaian adat pria Suku Sasak, dari mulai kepala mengenakan ikat kepala yang disebut capuq atau sapuk, sekilas melihat bentuk sapuk sasak tidak jauh berbeda dengan ikat kepala dari Bali.

Sapuk untuk penggunaan sehari-hari selembar kain tenun berbentuk segitiga sama kaki, sedangkan untuk keperluan upacara adat atau ritual khusus biasanya menggunakan sapuk jadi atau perade yang berbahan Songket Benang Mas. Jenis ikatan sapuk yang dipakai adalah Lam Jalallah yang bermakna harapan agar pemakainya selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian pria Sasak mengunakan pegon sebagai baju. Pegon merupakan variasi dari jas Eropa. Tidak seperti pakaian Sasak lain yang berbahan songket, pegon menggunakan kain biasa berwarna gelap, kemungkinan pegon adalah hasil akulturasi dengan tradisi Jawa.

Pegon digunakan khusus untuk upacara-upacara adat dan para bangsawan Suku Sasak. Untuk masyarakat biasa, pria Suku Sasak mengenakan semacam kemeja lengan panjang berbahan kain pelung yang berwarna terang.

Untuk ikat pinggang (leang atau dodot), menggunakan kain songket bermotif Benang Mas sebagai pasangan Pegon pemakaiannya tidak seperti ikat pinggang melainkan lebih berfungsi sebagai aksen, sekilas mirip busana tradisional melayu.

Untuk pakaian sehari-hari, kain songket yang digunakan bermotif ragi genep, penggunaannya dililitkan biasa seperti ikat pinggang pada umumnya.

Leang atau dodot berfungsi untuk menyelipkan keris. Untuk keris yang berukuran besar, biasanya diselipkan di belakang. Sedangkan untuk keris yang berukuran kecil diselipkan di depan. Penggunaan keris tidak mutlak, keris bisa diganti dengan pemaja atau pisau raut.

Sebagai bawahan, pria Sasak menggunakan wiron atau cute. Wiron berbahan batik Jawa dengan motif tulang nangka atau kain pelung hitam. Penggunaannya seperti kain di Jawa atau samping di Sunda yang menjuntai hingga mata kaki. Untuk penggunaan wiron, tidak diperkenankan menggunakan kain polos berwarna merah atau putih.

Sebagai pembeda antara masyarakat biasa dengan pemangku adat, pemangku adat menggunakan Selendang Umbak. berbentuk sabuk yang dibuat dengan ritual khusus dalam keluarga sasak.

Warna kain umbak putih merah dan hitam dengan panjang sampai dengan empat meter. Di ujung benang digantungkan uang cina (kepeng bolong).

Islam Wetu Telu Kepercayaan Suku Sasak, Lombok

Sebagai etnis asli yang mendiami tanah lombok, mayoritas masyarakat Suku Sasak beragama Islam. Agama Islam sendiri mulai masuk ke Lombok pada abad ke 16 yang dibawa sebagai akibat dari penguasaan Lombok oleh orang-orang Jawa dan juga Makassar.

Konon, sebelumnya Suku Sasak telah menganut kepercayaan Boda atau dikenal juga dengan Sasak Boda. Boda tidak sama dengan Agama Budha karena orang sasak tidak mempercayai Sidharta Gautama sebagai sosok yang disembah. Kepercayaan ini lebih kepada animisme dan panteisme dimana pemujaan dilakukan terhada roh-roh leluhur dan dewa-dewa lokal.

A. Islam Dikenal oleh Suku Sasak

Awal mula kedatangan Islam ke pulau Lombok adalah seiring dengan perkembangan Islam di nusantara dan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Masuknya Islam ke tanah Lombok diduga diabwa oleh pedagang-pedagang muslim yang berniaga di Lombok yang kemudian menyebarkan agamanya.

Dalam Babad Lombok dijelaskan bahwa Sunan Ratu Giri memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke Indonesia bagian utara. Beberapa orang yang ditugasakan itu adalah Lembok Mangkurat dan pasukannya dikirim ke Banjar, Datu Bandan dikirim ke Selayar, Makassar,Tidore dan Seram, Pangeran Perapen mengirim anak laki-lakinyauntuk berlayar menyiarkan Islam ke Bali, Lombok dan Sumbawa.

