Categories Traveldraft

Candi Bajang Ratu, Gapura Peninggalan Majapahit

Gapura Bajang Ratu diperkirakan dibangun sekitar abad ke-13 s/d abad ke-14 Masehi.

Candi Bajang Ratu adalah bangunan Gapura atau pintu gerbang berbentuk Padaruksa dengan arah hadap ke timur laut, berada pada ketinggian 41,49 meter di atas permukaan air laut.

Denah Bangunan berbentuk persegi empat, mempunyai lorong masuk dengan lebar kurang lebih 1,40 meter. Pada kanan kiri gapura terdapat penampil, satu diantaranya berhiaskan pahatan relief fragmen Ramayana yang sudah nampak aus.

Pada kaki gapura terdapat sebuah panel relief fragmen ceritera Sri Tanjung yang keadaannya juga sudah mulai aus. Di atas ambang pintu atap yang bertingkat-tingkat ada pahatan relief menara kecil diseling naga, garuda dan kala bermata satu. Adanya dua lubang di ambang diperkirakan Candi Bajang Ratu dahulunya memiliki daun pintu.

Candi Bajang Ratu berasal dari abad ke-14 Masehi, dari masa Kerajaan Majapahit. Sesuai dengan sifat relief-reliefnya, Gapura Bajang Ratu adalah bangunan yang berhubungan dengan agama Hindu. Gapura Bajang Ratu Pernah dipugar pada tahun 1987 dan 1992.

Lokasi Candi Bajang Ratu: Desa Temon, Kraton, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Bahan dan Ukuran Candi Bajang Ratu: Bahan Batu bata untuk bangunan gapura, batu andesit untuk lantai tangga dan ambang pintu gapura. Panjang Candi Bajang Ratu11,20 meter, Lebar 6,70 meter, dan Tinggi  16,10 meter

Candi Bajang Ratu Dalam Catatan Sejajrah

Gapura Bajang Ratu diperkirakan dibangun sekitar abad ke-13 sampai dengan abad ke-14 Masehi. Nama Candi Bajang Ratu pertama kali terdapat dalam Oudheidkundig Versalag (OV) tahun 1915, yang menyebutkan bahwa bangunan tersebut telah diperbaiki dengan penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisi spesi dari campuran PC dan pasir halus pada nat-nat yang renggang.

Jauh sebelum itu, masyarakat Sekitar Trowulan telah menyebutnya demikian. Bajang berarti kecil/kerdil, Sama halnya dengan kata Pabajangan yang berarti kuburan anak Kecil.

Gapura Bajang Ratu merupakan bangunan pintu gerbang berbentuk ‘pradakursa’ yaitu gapura berupa pintu gerbang dengan atap yang menyatu (memiliki atap).

Bahan utamanya adalah batu bata, kecuali lantai tangga serta ambang pintu (bawah dan atas)gapura yang dibuat dari batu andesit. Denah bangunan berbentuk persegi empat, berukuran 11,20 x 6,7 meter, dengan tinggi 16, 10 meter, mempunyai lorong masuk keluar dengan lebar 1,40 meter.

Secara keseluruhan, Gapura Bajang Ratu terdiri dari bagian induk dengan struktur kaki, tubuh dan atap. Selain itu, Gapura Bajang Ratu mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya yang bagian-bagiannya dihiasi relief-relief.

Gapura Bajang Ratu diduga merupakan bangunan yang dibangun untuk mengenang Jayanegara sebagai Putera Mahkota Majapahit yang semasa dalam kandungan beliau sudah dinobatkan menjadi Kumaraja (Raja Muda).

Pendapat lain menyebutkan bahwa Gapura Bajang Ratu dibangun untuk mengenang seorang putera mahkota Majapahit yang semasa dalam kandungan sudah menjadi Raja (ditetapkan menjadi Raja Pengganti) akan tetapi bayi mahkota tersebut kemudian meninggal saat dilahirkan dan gagal menjadi Raja (Ratu).

Dalam Pararaton dijelaskan bahwa Jayanegara wafat pada tahun 1328 M. Teks itu berbunyi: “sira dhinarmeng Kapopongan, bhisekering cranggapura, pratistaning Antawulan.”

Pada sayap gapura terdapat penampil berhiaskan relief fragmen Ramayana, menggambarkan dua orang yang sedang berkelahi. Salah seorang di antaranya menderita kekalahan badannya diinjak oleh musuhnya yang berbentuk seekor kera. Pihak yang kalah berbadan besar dan berkepala raksasa.

Penampil-penampil gapura dihias dengan pelipit bawah, pelipit tengah dan pelipit atas masing-masing diukir dengan rangkaian bunga atau hiasan belah ketupat panjang, ada beberapa pelipit yang belum rampung ukirannya.

Bagian atap banyak dihiasi dengan pahatan-pahatan kecil sehingga nampak indah dan unik, setiap dua lapis atap diselingi oleh deretan menara yang pejal dan bersambung dengan tingkat atap berikutnya. Hiasan menara ini berjumlah tiga tingkat. Dua lapisan atap yang terbawah tidak berhias atau mungkin telah rusak.

Lapis ke dua masing-masing berhiaskan: 1) Kepala kala di tengah dengan sepasang taring yang panjang yang mirip dengan sepasang duri seperti pipi kala Candi Jago. 2) Relief ukuran matahari.

Sisi kiri maupun sisi kanan kepala kala diapit oleh dua ekor binatang yang berdiri berhadapan, tetapi mempunyai sebuah kepala saja berupa kala. Relief serupa ini kita dapatkan pula pada Candi Jago. Sistem pahatan berupa binatang atau makhluk lainnya yang digambarkan berhadapan ke arah pusat.

Gapura Bajang Ratu telah dipugar sejak 1985/1986 sampai dengan 1991/1992. Pemugarannya merupakan bagian dari kegiatan besar proyek pemugaran/pemeliharaan bekas ibukota Majapahit di Trowulan.