Setelah panggeran tiba di tanah lombok, panggeran prapen diterima dengan baik oleh Raja Lombok, setelah memaparkan misi sucinya raja lombok pun bersedia masuk Islam. Akan tetapi Rakyat Sasak belum bisa menerima kehadiran agama Islam di tanah mereka sehingga Raja Lombok pun dihasut oleh rakyat sampai terjadi peperangan antara kedua belah pihak yaitu pasukan panggeran prapen dan rakyat sasak yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Panggeran Perapen

Atas kemenangan tersebut, Panggeran Perapen dan pasukannya pun mengislamkan raja beserta kedatuan-kedatuan lainnya seperti Pejanggik, Langko, Parwa, Sarwadadi, Bayan, Sokong dan Sasak (Lombok Utara). Dan juga ada kedatuan-kedatuan yang dengan sukarela masuk islam yaitu Parigi dan Sarwadadi.

Panggeran Perapen juga mengislamkan masyarakat Lombok dan menghitan para lelaki serta mengharamakan pura, meru, babi dan sanggah. Pasca itu, Agama Islam berkembang dengan sangat pesat Di Pulau Lombok. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang membuat Islam dengan mudah diterima di Tanah Lombok.

Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah (1) Agama Islam dianggap sebagai agama yang demokratis, (2) Agama Islam bukan merupakan ajaran yang asing lagi bagi masyarakat Sasak, (3) penyebaran Agama Islam dilakukan secara damai seperti melalui pereragangan dan perkawinan, (4) terjadinya kekosongan rohani rakyat akibat runtuhnya Kerajaan Majapahit dan (5) dakwah dari para guru dan ulama yang intensif.

B. Munculnya Islam Wetu Telu

Pasca kesuksesan sunan perapen mengislamkan masyarakat Suku Sasak saat itu, Sunan Perapen bergegas meninggalkan Lombok untuk menyebarkan agama islam ke wilayah Sumbawa dan bima. Akan tetapi, sepeninggal Sunan Perapen timbul masalah baru di kalangan masyarakat suku sasak yakni kaum wanita suku sasak menolak memeluk Agama Islam.

Tak hanya itu, masyarakat Sasak juga terpecah menjadi 3 golongan yaitu golongan yanga memilih mempertahankan kepercayaan lamanya dan lari ke hutan (orang Boda), golongan yang takluk dan memeluk islam (waktu lima) dan golongan yang hanya takluk pada kekuasaan sunan perapen (Wetu telu). Akibat dari adanya masalah ini Sunan Perapen akhirnya kembali lagi ke Lombok untuk meluruskan dan memperbaiki penyebaran Islam di Lombok.

Dari ketiga golongan tersebut, Islam Wetu Telu adalah golongan yang keberadaannya masih bertahan sampai sekarang. Islam wetu telu sendiri adalah kepercayaan orang sasak yang mengaku Islam tapi masih mempraktikan ritual-ritual agama Hindu, Budha, Animism dan Boda seperti pemujaan terhadap roh leluhur dan para dewa.

Hal ini disebabkan oleh proses Islamisasi yang belum tuntas sebagai penyebab utama munculnya Islam Wetu Telu. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut (1) Kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti animisme, dinamisme, dan Boda, (2) dominasi ajaran Hindu Majapahit yang telah berakar kuat di masyarakat, (3) para muballigh dan ulama yang menyampaikan ajaran agama Islam terburu-buru meninggalkan tempat tugasnya untuk menyebarkan agama Islam ke tempat lain seperti Sumbawa, Dompu, dan Bima, (4) para murid yang menjadi kepanjangan tangan para mubaligh dan ulama belum memiliki kemampuan menafsirkembangkan ajaran islam secara rasional dan (5) metode dakwah yang sangat toleran dengan komitmen tidak akan merusak adat istiadat setempat.

C. Perkembangan Islam Wetu Telu

Masyarkat Sasak pada umumnya adalah penganut Islam yang umum atau bisa diebut dengan ajaran islam Waktu Lima. Penganut Islam Wetu Telu saat ini hanya sekitar 1% dari jumlah masyarakata keseluruhan. Persebarannya sendiri kawasan Tanjung dan beberapa desa di kecamatan Bayan seperti Loloan, Anyar, Akar-Akar, dan Mumbul Sari serta dusun-dusunnya memusat di Senaru, Barung Birak, Jeruk Manis, DasanTutul, Nangka Rempek, Semokan dan Lendang Jeliti

Ajaran islam wetu telu sebenarnya secara formal sudah tidak ada sejak tahun 1968. Pada saat itu para tokohnya sudah menyatakan meninggalkana ajaran tersebut dan memutuskan bergabung bersama pemeluk agama islam pada umumnya. Namun, kebudayaan Wetu Telu sendiri masih hidup dan dipertahankan sebagai kebudayaan warisan leluhur yang harus dilesatrikan.

Salah satu wilayah yang masyarakatanya masih menganut kepercayaan Wetu Telu adalah Bayan Beleq. Di wilayah ini terdapat mesjid kuno yang biasa dipakai untuk melaksanakan ibadah shalat. Untuk memasuki mesjid ini tidak bisa sembarang memakai pakaian tapi harus memakai sarung dan kemeja putih.

Selain itu juga di wilayah ini masyarakat melakukan berbagai upacara adat terutama dalam rangka bertani seperti upacara adat bonga padi. Masyarakat disini juga sangat tabu melupakan leluhur karena bisa mengakibatkan terjadi bencana.

Masih bertahannya kebudayaan wetu telu hingga saat ini tidak semata-mata atas dasar kepercayaan masyarakat terhadap warisan leluhur. Akan tetapi, masyarakat juga percaya bahwa dengan berpegang teguh pada tradisi warisan nenek moyang maka kehidupan pun akan berlangsung dengan baik dan jauh dari bencana.

Hal ini dijelaskan oleh pemangku adat di wilayah setempat menurut salah satu sumber. Menurutnya, persepsi masyarakat seringkali salah dalam mengartikan kepercayaan Wetu Telu. Umumnya orang beranggapan bahwa Wetu Telu adalah salah satu ajaran islam yang bermakna keseluruhan ibadah dalam Islam yang disimbolkan dengan Wetu (waktu) dan Telu (tiga).

Sebenarnya, Wetu Telu adalah sebuah konsep kosmologi kepercayaan leluhur yang berarti kehidupan ini tergantung 3 jenis reproduksi yakni beranak (manganak), bertelur (menteluk) dan berbiji (mentiuk). Ini merujuk pada keseimbangan alam yang harus senantiasa lestari sebagai cikal bakal kehidupan yang baik.

Masyarakat Wetu Telu juga sangat mementingkan nilai cultural dari tanah, seperti tanah-tanah tempat bangunan suci, pemakaman keramat dan sumber air. Masyarakat wetu telu juga menjaga hutan yang terdapat sumber air yang akan mengaliri sawah mereka atu biasa disebut hutan Tabu.

Msayarakat wetu telu percaya bahwa bila mengusik segala hal yang ada di hutan termasuk tumbuhan dan hewan maka akan terkena kutukan. Masyarakat juga memiliki tradisi memotong kayu dari hutan 8 tahun sekali untuk memperbaiki mesjid adat. Di balik berbagai persepsi masyarakat umum tentang kepercayaan wetu telu, kepercayaan ini menyimpan banyak nilai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, dimana kehidupan akan lebih baik dengan menjaga keseimbangan alam agar tetap lestari.

Bintang Rowot dan Konsep Waktu Suku Sasak

Nilai-nilai tradisi yang terkandung dalam kebuadayaan Suku Sasak sungguh tidak ternilai. Kekayaan Suku Sasak akan nilai-nilai kebudayaannya menempatkan Suku Sasak sebagai salah satu suku bangsa dengan nilai kebudayaan tinggi.

Masyarakat Suku Sasak mengenal berbagai kearifan lokal yang masih menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat setempat. Salah satunya adalah kearifan lokal tentang waktu

Berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia, masing-masing memiliki keunikan tersendiri dalam penghitungan waktu, tidak terkecuali Suku Sasak. Pengetahuan waktu yang dikenal oleh masyarakat suku ini adalah bintang rowot

Bintang rowot adalah gugusan bintang yang terletak di sebelah kiri atas orang yang memandangnya. Gugusan bintang inilah yang kemudian dijadikan standar penghingtungan atau petunjuk waktu oleh masyarakat Suku Sasak. Bintang rowot merupakan konsep penghitungan perjalanan bulan yang didasarkan pada pengamatan langsung digabungkan dengan konsep kalender Jawa dan Arab.

Konsep ini diduga kuat merupakan hasil akulturasi kebudayaan antara kepercayaan Suku Sasak asli dan kebudayaan Jawa dan Arab. Pengetahuan tentang konsep bintang rowot sendiri merupakan ajaran turun temurun dari nenek moyang yang hanya dikuasai oleh pemimpin-pemimpin adat.

Petunjuk waktu ini digunakan untuk menunjukan waktu yang baik untuk menanam dan memanen bagi para petani. Para petani biasanya mendatangi pemimpin adat untuk mengetahui penghitungan waktu yang baik bagi mereka dalam bercocok tanam melalui petunjuk bintang rowot.

A. Konsep Penghitungan Waktu Bintang Rowot

Secara umum, huruf tahun suku sasak sama dengan Tahun Jawa. Tahun Jawa dimulai dari 18 juli 19633 bertepatan dengan 1muharam 1043 yang disebut juga 1 suyro 1555 s. dalam perhitungan waktu orang sasak juga menganal abad (100 tahun), windu (8 tahun), tahun (12 bulan) dan hari (jelo) dan nama-nama windu alif, ehe,jimawal, je, dal, be, wawu, jimakir sama dengan suku jawa.

Orang Sasak menamai bulan berdasarkan nama bulan Arab yang penghitungannya berdasarkan pada terbitnya bintang rowot. Bintang rowot biasanya muncul pada tanggal 5, 15 atau 25. Maka orang sasak mengenal bulan satu itu sesuai dengan kapan bintang rowot muncul.

Ciri khas kemunculan bintang rowot adalah tidak pernah muncul bersamaan dengan bintang pari atau dalam istilah orang sasak kedua gugusan bintang tersebut tidak pernah bertemu. Secara sederhana, penghitungan bulan bisa diarikan begini, jika bintang rowot muncul pada tanggal 15 syaban/rowah yang bertepatan pada tanggal 20 Desember 2012 maka bulan satu dimulai dari tanggal 22 Desember

Berikut adalah penjabarannya, (1) 15 syaban-14 Ramadhan = bulan satu, (2) 15 ramadhan -14 syawal = bulan dua, (3) 15 Syawal – 14 zulkaidah = bulan tiga, (4) 15 zulkaidah – 14 zulhijah = bulan 4, (5) 15 zulhijah – 14 muharam = bulan lima, (6) 15 muharam – 14 safar = bulan enam, (7) 15 safar – 14 robiul awal = bulan tujuh, (8) 15 robiul awal – 14 robiul akhir = bulan delapan, (9) 15robiul akhir – 14 jumadil awal = bulan Sembilan, (10) 15 jumadil awal -14 jumadil akhir = bulan sepuluh, (11) 15 jumadil akhir – 14 rajab = bulan sebelas, dan (12) 15 rajab – 14 syaban = bulan duabelas.

Dalam penghitungan bintang rowot sendiri terbilang cukup unik, jumlah hari dalam setahun adalah 360 hari atau 30 hari dalm sebulan. Terbitnya Bintang Rowot sendiri dalam setiap tahun biasan.

Rya mundur 10 hari. Contohnya jika Bintang Rowot muncul pada tanggal 25, maka tahun depan bintang rowot akan terbit tanggal 15 dan tahun depannya lagi terbit tanggal 5 begitu seterusnya.

Dalam penghitungan waktu Bintang Rowot, para pemimpin adat sasak menegnal beberapa tanda-tanda, diantaranya adalah (1) bulan empat diatandai dengan adanya suara Guntur/petir, hal ini menandakan sebagai peristiwa lawang taun ( pintu tahun). Berkaitan dengan hal itu pada bulan ini para petani dilarang melakukan kegiatan bertani. (2) bulan enam ditandai dengan pergeresan matahari ke khatulistiwa.

Pada tanggal 6, 16 dan 26 bulan ini ditandai denga tumbuk yakni bayangan benda akan lenyap yang dibuktikan dengan mendirikan sebatang kayu. Tanda lainnya didapat dari sebelah utara yaitu awan mendung yang menyelimuti gunung rinjani yang disebut bao daya.

Peristiwa ini juga diikuti dengan suara Guntur dan hujan selama 3 hari yang disebut dengan hujan pengelomang jami. (3) bulan tujuh ditandai dengan tiupan angin lemah dan sinar matahari yang terik juga air laut yang naik tinggi disebut dengan jelo padaq. (4) bulan delapan ditandai dengan turunnya hujan selam 7- 10 lalu pohon meranggas mulai bersemi kemudian hujan akan berhenti 10-15 hari.

Musim ini disebut juga dengan istilah mangan rawas (makan ulat) yang berarti telur serangga menetas dan menjadi ulat. (5) bulan kesembilan ditandai dengan curah hujan yang tinggi sehingga air sawah melimpah. (6) bulan kesepuluh ditandai dengan ditangkapnya nyale sejenis cacing, biasanya ditangkapa tanggal 19 dan 20, (7) bulan sebelas ditandai dengan tumbuhnya cendawan payung dan munculnya ikan dan betook (belut). Curah hujan pun mulai menurun. Bulan duabelas ditandai dengan panas terik dan tdak hujan, ini menandai musim kemarau telah tiba

Bintang rowot sebagai petunjuk waktu memiliki berbagai nilai-nilai tradisi yang bermanfaat bagi masyarakat. Penghitungan waktu bintang rowot menunjukan penghargaan masyarakat suku sasak terhadap alam. Dimana dengan penghitungan waktu ini masyarakat betul-betul mempertimbangkan kondisi alam untuk melakukan kegiatan pertanian.

Selain itu, penghitungan waktu ini juga digunakan sebagai panduan untuk melaksanakan upacara-upacara adat dalam melakukan syukuran. Hal ini menunjukan bahwa bintang rowot juga memiliki nilai spiritual bagi masyarakat suku sasak.

Sampai saat ini penghitungan waktu berdasarkan bintang rowot masih digunakan oleh sebagian masyarakat Suku Sasak. Salah satu wilayah yang masyarakatnya masih memakai sistem penghitungan waktu ini adalah masyarakat Bayan Lombok Utara.

Upacara Metulak; Suku Sasak Menolak Bala

Masyarakat suku sasak dikenal sebagai masyarakat etnik asli Lombok yang kaya akan tradisi dan keraifan local. Suku Sasak merupakan masyarakat yang telah tinggal di Tanah Lombok selama berabad-abad lamanya. Tak heran jika di Lombok, Suku Sasak memiliki banyak peninggalan dengan nilai historis tinggi. Tidak hanya itu, masyarakat Suku Sasak sampai saat ini masih berpegang teguh pada tradisi-tradisi warisan nenek moyang.

Masyarakat Suku Sasak memiliki ritual-ritual tertentu yang memiliki nilai cultural yang khas seperti dalam beberapa momentum penting kematian, pernikahan, syukuran hasil panen bahkan menolak bala. Ritual-ritual ini biasanya berada dalam serangkaian prosesi yang disebut dengan upacara adat. Salah satu jenis upacara adat yang khas dan masih dipraktikan adalah Upacara Metulak.

Upacara Metulak sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Kata Metulak sendiri berasal dari kata “me” dan “tulak”. Kata “me” dalam bahasa sasak adalah awalan yang bisa disisipkan kepada kata apa saja dan kata “tulak” berarti kembali.

Secara keseluruhan arti dari kata metulak adalah mengembalikan atau lebih dikenal dengan tolak bala. Upacara ini bertujuan untuk untuk menolak hama, penyakit, bencana dan gangguan roh jahat. Upacara metulak dikenal juga dengan istilah bersentulak.

Upacara ini dilakukan oleh leluhur pra Islam, tetapi seiring dengan masuknya Islam, Upacara Metulak tetap dilaksanakan dengan memasukan unsur-unsur keislaman ke dalam upacara tersebut.

Konon, Upacara Metulak pertama kali dilaksanakan oleh leluhur Suku Sasak di Desa Pujut, Lombok Tengah. Akan tetapi, belum ada sumber yang menyebutkan kapan tepatnya upacara itu pertama kali dilakukan. Hanya saja sumber lain menyebutkan bahwa islam masuk ke Pujut sekitar abad ke-16 dengan tokoh penyebar agama Islam adalah Wali Nyatok.

A. Tata Cara Upacara Adat Metulak

Pelaksanaan upacara Metulak disesuaikan dengan tujuannya. Misalnya jika upacara bertujuan untuk menolak wabah penyakit dilaksanakan sekitar 4 tahun sekali atau ada juga yang melakukan upacara metulak dalam kisaran waktu 1 atau 6 tahun sekali.

Setidaknya ada beberapa perisitiwa dimana masyarakat suku sasak biasa melakukan Upacara Adat Metulak diantaranya adalah saat seseorang atau keluarga tertimpa sakit, saat pendirian dan penempatan rumah baru, saat pemotongan rambut bayi, saat keberangkatan haji, saat tertimpa wabah penyakit cacar dan saat pad baru berisi. Lazimnya upacara metulak ini dilaksanakan selam dua hari dua malam.

Upacara ini dipimpin oleh seorang kepala desa (datu) dan dibantu oleh orang yang dituakan (penowaq), pembantu kepala desa (keliang), kyai, kelompok pembaca lontar (petabah), dukun (belian) dan pemangku.

Semua anggota prosesi ini memiliki tugas masing-masing yakni kepala desa bertugas memimpin upacara dengan dibantu keliang, penowaq bertugas untuk mengundang roh leluhur dan Dewi Anjani penguasa Gunung Rinjani dengan dibantu para perempuan yang sudah tidak haid lagi atau menopause dan kyai bertugas memimpin doa.

Upacara ini biasanya digelar di rumah yang mempunyai hajat kecuali jika upacara dilakukan untuk menanggulangi wabah cacar biasanya dilakukan di rumah adat desa.

Upacara ini dihadiri oleh keluarga, kerabat dan warga desa yang masing-masing telah membawa botol kosong dan uang sebanyak 9 kepeng (uang koin yang hanya digunakan untuk sarat ritual saja tidak dipergunakan untuk alat tukar)

Botol tersebut nantinya akan diisi air yang telah didoakan oleh belian lalu diminumkan kepada anggota keluarga yang sakit atau juga sebagai obat penolak bala.

Dalam pelaksanaan upacara ini dibutuhkan beberapa alat dan bahan seperti dupa, dula merah atu kemenyan, dulang yang berisi bubur putih, bubur merah dan ketan yang di goreng sangan, bokor dar kuningan yang berisi Sembilan gulungan sirih dengan kapurnya, Sembilan batang rokok, ampas bekas kunyahan sirih (sembek) dan benang lima warna (merah, kuining, putih, hitam ungu) dan tempayan berisi air dan daun beringin serta pucuk enau sebagai rambu-rambu (saweq). Seluruh bahan dijejerkan dari utara ke selatan mulai dari pucuk enau, tempayan, bokor, dulang dan dupa.

B. Prosesi adat metulak Suku Sasak

Prosesi Adat Metulak ini terbagi menjadi 3 bagian yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan penutup. Pada tahap persiapan dilakukan musyawarah untuk mengambil keputusan tentang tempat, waktu dan proses penyelenggaraan upacara.

Musyawarah ini dilakukan di rumah kepala desa atau di rumah pemuka adat atau pemuka agama setempat. Setelah itu setiap rumah tangga membuat saweq. Kemudian mendirikan terop dari bambu dan anyaman daun kelapa (kelansah), memndirikan pondok bambu yang beratap ilalang tanpa dinding (das), mendirikan tempayan yang ditutup kelambu, menyiapkan lima penginang yaitu penginang selao, tulis, tombak, rowah dan sembeq, pembacaan lontar hikayat Nabi Yusuf, memasak gulai ayam dan menggelar Tarung Parasean.

Dan untuk menghias tempayan dibutuhkan tanaman seperti nagasari, tandan uwar atau injan bonte yang termasuk tumbuhan yang langka sehingga harus dicari ke hutan atau desa lain.

Di tahap pelaksanaan, upacara ini dilaksanakan setelah Shalat Isya dengan diawali dengan pembacaan barzanji secara bergantian oleh jamaah, proses ini terbilang lama karena Barzanji yang dibaca berjumlah ratusan bait. Selama pembacaan Barzanji ini terus disuguhkan berbagai jenis makanan khas Lombok yang disebut dengan istilah Metun Manaek.

Makanan-makanan yang disajikan memilki symbol-simbol tersendiri yaitu tape (poteng) yang menyimbolkan daging manusia, tebu sebagai symbol tulang, sumping symbol sumsum, jongkong symbol isi tubuh manusia, ketuapat dan tekel symbol pria dan wanita serta rowut symbol kehidupan.

Seusai pembacaan barzanji dilakukan pembacaan kisah ( cakepan) nabi yusuf yang tertulis dalam lontar, dibacakan oleh petabah, kyai dan pemangku, selesai pembacaan bait ke 9, pembacaan dihentikan lalu kyai atau pemangku mencicipi serabi, serabi dicampurkan dengan santan, lau digarami dan dicicipi selama 3 kali lalu pembacaan barzanji ini dilanjutkan setiap di akhir bait cerita Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudaranya lontar dimasukan ke dalam air.

Setelah prosesi ini selesai acara dilanjutkan dengan makan bersama, sebelum makan dimulai di depan kyai diatur dolang, panginang rowah, air bunga celupan lampu biji jarak dan kemenyan. Seusai makan para pemangku mencampurkan air seloa dan air bunga celupan lampu biji jarak. Air ini kemudian dibagikan kepada warga kemudian warga menyiramkan air di sekitar kandang atau di sawah dan diminumkan pada keluarga yang sakit. Air ini dipercaya bisa menolak bala.

Setelah prosesi ini selesai keesokan harinya diadakan tarung peresean yakni tarung antar dua orang dengan menggunakan sebilah rotan. Setiap orang dibekali tameng kulit kambing atau rajutan rotan. Permainan ini berlangsung dari pagi hingga sore hari. Dalam prosesi terkandung nilai-nilai moral yang baik di samping nilai kulturalnya, seperti nilai kebersamaan, nilai ketaatan terhadap agama dan adat serta nilai mempertahankan tradisi.

Tradisi ini masih berkembang dan dipertahankan oleh masyarakat suku sasak. Hanya saja pada perekembangannya upacara ini sudah jarang dilakukan secara utuh. Ada beberapa perubahan seperti pemimpin upacara yang asalnya kepala desa (datu) menjadi ulama atau pemuka agama.

Walaupun begitu, masyarakat suku sasak masih memegang teguh pada nilai-nilai kultural dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Lombok Mirah Sasak Adi; Kejujuran Yang Utama

Lombok adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau yang dihuni oleh suku sasak ini terletak di sebelah timur Pulau Bali yang dipisahkan oleh Selat Lombok dan di sebelah barat Pulau Sumbawa yang dipisahkan oleh Selat Atas. Luas wilayah pulau Lombok adalah sekitar 5435 km2 merupakan pulau terbesar ke 108 di dunia.

Pulau ini juga terdiri dari 5 kota dan kabupaten yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Lombok Utara. Pulau Lombok didiami kurang lebih sekitar 3 juta jiwa yang 80% nya merupakan penduduk asli pulau lombok yaitu Suku Sasak.

Suku Sasak dikenal sebagai etnis terbesar yang mendiami Pulau Lombok. Suku ini adalah etnis asli yang telah mendiami Pulau Lombok selama berabad-abad. Ada pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat Suku Sasak berasal dari campuran penduduk asli Lombok dengan pendatang dari Jawa tengah yang dikenal dengan julukan Mataram.

Konon, pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan, banyak pendatang dari Jawa Tengah ke Pulau Lombok kemudian banyak juga diantaranya yang melakukan pernikahan dengan warga setempat sehingga menjadi masyarakat suku sasak. Akan tetapi, menurut sejarah pada abad ke-16 Pulau Lombok berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dengan diutusnya Maha Patih Gajah Mada untuk datang ke Pulau Lombok.

Di akhir abad ke 16 hingga abad ke 17 awal, banyak para pendatang dari Jawa yang masuk ke Pulau Lombok sambil menyebarkan pengaruh Islam. Salah satunya adalah dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri pada masa itu. Setelah masuknya dakwah Islam pada masa ini, agama Suku Sasak berubah dari agama Hindu menjadi agama Islam. Dan pada abad ke 18 Lombok diserang dan ditaklukan oleh pasuakan gabungan kerajaan karang asem dari bali

Akibat dari pendudukan kerajaan karangasem dari Bali yang menguasai lombok bagian barat memunculkan kultur atau corak budaya khas Bali di Lombok. Berdasarkan runutan sejarah tersebut Suku Sasak bisa saja diidentifikasi merupakan akulturasi dari beberapa kebudayaan yaitu pengaruh Islam, Hindu, Budaya Jawa dan Bali. Walaupun begitu kebudayaan Suku Sasak memiliki corak kebudayaan asli yang mapan dan berbeda dari budaya suku-suku lain.

Nama suku sasak berasal dari kata sak-sak (dalam bahasa sasak) yang berarti sampan. Hal ini karena nenek moyang orang Lombok dahulu menggunakan sampan untuk mengitari Pulau Lombok dari arah barat menuju ke arah timur atau sekarang dikenal dengan Pelabuhan Lombok menggunakan sampan.

Sumber lain yang menyebutkan makna kata sasak dari aspek filosofisnya adalah kitab Negara kertagama yang merupakan kitab yang memuat catatan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang digubah oleh Mpu Prapanca. Dalam kitab ini disebutkan bahwa kata sasak berasal dari tradisi lisan masyarakat setempat yaitu lombok sasak mirah adi.

Dalam tradisi lisan masyarakat setempat kata sasak berasal dari kata sa-saq yang berarti satu atau kenyataan dan lombok berasal dari kata lomboq (bahasa kawi) yang berarti lurus atau jujur sedangkan mirah berarti permata dan adi artinya baik atau yang baik. Maka lombok mirah sasak adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.

Masyarakat Suku Sasak merupakan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan mempertahankan kebudayaan sampai saat ini. Kini, Suku Sasak bukan hanya sebuah kelompok masyarakat tapi juga merupakan salah satu etnis yang melambangkan kekayaan tradisi yang dimiliki oleh Indonesia.

Kehidupan masyarakat Suku Sasak yang sarat akan nilai-nilai tradisi tidak terlepas dari keteguhan masyarakat sasak akan kepercayaan akan makna-makna filosofis yang terkandung dalam setiap tradisi suku sasak.

Selain menganggap tradisi memiliki nilai spiritual yang tinggi, masyarakat Suku Sasak juga menjadikan tradisi sebagai pandangan hidup yang akan menuntun kehidupan ke arah yang lebih baik.

Sejarah mencatat bahwa kebudayaan suku sasak banyak dipengaruhi oleh kekuasaan kerajaan Hindu Majapahit sehingga banyak kebudayaan yang bercorak Hindu. Kerajaan Majapahit juga mempunyai banyak memiliki catatan historis tentang Lombok termasuk suku sasak.

Catatan-catatan tersebut termaktub dalam kitab Negara Kertagama yang merupakan kitab yang memuat tentang kekuasaan Kerajaan Majapahit. Dalam kitab tersebut terdapat sebuah kutipan yakni Lombok Mirah Sasak Adi yang berasal dari kata Lombok berarti lurus atau jujur, mirah berarti permata, sasak berarti kenyataan dan adi berate baik.

Secara keseluruhan kalimat ini bermakna “kejujuran adalah permata kenyataan yang baik dan utama”. Dari kutipan tersebut juga diambil kata Lombok sebagai nama pulau yang dikenal dengan Pulau Lombok.

Falsafah Lombok Mirah Sasak Adi dipercaya merupakan cita-cita para leluhur dan harus dilestarikan oleh anak cucunya. Falsafah ini juga menjadi pandangan hidup masyarakat suku sasak sampai saat ini.

Walaupun falsafah tersebut tercantum dalam kitab Negara kertagama yang notabene adalah milik dari masa kerajaan majapahit, tapi falsafah tersebut masih tetap dipegang teguh bahkan ketika agama islam masuk dan menggantikan kepercayaan hindu yang dianut oleh orang sasak. Dalam perspektif islam makna dari Lombok Mirah Sasak Adi diartikan sebagai jalan lurus (siratalmustaqim) yang berarti jalan kebenaran yang akan membawa pada keselamatan di dunia maupun akhirat.

Makna dari falsafah tersebut juga diartikan sebagai pengimanan masyarakat suku sasak terhadap keesaan Allah dan kerasulan Nabi Besar Muhammad SAW. Hal ini juga menjadi prinsip yang dipegang teguh sebagai prinsip dalam kehidupan spiritual masyarakat Suku Sasak.

Dalam perkembangannya, falsafah Lombok Mirah Sasak Adi diajadikan prinsip dasar hidup bahkan moto masyarakat Sasak. Falsafah ini dinilai sebagai budaya adiluhung dan berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap, watak dan prinsip masyarakat suku sasak.

Penghayatan dan semangat kejujuran yang terkandung dalam Lombok Mirah Sasak Adi dianggap mampu terealisasi dalam diri-diri masyarakat sasak sehingga dengan berpegang teguh pada falsafah ini masyarakat suku sasak akan mengerti pentingnya kejujuran dalam semua aspek kehidupan. Oleh karena itu falsafah ini masih tetap dipegang teguh dan diyakini menjadi standar hidup orang-orang sasak

Berdasarkan hal ini, semboyan Lombok Mirah Sasak Adi merupakan kearifan lokal yang bernilai tinggi. Kekinian implementasi dari semboyan ini banyak dipakai untuk menggugah semangat kejujuran seluruh masyarakat sasak terutama dalam unsur pemerintahan.

Dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih, semboyan ini dianggap mampu menumbuhkan kembali jati diri orang sasak yang btercermin dari semboyan ini. Sebagai masyarakat yang memiliki tradisi yang adiluhung masyarakat suku sasak perlu terus mengimplementasikan makna falsafah“Lombok Mirah Sasak Adi” di dalam segala aspek kehidupan.